
Akhirnya, tiba saatnya bagi Su Weiyan yang sudah seperti Ayah juga merupakan kakak senior keempatnya, membiarkan adik bungsu dan juga anak gadisnya yang manis menikmati kehidupan berkultivasi bersama dengan orang lain, terlepas dari seberapa biadab dan mudanya generasi pria itu.
Su Weiyan mengambil beberapa slip giok yang berisikan pengetahuan juga penelitiannya tentang susunan formasi selama hidup ribuan tahunnya, kemudian dia berjalan ke arah Su Yueyin yang wajahnya masih merah merona.
Dia menyerahkan slip giok itu di tangan peri abadi adik bungsunya sambil berkata dengan nada hangat, "Anakku, Yin'er kecil, serahkan slip giok ini kepada keponakan Yan Xu atas namaku."
"Slip giok ini berisikan tentang pengetahuan tentang susunan formasi yang aku bersama Kakak Kedua pelajari semasa hidup kami. Kakak Kedua dan aku bukan tanpa alasan saat mendapatkan julukan ahli formasi dan yang ada di dalam slip giok ini adalah salah satu sebabnya."
"Eh?" Meskipun bingung, Su Yueyin mengambil slip giok itu dan segera melemparkannya ke dalam kantung penyimpanan dimensinya.
Kemudian, dia bertanya dengan ekspresi bingung, "Kakak Keempat, kenapa kamu tiba-tiba menjadi peduli dengan Yan Xu?"
'Bahkan kamu ingin ayahmu mengatakan itu secara langsung?! Nak, kamu terlalu berlebihan! Hati Ayah masih belum siap untuk ini!' Su Weiyan benar-benar ingin menangis di dalam hatinya.
Su Weiyan mendongak dan menarik napas panjang dalam-dalam. Kemudian, dengan senyum ramah dan hangat di wajahnya, dia berkata dengan lembut, "Setelah pertemuan kami di Benua Selatan, aku menyadari bahwa dia adalah pria sejati yang bersembunyi terlalu dalam. Oh iya, betul juga! Istriku—uhuk! maksudku, Kakak Senior Ketiga membuatkan pakaian dan jubah abadi baru khusus untukmu."
Su Weiyan mengambil sebuah kantung dengan ukuran sedang dan memiliki tampilan yang mewah. Dia menyerahkan itu kepada Su Yueyin sambil tersenyum hangat.
"Ambil ini juga. Itu adalah bedak dan juga beberapa kosmetik yang disempurnakan dan merupakan barang berkualitas tinggi hanya untukmu. Dengan kosmetik dan bedak itu, wajah dengan ekspresi dingin mu akan menunjukkan pesona maksimalnya."
"Dan ini ... beberapa perhiasan untuk wanita dewasa cantik bagaikan peri abadi sepertimu. Jika kamu masih ingin yang lain, misalkan pakaian baru atau mungkin perhiasan yang lebih indah, kamu bisa memintanya kepada Kakak Senior Ketiga untuk membuatkannya khusus untukmu."
"Bedak? Kosmetik? Perhiasan wanita dewasa? Dan juga ini ..."
Su Yueyin merogoh isi kantung dengan ukuran sedang itu, dia menarik beberapa gaun keluar. Beberapa pakaian di bagian atas terlihat sangat indah dengan berbagai macam warna dan corak. Namun, ketika semakin ke bawah, ekspresi Su Yueyin mulai terdistorsi saat melihatnya.
Dia melihat adanya gaun tipis dan pendek yang biasanya digunakan pasangan dao wanita pada saat bersama dengan pasangan dao prianya di malam hari. Terdapat beberapa garis hitam di kening indah Su Yueyin.
__ADS_1
"Kakak Keempat, apakah otakmu sudah geser gara-gara pukulan keras Senior Xihe dan hukuman dari Guru? Semenjak kapan aku memakai pakaian seperti ini?!" emosi Su Yueyin meledak bagaikan bom yang sudah kehabisan hitungan mundurnya.
Su Weiyan terbatuk sekali kemudian berkata, "Ayahmu hanya ingin kamu tampil dengan pesona penuh, Nak. Meskipun kamu sudah cantik secara alami, kamu perlu berdandan sesekali."
"Oh ya, kepindahan mu menurut Guru sudah diperhitungkan oleh pria biadab itu, sepertinya dia benar-benar menginginkan kamu untuk tinggal di bawah atap yang sama.dengannya."
"Bukan hanya itu saja, dia bahkan membuat kamu pindah ke tempat terbaik untuk berkultivasi di sekte! Lihat? Dia sungguh lelaki yang sangat biadab dan tak tahu malu!"
Su Yueyin mengangkat alisnya, "Dia? Memperhitungkan hukuman kepindahan sementaraku ke Puncak Angin?"
Dia mengamati Su Weiyan dari kepala sampai ke ujung kaki, mengerutkan kening dan mengerucutkan bibirnya. Dia meletakkan kembali barang-barang tadi ke dalam karung yang diberikan oleh kakak senior keempatnya. Dia tidak tahu apakah harus menangis atau tertawa.
Su Yueyin menekan pelipisnya sambil berkata, "Jadi, Kakak Senior berpikir bahwa Yan Xu menginginkan aku untuk tidur seatap dengannya?"
Su Weiyan mengangguk berat seperti ayam mematuk tanah.
"Dia sudah merencanakan ini sejak meminta kompensasi? Bahkan Guru sendiri sampai jadi gila hingga menghukummu karena kita semua sudah diperhitungkan olehnya? Bahkan dia memperhitungkan kita semua ... demi kepindahanku juga?" Su Yueyin bergumam kecil pada akhiran kalimatnya.
Dapat terlihat mengalir asap dari kepala kecil Su Yueyin. Wajahnya tambah merona merah.
'Ba-bagaimana bisa aku menyukai dia? Mustahil, aku adalah bibinya dan dia itu merupakan keponakan yang berbeda jauh generasinya denganku!'
Su Yueyin mulai mencoba menolak pemikirannya dengan keras. Namun, pemikiran itu dapat dipatahkan tanpa memerlukan logika yang sehat juga rasional. Tidak ada yang bisa dikaitkan dengan rasionalitas apabila sudah menyangkut perasaan.
Mata Su Yueyin melebar sambil menatap kosong ke arah kantung mewah yang diberikan oleh kakak keempatnya. Beberapa kali dia mengedipkan mata dan dapat terlihat bulu mata menawan itu bergerak dari atas ke bawah secara berulang kali.
Su Weiyan yang melihat reaksi yang terlalu berlebihan dari adik bungsu yang juga merupakan anak gadisnya yang manis, segera menekan titik dantiannya untuk menenangkan perasaan kehilangan banyak.
__ADS_1
Di satu sisi dia benar-benar tidak ingin merelakan kepergian anggota keluarganya jika bisa, namun dia tidak dapat menahan kedewasaan yang seharusnya sudah ada semenjak ratusan tahun lalu dari putri kecil manisnya.
Terkadang dia berpikir, apakah dia harus menguji Yan Xu di masa depan? Dengan begitu mata putri kecilnya dapat terbuka dan melihat bagaimana pria biadab itu melakukan hal-hal kotor dan merencanakan berbagai macam skema licik tak bermoral.
Dari lubuk hatinya sebagai seorang ayah, dia memiliki keinginan gelap untuk merobek-robek wajah biadab Yan Xu. Namun, dia cuma bisa berfantasi akan hal itu karena adik junior bungsu akan membencinya apabila dia melakukan hal tercela seperti itu.
Su Weiyan dengan lembut memanggil nama bayi manis yang dulu ia asuh dengan penuh kasih sayang walau sempat tidak sengaja memandikannya di dalam tong penuh anggur.
"Su Yueyin ..."
Masih tidak ada balasan dari gadis yang berada dalam keadaan linglung akibat pemikiran deduksi otaknya terlalu banyak digunakan.
"Yin'er kecil ...." Su Weiyan memberikan sedikit gelombang kejut untuk menyadarkan kembali adik bungsunya.
Su Yueyin yang menerima gelombang energi qi itu tersentak dan segera kembali ke kenyataan, "Eh? Y-ya?"
Su Weiyan tersenyum hangat ke arahnya dan berkata, "Hiduplah dengan bahagia dan sehat selalu."
Dia sudah berbalik dan pergi keluar tanpa menunggu balasan Su Yueyin. Sementara itu, Su Yueyin yang berada di belakang menangkupkan kedua tangannya dan memberikan salam hormat ke arah punggung Su Weiyan.
Meskipun dia tidak berbalik, Su Weiyan dapat melihat gambaran itu dari kesadaran ilahinya. Air mata menetes dari kedua mata tuanya.
'Hatiku benar-benar merasa sakit, ketika melepas kepergian putri manisku ke tempat calon menantu yang biadab.'
......................
Sementara itu, di Puncak Angin.
__ADS_1
"Achoo!!! Aaa-aaa—acchoooo!!!— Aiyoo! Siapa yang sudah berkata buruk tentangku dari jauh?! Punggungku juga merasa kedinginan! Brrr!"
Yan Xu yang sudah tergeletak di tanah seperti mayat hidup akibat pemukulan tak bermoral Lan Xihe bersin beberapa kali dan merasakan dingin pada tulang punggungnya.