Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Variabel Sulit, Su Lixuan


__ADS_3

Setelah mempersiapkan beberapa formasi dan mengatur seperlunya di sekitar paviliun selatan, kini Yan Xu sedang berada dalam perjalanan kembali menuju paviliun timur.


Sambil duduk termenung di atas awan terbangnya, Yan Xu merasakan sengatan dingin entah dari mana membuat bulu kuduknya merinding.


Dia menggaruk punggung kepalanya beberapa kali sambil berkata, "Biasanya akan ada hal tak terduga kalau sudah merinding begini."


Mempercayai intuisi tanpa sebabnya, merupakan salah satu senjata rahasia milik Yan Xu. Dia beranggapan kalau indera perasa akan sesuatu yang di luar dugaan miliknya selalu aktif untuk memberikan peringatan melalui sebuah tanda. Contohnya ialah seperti yang baru saja terjadi.


Dengan demikian, Yan Xu menyimpulkan bahwa ada sebab-akibat yang masih belum diperhitungkan olehnya.


"Mari memulai perhitungan kembali dengan semua rencana yang ada."


Yan Xu menadah ke langit cerah yang ada di atas kepalanya sambil mulai berpikir.


Dalam pikirannya, Su Yueyin yang merupakan salah satu titik lemah para orang tua keras kepala itu juga merupakan pendukung terbesar mereka. Dengan kata lain status Su Yueyin bagai pedang bermata dua, ada untung dan kerugian yang harus dia tanggung.


Yan Xu masih belum pernah bertemu dengan Su Lixuan yang sering disebutkan sebagai anggota ketiga dari Sembilan Su. Dia hanya mendengar rumor bahwa dia adalah seorang wanita tua berpenampilan muda seperti gadis remaja di bawah 20 tahun dengan kepang dua yang khas.


Dia pernah sesekali menyelinap ke beberapa tempat di dalam sekte sambil mencari seorang gadis dengan kepang dua yang khas, namun pencariannya berujung nihil dan hampir dicurigai sebagai penyusup kalau saja tidak ada bantuan Tetua Fan.


Mendecakkan lidah, Yan Xu lagi-lagi menggaruk punggung kepalanya tanpa ia sadari sambil berkata, "Su Lixuan ini masihlah sebuah variabel yang sangat sulit untuk diperhitungkan. Dia seperti bunga sekte yang tidak akan keluar sama sekali, kecuali ada keharusan untuk melakukannya."


Tepuk! Tepuk! Tepuk!


Tangan kanan Yan Xu beberapa kali menepuk ujung lututnya ketika dia sedang berpikir, menandakan bahwa ia dalam konsentrasi penuh.


Kembali lagi memikirkan tentang variabel sulit bernama Su Lixuan, dia masih tidak tahu sifat bengkok seperti apa orang tersebut kecuali rekaman terakhir yang dia lihat. Berbeda dengan Su Weiyan yang selalu memikirkan tongkat yang berada di antara kedua kakinya, wanita itu memiliki sifat yang sangat mendominasi.


Ada sedikit persamaan di antara Su Lixuan dengan Lan Xihe yang suka mendominasi, namun ada juga perbedaan dimana Lan Xihe yang Yan Xu tahu tidak akan memaksakan keegoisannya terlalu jauh tanpa melihat kondisi. Namun, akan ada juga waktu dimana dia akan memaksa, lebih dari pemaksaan dominasi milik Su Lixuan.


Mau bagaimana lagi, pihak lain hanyalah seorang gadis yang sering berurusan dengan produk-produk kecantikan. Berbeda dengan seekor gorila yang serba bisa dan senang menendang para muridnya kesana-kemari sampai mereka semua babak belur, begitulah yang ada di pikiran Yan Xu sambil bergidik ketika teringat saat-saat dia dipukuli secara keras tanpa alasan yang jelas.


Menggunakan senjata sakti di awalan bukanlah hal yang baik baginya, kecuali dia memang sedang terdesak. Kali ini, tidak ada hal yang mendesak namun tekanan yang diberikan kepada Yan Xu hampir mendesaknya dalam menggunakan senjata sakti itu tanpa pandang bulu.


Plak!


Yan Xu menampar kedua sisi pipinya dengan keras, sehingga meninggalkan sedikit lebam pada permukaan kulit porselennya.


"Tidak, tidak. Rekaman itu tidak digunakan pada situasi dimana kami sedang meminta persetujuan. Jika mereka nekad melawan, yang ada pihak kami akan dipukul mundur."


Memikirkan bagaimana manusia bisa berbuat nekad ketika sedang terdesak, membuat Yan Xu sadar bahwa kedua orang tua itu bisa saja tidak peduli dan mulai membalas. Dengan pembalasan anggota ketiga dan keempat dari Sembilan Su, Yan Xu masih tidak yakin apa gurunya akan membantu saat itu terjadi.


Resiko yang ditanggung terlalu besar dibandingkan hasil yang didapatkan, membuat Yan Xu menghilangkan rekaman panas itu dari pilihan solusinya.

__ADS_1


"Su Lixuan ...."


Mulutnya terus bergumam, memanggil nama orang yang sama sambil membayangkan saat-saat mereka berhadapan.


Murid ketiga dari kepala Sekte Abadi Luo memiliki keahlian di bidang teknik pemikat, kecantikan, perhiasan, pembuatan pakaian dan hal-hal yang berhubungan dengan hukum ruang.


Teknik yang paling terkenal di seluruh kawasan Sekte Abadi Luo, ialah teknik hukum ruang yang dia kombinasikan dengan teknik pemikat, dimana target tidak akan bisa lari jauh maupun menyakiti penggunanya.


Menurut penjelasan yang dia dapatkan dari Tetua Fan, akan ada tembok yang mengunci pergerakan dari korban teknik tersebut. Mereka juga tidak bisa menyerang pengguna teknik, ini sama saja seperti penjara tak terlihat dan hanya bisa menunggu kematian saat mereka kelaparan namun tak dapat berbuat apa-apa.


Sadar akan teknik pemikat dengan hukum ruang itu, Yan Xu akhirnya menemukan penyebab dari rasa menggigil yang ia derita sebelumnya.


"Sial, Bibi Yueyin pasti akan menjadi tawanan mereka."


Tiga garis hitam gelap muncul di kening Yan Xu. Ekspresi datarnya berubah menjadi muram dan semakin terpelintir ketika tidak mendengar satupun kabar kembalinya Su Yueyin.


Yan Xu segera mengeluarkan sebuah jimat dari balik lengan jubahnya, mencoba memanggil seorang anggota lain yang berada di sekitar. Tidak perlu lama menunggu, sebuah jawaban segera datang dari seorang anggota terdekat.


Suara kebingungan seorang gadis datang dari jimat yang bersinar di tangan Yan Xu.


"Tuan Pertama?"


"Apa Tetua Yueyin sudah kembali?"


"Oh, terima kasih atas informasinya. Maaf mengganggu waktumu."


Tanpa menunggu jawaban, Yan Xu langsung memutuskan sambungan. Dia mempercepat laju awan terbangnya dengan sakit kepala yang tiba-tiba muncul.


Yan Xu memijat keningnya sambil membenarkan pandangannya.


"Ah, kacau sudah. Mereka pasti sadar kalau aku akan membuat Bibi Yueyin sebagai tahanan atas namanya. Dengan begitu, para orang tua itu akan membawanya ke pertemuan tengah malam nanti agar aku tidak dapat membawa-bawa namanya."


Dia terus mengeluh atas pemikiran merepotkan itu.


Menggunakan sandera nyata lebih efektif dibandingkan dengan nama saja. Yan Xu tahu akan hal tersebut, namun dia tidak melakukan itu karena akan membuat permusuhan di antara mereka. Apalagi dia masih belum tahu bagaimana sifat asli milik Su Lixuan, sementara Su Weiyan hanyalah seorang pria berpikiran kotor yang selalu memikirkan tongkat tua di antara kedua kakinya.


Sekarang, mata pedang yang milik Su Yueyin yang sedang dia arahkan kepada dua tetua Su telah berbalik.


Posisi Yan Xu sekarang menjadi daging di atas talenan yang siap untuk dipotong menggunakan bilah pisau yang bernama Su Yueyin.


Demi menangkal bilah yang sedang mengarah balik kepadanya, Yan Xu segera memikirkan cara lain untuk memenangkan kondisi negosiasi yang menguntungkan pihak mereka.


Mundur dua langkah demi maju selangkah bukanlah cara kerja Yan Xu dalam melakukan sesuatu. Dia tidak bisa mundur dari pertemuan tengah malam ini untuk menghindari tindakan balasan dari para orang tua itu.

__ADS_1


"Membawa Guru tidak akan berguna karena masih belum ada tindakan kekerasan. Sementara aku maju dengan tangan kosong, mereka sudah memegang pedang. Kalau aku terlalu maju, yang ada mereka akan menebasku!"


Buntu, Yan Xu merasa hanya ada jalan buntu yang menanti. Dia harus beradaptasi dengan situasi di masa mendatang, membiarkan Su Weiyan atau Su Lixuan memimpin pembicaraan sambil menunggu celah yang tepat untuk melakukan serangan balasan.


Menghela napas dalam, Yan Xu sudah menetapkan bahwa dia akan ikut bermain dalam alur milik mereka terlebih dahulu.


Meminta terlalu lebih hanya akan membuatnya tenggelam di dasar kolam. Mengartikan bahwa segala sesuatu tidak bisa berjalan sesuai rencana, dia juga tidak bisa memaksakan karena bahan yang masih belum cukup, terutama betapa sedikitnya informasi yang dia ketahui tentang Su Lixuan.


Namun, setidaknya dia sudah mendapatkan gambaran atas perbuatan balasan tersebut. Menandakan bahwa Su Lixuan masihlah pribadi yang tidak mudah menerima maupun mempercayai orang yang baru saja dia temui.


"Itu artinya, kesannya terhadap diriku adalah sangat-sangat-sangat-sangat buruk."


Yan Xu tersenyum kecut sampai akhirnya dia tiba di depan salah satu bangunan paviliun timur yang akan menjadi tempat pertemuan tengah malam mereka, di sana juga terdapat Ye Miao'er yang sibuk berkeliling memperhatikan setiap formasi yang terpasang.


Turun dengan lembut dari awan terbangnya, Yan Xu segera menggunakan langkah ringan untuk berjalan ke arah bangunan tersebut.


"Variabel sulit, Su Lixuan .... Dia akan menjadi orang yang paling cerewet karena sifat dominasinya yang tak tahu kondisi. Adik Junior harus segera melarikan diri sesudah menyajikan teh."


Yan Xu bergumam kecil sambil berjalan dengan wajah ceria kembali ke arah Ye Miao'er. Melihat kedatangan Yan Xu, Ye Miao'er menyapa dia seperti biasa namun ia tahu bahwa kakak seniornya memiliki sedikit perubahan rencana karena suatu variabel sulit.


Dengan begitu, mereka berdua mulai mengganti beberapa formasi dan rencana yang ada untuk pertemuan tengah malam nanti.


......................


Setelah sambungan jimat komunikasi diputus sepihak oleh sisi Yan Xu, gadis yang menerima sambungan itu tidak merasa kesal ataupun marah atas perilakunya yang tidak sopan.


Gadis yang menerima panggilan tersebut tidak lain dan bukan adalah Jiang Nalan yang sedang ditugaskan sebagai pelayan Yan Xu karena hari ini adalah gilirannya.


Terdapat beberapa persetujuan dari setiap anggota gadis di Puncak Angin bahwa setiap murid akan melayani setiap anggota Murid Langsung berdasarkan giliran, mereka akan ditugaskan untuk bersiaga di sekitar. Sialnya, hanya Yan Xu yang tidak mengetahui hal tersebut dan kebanyakan anggota puncak yang bertugas untuk melayani kebutuhan sehari-harinya akan membeku di tempat ketika jarak mereka hanya 20 kaki dari Yan Xu.


Menanggapi masalah ini, dibuatlah kembali aturan tak tertulis lain dimana mereka akan melayani kebutuhan Yan Xu secara rahasia dan akan terlihat alami ketika berada di dekatnya. Itu juga sudah disetujui Kepala Puncak maupun Leluhur Kecil yang merupakan salah satu hierarki tertinggi Puncak Angin.


Kembali lagi pada tugas harian milik Jiang Nalan, kali ini dia merasakan bahwa Yan Xu sedang berada dalam masalah. Hanya dengan mengambil kesimpulan dari pertanyaan dan bagaimana Yan Xu menyikapi jawaban yang dia berikan, Jiang Nalan segera mengirimkan informasi melalui kertas jimat kepada Kepala Puncak, menyampaikan bahwa Tetua Su Yueyin belum kembali membuat Tuan Pertama khawatir.


Tidak perlu waktu lama, dia segera mendapatkan jawaban yang berbunyi—


'Oh, biarkan saja. Tetua Yueyin bukanlah anak kecil, paling kalau lapar nanti juga pulang sendiri¯ಠ_ಠ/¯' begitulah yang dijawab oleh Lan Xihe yang sedang mabuk bersama Tetua yang baru bergabung dengan Puncak Angin.


Setelah menerima jawaban dari Kepala Puncak, Jiang Nalan tidak memikirkan lebih jauh mengenai lamanya Tetua Yueyin pergi keluar. Jika itu orang lain, dia pasti akan mengeceknya kembali. Namun, yang kita bicarakan saat ini adalah Kepala Puncak yang jelas-jelas merupakan orang kuat.


"Huft, sayang sekali kami tidak bisa melihat pertunjukan tertutup yang akan mereka mainkan."


Memacu kecepatan terbangnya, Jiang Nalan mengikuti Yan Xu dari jarak yang sudah ditetapkan sebagai batasnya. Wajahnya sempat terpelintir hingga muram dan segera berganti kembali ke ekspresi normal dalam waktu singkat. Hal itu menandakan bahwa dia juga memikirkan hal yang sama dengan Yan Xu, kemungkinan besar ada sesuatu yang diluar perkiraan akan terjadi.

__ADS_1


Ada beberapa hal yang disadari oleh Yan Xu, namun tidak disadari oleh Jiang Nalan sendiri. Kedua orang itu memiliki kesamaan dalam intuisi merasakan suatu kejadian yang berada di luar perkiraan mereka akan terjadi. Yan Xu tidak berniat memberitahukan petunjuk itu kepada Jiang Nalan karena dia berpikir hanya waktu yang dapat menyadarkan nona ini akan bakat intuisi alaminya.


__ADS_2