
Yan Xu memberikan jeda sebentar dan menatap lurus ke arah Jiang Nan lalu berkata, "Pangeran mana yang keluarga Jiang beri dukungan?"
"Keluarga Jiang kita tidak mendukung siapapun dan mengambil posisi netral untuk waktu yang lama," jawab Jiang Nan.
Yan Xu mengangguk lalu mengalihkan perhatiannya kepada para tetua dan berkata, "Bagaimana dengan perdagangan yang kalian lakukan dengan mereka?"
Salah satu tetua keluarga Jiang— Jiang Quiya menjawab pertanyaan itu dengan suara dalamnya, "Perdagangan yang kita lakukan saat ini masing-masing 10% dari ketiga pangeran yang ingin memasok barang, sisanya dari rakyat maupun pihak lainnya."
Yan Xu bergumam kecil, "30% ya ..." ada jeda sedikit sebelum dia melanjutkan, "Tetap jaga rasio itu dan jangan ada yang berani meningkatkan pasokan barang kepada salah satu dari mereka. Jika kalian ingin hidup, berada di tengah adalah yang terbaik untuk sekarang."
Yan Xu tidak bisa mengatakan bahwa mereka sudah dicap sebagai bidaknya oleh salah satu petinggi di istana. Jika seorang pangeran ingin mendapatkan dukungan dari keluarga Jiang, orang itu wajib meyakinkan Yan Xu terlebih dahulu sebagai penggerak di belakang keluarga Jiang.
Dengan rasio yang seimbang, jumlah pasokan yang mereka dagangkan kepada masing-masing pangeran akan mempengaruhi proses perkembangan tentara pihak lain. Jika mereka terlalu berlebihan di satu pihak, maka pihak lain pasti akan menusuk mereka dari dua arah.
Keluarga Jiang saat ini adalah pemasok bahan makanan, perlengkapan juga kebutuhan lain yang paling berharga dan terbesar di Kekaisaran Agung Ming. Para pangeran tidak mungkin akan mengabaikan potongan kue manis dari keluarga Jiang kalau ingin memperkuat tentaranya.
'Sehebat apapun kepemimpinan mereka, mustahil mempertahankan takhta apabila prajurit di bawah naungannya lemah.'
Yan Xu kemudian melanjutkan, "Dengan berada di tengah, kalian semua akan mendapatkan pengawasan dari segala arah. Tidak ada pangeran yang akan berani menggertak keluarga Jiang, sebelum mereka menemukan pemasok yang lebih baik dan besar."
"Satu hal yang penting, kalian harus segera memonopoli seluruh pemasokan yang ada di wilayah Kekaisaran Agung Ming. Jika ada sedikit saja kesalahan dalam rencana monopoli ini, keluarga Jiang tidak memiliki harapan untuk bertahan di tanah Kekaisaran Agung Ming."
Yan Xu mengakhiri ucapannya sambil menutup kedua mata dan bersindakap.
__ADS_1
Mendengar itu, Jiang Nan kembali bertanya, "Leluhur, bagaimana caranya agar keluarga Jiang kita bisa memonopoli perdagangan seluruh wilayah Kekaisaran Agung Ming?"
Yan Xu bertanya balik, "Bagaimana cara kita selama ini terhubung?"
Jiang Nan menjawab dengan ekspresi bingung, "Melalui surat dan sebuah kerangka maupun contoh barang ciptaan baru beserta resepnya?"
Yan Xu mengangguk lembut, "Betul, itu adalah saat dimana keluarga Jiang mulai berkembang bukan?"
Ekspresi seluruh anggota keluarga yang hadir menandakan persetujuan atas pernyataan yang dia katakan.
Dia kembali melanjutkan dengan suara datarnya, "Aku akan mengirimkan beberapa ide baru untuk kalian secara berkala. Kemudian, cara kalian merangkul pedagang yang memiliki skala bisnis kecil maupun menengah adalah menggunakan apa yang disebut kelompok dagang."
"Kelompok dagang?" Jiang Nan memiringkan kepalanya.
Mata seluruh tetua yang mendengarkan dipenuhi dengan berbagai cahaya kekaguman. Mereka tidak pernah berpikir ada cara untuk memonopoli perdagangan seperti itu.
Setelah beberapa saat, Jiang Nalan bertanya, "Leluhur, bagaimana kalau mereka tidak setuju berada di bawah naungan kelompok dagang keluarga Jiang dan membuat yang baru?"
Jiang Nalan adalah seorang gadis cerdas yang masih berusia 19 tahun. Memiliki fitur rambut panjang hitam yang terurai dan pupil mata berwarna emas. Kemampuannya dalam bidang ekonomi dan bisnis adalah yang terbaik dari sesama anggota keluarga Jiang satu generasinya.
Dia memberikan pertanyaan yang seharusnya mereka tahu sendiri bagaimana itu akan dijawab oleh Leluhur. Namun, dia tetap mengemukakan itu karena berpikir kalau semuanya tidak harus selalu dimenangkan dengan kekerasan. Itu juga yang menjadikan dia sebagai gadis biasa, dibandingkan bakat lain karena kemurahan hati yang bersih.
Yan Xu yang tahu akan pemikiran gadis itu tersenyum lembut sambil berkata, "Lan'er, apa menurutmu ada cara lain selain memusnahkan mereka yang menghalangi jalan kita?"
__ADS_1
Mendengar namanya disebut, Jiang Nalan bergidik sedikit. Dia menguatkan tekadnya dan berkata, "Untuk itulah kita harus melakukan negosiasi damai dengan mereka. Jika kita terus menyingkirkan siapapun, tidak menutup kemungkinan kalau ada dari keluarga mereka yang akan balas dendam suatu hari nanti."
Yan Xu mengangguk setuju dengan pendapat gadis kecil itu. Hanya saja, dunia tidak semudah yang dapat dia bayangkan. Setiap karma memang ada, hanya saja balas dendam dapat terwujud ketika orang itu memiliki kekuatan lebih dari targetnya.
Dia berjalan ke arah Jiang Nalan dan mengusap kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Dunia ini memiliki hukum rimba, dimana yang kuat akan memangsa yang lemah. Jika kamu berada di posisi mereka, apakah kamu akan dengan mudahnya memberikan pijakan kepada orang lain sehingga mereka bisa berdiri di atasmu?"
Jiang Nalan menundukkan kepalanya. Kedua pipi mulus dan putih itu merona merah karena malu, wajahnya sudah terasa hangat dan kepalanya sedikit merasa pusing.
Dia bersikeras menjawab dengan suaranya yang bergetar, "T-tidak, Leluhur. Lan'er akan memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak jika berada di posisi mereka."
"Sayangnya ... tidak semua orang akan berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak. Meskipun mereka berpikir terlebih dahulu, hati manusia tidak ada yang tahu apa isinya." Yan Xu menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi datar.
"Hati manusia?" tanya Jiang Nalan sambil mendongakkan kepalanya, menatap bingung ke arah Yan Xu.
Yan Xu tersenyum mengangguk dan menjentikkan jarinya ke hidung manis Jiang Nalan sambil berkata, "Hati manusia kebanyakan tidak sebaik milik Lan'er."
"—Aiya! Leluhur, tolong jangan perlakukan Lan'er seperti anak kecil!" Jiang Nalan menggembungkan kedua pipinya menandakan bahwa ia sedang marah dengan rona merah yang sudah menyala seperti tomat pada wajahnya.
Yan Xu tertawa lembut dan berjalan kembali ke kursinya kemudian berkata, "Daripada suatu hari nanti mereka akan balas dendam, lebih baik singkirkan saja terlebih dahulu sampai ke akarnya. Lingkaran iblis akan terus berputar jika kalian tidak membersihkan hingga ke akar terdalam mereka."
Dengan ucapan hangat itu, semua orang mengerti bahwa Yan Xu telah memberikan instruksinya kepada mereka secara tidak langsung. Para hadirin mengangguk dalam diam, sambil merenungkan bagaimana mereka akan menjalankan tugasnya.
Perjamuan itu terus berlanjut hingga akhirnya, sampai dimana puncak akhir saat semua anggota keluarga Jiang telah pergi ke tempat peristirahatannya masing-masing. Hanya tersisa empat orang di aula utama.
__ADS_1