
“Kamu nggak berangkat kerja?” Hardik Kelana saat Bunga masuk kembali ke dalam kamar Arman, meski memiliki hubungan kekerabatan tapi fakta bahwa wanita itu kini menjadi sekretarisnya pun tidak bisa dia elakkan.
Bunga sedikit kesal, dia bahkan harus menerima tatapan penuh tanda tanya dari sang mama yang baru saja tahu bahwa dia sekarang bekerja menjadi sekretaris kakak iparnya.
“Aku tahu kamu juga tidak akan banyak membantu di sini.” Ucapan Kelana sangat pedas, tapi memang begitulah adanya. Sudah ada Tantri, Hana dan juga dirinya, kehadiran Bunga jelas tidak begitu membantu. Terlebih dia tahu bahwa Bunga tak sedekat itu dengan Arman.
“Pergilah bekerja! sudah banyak orang yang menemani Papa.” Arman ikut menimpali dan membuat Bunga semakin tidak bisa bersikukuh tetap berada di sana.
Mau tak mau akhirnya Bunga pun berpamitan, dengan setengah hati dan rasa sebal dia keluar dari kamar perawatan Arman. Ia menatap Kelana begitu intens, tapi bukan untuk merayu pria itu. Belum, bagi Bunga ini belum saatnya. Wanita itu menatap karena sedang berpikir bagaimana cara menagih uang yang sudah dibayarkan Bagas untuk biaya awal Arman masuk rumah sakit.
Bunga menutup pintu setelah keluar, tapi dia tidak juga beranjak dari sana. wanita itu mematung, sampai Hana yang sudah kembali dari kantin dengan dua kantong di tangan menghardik. Bola mata Bunga berputar, dia malas dan kesal karena baik Hana dan Kelana sepertinya suka sekali membuatnya emosi jiwa.
“Sudah kamu tagih?” tanya Hana dengan sorot sindirian. Wanita itu sengaja tak langsung masuk ke dalam menunggu jawaban sang adik tiri.
__ADS_1
Namun, Bunga lebih memilih bungkam. Wanita itu bahkan menyenggol lengannya kasar membalas perlakuannya tadi. Hana tergelak sebal, dia tatap punggung Bunga yang berjalan meninggalkannya menjauh.
“Kamu kesal iya ‘kan?” cibir Hana meski hanya bergumam.
_
_
Tak hanya membelikan sarapan dan kopi untuk sang suami, ternyata Hana juga membelikannya untuk Tantri. Meski seperti musuh bebuyutan tapi dia tetap saja berpikir harus menghargai ibu tirinya itu di depan sang papa. Ya, setidaknya itu yang bisa dia tunjukkan ke Kelana. Bahwa meski dia membenci Tantri tapi tetap ada etika yang harus dipahami sebagai anak. Begitulah cara Hana membuat Kelana agar bisa jauh lebih hormat ke keluarganya sendiri, baik ke sang mama, nenek atau pun tantenya. Ia menunjukkan dengan sikap tidak hanya nasihat.
Hana memilih untuk duduk di samping ranjang Arman dan mengajak pria itu mengobrol, tapi diam-diam dia juga mencuri dengar perbincangan Kelana dan Tantri. Ia takut juga jika mama tirinya tiba-tiba seperti preman memalak sang suami.
__ADS_1
“Obat mahal, biaya perawatan mahal, belum juga kontrolnya dan k*nt*lnya yang pasti tidak bisa berfungsi dengan baik setelah operasi,” ucap Tantri.
Hana melirik sang papa yang matanya nampak terpejam, dia tahu bahwa Arman pasti pura-pura dan sengaja melakukan itu dari pada harus bertatapan canggung dengannya. Kesal juga hati Hana mendengar wanita itu merendahkan sang papa.
“Siapa bilang? Apa sudah bertanya dokter atau setidaknya cari informasi di internet? Apa tidak pernah mendengar ada nenek sakti bernama mak Perot?” ketus Hana. “Semuanya ada solusi.”
“Bukannya dia sudah mati?” Tantri malah bertanya dan membuat Hana kicep. Ia tidak tahu kalau tentang hal yang satu itu. Sedangkan Arman yang berpura-pura tidur hanya bisa menahan malu, kenapa istri dan anaknya malah membicarakan perihal burung pelatuk.
_
_
__ADS_1
Scroll ke bawah 👇