Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Administrasi, Hukuman Dan Kompensasi (2)


__ADS_3

Mengabaikan tatapan tajam Su Yinfeng, dia melanjutkan, "Masih ada satu murid lagi yang akan aku terima sebagai murid langsung di Puncak Angin."


"Eh?! Apakah itu murid dari puncak lain?" Su Yinfeng tidak bisa tidak terkejut mendengar kabar yang tiba-tiba itu.


Lan Xihe mengalihkan pandangannya ke Wang Jia Li dan berkata, "Apa kamu tahu tentang calon murid keempat yang akan datang nanti?"


Wang Jia Li mengangguk dengan senyum hangat.


Mengkonfirmasi bahwa sesama murid ini sudah mengetahui tentang satu sama lain, kemungkinan mereka bertemu dengan Yan Xu pada saat berada di Hutan Kekacauan. Hal anehnya adalah dia tidak dapat menemukan keberadaan dari calon murid keempatnya.


Lan Xihe bertanya dengan sedikit penasaran di permukaan, "Bagaimana caranya murid nakal itu akan memperkenalkan calon murid keempat kepadaku? Orang seperti apa dia?"


Mendapatkan pertanyaan beruntun, Wang Jia Li hanya bisa tersenyum hangat dan dengan jujur menjawab, "Bukankah Kakak Senior bilang itu adalah kejutan? Bukan sebuah kejutan namanya, apabila Guru sudah mengetahuinya dan Murid tidak dapat bicara karena sudah diminta bungkam oleh Kakak Senior."


"Tidak, tidak. Kamu boleh memberitahuku tentang dia sedikit saja sekarang. Itu tidak akan mengurangi elemen kejutannya."


Wang Jia Li menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Tidak, tetap saja Murid tidak bisa melanggar ketentuan dari Kakak Senior, Guru."


Lan Xihe mengerutkan keningnya, "Kenapa kamu sangat patuh dengan ucapan murid nakal itu sih?!"


"Karena sebelumnya, Murid sudah dibantu berulangkali sehingga diberikan kehidupan baru juga berkat Kakak Senior. Murid sudah menetapkan bahwa patuh dengan Kakak Senior Yan Xu, yang juga merupakan Kakak Tertua dalam hierarki senioritas termasuk salah satu aturan penting bagi Murid."


Lan Xihe menjatuhkan rahangnya, ketika mendengar jawaban lugas dari murid ketiganya. Entah permen manis seperti apa yang diberikan oleh murid nakal itu kepada Wang Jia Li sehingga dia menjadi sangat patuh terhadapnya!


Su Yinfeng yang berada di sebelah memutar tubuhnya ke arah lain. Salah satu tangan indah menutupi mulutnya dan tubuh ramping itu bergetar hebat. Dia segera membuat dinding perisai anti suara di sekitar mulutnya.


Lan Xihe yang melihat itu hanya bisa menghela napas berat. Sementara Su Yinfeng tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata. Dia benar-benar akan tertawa sampai menangis dibuat kelakuan jenaka para murid beserta guru mereka ini!


'Apa ini? Bahkan Guru tidak bisa menjinakkan murid ketiganya gara-gara pengaruh Murid Tertua?! Menarik! Mungkin, seharusnya aku sesekali mengunjungi murid itu! Dia pasti memiliki akal bulus yang menyenangkan untuk didengar juga dilakukan!'


Ketika berbagai pemikiran muncul di benaknya, mata Su Yinfeng berubah menjadi bentuk bulan sabit. Terdapat beberapa kesenangan tersendiri dalam fantasinya yang membuat dia merasa bahagia seketika.


Dari sampingnya, suara embusan napas berat Lan Xihe terdengar kembali. Namun, dia tidak seperti biasanya yang akan meledak dan memukuli pihak lain tanpa ampun karena membuatnya marah. Dia hanya menggelengkan kepalanya dan merasa pusing, sehingga memijat keningnya beberapa kali.


Melihat itu, Wang Jia Li memanggilnya dengan pelan, "Guru ...." ekspresinya seperti tertekan, antara tidak tega dan tak dapat mengingkari persiapan kejutan dari Kakak Senior Yan Xu.

__ADS_1


Lan Xihe segera menunjukkan senyum lembut dan hangatnya kepada Wang Jia Li yang memanggil, "Tenang saja, Guru bisa mengerti kalau kamu tidak bisa melawan kakak tertuamu. Lagipula biasanya dia bukan orang yang jahat maupun pelit akan sesuatu, mungkin saja karena ini terlalu spesial jadi dia membuat persiapan seketat mungkin."


Ketiga Su yang ada di ruangan itu menjatuhkan rahang mereka. Su Yinfeng, Su Weiyan dan Su Yueyin memiliki pendapat di relung terdalam hatinya masing-masing.


'Kakak tidak marah?! Dia bahkan mau berkompromi dengan para murid?! Obat macam apa yang telah diselipkan para murid pada makanan yang dia makan selama di Puncak Angin? Mengerikan! Aku harus hati-hati dalam memakan apapun apabila sedang di sana!'


'Keponakan Yan Xu sangat luar biasa! Saat dia mengatakan kalau ia menyukai semuanya, aku sudah yakin dia benar-benar serius dalam hal itu! Nak, kamu benar-benar seorang pria sejati! Paman akan memberimu hadiah yang menarik, tunggu saja nanti!'


'Se-senior Xihe tidak marah?! Bagaimana bisa ini terjadi?! Apakah saat dalam perjalanan pulang dia terlalu banyak menghirup miasma qi hingga otaknya sedikit geser?!'


Pertemuan di ruang Kepala Sekte berlangsung dengan sangat lancar walaupun ada sedikit tekanan dari kekerasan tak bermoral Lan Xihe.


Calon murid keempat juga sudah mendapatkan persetujuan dalam administrasi sebagai murid yang satu generasi di atas murid bungsunya dan memiliki catatan laporan kegiatan murid palsu untuk menyempurnakan identitasnya.


Dengan berakhirnya pertemuan yang memakan waktu selama tiga setengah jam, para anggota Puncak Angin meninggalkan kantor dan sekarang hanya tersisa dua orang.


Guru dan murid keempatnya, Su Yinfeng dan Su Weiyan.


Tatapan sinis Su Yinfeng memberikan sebuah kode kepada murid keempatnya. Menanggapi itu, Su Weiyan mengeluarkan dua gulungan kertas perkamen yang selama ini ia bawa di dalam kantung penyimpanan dimensinya.


"Benar, Guru. Lebih tepatnya, itu adalah permintaan dari Murid Tertua Senior Xihe."


Su Yinfeng mengangkat alisnya tercengang. Tangan rampingnya yang mulus membuka gulungan kertas yang tebal itu dan membaca detil tertulis satu per satu. Semuanya terlihat sangat rapi dan sudah terencana dengan matang. Tidak ada masalah dengan lahan, pembangunan, bahan bangunan, tenaga kerja maupun biaya pembangunan.


Setelah selesai melihat semuanya, Su Yinfeng tertawa terbahak-bahak sambil menekan perut rampingnya yang hanya sebesar satu genggaman lengan besar seorang kultivator pria. Ruang kantor pribadinya berguncang karena tawa keras itu juga menghasilkan gelombang enegi qi yang kuat.


Setelah selesai tertawa terbahak-bahak, lengan ramping Su Yinfeng memijat keningnya sambil berkata, "Kita sudah diperhitungkan oleh Murid Tertua Kakak."


Mata Su Weiyan terbelalak saat mendengar ucapan gurunya. Namun, dia tidak berani berpendapat.


Bagaimana bisa Su Yinfeng tidak tertawa hingga sekeras ini jika isi tulisan dari gulungan perkamen itu adalah hasil yang dibuat hanya dengan pemikiran satu orang saja. Terlebih lagi, itu adalah murid tertua kakaknya!


Dia sudah memperkirakan lahan kosong untuk tempat dijadikan sebagai tempat pembangunan, membuat desain bangunan secara menyeluruh dan ada beberapa rahasia kecil dalam tiap tulisannya.


Setiap kalimat itu benar-benar tersembunyi dan mungkin hanya dia dan Lan Xihe yang dapat menyadarinya dengan cepat.

__ADS_1


Di dalam kalimat itu ada bertuliskan permintaan tambahan seperti membangun ruang refleksi di area belakang puncak.


Dia bahkan sudah memprediksi bahwa Su Yueyin akan menjadi tetua sementara, dalam kalimat rahasia dia juga berkata akan membuatnya bekerja keras menajadi relawan tenaga kerja dan memberikan hadiah yang mungkin tidak akan bisa ditolak oleh murid bungsunya.


'Ramuan pemimpi keabadian ....'


Itu merupakan bahan obat yang dapat membuat seorang kultivator mabuk, bisa dibilang ia sudah memprediksikan bahwa jatah anggur Su Yueyin akan dihentikan sementara waktu.


Su Yinfeng menghela napas lelah, dia juga hampir menangis dengan betapa detilnya permintaan dan langkah-langkah yang dibuat oleh Yan Xu, murid tertua kakaknya.


'Pantas saja Kakak sangat menyayangi Murid Tertua, dia terlalu licik dan teliti dalam meminta kompensasi!'


'Apanya yang tidak meminta kompensasi untuk dirinya sendiri?!— Cuih! Dia jelas-jelas memintanya secara terpisah dan tidak langsung dalam perlengkapan dan bahan-bahan untuk ruang alkimianya!'


'Hais! Bahkan Murid Keempat sudah dia kelabui dengan sangat baik. Atau mungkin, mereka sudah merencanakan itu saat meminta kompensasi?! Jika benar begitu, aku harus menghukum keteledoran Murid Keempat!'


Dengan kepalanya yang sudah pusing bagai mabuk kepayang, Su Yinfeng mengangguk beberapa kali dan memanggil nama murid keempatnya dengan keras.


"Su Weiyan!"


"Ya, Guru!" Su Weiyan merasakan perasaan tidak enak karena melihat tawa kegilaan sementara waktu dari gurunya.


"Mengapa mereka bisa merampokmu sebanyak ini? Bukankah kamu juga menyadari bahwa aku mengirimkan mu untuk mengurangi perampokan yang mereka lakukan?!"


"Eh? Merampok? Guru, bukankah itu— Aiya!"


Su Yinfeng segera menendang bokong tua Su Weiyan dengan energi qinya kemudian berteriak dengan frustasi, "Keparat! Kamu sudah menjanjikan untuk memberikan setengah harta milik Puncak Surgawi, juga sepersepuluh uang sekte akan hangus untuk biaya pembangunan mereka!"


"Ta-tapi Guru— ..."


"Tidak ada tapi-tapian! Cepat, bersujud dan jangan menggunakan energi qi untuk memperkuat tubuhmu!" teriak Su Yinfeng yang urat nadi di keningnya sudah sangat menonjol.


Perasaan tidak nyaman Su Weiyan akhirnya terjadi, dia terpaksa mengikuti perintah gurunya dan suara raungan kesakitan bergema di dalam kantor Kepala Sekte Abadi Luo.


Su Weiyan : "Kakak Ketiga, istriku sayang, maafkan suamimu karena pulang terlambat. Aku harus mengobati bokong yang memar ini terlebih dahulu sebelum pulang! (〒﹏〒)"

__ADS_1


__ADS_2