Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Guru Dan Kakak Senior Bertransaksi Dengan Adik Ipar Fan


__ADS_3

Saat siang hari, dimana mentari akan berada tepat di atas kepala para kultivator yang berada di permukaan tanah. Kedua pasangan dao itu berjalan dengan anggun seperti bangsawan ke aula utama. Ketika mereka semakin dekat, suara seorang pria tua yang akrab memanggil ke arah mereka.


"Kakak Xu! Sudah lama tidak bertemu!" Seorang pria tua tersenyum lebar ketika kesadaran ilahinya menangkap keberadaan mereka.


Panggilan akrab itu berasal dari Tetua Fan yang selalu menerima sogokan—uhuk! Hadiah dari Yan Xu sebagai tanda terima kasih atas bantuan yang selama ini dia terima dari Tetua Fan.


Mendengar panggilan itu, membuat Lan Xihe mengerutkan keningnya sambil mengirimkan transmisi suara kepada Yan Xu.


"Kakak Xu? Sejak kapan ada orang gila yang memanggil juniornya sebagai kakak, bahkan memiliki posisi tinggi di sekte!?"


"Guru, tolong jangan perlakukan Tetua Fan seperti itu," ucap Yan Xu dengan nada hangat.


"Hah?" Lan Xihe tersentak dan tanpa sengaja membuat erangan bingung juga meninggikan transmisi suaranya.


Yan Xu kembali mengulangi kalimatnya dengan cara yang berbeda.


"Istriku Xihe, jangan perlakukan adik iparmu seperti itu. Dia sudah sering membantu Puncak Angin kita dalam berbagai urusan yang berhubungan dengan aula utama. Setidaknya, tolong jangan jatuhkan wajah Suami di depan adiknya saat ini."


Kelopak mata peri yang indah milik Lan Xihe sempat bergidik sesaat dengan tatapan jijik. Tetapi, dia segera menerima kondisi panggung sekarang dan tidak lagi protes. Dia juga semakin memeluk erat pergelangan tangan Yan Xu.


'Ingin bermain pasangan dao mesra di depan Adik Ipar? Boleh, boleh, mari kita lanjutkan seperti ini. Jangan sesali pilihan skenariomu ini, Guru!' Yan Xu terkekeh geli di dalam hatinya.


Yan Xu menangkupkan kedua tangannya ke arah Tetua Fan, "Salam, Adik Fan. Sudah lama tidak bersua dan kamu terlihat lebih bugar dari sebelumnya."

__ADS_1


Tetua Fan tertawa lebar dan pandangannya jatuh kepada peri abadi putih mulus yang sedang memeluk erat pergelangan tangan kakaknya. Dia menunjukkan senyum lembut di wajah tuanya yang kehilangan sedikit kerutan.


"Kakak, tidak biasanya kamu pergi bersama. Apakah ini ... Kakak Ipar?" tanya Tetua Fan dengan senyum nakal.


Yan Xu hanya menundukkan sedikit kepalanya sebagai persetujuan, kemudian dia melirik sekilas ke arah Lan Xihe. Menyadari tatapan orang lain jatuh kepadanya, Lan Xihe segera memainkan peran yang telah mereka sepakati bersama.


Lan Xihe yang masih memeluk erat pergelangan tangan Yan Xu, menangkupkan kedua tangannya dengan pipi yang masih menempel, "Salam, Adik Ipar." Lan Xihe menggunakan nada yang sopan dan lembut dalam salamnya.


Tetua Fan berkedip beberapa kali, dia sangat tercengang akan betapa mesra, indah dan anggunnya kedua pasangan ini. Di dalam hati, dia benar-benar merasa bersyukur karena memiliki Kakak Xu sebagai saudara dekatnya.


"Jadi, ada urusan apa Kakak datang kemari? Aku juga bisa merasakan itu ada di balik lengan bajumu, Kakak memang penuh perhatian kepada Adik."


Yan Xu tertawa hangat dan melambaikan lengan jubahnya, "Tentu saja aku tidak akan melupakan apa yang paling disukai adik terkasihku. Kakak bukanlah saudara yang akan datang dengan tangan kosong, apalagi kalau itu adalah Adik."


"Kakak Xu ...." Tetua Fan hampir meneteskan air mata karena perlakuan Kakak Xu memang berbeda dibandingkan saudara-saudara yang sudah memiliki hubungan dengannya terlebih dahulu.


Wajah Tetua Fan menjadi tegas. Dia menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk dengan hormat dan berkata, "Kakak Xu, jika kamu membutuhkan bantuan, yakinlah Adik akan membantumu dengan semaksimal mungkin!"


Yan Xu segera menangkap bahu Tetua Fan dengan tangan energi dan membetulkan posisinya sambil berkata, "Adik, tidak perlu sampai segitunya cuma untuk hal sepele. Sesama saudara memang seharusnya begitu, bukan? Kakak hanya melakukan hal yang sepantasnya memang dilakukan untuk Adik."


Mendengar itu, Tetua Fan yang berlari ke arah kakaknya, hampir memeluk Yan Xu. Namun, tatapan tajam Lan Xihe segera menghentikan dia. Hampir saja dia melakukan hal yang memalukan untuk dilihat oleh Saudari Ipar yang pertama kali bertemu dengannya!


Sementara itu, Lan Xihe sudah beberapa kali bergidik ngeri, ketika dia melihat wajah tua Tetua Fan bersikap sangat menjijikkan tepat di depan wajahnya. Bahkan, dia hampir saja menendang bokong tua Tetua Fan saat berlari ingin memeluk Sang Suami Tercinta.

__ADS_1


Tetua Fan berdeham sekali dan kembali ke topik awal, sambil memasukkan kantung yang berisikan ikan spiritual di penyimpanan dimensinya, "Kakak Xu, apa ada masalah dengan Puncak Angin kalian?"


Yan Xu yang tidak bisa mendengarkan kata "masalah", segera bertanya kembali.


"Masalah?"


Tetua Fan segera gugup menjelaskan, "Tidak, tidak, bukan begitu maksudku! Hanya saja Adik tidak akan bisa memikirkan kalau Puncak Angin yang selama ini bersembunyi terlalu dalam akan memiliki masalah kalau itu ada Kakak Xu, juga Kakak Ipar tentunya."


"Adik Fan, apa maksudmu dengan Puncak Angin kami bersembunyi terlalu dalam?" tanya Yan Xu yang minatnya sedikit tergelitik. Dia juga agak rindu bicara dengan Adik Fan ini, setelah transaksi terakhir mereka untuk waktu yang lama.


"Bukankah begitu? Murid-murid dari Puncak Angin sangat luar biasa dalam kinerja mereka melakukan tugas. Bahkan, bisnis sampingan Nona Kedua dan Tetua Sementara Yueyin sangat sukses mengguncang selera interior anggota sekte kita!"


Yan Xu mengecilkan suaranya dan berkata, "Apakah mereka banyak menghasilkan ini?" dia menggesekkan ibu jari dan telunjuknya.


Tetua Fan yang mengangguk dalam juga ikut mengecilkan suaranya, "Tentu saja! Bisa dikatakan bahwa mereka telah mendapatkan bayaran setidaknya 25% dari harta setiap puncak yang ingin renovasi!"


Yan Xu meneguk air liurnya dengan keras hingga dapat terdengar suara "Gluk!" di sekitar mereka. Dia memikirkan kembali beberapa barang mahal yang ada di halaman, jadi itu juga hasil jarahan mereka berdua. Dengan hati yang bangga, Yan Xu memuji mereka berdua di dalam hati.


Setelah beberapa saat kemudian, Lan Xihe yang sudah bosan juga hampir muntah karena melihat kedekatan Suami dan adik iparnya, segera menggoyang sedikit lengan Yan Xu.


Yan Xu terbatuk sekali dan memasang wajah serius, "Adik Fan, Kakak akan langsung ke intinya saja. Apakah ada tugas yang berhubungan dengan keluarga Jiang di Ibu Kota Kekaisaran Agung Ming?"


Tetua Fan mendongak ke atas sambil mengelus janggut putihnya. Dia memikirkan dengan keras dan segera ingat akan keganjilan beberapa tugas tingkat rendah yang ditemukan oleh anggota administrasi pusat.

__ADS_1


"Dalam beberapa bulan ini, memang ada sesuatu yang aneh dengan setiap tugas juga komplain yang masuk. Semua ini selalu berhubungan dengan wilayah Ibu Kota Kekaisaran."


__ADS_2