Diceraikan Karena Gendut

Diceraikan Karena Gendut
Bab 88 : Panas Hati


__ADS_3

Mendapati duo B2 sedang kasak-kusuk, Hana pun dengan sengaja menelinga. Ia sibakkan rambut yang menutupi indera pendengarannya untuk menguping. Senyuman terbit di bibir wanita itu kala mengetahui bahwa Bagas sedang dimarahi Bunga.


“Karena Bagas sudah datang, ayo kita makan, perutku lapar!”


Bunga seketika menoleh sang kakak tiri, sedangkan Hana dengan santainya berdiri dan mengulurkan tangannya ke Kelana. Mereka berjalan menuju ruang makan menyusul Arman dan Tantri yang sudah masuk lebih dulu.


Suasana di meja makan sunyi senyap, hanya dentingan sendok dan piring saja yang terdengar, Hingga Tantri buka suara dan memuji makanan yang dibawa oleh Hana. Wanita itu sengaja meninggikan sang anak tiri agar putri dan menantunya yang dia rasa tak modal itu sadar diri.


“Astaga sudah lama Mama tidak makan daging wagyu, jangankan daging jenis ini. Daging ayam saja seperti sudah tidak kuat untuk membeli.”


Hana melirik Arman yang terus menikmati makan malam, meski ucapan istrinya itu jelas bernada julid kepadanya sebagai suami.


“Kalau Mama suka, aku akan mengirimkan daging wagyu mentah agar bisa diolah sendiri. Kebetulan teman baikku memiliki peternakan.” Kelana merespon ucapan Tantri, dia tak bermaksud menyombongkan diri, tapi jelas membuat Bagas panas hati.


“Benarkah? bagaimana kalau kamu memberikan satu ekor sapi, aku pasti dengan senang hati menerimanya.” Tantri tertawa girang, tapi seketika diam saat Bunga meliriknya tajam.


“Apa Mama mau? jika iya aku dengan senang hati akan membelikannya,” jawab Kelana.


“Ma…. “


“Tidak perlu! jangan pedulikan ucapan Mamamu,” potong Arman cepat, dia berhasil membuat istrinya cemberut karena jelas Tantri ingin berkata mau.

__ADS_1


_


_


Mereka pun melanjutkan makan malam, Bagas sesekali menatap ke arah Hana yang duduk tepat berseberangan dengannya. Mantan istrinya itu nampak mesra memperlakukan Kelana, sesekali Hana mengambilkan pria itu lauk, mengusap sudut bibir dengan tisu dan bahkan menyuapkan makanan dari piringnya ke dalam mulut Kelana.


“Sepertinya kita harus memesan catering di restoran ini untuk makan sehari-hari,” kata Kelana ke Hana. Namun, istrinya itu dengan cepat menggeleng.


“Tidak, aku tidak mau makan malam seperti ini setiap hari. Aku harus menjaga berat badan sayang, kalau aku gendut nanti ada yang mengataiku seperti badak.”


Brttt


Tantri menyemburkan air dari dalam mulut, sedangkan Bunga dan Bagas secara bersamaan tersedak olahan wagyu teriyaki yang sedang mereka nikmati. Ketiga manusia itu saling pandang dan merasa salah tingkah.


“Badak?” Kelana mengernyit heran, dia geleng-geleng kepala seolah tidak setuju dengan ucapan Hana barusan. “Jika ada orang yang mengataimu badak karena tubuhmu gendut, maka aku akan memotong lidahnya sampai ke pangkal.”


Bagas mengedik, seram juga membayangkan lidahnya dipotong oleh Kelana. Bukankah dia dan Bunga yang dulu mengatai Hana seperti itu? ia pun berdehem untuk mengusir rasa takut yang menyergap dada. Hana yang melihat wajah adik tiri dan mantan suami sialannya pucat pun tersenyum sinis. Dua orang yang sudah membuat hidupnya hancur dan membunuh calon anaknya itu pun menunduk, tak berani mendongakkan kepala.


“Jika orang dengan entengnya mengatai orang lain binatang, maka sejatinya dia sendiri yang binatang,” ucap Arman.


Hana ingin tertawa terbahak-bahak, tapi masih memilih untuk menahannya. Ia menatap Bunga yang seperti tak berkutik di meja makan itu.

__ADS_1


_


_


Setelah makan malam, mereka semua memilih duduk di ruang keluarga lagi sambil menikmati secangkir teh. Bagas akhirnya memesan martabak asin dan manis lewat layanan pesan antar makanan untuk menemani mereka minum. Namun, dari semua orang, hanya Hana yang tak menyentuh makanan itu.


“Hana ini enak lho, tidak apa-apa makan sepotong. Badanmu tidak akan serta merta menjadi gendut setelah makan ini,” ujar Tantri. “Atau kamu tidak mau makan karena yang membelikannya mantan suamimu?” tanyanya dengan mimik muka julid.


“Hana sebenarnya mengurangi makanan berlemak karena sedang program hamil,” bela Kelana. “Oh …ya, bukankah ini jadwalnya. Ayo kita ke kamar!” ajak Kelana.


Hana mendongak, sorot matanya jelas menunjukkan bahwa dia sedang bingung, “Ke – ke – kamar?” tanyanya terbata.


“Iya, bukankah kata dokter ini hari yang bagus untuk kita memproses generasi penerus bangsa?” dusta Kelana.


_


_


_


Scroll ke bawah 👇

__ADS_1


__ADS_2