
Saat berada di tengah perjalanan menuju ke lokasi berikutnya.
Yan Xu mengernyitkan keningnya seakan berpikir keras tentang setiap kebetulan yang ada.
"Bencana besar yang akan segera tiba, teknik reinkarnasi sempurna menggunakan esensi kehidupan tubuh abadi, suku asing dari dataran jauh di balik lautan tak berujung, Istana langit, kemudian orang-orang yang aku kenal di kehidupan sebelumnya mendapati diri mereka terlahir kembali ke dunia Xuanyuan. Yan Xu, takdir seperti apa yang kamu lihat? Kenapa kamu cuma membiarkan ku menilai sendiri dengan sudut pandangku, sementara seluruh ingatan kehidupanmu jelas terpatri walau tanpa sebab yang jelas?"
Semuanya menjalin benang merah di masing-masing titik.
Sekeras apapun Yan Xu ingin mencari benang yang dapat memicu semua kebetulan yang ada, dia tidak dapat menarik benang merah yang tepat.
Semuanya terlihat tersusun rapi, walau sebenarnya memiliki cabang yang sangat kacau dan rumit.
Salah sedikit saja pada rencana jangka panjang itu, risiko yang akan ditanggung oleh pemilik tubuh lama dapat menyebabkan keruntuhan dataran Xuanyuan.
Mengapa dia dipercaya untuk melanjutkan tugas itu?
Apa hubungan mereka hanya sekedar jiwa yang kebetulan saling melengkapi?
Bagaimana kalau suatu hari nanti pemilik lama tubuh Yan Xu menunjukkan niat aslinya?
Seluruh pertanyaan itu mulai terpatri dibenaknya. Semakin dia memikirkannya, semakin Yan Xu merasa yakin bahwa masih ada sesuatu yang belum terungkap.
Kalau dia tidak berhati-hati, bisa saja dia akan benar-benar kehilangan jati dirinya. Tanpa sadar, dia telah semakin memiliki kemiripan dengan pria yang ada di dalam ingatannya.
Yan Xu yang memiliki ketakutan berlebih, membuat dia menderita sesak napas sementara waktu. Saat ketakutan akan sesuatu yang masih belum terjadi mulai merayapi punggungnya, Yan Xu segera menenangkan diri dan menarik napas dalam-dalam.
"Haah ..."
Sekali lagi, dia mengulanginya membuat pikiran Yan Xu menjadi tenang kembali.
"Bahkan, manusia yang abadi masih merasakan takut sementara mereka yang telah tiada hanya dapat melihat dari kejauhan."
Mengemudikan awan terbang dengan kecepatan tinggi, Yan Xu sudah setengah jalan menuju tempat berikutnya.
Namun, dia berhenti sebentar karena melihat seorang anak laki-laki dengan pakaian lusuh sedang menghadapi kawanan bandit.
__ADS_1
'Hari ini adalah hari keberuntungan mu, Nak.'
Yan Xu bergegas turun lalu mendarat tepat di depan anak lelaki tersebut.
Pada lengan kanannya, dia sudah mempersiapkan tombak energi.
Anak lelaki yang mendapati seorang kultivator datang untuk menolongnya, segera memberikan salam hormat kepada Yan Xu.
"Tuan Kultivator! T-tolong aku! Orang-orang hina ini telah menjadikan penduduk desa sebagai budak dan ingin menjual mereka."
'Budak?'
Yan Xu menggunakan kesadaran ilahi dan melihat bagaimana kondisi anak lelaki itu.
Dengan tubuh yang penuh lebam dan leher yang memiliki rantai, anak itu sama sekali tidak berbohong. Namun, Yan Xu tidak ingin bergerak begitu saja sebelum mencari tahu bagaimana kondisi pihak lain.
Mengabaikan anak lelaki itu, Yan Xu bertanya kepada sisi lain, "Bagaimana dengan kalian?"
Dari pihak bandit, muncul seseorang dengan perawakan yang pendek dan seragam yang tidak cocok disebut sebagai anggota geng. Sambil membenarkan kacamata besar di wajahnya, pria itu memperkenalkan diri.
"Namaku, Paqin. Tuan Kultivator, sebaiknya kamu urungkan niat untuk membantu anak itu. Kami memiliki surat legalitas atas kepemilikan hidupnya. Jadi, kami tidak melanggar hukum apapun serta ini tidak banyak ..." Paqin mengeluarkan sekantung uang dan melemparkannya ke arah Yan Xu, kemudian berkata, "Tolong diterima sebagai tanda hubungan kita."
Yan Xu menangkap sekantung uang itu kemudian berkata, "Apa orang tua anak ini masih ada?"
Paqin menggelengkan kepalanya dan berkata, "Sayangnya, mereka mati saat anak itu dengan egois melarikan diri."
Dengan kata lain orang tua dari anak lelaki itu telah mengorbankan nyawa mereka agar dia bisa lari. Namun, mereka tidak memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya dan bagaimana bisa anak kecil seperti dia memiliki kapasitas seperti orang dewasa untuk mencari bantuan.
Menghela napas kecil, Yan Xu berbalik ke belakang dan berkata, "Nak, siapa nama mu?"
Anak itu masih dengan ekspresi tegas di wajahnya menjawab, "Namaku, Tian Zhu. Tuan, tolong jangan percaya terhadap bandit jahat itu! Jika kamu bisa menyelamatkan kami, Tian Zhu bersedia untuk mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Tuan."
Anak lelaki itu bersujud pada Yan Xu, seolah dia adalah dewa yang turun ke bumi untuk menyelematkan mereka.
'Skenario ini!'
__ADS_1
Yan Xu tanpa sadar tersenyum tipis, detak jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia merasakan gatal pada dadanya, seolah ada sesuatu yang muncul.
Bukan perasaan iba ataupun keadilan. Dia hanya melihat ini sebagai skenario utama yang keren.
Apabila dia menyelematkan Tian Zhu, ada kemungkinan seluruh kelompok bandit Paqin akan memburunya hingga ke ujung dunia, sementara imbalan yang ia dapatkan hanyalah seorang anak yang akan rela mendedikasikan hidupnya khusus untuk Yan Xu.
'Dimana-mana, aku lebih memilih untuk sekantung koin emas dibandingkan membiarkan seorang anak kecil bersumpah untuk memberikan hidupnya padaku, aish!'
Meskipun hati berkata demikian, tubuh Yan Xu malah lebih serakah. Kalau dia bisa mendapatkan satu sumber daya manusia serta sekantung koin emas, tentu saja dia akan memilih keduanya. Salahkan diri mereka sendiri karena kurang beruntung telah bertemu dengannya.
Berbalik ke gerombolan bandit, Yan Xu berkata, "Nama mu, Paqin, kan? Maaf, sepertinya kamu harus mendapatkan perawatan luka dalam ke depannya."
Setelah mengatakan itu, Yan Xu berlari dengan gesit ke gerombolan bandit.
Paqin segera mundur lalu berteriak, "Bunuh dia!"
Para bandit segera mengeluarkan senjata mereka dengan senyum lebar di wajahnya.
Yan Xu memberikan isyarat kepada Tian Zhu agar mundur sedikit, takutnya dia tidak sengaja memenggal kepala calon sumber daya manusia baru puncak mereka.
Memahami maksud Yan Xu, Tian Zhu segera mundur beberapa puluh meter karena dia juga tidak ingin terkena dampak serangan dari kedua belah pihak saat bentrok.
Mendapati dirinya telah diberikan ruang yang cukup luas untuk menggunakan tombak energi, Yan Xu mengangkat jari tengahnya dan berkata, "Tunggu apa lagi? Maju sini, keroco tak berguna."
Dengan nada yang memprovokasi emosi musuh, telah membuat pihak lain naik darah dan hampir memuntahkan seteguk darah karena terlalu marah.
Para bandit membentuk sebuah formasi layaknya tentara di medan tempur.
"Menggunakan formasi? Cukup baik, namun sayangnya kalian bukanlah prajurit terlatih melainkan bandit yang berjalan di gurun pasir layaknya badut."
Tidak memberikan lawan aba-aba, Yan Xu menghentakkan kakinya ke tanah dan menerjang ke depan.
Dia memfokuskan energi qi pada bagian telunjuk lengan kanan dan melakukan postur tubuh melempar tombak.
Dengan jari telunjuk sebagai sentuhan akhir yang akan menentukan daya tembak, tombak energi menerjang dengan ganas menuju formasi para bandit.
__ADS_1
Pu! Pu! Pu!
Tombak energi yang bergerak lurus, menyerang secara acak dan berbelok arah ke beberapa bandit, membuat mereka jatuh hingga memuntahkan seteguk darah segar.