
Setelah setengah jam Wang Jia Li dan Yan Xu menceritakan semua kejadian ada pada sisi mereka secara lengkap.
"Jujur saja, untuk seukuran murid kalian berdua terlalu tenang dalam menceritakan pengalaman yang mengerikan."
Su Weiyan menghela napas kemudian melanjutkan, "Setelah mendengarkan seluruh cerita dari berbagai sudut pandang dan melihat dengan mata kepalaku sendiri pada beberapa lokasi, kira-kira aku sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi."
"Mo Li telah membawa dendam pribadi pada ekspedisi kali ini. Dia juga tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan suku asing demi kesuksesan balas dendamnya. Skema itu menyebabkan beberapa orang menderita kemalangan besar, seperti kalian berdua juga Tetua Fan Jiaodao— haih ...."
"Tidak hanya sampai disitu saja, ini juga bersangkutan dengan anggota suku asing yang memanfaatkan Mo Li juga menggunakan teknik pengendalian terhadap beberapa korban."
"Dia juga sudah memiliki hubungan dengan pihak iblis, hingga membuat orang lain membuka celah agar iblis tingkat rendah-menengah dapat masuk ke dunia manusia."
"Skema ini bukan hanya sekedar balas dendam maupun antara suku asing juga keluarga kekaisaran. Ini sudah melibatkan umat manusia dan para iblis yang berbeda dimensi dengan kita." Su Weiyan memijat pelipisnya yang memiliki banyak kerutan.
Dia menghela napas lelah dan melanjutkan, "Mengesampingkan tentang skema biadab yang gagal, Wang Jia Li sudah melanggar aturan sekte karena telah mem—"
Lan Xihe segera memotong dengan berteriak, "Su Weiyan!"
"A-ada apa Senior?" Su Weiyan bingung karena dia masih belum membahas masalah kompensasi, seharusnya tidak ada kesalahan pada setiap kata yang telah dia sampaikan.
"Apa hatimu dipenuhi dengan awan gelap? Sebelum mengatakan itu, kamu harus lebih memikirkan bagaimana perasaan Wang Jia Li! Apa kamu pikir dia akan tega membunuh gurunya sendiri?!"
"Sehari menjadi guru, selamanya menjadi seorang ayah. Bagaimana bisa kamu menjadi begitu tidak bermoral, menyebutkan seorang anak akan membunuh ayahnya sendiri dengan begitu dingin?! Apa kamu sudah mulai pikun karena bertambah usia, hah?!"
Lan Xihe mendengus beberapa kali dan setiap kalimatnya benar-benar seperti pisau tajam yang diarahkan langsung tepat menuju jantung Su Weiyan.
Dari samping, Su Yueyin juga ikut memarahinya, "Itu benar! Kakak Keempat, hanya karena pintar bukan berarti kamu harus membuang seluruh hati nurani demi memakai seluruh sel otak tuamu itu!" Hidung kecil di wajah bulat Su Yueyin melebar, memperlihatkan dia benar-benar sangat marah.
Su Weiyan telah dibuat menjadi serba salah karena mereka berdua. Dia menatap Wang Jia Li untuk meminta bantuan.
Wang Jia Li yang melihat anggukan kecil dari Yan Xu menangkupkan kedua tangannya dan berkata, "Guru, Murid tidak apa-apa. Apa yang dikatakan oleh Paman Weiyan juga merupakan fakta, setidaknya biarkan dia menyelesaikan kalimatnya."
__ADS_1
"Guru juga sudah meninggalkan wasiat terakhirnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Jadi, tidak ada penyesalan di hati Murid karena telah melaksanakan wasiat terakhir dari guru sebelumnya."
"Wang Jia Li ...." Tatapan dingin dari Lan Xihe kembali menjadi lembut, dia juga mengangguk dengan senyum hangat kepada muridnya.
Meskipun mulutnya bicara begitu, namun mata Wang Jia Li berkata lain. Semua orang dapat melihat ada kesedihan yang mendalam, meskipun dia mencoba untuk menyembunyikannya.
Akan tetapi, mereka tidak membahas itu lebih lanjut dan membiarkan Su Weiyan kembali melanjutkan penjelasannya. Empat pasang mata itu menatap ke arah Su Weiyan, seolah-olah meminta dia untuk melanjutkan.
'Tadi kalian memarahiku, sekarang kalian ingin aku melanjutkan penjelasan tadi! Apa sih mau kalian?! Aku benar-benar merasa seperti ditendang secara paksa ke kubangan lumpur, kemudian ditarik kembali oleh kalian yang menendangku!' keluhnya dalam hati.
Su Weiyan yang menerima tatapan dari semua orang terbatuk sekali dan melanjutkan, ".... Meskipun karena keadaan yang mendesaknya, tetap saja Wang Jia Li telah membunuh dua orang sesama anggota sekte yang dianggap melanggar aturan."
"Pertama, dia membunuh iblis lalat yang dipanggil sesama murid pada generasinya. Itu masih bisa dianggap secara tidak langsung dia juga mencegah bencana di alam manusia. Ini masih bisa dikaitkan dengan perbuatan amal baik, sehingga dia berhak mendapatkan sebuah prestasi dan bukan hukuman."
"Masalahnya ada pada yang kedua. Meskipun Tetua Fan Jiaodao telah dikendalikan menggunakan ilmu sihir suku asing, tetap saja pada batu permata para tetua sekte akan tertulis tubuhnya telah dibunuh oleh Wang Jia Li. Dengan kata lain, itu menyimpulkan bahwa Wang Jia Li telah membunuhnya."
"Berapa kali pun kita menjelaskan ke para orang tua yang keras kepala, Wang Jia Li tidak akan pernah lepas dari pandangan curiga mereka. Seperti kata pepatah, sekali jatuh masih dianggap ceroboh, dua kali jatuh akan dianggap suatu ketidakpintaran."
Semua orang yang ada di sana mengangguk.
"Sekarang, bagaimana kita akan mengatasi hal ini?" tanya Su Yueyin dengan acuh tak acuh.
Su Weiyan masih terdiam, dia juga menundukkan kepalanya ke bawah sambil menatap ke tanah kosong seolah-olah sedang berpikir. Sementara itu, Lan Xihe mengirimkan sebuah transmisi suara kepada murid nakalnya.
"Murid Nakal, kalau situasinya begini, bukankah kamu sudah membawa masalah ke Puncak Angin kita?!" terdapat nada kesal dalam transmisi suara Lan Xihe.
"Tidak Guru, ini adalah berkah dalam sebuah kemalangan bagi kita dan dia," jawab Yan Xu dengan tenang.
"Terus, solusi apa yang kamu miliki untuk permasalahan seperti ini?!" Lan Xihe agak skeptis terhadap betapa tenangnya Yan Xu.
"Sebelumnya, mereka hanya tahu bahwa Wang Jia Li adalah seorang pria, namun kenyataannya berbeda dari yang mereka lihat. Kita tinggal menggunakan kebiasaan para anggota Puncak Angin saat pergi ke luar puncak."
__ADS_1
"Apa otakmu sudah geser? Penampilan memang bisa berubah, tapi tidak dengan aura, senjata maupun teknik bertarungnya!" teriak Lan Xihe dalam transmisi suaranya.
Yan Xu sedikit mengernyitkan salah satu alisnya karena transmisi itu sedikit membuat kepalanya sakit karena teriakan Lan Xihe.
"Bukankah kita hanya perlu menggantinya saja? Aura versi wanita Wang Jia Li memang samar-samar mirip, namun pembawaannya berbeda. Kita cuma perlu mengakali pedang lotus dan teknik bertarungnya," jawab Yan Xu dengan nada hangat.
"Hmm ... ucapanmu ada benarnya juga. Aura dan teknik bertarung juga bisa terpengaruh oleh ajaran gurunya. Aku bisa mengajarkan berbagai macam teknik yang cocok untuk dia—hais! Kekhawatiran ku selama ini sia-sia saja!"
Yan Xu tersenyum dengan ekspresi tak berdaya mendengarkan balasan gurunya. Dia berpura-pura tidak mendengarkan dan segera beralih ke situasi sekarang.
Su Weiyan masih terdiam sambil berpikir, sementara Su Yueyin melirik kesana kemari melihat ekspresi semua orang yang sama-sama bingung, dalam pandangannya.
Beberapa saat kemudian, Wang Jia Li angkat bicara setelah menerima usulan Yan Xu melalui transmisi suara.
"Ada apa Wang Jia Li?" tanya Su Weiyan yang telah pulih ke kenyataan.
Wang Jia Li tampak ragu namun dia masih melanjutkan, "Sebenarnya, kebanyakan orang menganggap Murid sebagai pria dan aura milik Murid saat ini jelas memiliki perbedaan dari sebelumnya. Jadi, bukankah kita tinggal menyamarkan sisanya dan menguntungkan bahwa pria fiktif bernama Wang Jia Li telah dihukum berat karena kesalahan yang telah Murid lakukan?"
Wajah tua Su Weiyan menjadi bersinar cerah, mulutnya membentuk lingkaran seolah-olah menemukan sebuah ide.
Dia segera tersenyum hangat dan berkata, "Itu ada benarnya juga! Aku juga hampir tidak mengenalimu sebelumnya! Aiya! Selama ini kita cuma mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu!"
Pertanyaan tak terduga muncul dari mulut Su Yueyin, "Umm ... bagaimana kalau ada orang lain yang mengetahui rahasia bahwa Wang Jia Li adalah seorang wanita?"
Wang Jia Li segera menjawab pertanyaan Bibi Yueyin, "Jika ada, itu menandakan bahwa kemungkinan besar mereka adalah antek suku asing atau telah dikendalikan oleh ilmu sihir."
Su Yueyin menepuk pahanya dengan ekspresi dingin sambil berkata, "Benar juga, ini bisa menjadi salah satu cara bagi kita dalam memancing ikan yang bersembunyi di kegelapan danau! Kamu benar-benar bijak, Wang Jia Li!"
Wang Jia Li hanya tersenyum kecut karena sebenarnya itu adalah ide milik Kakak Senior Yan Xu, bukan miliknya. Dia hanya menyampaikan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kakak Senior Yan Xu saat mengirimkan pesan kepadanya.
Su Weiyan yang mendengarkan mengangguk ikut setuju dengan ucapan adik junior bungsunya. Setelah menemukan resolusi untuk hukuman, akhirnya mereka sampai pada tahap kompensasi lagi!
__ADS_1
'Aku punya firasat bahwa yang ini tidak akan berakhir dengan damai, setidaknya jika itu orang lain yang akan bernegosiasi dengan induk juga anak rubah licik ini!'