Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Aturan Tak Tertulis Puncak Angin (2)


__ADS_3

Lan Xihe mengedipkan mata, ekspresi wajahnya masih datar namun suara yang keluar darinya terdengar seperti rengekan seorang anak kecil, "Tidak ada yang lain?"


Yan Xu yang menundukkan wajahnya memiliki ekspresi yang muram.


'Aku sudah memberinya murid yang berpotensi tinggi, tapi Guru masih ingin merampokku?—Ptoeey! Dalam mimpi!' bentak Yan Xu dalam benak terdalamnya.


"Jika Guru menerimanya, Murid akan memberikan sesuatu yang baru saja Murid dapatkan saat menelusuri wilayah benua selatan."


Suara Lan Xihe berubah menjadi dingin, "Murid Nakal, apa kamu sedang bermain trik denganku?!"


"Tidak Guru, Murid tidak berani."


Lan Xihe menggelengkan kepala dengan kilatan memaki di mata merahnya, "Biarpun kamu tidak menawarkan apapun, aku akan menerima dia sebagai murid karena sudah memenuhi kriteria penilaian ketat dariku."


"Yang aku ingin tahu, tidak kah kamu memiliki sesuatu yang bisa kamu berikan kepadaku dari hasil perjalanan ekspedisi mu terakhir kali?"


Ucapan dingin Lan Xihe benar-benar memeras jantung Yan Xu. Dia sebenarnya tidak berniat untuk berbagi tanpa menerima, namun dia berpikir kalau ia juga tidak boleh pelit demi gambaran yang lebih besar.


Yan Xu tersenyum lembut menyembunyikan ekspresi iritasi dibaliknya, "Tentu, tapi itu tidak sekarang."


Lan Xihe menyilangkan kedua lengannya sambil berkata, "Mengapa demikian?"


"Bahan ini harus diolah terlebih dahulu, barulah Murid bisa memberikannya saat sudah menjadi barang jadi," jawab Yan Xu jujur.


"Apakah ini hanyalah produk obat-obatan dengan khasiat untuk berkultivasi?" ekspresi tidak senang dapat terlihat di wajah peri Lan Xihe.

__ADS_1


Yan Xu menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Tidak, Guru. Ini adalah ramuan yang melebihi anggur terbaik yang pernah Guru coba saat di malam hari seperti biasanya."


Mendengar itu, wajah Lan Xihe memerah. Jari rampingnya menunjuk dengan tepat ke arah Yan Xu, "Kamu!!! Murid Nakal! Kamu benar-benar sangat ingin dipukuli?! Oke, Guru akan memukuli kamu dengan sepenuh hati!"


Lan Xihe mengeluarkan sebuah cambuk dari kantung penyimpanan dimensinya. Cambuk itu sangat dikenal baik oleh kedua murid yang telah lebih dulu bergabung dengan Puncak Angin. Benar, itu adalah cambuk seribu keadilan untuk menghukum para murid nakal!


Yan Xu tersentak kaget dan mundur beberapa langkah ke belakang. Wajahnya berubah menjadi serius dan berkata, "Gu-guru, apakah Murid mengatakan sesuatu yang salah?— Aiya! Guru, mari kita bicarakan baik-baik! Tolong jangan menjadi kasar di depan para murid— aiya!"


Yan Xu segera menghindari cambukan dari gurunya menggunakan teknik pengejaran jiwa. Namun, Lan Xihe yang hanya menggunakan kekuatan fisik murni segera mengejarnya dan membuat seluruh bayangan yang ia tinggalkan di belakang hancur di tiup gelombang angin kuat.


Melihat kejadian itu secara langsung, kedua anggota baru menjatuhkan rahang mereka. Sementara itu, Ye Miao'er yang sudah terbiasa hanya tertawa cekikikan sambil menutupi seluruh mulutnya. Ketika dia melihat yang lain masih bingung, ia segera menjelaskan aturan tak tertulis kepada dua orang lainnya.


"Hal ini sering terjadi di Puncak Angin, jadi kalian tidak perlu terkejut. Guru tidak akan pernah menahan diri dalam memukuli para murid, sebagai murid kita harus berjuang sekuat tenaga dalam menahan serangan Guru!"


"Tidak perlu takut kalau Guru akan terluka, bahkan itu lebih baik! Sehingga kalian tidak merasakan betapa sakitnya dipukuli. Namun, dengan saran dari Kakak Senior, kita harus terlihat seperti sedang berjuang tetapi sebenarnya juga sedang mengalah."


"Kakak Senior mengatakan bahwa kita harus terlihat alami agar Guru tidak menyadarinya. Kalau Guru sadar bahwa kita sedang melakukan trik picik ini, dia akan marah dan memukuli mu secara habis-habisan!" wajah Miao'er menjadi lebih serius saat mengatakan kalimat yang terakhir.


Dia melirik kedua orang yang masih mendengarkan dengan serius, kemudian melanjutkan sambil menonton pertunjukan yang ada di depan mereka.


"Di Puncak Angin masih ada aturan tak tertulis yang begitu banyak dan harus benar-benar kalian ingat seumur hidup. Kalau tidak, hari-hari mu selama berkultivasi akan dipenuhi kesialan dan pemukulan tak bermoral yang akan terjadi nanti di depan kita."


"Saat kalian bergabung, Guru pasti akan mengajarkan berbagai macam jenis aturan umum dan wajib didikte ulang secara lengkap hingga benar semua. Cara menghafal semuanya adalah kalian cukup berserah diri pada takdir," Ye Miao'er mengangkat bahu tak berdaya.


"Kalian tidak perlu khawatir kalau kalian salah, paling-paling cuma mendapati diri kalian kena pemukulan tak bermoral dan harus mendengarkan ceramah Guru secara berulang. Ketika itu terjadi, aku menyarankan kalian menghadiri kelas tambahan tengah malam dari Kakak Senior!"

__ADS_1


"Kalau dilihat dari sifat Kakak Senior, mungkin dia sudah berencana untuk membuka kelas tambahan untuk kita bertiga saat tengah malam nanti," Ye Miao'er mengelus dagunya seolah-olah sedang menebak sebuah kasus kriminal.


Dari samping, suara Xiu Ruolan dapat terdengar.


"Bukankah itu tidak pantas saat seorang lelaki memanggil wanita di tengah malam?"


"Aiya! Apa yang kamu pikirkan?! Kakak Senior adalah seorang kultivator pria sejati dan bermoral, dia juga adalah seorang kakak yang baik hati kepada adiknya!" dengus Miao'er.


"Tidak, aku tidak bermaksud mempertanyakan tentang moralitasnya. Maksudku, ini terdengar aneh kalau seorang pria akan memanggil—"


Sebelum Xiu Ruolan selesai, Wang Jia Li segera menyela, "Saudari Ruolan, kamu terlalu banyak berpikir. Moralitas mana yang kamu maksudkan? Bukankah sudah sangat baik kalau Kakak Senior rela meluangkan waktunya demi membantu para junior?"


Miao'er yang mendengarkan, membuka matanya lebar-lebar dan terdapat sebuah kejutan di wajahnya. Namun, ia segera mengembalikan tampilan normal dan mengacungkan jari jempolnya kepada Wang Jia Li.


"Seperti yang diharapkan dari Kakak Senior Jia Li! Kamu benar-benar berpikiran terbuka dengan wawasan luas! Aku merasa bahwa kita akan bisa lebih dekat suatu hari nanti!" puji Miao'er yang entah kenapa terdengar aneh bagi Wang Jia Li.


Xiu Ruolan hanya mengangguk sebagai jawaban mengerti namun di dalam hati dia sudah menepuk wajahnya beberapa kali. Dia benar-benar kehabisan kalimat untuk pemikiran di luar nalar kedua orang yang akan menjadi saudari seperguruannya.


Ye Miao'er yang masih belum selesai menjelaskan seluruh aturan tak tertulis bertanya dengan lembut, "Sampai di sini, apakah ada yang ingin kalian tanyakan sebelum aku melanjutkan?"


Kali ini, Wang Jia Li yang angkat tangan.


"Silakan Kakak Senior Jia Li."


"Apakah ajaran yang Guru berikan kepada setiap murid itu sama?" tanya Wang Jia Li dengan nada penasaran.

__ADS_1


"Bagian mana yang Kakak Senior Jia Li maksud? Teknik berkultivasi? Cara bersikap? Berdagang? Pembelajaran teori? Ruang lingkup pertanyaan Kakak Senior Jia Li terlalu luas, tolong perkecil lagi," jawab Miao'er sambil meniru perilaku Yan Xu yang meletakkan tangan di belakang punggungnya seperti seorang kultivator ahli.


__ADS_2