
Setelah beberapa saat kemudian, Yan Xu bangkit kembali dari kematian yang kelima. Bedanya, kali ini dia telah berasimilasi penuh dengan pemilik lama tubuh itu dan telah mengetahui berbagai macam informasi yang ia perlukan.
Jika ada buku teks kuno yang mencatat sejarah dunia Xuanyuan dari awal hingga kini, Yan Xu bisa dikatakan sebagai buku teks kuno berjalan.
Memakai jubah abadi yang baru, Yan Xu mengambil pedang yang telah membunuhnya dan berkata, "Pedang ini merupakan senjata yang terkutuk. Pernah digunakan oleh seorang kenalan lama yang pernah berjuang demi melindungi tanah Xuanyuan. Kalau tidak salah nama pedang ini adalah ... Pedang Duyi."
Sing!
Pedang itu memancarkan cahaya resonansi karena namanya telah dipanggil. Pedang Duyi bergetar seolah-olah merasakan sebuah kesenangan karena telah menemukan Tuan baru. Namun, berbeda dengan kesenangan pedang itu, Yan Xu masih mengamati senjata itu dengan seksama.
Pedang Duyi diambil dari nama pemiliknya, Jing Duyi. Pedang ini memiliki kekuatan dapat menebas apapun hanya dengan sekali ayunan. Hanya saja, kekurangan senjata ini adalah terlalu banyak memakan energi qi pemiliknya demi melancarkan satu tebasan kuat.
Andai saja Yan Xu tidak memiliki metode Qi Gong, pedang Duyi mungkin merupakan pilihan terburuk. Bukan hanya dalam pemakaian energi qi, Yan Xu bukanlah orang yang akan bertarung dengan seluruh tenaga jika kemenangan maupun keamanan setelahnya belum dipastikan.
Di luar kekurangan yang tidak perlu ia khawatirkan, Yan Xu kali ini menemukan senjata yang cocok untuknya. Dengan Pedang Duyi, kini ia bisa memaksimalkan daya serang saat melawan kultivator dengan ranah di atasnya.
Namun, kerutan muncul di dahinya. Ada yang salah di sini. Bukankah Pedang Duyi termasuk dalam peninggalan suci Benua Xuanyuan? Bagaimana bisa pedang suci itu jatuh ke tangan seorang Lan Xihe?
Pada dasarnya, sangat tidak mungkin bagi seseorang bisa memiliki terlalu banyak harta karun. Terkecuali, ada kemungkinan bahwa ia tidak sengaja memungutnya. Hal demikian, berlaku juga untuk Lan Xihe menurut pemikiran Yan Xu.
Menggabungkan beberapa fakta yang ada, dia mengira bahwa Lan Xihe termasuk salah satu dari kesepuluh pemilik sistem yang harus dilindungi. Namun, kali ini bukan itu masalahnya.
Jika dia pemilik sistem, ada kemungkinan bahwa Lan Xihe memiliki ingatan tentang kehidupan sebelumnya di Bumi.
Yan Xu menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mungkin kali ini dia terlalu banyak berpikir.
Itu adalah satu-satunya alasan logis yang dapat menahan rasa ingin tahunya saat ini.
Selama waktu yang ia habiskan untuk menilai berbagai macam artefak di paviliun selatan, waktu terus berjalan tanpa ia sadari pagi berganti siang.
Mengikuti saran dari Lan Xihe, Yan Xu hanya mengambil beberapa dari penyimpanan. Kategori artefak yang dia ambil hanya berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari dan beberapa untuk menyelamatkan nyawa mereka berdua dalam keadaan darurat.
Setelah selesai berurusan dengan itu, dia dengan tenang memeriksa kembali berbagai barang yang telah ia masukkan ke dalam kantong penyimpanan dimensi.
Ada lebih dari lima puluh barang yang telah ia ambil. Masih ada setidaknya beberapa puluh lagi untuk mencapai kapasitas maksimum dari yang disarankan. Yan Xu mengangguk sekali dan menutup rapat kantong penyimpanan dimensi miliknya.
Hanya dalam enam jam, Yan Xu telah mempersiapkan barang-barang yang diperlukan untuk misinya nanti.
__ADS_1
"Sekarang, tibalah saatnya bagiku untuk berpamitan dan pergi secepatnya agar tidak akan ada hal-hal tak terduga yang terjadi nanti."
Dia telah menentukan agenda berikutnya.
Setelah keluar dari paviliun selatan, dia memanggil awan terbang dan menuju ke arah paviliun utara.
Tujuannya kini adalah aula utama, dimana semua orang sudah berkumpul untuk mengantarkan kepergian Yan Xu dan Ratu Iblis Xia.
...
Di paviliun utara, aula utama.
Lan Xihe duduk di kursi tengah, sementara para murid langsung berada di sisi kiri dan para tetua puncak di sisi kanan.
Kriek!
Pintu besar aula utama terbuka, di sana ada Yan Xu dan Ratu Iblis Xia datang berdampingan.
Keduanya saling mengepalkan tangannya dan memberikan salam formalitas.
"Murid Pertama, Yan Xu, memberi salam!"
Dari atas singgasana nya, Lan Xihe dapat mencium bau-bau kedekatan antara murid nakal dengan sahabatnya telah diperbaiki. Dia tersenyum tipis sampai tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya.
Mengangguk kecil, Lan Xihe menerima salam kedua orang itu.
"Kalian bisa berdiri tegak."
Keduanya mengikuti instruksi kepala puncak tanpa bingung. Kini, mereka berdua saling berhadapan dengan kepala puncak yang masih duduk di atas singgasana nya.
Sementara itu, Yan Xu tiba-tiba merasa perutnya menjadi sakit dan punggung nya telah basah. Terkadang, dia merasa ada ribuan pisau yang sedang melayang dari segala arah menuju kepalanya. Dia terus menahan tatapan tajam yang penuh akan intimidasi dari anggota lainnya, walau tidak tahu apa yang menyebabkan mereka jadi begini.
Orang pertama yang dipersilahkan untuk bicara adalah Ye Miao'er.
"Ye Miao'er, Guru lihat kamu memiliki banyak hal untuk dikatakan. Jadi, aku akan memberikan mu hak untuk bicara."
Mengepalkan tangannya, Ye Miao'er berterima kasih kepada gurunya. Dia menatap tajam ke arah Yan Xu dan berkata, "Kakak Senior, kenapa Miao'er tidak tahu kalau yang pergi akan menjadi dua orang? Terlebih lagi, apakah Miao'er tidak berguna pada misi kali ini sehingga Kakak Senior berpindah tangan?"
__ADS_1
'Hah? Apanya yang berpindah tangan? Apa ini pengadilan untuk perselingkuhan antara hubungan suami-istri?!' teriak Yan Xu di dalam hati.
Detakan jantung Yan Xu mulai berdegup kencang, intimidasi dari kalimat yang diucapkan oleh Ye Miao'er bukanlah main-main. Kali ini, dia tahu bahwa Miao'er sedang mempertanyakan kepercayaan maupun perhitungannya sebagai seorang kakak senior terhadap adik juniornya. Jika salah jawab, ada kemungkinan satu puncak akan mengebiri Yan Xu karena membuat Ye Miao'er marah.
Berdeham sekali, Yan Xu menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban rasional yang sudah ia siapkan, "Ehem, bukan begitu Adik Junior. Kamu tahu kan, perjalanan kali ini sangat berbahaya dan tentu saja sebagai seniormu, aku masih belum bisa membawamu ke tempat yang belum bisa terjamin akan keamananannya. Bukannya aku tidak percaya, hanya saja kali ini kamu masih belum siap—!"
"Cukup. Miao'er mengerti kekhawatiran Kakak Senior, hanya saja kenapa harus dia yang ikut?!" Ye Miao'er menunjuk ke arah Ratu Iblis Xia dengan hidungnya yang melebar karena marah.
Yan Xu menjatuhkan rahangnya dan memutar kepala ke arah Ratu Iblis Xia dan Ye Miao'er secara bergantian.
'Kapan ... Dimana ... Bagaimana kedua bom waktu ini saling bertemu satu sama lain?! Gawat, jika itu Adik Junior yang bersumbu pendek, temperamen milik Xia'er pasti akan memicu amarahnya!'
Hawa dingin mulai merambat ke tengkuk leher Yan Xu ketika dia memikirkan solusi untuk menengahi konflik di antara mereka berdua.
Namun, semua itu percuma saja karena Ratu Iblis Xia telah membuka mulutnya lebih dulu sebelum dia sempat bicara.
"Mudah saja, kan? Itu berarti, aku lebih kuat dan berguna pada misi kali ini dibandingkan kamu," ucap Ratu Iblis Xia dengan datar tanpa ada maksud tertentu.
"Keukh!" mendengar pernyataan itu, tanpa sadar Ye Miao'er memegang dadanya dan merasakan sensasi memuntahkan seteguk darah, yang mana itu hanyalah bayangan di dalam kepalanya saja.
Kali ini, Ye Miao'er telah dipukul oleh Ratu Iblis Xia di titik terlemahnya tanpa ampun dan tidak dapat membalas sama sekali!
'Ah, dia benar-benar kena mental.'
'Adik Junior, kamu seharusnya tidak menggali kuburanmu sendiri.'
'Semoga mereka bisa akur ....'
Xiu Ruolan, Wang Jia Li, Duan Yunfei masing-masing memberikan kalimat rasa iba mereka terhadap Ye Miao'er yang terkena serangan emosional akibat ucapan Ratu Iblis Xia.
"Gnunu ...." Ye Miao'er menggeram dengan wajahnya yang memerah. Pupil cokelat indahnya telah melebar, menandakan bahwa sumbunya hampir terbakar habis.
Sebelum sumbu Ye Miao'er terbakar habis, Lan Xihe menengahi mereka.
"Berisik."
Hanya dengan satu kata, semua orang menjadi diam. Konflik di antara mereka yang sebelumnya terjadi, kini hilang di telan bumi. Semua orang tidak ada yang bicara, mereka hanya dapat menunggu Kepala Puncak untuk memberikan hak bicara kepada para anggota yang hadir.
__ADS_1
Alasan mengapa tidak ada yang berani bicara, tentu saja karena aturan tersembunyi di puncak yang mengatakan bahwa siapapun yang berani bicara ketika kata "Berisik" dikatakan oleh Kepala Puncak, orang itu akan menerima seribu pukulan mematikan tanpa ampun sesuai dengan tingkat kultivasi nya.