
Sesampainya di hotel, semua orang dibuat heran dengan kondisi hotel yang akan mereka tempati. Hotel yang dipilih oleh Bunga itu memang terletak jauh dari keramaian kota seperti apa yang Kelana inginkan. Hotel itu memiliki bangunan klasik, sekelilingnya masih banyak pohon besar dan bahkan ada sungai kecil yang mengalir.
“Ini hotel betulan ‘kan?” Dewi merasa sedikit seram, dia senggol lengan Yeni dan Afy – temannya yang sama-sama bekerja menjadi staff Bagas secara bergantian.
“Apa sih Wi, ya beneran lah lihat ada pengunjung juga, ada satpam, ada resepsionis, kamu pikir hotel apa?” sembur Afy yang sibuk mengambil video susana hotel.
Setelah check in semua orang pun masuk ke kamar hotel masing-masing, dan Kelana dibuat sedikit tak habis pikir melihat kondisi kamar yang diklaim kelas president suit. Bunga bilang dia membedakan kamar Kelana karena pria itu adalah pemilik perusahaan.
“Jauh dari kamar tipe president yang biasa aku tempati,” ucap Kelana. Meski begitu, dia tidak terlalu mempermasalahkan. Kelana bahagia melihat Hana yang antusias dan bahkan langsung membuka korden meski hari sudah malam.
“Benar-benas suasana alam seperti yang kamu mau,” goda Hana. Ia menutup korden kembali saat Kelana mulai melingkarkan tangan di pinggang dan mengecupi pundaknya bertubi-tubi.
“Benar-benar suasana yang pas untuk ber hohohehe bukan?” bisik Kelana dengan nada manja bahkan disertai desaahan juga.
“Iya, tapi mandi dulu. Badanku sedikit lengket.”
Hana membalik badan. Kedua telapak tangannya menangkup pipi Kelana. Wanita itu pun tak bisa menyembunyikan rasa kekaguman dan bahagia, meski pergi bersama banyak orang, tapi ini terasa seperti bulan madu untuk mereka.
__ADS_1
“Bener mau mandi, Ha?” goda Kelana dengan seringai nakal, kepalanya sudah mendekat ke bibir Hana tapi urung menempel karena suara ketukan terdengar.
“Ada orang datang.” Hana tertawa, dia geli melihat muka Kelana yang berubah masam karena merasa terganggu saat ingin berbuat hal yang berbau dua puluh satu.
“Biarkan saja!” Kelana memilih tak ambil pusing, dia balik menangkup pipi Hana dan ingin menempelkan bibir mereka, tapi suara ketukan pintu semakin terdengar kencang. “Sial!” umpat pria itu setelahnya berteriak,” siapa?”
Tak ada jawaban dan ketukan itu malah semakin menggila. Kelana dengan langkah lebar pun menuju pintu. Ia buka pintu itu dengan kasar dan bingung tidak mendapati seorang pun di sana. Kelana keluar, dia menoleh ke kiri dan kanan, tidak ada siapa-siapa. Kelana yang merasa aneh pun kembali masuk ke dalam.
“Tidak ada siapa-siapa, mungkin tamu kamar sebelah dan saat aku buka pintunya dia sudah masuk,” kata kelana. Ia menghempaskan badan di ranjang karena Hana sudah mengambil baju ganti bertanda istrinya itu memilih untuk mandi dulu.
“Ketukan pintu sialan!” umpat Kelana lagi, sambil menunggu Hana mandi dia memilih memejamkan mata. “Bangunkan aku kalau kamu sudah selesai ya Hunny!” titahnya ke sang istri.
_
_
“Sayang!”
__ADS_1
Panggilan mesra dan sentuhan tangan yang dingin khas orang selesai mandi terasa membelai pipi Kelana. Pria itu pun mengerjab, dia melihat seklebat sosok Hana berjalan ke luar pintu kamar hotel setelah membangunkannya, Kelana bangkit dan duduk di tepian ranjang. Ia mengusap mukanya kasar dan meregangkan lengan.
“Hunny mau ke mana?” Kelana memanggil sang istri dengan suara lantang. Namun, dia dibuat merinding saat pintu kamar mandi terbuka dan Hana keluar dari dalam.
“Sayang ada apa? aku masih belum selesai mandi, baru mau pakai handuk.”
“A..a..apa? lalu yang membangunkanku siapa?” Kelana terbata-bata, tak mungkin juga ‘kan mba Kunti ruang kerjanya ikut liburan sampai ke Jogja.
“Hei … aku saja belum ada setengah jam mandi, mungkin kamu terlalu lelah jadi berhalusinasi. Kamu seperti papa saja saat belum sadar sepenuhnya dari obat bius.” Hana malah tertawa, tapi seketika diam saat terdengar suara pintu di ketuk lagi.
“Hunny ada yang tidak beres di sini.” Kelana langsung berdiri dan ikut masuk ke dalam kamar mandi.
_
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇
Na kok jadi cerita horor wkwkwk sudah ini base on true story geng, selingan aja wkwkkw