Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Berpamitan - 2


__ADS_3

"Haah ... Kalian ini, benar-benar pembuat onar yang luar biasa."


Mengembuskan napas berat, Lan Xihe menyandarkan dagu ke punggung tangannya.


"Terutama kamu ...." Kelopak mata indah Lan Xihe yang menyipit, mengarah pada Ye Miao'er yang masih cemberut akibat ucapan Ratu Iblis Xia.


"Eh?!" merasakan ancaman datang dari gurunya, Ye Miao'er mulai gugup dan mencuri pandang terhadap anggota lain untuk meminta bantuan.


Namun, seperti yang kita ketahui, tidak ada siapapun yang bisa menghentikan Lan Xihe apabila dia sedang ingin menghukum seseorang. Masih ada pengecualian apabila Yan Xu dapat memutar akal, tetapi Ye Miao'er tidak bisa menatap langsung ke arah Kakak Senior yang telah ia bentak sebelumnya.


Memperhatikan adik juniornya yang sudah di ujung tanduk, Yan Xu menghela napas kecil lalu memberanikan diri untuk bicara.


"Guru, tolong jangan lupa bahwa ini adalah pertemuan untuk berpamitan. Murid harap, tidak ada seorangpun yang terluka. Terlepas dari bagaimana sikapnya yang kasar, Murid masih bisa memahami bahwa Adik Junior kecewa. Murid minta Guru dapat mengampuni kekasarannya demi Murid yang hendak pergi."


Usai mengucapkan itu, Yan Xu bersujud dengan sungguh-sungguh ke arah Lan Xihe. Dia tahu bahwa guru mereka sedang tidak bercanda, oleh karena itu dia harus mencairkan suasana. Kalau tidak, besar kemungkinan Ye Miao'er akan mendapatkan hukuman setelah pertemuan ini berakhir.


Demi adik juniornya, Yan Xu harus melakukan sesuatu karena sebagian juga merupakan salahnya yang tidak berkoordinasi terlebih dahulu bersama yang lain. Wajar saja akan ada kebingungan dan pertentangan pendapat dari mereka. Kali ini masih Ye Miao'er, yang lain juga dapat dilihat memberikan tatapan tidak setuju akan keputusan yang dia buat.


"Baiklah, aku ikuti kemauanmu ... tapi! Bagaimana dengan pendapatmu, Wakil Kepala Puncak Xia?" tatapan mendominasi milik Lan Xihe beralih ke Ratu Iblis Xia.


Ratu Iblis Xia tidak gentar dan menjawab dengan nada yang anggun, "Tidak ada yang perlu dipermasalahkan, Kepala Puncak. Ini semua terjadi karena kurangnya interaksi dan kepekaan sosialku terhadap yang lain. Tolong, jangan mempersulit hal yang tidak perlu."


Mengangguk ringan, tatapan tajam Lan Xihe beralih ke Ye Miao'er, "Begitulah yang mereka ucapkan. Apa kamu mengerti kesalahanmu, Bungsu?"


Ye Miao'er mengepalkan kedua tangannya dengan ekspresi tegas dan berkata, "Murid mengerti dan menyesal, Guru."


"Bagus, sudah seharusnya begitu. Kalau kamu selalu bertemperamen tinggi, akan sulit bagi pasangan daomu suatu hari nanti," ucap Lan Xihe sambil tersenyum lebar.


"Aaa! Guru!!!!"


Mendengarkan itu, Ye Miao'er mengeluarkan pekikan yang lucu sambil menutupi wajahnya yang memerah. Melihat wajah murid termuda yang polos dan lucu itu, membuat semua orang tertawa terbahak-bahak, melupakan ketegangan yang terjadi sebelumnya.


Plak!


Menepuk kedua tangannya, Lan Xihe berkata, "Karena semua orang sudah merasa tenang. Mari kita lanjutkan sesuai giliran. Sekarang ..." Lan Xihe tersenyum lebar menunjuk ke arah orang yang berada di sebelah Ye Miao'er, "kamu! Wang Jia Li, silakan bicara."


Swuush!


Angin bertiup entah dari mana, ruangan terlihat sangat sunyi. Semua orang menunggu Wang Jia Li bicara dan selang beberapa detik, keluarlah kalimat pertamanya.

__ADS_1


"Sebelumnya, maaf atas kelancanganku."


Wang Jia Li melesat maju ke arah Ratu Iblis Xia sambil mengeluarkan pedang lotus dari sarungnya. Matanya penuh keyakinan untuk menebas leher Ratu Iblis Xia. Lan Xihe yang sudah memprediksi aksi tersebut, hanya melihat sambil tersenyum sendiri seolah sedang melihat sebuah hiburan.


Tap tap!


"Gerakan ketiga teknik pedang lotus api ..."


"Hah?!" Yan Xu yang berada di samping Ratu Iblis Xia terkejut bukan main. Matanya sudah terbelalak dan hampir keluar!


Sementara itu, Ratu Iblis Xia masih tenang dan hanya mengangkat dua jari sambil memberikan tekanan aura pada Wang Jia Li.


Sempat terhenti karena tekanan Ratu Iblis Xia, Wang Jia Li masih memaksa untuk maju hingga jarak di antara mereka hanya tinggal tiga langkah.


"—Keugh! .... — Rasakan ini!"


Tebasan penuh Wang Jia Li langsung diarahkan kepada Ratu Iblis Xia.


"Masih lemah."


Hanya dengan suara dingin Ratu Iblis Xia, tebasan penuh milik Wang Jia Li berhenti di tengah jalan.


Yan Xu tidak dapat berkata apa-apa. Dia tidak menyangka kalau pertemuan orang-orang berbakat akan menjadi sangat berbahaya bagi jantungnya. Kalau tahu akan begini, seharusnya dia memilih untuk langsung pergi daripada berpamitan.


Tidak hanya sampai di situ, Wang Jia Li kembali bergerak namun bongkahan es menghalangi jalannya. Bongkahan es itu berasal dari teknik jiwa milik Xiu Roulan.


Dengan raut wajah yang khawatir, Xiu Roulan mengirimkan transmisi suara langsung kepada Wang Jia Li.


"Saudari Kedua, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu sudah bosan hidup?!"


"Maaf, aku cuma ingin mengetes seberapa jauh perbedaan kekuatan kami. Sepertinya, jalur kultivasi kita masih panjang untuk mengejar wanita itu."


"Haah ... kamu ini. Sebaiknya jangan gegabah, gerakan seperti tadi hanya akan membuatmu lumpuh di kesempatan berikutnya."


"Tidak, aku yakin dia masih jauh dari kata serius saat menelan teknik ku."


"Menelan?" suara Xiu Roulan menjadi tinggi.


Sebelum Wang Jia Li dapat menjawab, suara bosan dari Lan Xihe kembali berkumandang dari singgasananya.

__ADS_1


"Cukup, Kedua dan Ketiga, kalian terlihat jauh lebih akrab sebelumnya. Namun, lebih baik kurangi saling bicara ketika di hadapan banyak orang. Bisa saja kan, musuh akan menyerang kalian dari berbagai arah."


Keduanya saling bertukar pandang lalu menjawab, "Murid menerima saran Guru."


Mengangguk puas, Lan Xihe kembali bicara, "Bagaimana, Kedua? Kamu masih ingin lanjut mencoba perbedaan kekuatan kalian?"


Mendengar pertanyaan itu, Ratu Iblis Xia mengerutkan keningnya pada Lan Xihe dan berkata, "Kepala Puncak, tolong jangan membuat situasi menjadi lebih kacau. Kata-katamu tadi dapat memicu terjadinya perubahan emosi yang tidak perlu antara sesama anggota puncak."


"Uwwa! Xia'er yang marah benar-benar imut!" Lan Xihe tersenyum lebar seolah-olah dia sedang memancing emosi Ratu Iblis Xia.


Ratu Iblis Xia yang tahu akan sifat Lan Xihe hanya menarik diri, memalingkan wajahnya dengan pipi yang menggembung ke arah Yan Xu.


'Apa? Jangan lihat aku dengan wajah seperti berkata, "Tolong hajar dia untuk ku!". Serius, aku bukan lawan Guru. Aku juga tidak berniat ikut campur. Juga, tolong buat pertemuan ini segera berakhir agar kita bisa segera pergi!'


Yan Xu mengomeli wanita imut yang berada di sampingnya di dalam hati. Dia hampir saja kehilangan akal akibat perbuatan aneh dari orang-orang berbakat di pertemuan kali ini.


Tidak tahan dengan tekanan yang ada, Yan Xu ingin buka mulut namun segera dihentikan oleh Su Yueyin.


"Kepala Puncak, sepertinya pertemuan ini harus segera diakhiri. Jika berlama-lama, aku takut mereka harus berjalan tanpa istirahat agar bisa sampai di tempat tujuan."


Mendengar saran dari Su Yueyin, Lan Xihe mengangguk, "Benar juga. Baiklah, kalian boleh pergi! Ingat, saat nyawamu dalam bahaya, gunakan apa saja untuk bertahan hidup, tidak peduli seberapa banyak nyawa yang perlu kalian korbankan demi kembali hidup-hidup."


Mengakhiri pertemuan di aula utama, Lan Xihe mengibaskan lengan jubahnya sambil berkata, "Bubar!"


Semua orang memberikan salam hormat dan kembali ke urusan masing-masing, tidak mengganggu urusan anggota lain.


...


Sekarang hanya tersisa Lan Xihe dan Ye Miao'er.


"Guru, apakah mereka bisa menjalankan tugas dengan baik setelah kita mengulur waktu dengan pertemuan ini?"


Meletakkan jari telunjuk di dagu, Lan Xihe menjawab, "Umm ... Sepertinya mereka akan menyelesaikan tugas di jalan dalam waktu yang singkat."


"Menyelesaikan perang hanya dengan satu hari?" tanya Ye Miao'er tidak percaya.


"Kamu tahu kan kemampuan peringkat satu hingga empat itu apabila digabungkan akan melebihi seorang kaisar agung. Jika mereka tidak dapat menyelesaikan perang dengan tepat waktu, palingan mereka akan mengganti raja dari negara yang berperang dan membungkam mereka yang terlibat. Kemudian, dengan santainya mereka akan melanjutkan perjalanan dan menyelesaikan masalah selanjutnya agar perjalanan kakak seniormu lancar."


"Miao'er harap ucapan Guru akan menjadi kenyataan. Kalau tidak, mereka harus membayar harganya," ucap Miao'er sambil mengepalkan tangan rampingnya.

__ADS_1


Lan Xihe hanya tertawa cekikikan melihat kelakuan murid termudanya yang sangat mengerikan walau terlihat imut di luarnya.


__ADS_2