Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Extra Part 18 : Pakmil


__ADS_3

“Coba ini!”


Hana malam itu memberikan sebuah pakaian yang membuat mata Kelana silau. Pria yang baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang melilit di pinggang itu pun dibuat mengernyit. Kelana tak peduli, dia menuju lemari dan mengambil piyamanya.


“Apa itu Hunny?”


“Ini namanya Sherwani, Bu Mina mengadakan pesta besok jadi kita harus datang.” Hana memberikan baju itu, meminta sang suami untuk mencobanya lebih dulu.


“Apa perlu memakai baju semencolok ini? aku bisa pakai kemeja saja,” tolak Kelana.


“Jangan membuat dirimu malu sendiri, semua orang akan memakai baju bertema Bollywood. Sudahlah menurut saja padaku, aku tidak akan menjerumuskanmu.” Hana memaksa, matanya sudah menyipit, jika Kelana masih menolak sudah pasti akan kena sembur.


“Lalu apa yang akan kamu pakai di sana nanti?”


Kelana terpaksa mencoba baju itu, bukannya takut istri tapi lebih ke menghargai, urusan sekecil ini tidak perlu dijadikan perdebatan yang hanya menimbulkan pertikaian. Terkadang banyak pasangan yang tanpa sadar sering ribut hanya karena hal kecil – yang sebenarnya bisa diselesaikan tanpa perlu perang urat saraf.

__ADS_1


“Baju pasangan, senada seperti bajumu, tenang saja aku tidak akan menunjukkan perutku, kasihan nanti bayi kita masuk angin,” canda Hana. Ia tertawa sambil terus memperhatikan Kelana yang masih sibuk mengenakan pakaian itu.


“Astaga suamiku tampan sekali,” puji Hana, dia bahkan menyatukan tangan dan menjadikan bantalan pipi. Tubuh bagian atasnya bergoyang-goyang karena dia terlalu girang. “Kamu ganteng banget sampai aku mau pingsan.”


Kelana pun tersenyum, dia bahkan menarik bagian depan Sherwani itu dengan gaya sombong, setelahnya membuka laci, dia mengambil sebuah kacamata hitam dari sana. “Bagaimana? Aku semakin keren ‘kan?”


Berharap Hana menjawab ‘iya’, tapi sayangnya Kelana harus kecewa, wanita itu menggeleng dan mengomentari penampilannya. “Tidak cocok, kamu seperti tuna netra.”


Kelana mencebik, dia lepas kacamata itu dan melemparnya kembali ke laci. Mukanya sudah masam melebihi rasa jeruk nipis. Hana yang sadar langsung mengeluarkan jurus andalan, dia mengedip manja sebelum menawarkan suaminya itu sesuatu.


Kelana pun mengangguk kegirangan seperti anak kecil, setelahnya Hana pun keluar dari kamar. Karena minum susu hamil malah membuat Hana mual, jadilah stok susu yang sudah dibeli, dia berikan ke Kelana, suaminya itu sangat menyukai rasa susu hamil miliknya, terutama yang rasa mangga.


“Minggu depan sepertinya Rafli juga ada acara, dia mau syukuran tujuh bulanan kehamilan Rita,” ucap Kelana, dia membuntuti Hana menuju dapur. Padahal Hana bisa saja meminta pembantu menyiapkan susu itu, tapi bayi besarnya menolak dan hanya mau meminum susu yang dia buatkan dengan tangannya sendiri.


“Mereka juga akan melakukan gender reveal, sepertinya anak mereka laki-laki,” imbuh Kelana.

__ADS_1


“Astaga apa mungkin sudah dari zaman manusia purba seperti ini di keluargamu? Jarang memiliki anak perempuan, tak salah kalau aku ingin hamil setiap tahun,” canda Hana. “Ingat! kita tidak boleh memantik api pertikaian antar sepupu, kita harus membuat anak kita menyayangi saudaranya.”


Kelana mengangguk sambil menikmati susu yang baru saja dibuat sang istri. Ia benar-benar menjadi pakmil, meski sindrom couvade yang dia alami sudah mereda.


“Lalu apa yang seharian kamu lakukan di rumah? Jangan bilang kamu sibuk menonton hard disk tiga terra milik bu Mina,” sindir Kelana.


“Gila dia punya koleksi dari beberapa puluh tahun yang lalu juga,” jawab Hana tanpa sadar, dia pun mengatupkan bibir. “Astaga keceplosan."


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2