
Setelah mendengarkan selama satu setengah jam penjelasan dari Su Yueyin, Lan Xihe tidak bisa menahan diri untuk tidak memijat keningnya. Terkadang, dia merasakan ada sedikit tanggung jawab terhadap pola pikir anak ini.
Benar, pola pikir kekuatan absolut di atas segalanya itu merupakan salah satu doktrin Lan Xihe kepada juniornya, Su Yueyin. Anak itu juga dengan polosnya kagum pada kekuatan Lan Xihe, kemudian dia selalu mengikuti doktrin bengkok senior tersebut hingga sekarang.
Lan Xihe menghela napas berat kemudian berkata, "Menurutmu, apa hanya Jenderal Lao yang merupakan dalang dari skema biadab ini?"
Mulut kecil Su Yueyin membentuk lingkaran, seolah-olah bingung. Kepalanya miring sedikit dengan jari telunjuk berada di dagu. Dengan wajah polos dan dinginnya, ia berkata, "Junior hanya memikirkan itu karena pendapat dari murid tertua Senior, selain itu Junior tidak tahu."
Su Yinfeng yang melihat bagaimana pola pikir murid termudanya hanya bisa tersenyum kecut. Dia berpikir kalau murid termuda ini harus diberikan pelajaran tambahan saat mereka kembali ke sekte. Sementara itu, Lan Xihe menepuk kepala kecil Su Yueyin dengan ekspresi kasihan.
'Anak ini bahkan hanya mengambil apa yang disampaikan oleh murid nakal itu! Kalau dilihat dari kesadaran dirinya, murid nakal itu setidaknya aman.'
'Tapi, apa yang membuat sistem mengatakan bahwa dia sedang berada dalam kondisi bahaya? Apakah dia sengaja melukai dirinya sendiri?'
Sementara Lan Xihe masih termenung dalam pemikirannya terhadap skema murid nakalnya, Su Yinfeng angkat bicara untuk memberikan bimbingan kepada Su Yueyin.
"Yin'er, lain kali kamu harus memperhatikan setiap detil kecil saat bertugas. Tidak semua orang dapat tunduk dengan kekuatan absolut, apalagi saat kemampuan akal dapat menarik kekuatan yang lebih hebat dari milikmu saat ini."
"Mari kita ambil contoh dari keponakanmu, Yan Xu. Apakah kamu tahu apa yang dia pikirkan saat memberitahu bahwa Jenderal Lao mungkin datang dengan niat buruk?" Su Yinfeng yang saat ini berubah ke wujud aslinya menatap hangat pada murid termudanya.
Su Yueyin mulai memikirkan bagaimana menjawab pertanyaan gurunya, tetapi kepalanya benar-benar tidak dapat menemukan satupun jawaban.
"Murid tidak dapat memikirkan jawabannya, Guru," jawab Su Yueyin dengan ekspresi menyesal.
Su Yinfeng yang sudah menduga jawaban itu akan keluar dari mulut murid termudanya mengangguk sedikit, kemudian dia menggunakan metode penyesuaian seperti biasanya dalam menjelaskan dengan sabar agar sekiranya bisa dipahami oleh Su Yueyin.
"Mo Li memperkenalkan Jenderal Lao sebelumnya, bukan?"
Su Yueyin mengangguk dan menjawab, "Mo Li memperkenalkan Jenderal Lao sebagai orang yang menjaga garis depan perbatasan benua selatan, dimana itu rawan perang terhadap suku asing. Dia menjelaskan kedatangannya saat itu atas dekrit kekaisaran."
"Coba kamu pikirkan, tugas Jenderal Lao itu sama seperti kamu. Kalian sama-sama bertindak sebagai seorang pengawas, demi menjaga sesuatu. Lalu, kamu bayangkan lagi ... "
"Apakah masuk akal atasanmu akan memerintahkan kamu untuk menjaga orang lain, sementara kamu harus meninggalkan para murid yang seharusnya dijaga?"
Su Yueyin menjawab dengan serius, "Apabila itu adalah perintah Guru, murid akan segera mematuhinya tanpa pikir panjang— Aiya! Mengapa guru memukul kepala Murid?!"
__ADS_1
Su Yinfeng menghela napas panjang dan berkata, "Apakah menurutmu aku akan memberikan perintah seperti itu? Meninggalkan puluhan, ratusan bahkan ribuan orang hanya demi menjaga satu orang?"
Su Yueyin mengangguk ragu-ragu.
Su Yinfeng memukul kepala murid termudanya lagi dengan gerakan lembut, kemudian berkata, "Itu tidak mungkin! Bahkan jika kamu seorang Kaisar Agung Ming!" Su Yinfeng menyilangkan kedua jari telunjuknya di depan mata murid termuda.
"Oh, ... mengapa itu tidak mungkin, Guru?" Terdapat kilatan penasaran dalam mata hitam cerah Su Yueyin.
Sebelum Su Yinfeng menjawab, Lan Xihe yang berdiri di samping Su Yueyin menepuk dan mengelus kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Seorang pemain catur tidak akan mengorbankan banyak bidak, cuma demi mengamankan satu bidak yang bisa dibuang kapan saja."
"Pengorbanan akan selalu ada dalam permainan catur untuk mengelabui, memakan bidak lawan secara perlahan, mengubah pion menjadi ratu maupun bidak lain sesuai perannya sehingga dapat meruntuhkan sisi lawan dan ..."
Lan Xihe berhenti sejenak untuk mengambil napas, kemudian melanjutkan, "Menguasai seluruh papan catur."
"Catur? Pemain? Bidak?" Su Yueyin mengernyitkan keningnya karena dia tidak mengerti.
Su Yinfeng yang melihat ini tersenyum pahit, dia merasa kasihan kepada saudarinya yang kesulitan untuk menjelaskan sesuatu kepada Su Yueyin. Bukannya Lan Xihe tidak baik dalam menjelaskan, hanya saja Su Yueyin membutuhkan penjelasan yang frekuensinya sama dengan cara berpikirnya.
Su Yinfeng mencoba untuk menjelaskan kembali maksud dari Lan Xihe.
".... Apakah kamu rela membiarkan botol anggur itu dicuri, hanya karena saat itu kamu melindungi satu botol anggur yang hanya bisa dinikmati semenit di tempat yang jauh dari gudang itu?"
Ekspresi Su Yueyin menjadi tegas dan dengan cepat menjawab, "Tentu saja tidak, Guru! Konyol sekali cuma demi satu botol labu anggur, aku harus merelakan stok yang bisa memenuhi kebutuhan satu tahunku!"
Su Yinfeng melanjutkan, "Begitulah yang akan dipikirkan oleh Kaisar Agung Ming."
Wajah Su Yueyin segera membuat ekspresi seperti berkata, 'Oh!' dan bisa saja terlihat sebuah lampu bersinar terang keluar dari dalam kepalanya.
Su Yueyin menangkupkan tangannya dan berkata, "Murid akhirnya dapat mengerti apa yang dimaksud oleh Guru. Pepatah yang mengatakan bahwa mendengarkan Guru lebih baik, dibandingkan membaca buku selama puluhan tahun terbukti benar adanya! Kebijaksanaan Guru telah memperluas cakrawala wawasan Murid!"
Su Yinfeng mengangguk senang, seperti yang dia duga, 'Logika anggur adalah cara terampuh untuk mengajari Su Yueyin!'
Lan Xihe yang melihat cara mengajar Su Yinfeng mengangguk dan menyimpan itu sebagai referensi di dalam benaknya. Siapa tahu dia akan memiliki murid yang pola pikirnya hampir sama seperti Su Yueyin, setidaknya dia bersyukur bahwa kedua murid nakal itu memiliki pemahaman yang baik.
Pak!
__ADS_1
Su Yinfeng menepuk kedua tangan rampingnya lalu berkata, "Kembali ke pertanyaan awal, apa yang dipikirkan oleh Yan Xu saat kedatangan Jenderal Lao?"
Su Yueyin menjawab dengan mata berapi-api, "Jenderal Lao datang dengan niat buruk dan alasannya menggunakan dekrit kekaisaran sebagai dalih, itu adalah palsu!"
Prok! Prok! Prok!
Su Yinfeng dan Lan Xihe bertepuk tangan atas perkembangan dari jawaban yang seharusnya tidak bisa dijawab oleh Su Yueyin.
Su Yinfeng mengacungkan jempolnya dan berkata, "Benar! Itu adalah jawaban yang sangat bagus!"
Su Yueyin yang tidak menyangka bahwa dia bisa memiliki pemikiran sejauh itu tersipu setelah mendapatkan pujian. Namun, ketika dia mengingat setiap detil yang dia lewatkan, ia segera menyadari satu hal. Mata indah Su Yueyin segera melebar, seolah-olah itu akan keluar.
Dia segera berseru, "Aih! Jadi, Mo Li juga merupakan salah satu komplotan Jenderal Lao! Dan saat Senior bilang kalau Yan Xu ada bersama satu yang lain, itu berarti ..."
Su Yueyin yang tidak memperhatikan ekspresi terkejut dari guru maupun seniornya, terus berpikir keras hingga beberapa saat kemudian dia akhirnya menemukan kalimat yang pas dan segera mengumandangkannya.
"Saat ini Yan Xu sedang berada bersama Wang Jia Li dan mereka masih aman. Jika kalian masih bisa santai, maka kesimpulannya ada dua ...."
"Pertama, mereka berhasil kabur dan bersembunyi hingga menunggu bala bantuan dari sekte datang. Jika itu Yan Xu, dia pasti sudah mengira kalau para tetua sekte akan datang, jadi mereka hanya perlu menghindari musuh."
"Kedua, mereka berhasil menggagalkan rencana itu dan berada dalam kondisi aman. Senior tidak bisa merasakan adanya kehadiran orang lain selain mereka berdua, kemungkinan musuh sudah mati tidaklah rendah!"
"Apa mungkin mereka berdua bisa mengalahkan semua musuh? Itu berarti, bukankah Mo Li maupun Jenderal Lao juga sudah mati?" Su Yueyin memandang Su Yinfeng dan Lan Xihe secara bergantian dengan wajah dinginnya meminta jawaban.
Kedua wanita itu saling memandang satu sama lain, keterkejutan yang sangat tidak bisa mereka sembunyikan muncul pada wajahnya masing-masing. Di dalam benak kedua wanita itu, mereka memiliki satu pemikiran yang sama.
'Anak ini kalau sudah menggunakan otaknya, ternyata dia dapat menghasilkan pemikiran yang sangat deduktif!'
Setelah beberapa saat berlalu, Su Yinfeng berdeham lalu menjawab, "Ya, kemungkinan besar semua musuh telah binasa. Semenjak kami datang, kami melihat dengan kesadaran ilahi ada beberapa bekas pertarungan juga kawah besar yang baru saja terbentuk."
Su Yueyin merasa tidak percaya karena yang mereka bicarakan adalah dua murid yang satunya berada di ranah alam mistik, satunya lagi hanyalah tahap kelima inti emas. Tidak mungkin mereka bisa membinasakan semua musuh! Su Yueyin mengalihkan pandangannya ke arah Lan Xihe.
Di sisi berseberangan, Lan Xihe hanya mengangguk sebagai tanda persetujuan.
Su Yueyin : "Apa kalian sedang berkomplot untuk menipuku?(눈‸눈)"
__ADS_1