
Yan Xu maupun Xia'er bingung dengan pemandangan di depan mata mereka.
Setelah melakukan perjalanan yang memakan waktu setengah hari, mereka tahu betul tidak mungkin kerajaan kecil Biu dapat langsung pulih tanpa campur tangan dari pihak luar. Bahkan dengan seluruh harta keluarga kerajaan digabungkan, akan sulit membangun kembali bangunan-bangunan megah secepat ini. Campur tangan dari luar dan dapat pulih dengan kecepatan ini, tidak mungkin bisa dilakukan hanya dengan satu orang saja.
Seberapa banyak anggota kelompok mereka?
"Untuk sekarang, mari kita cari penginapan di pinggiran kota terlebih dahulu," ucap Yan Xu dengan senyum tipis.
Jika mereka terus menerus memindai setiap detil yang ada, itu hanya akan menghabiskan waktu dan mereka akan tidur di jalanan karena masih belum menemukan penginapan.
Dia tidak bisa membayangkan dengan uang saku sedikit— setidaknya jauh lebih cukup untuk membeli seratus kerajaan kecil Biu— mereka berdua akan kesulitan untuk mendapatkan penginapan yang sederhana, murah dan nyaman.
Dengan ketidakpekaan sosial milik Xia'er, akan sulit baginya untuk memilih tempat yang terlalu ramai pengunjung. Penginapan yang terlihat sepi pengunjung dan dimiliki oleh keluarga kecil merupakan pilihan yang cocok untuk mereka.
"Mencari penginapan ternyata jauh lebih sulit dibandingkan mengatur seratus susunan formasi saat bertarung," ucap Yan Xu sambil mengusap keningnya.
"Ya, kamu benar," Xia'er mengangguk setuju dengan pendapat Yan Xu.
'Menurutmu, itu salah siapa coba!' teriak Yan Xu dalam hati.
Kalau saja itu hanya Yan Xu, dia mungkin lebih memilih tempat yang ramai pengunjung untuk mengumpulkan berbagai macam informasi yang ada sambil berbaur dengan yang lain. Saat ini, dia sedang membawa bom waktu berjalan yang dapat meledak kapan saja. Jadi, tidak mungkin bagi Yan Xu untuk memaksakan Xia'er yang tidak pandai dalam bersosialisasi maupun berbaur dengan kerumunan manusia untuk mengikuti kebiasaannya.
Seseorang seperti Xia'er seharusnya menjadi pemimpin yang duduk manis di kursi singgasananya. Dengan kata lain, dia adalah seorang bangsawan bagi sesama rasnya. Memperlakukan dia seperti rakyat jelata di kerumunan manusia, hanya akan membuat dia menanggung suatu penghinaan di depan rasnya.
Kalau sesama rasnya melihat ratu mereka sedang berbaur dan berbincang dengan manusia seperti rakyat jelata, kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah dimulainya kudeta. Itu diakibatkan pergaulan seorang ratu yang seharusnya menjadi anggota bangsawan malah bergaul dengan ras manusia dengan status rakyat jelata. Sebagian besar ras iblis juga memiliki harga diri tinggi, itu juga yang menyebabkan rata-rata dari mereka kesusahan bersosialisasi dengan yang lain walaupun ingin.
Ketika Yan Xu masih berpikir keras, seorang gadis kecil menawarkan sebuah penginapan kepada mereka.
"Permisi, Tuan. Apakah kalian sedang mencari penginapan?"
Melihat gadis kecil itu, Yan Xu merasakan suatu deja vu.
Benar, itu adalah saat ketika Yaoyao yang sedang dalam penyamaran menawarkan mereka sebuah tempat untuk menginap!
Melalui kejadian itu, Yaoyao telah memberikan trauma kecil kepada ayahnya sendiri untuk tidak mempercayai gadis kecil manapun yang menawarkan sebuah penginapan kepada mereka.
Namun, ketika dihadapkan dengan situasi yang sama, dia pasti akan tetap menerima tawaran tersebut. Perjalanan ini kurang menyenangkan apabila tidak ada unsur saling tipu-menipu antara mereka dengan orang lain. Membiarkan dirinya sendiri masuk ke sarang musuh juga merupakan suatu kegembiraan bagi Yan Xu, yang mana itu merupakan salah satu kegiatan yang ingin ia lakukan.
"Benar, kami sedang mencari penginapan. Apakah kamu mempunyai rekomendasi untuk kami?" ucap Yan Xu dengan senyum hangat di wajahnya.
Gadis kecil itu terlihat sangat senang dan menjawab, "Tentu! Mari ikut aku!"
Mereka digiring ke arah pinggiran kota sesuai dengan harapan Yan Xu. Walau sudah melihatnya dengan kesadaran ilahi mereka, tetap saja sangat mengejutkan bahwa tempat pinggiran yang seharusnya kumuh menjadi sangat bersih dan terawat walaupun sepi penduduk.
__ADS_1
'Sebenarnya, apa yang terjadi di wilayah para rakyat jelata maupun bangsawan di kerajaan ini?'
Mereka telah tiba di depan sebuah rumah singgah yang sederhana dan terawat, bahkan udara di sekitar sangat sejuk karena tidak terdapat sampah maupun kotoran yang berserakan di jalanan. Seluruh sampah maupun kotoran memiliki tempat penampungan sendiri, jauh dari wilayah kediaman penduduk. Evolusi sistem penampungan limbah ini, benar-benar di luar nalar bagi peradaban Xuanyuan saat ini, begitulah yang dipikirkan oleh Yan Xu.
Masuk ke dalam rumah singgah, mereka disambut oleh beberapa anak-anak seusia gadis kecil itu dan seorang wanita dengan penampilan di awal usia 30an.
"Selamat datang di rumah singgah kami, Tuan dan Nyonya," sambut wanita itu.
Yan Xu mengangguk sambil tersenyum ramah, "Terima kasih atas sambutan hangatmu .... Nona?"
"Ah! Maaf atas ketidaksopanan ku. Perkenalkan, namaku Qiqi, pemilik rumah singgah ini."
"Um, nona Qiqi, apa masih terdapat dua kamar kosong?" tanya Yan Xu.
Sebelum Qiqi dapat menjawab, Xia'er menyela terlebih dahulu.
"Kami cuma butuh satu kamar."
Qiqi yang mendengarkan permintaan yang berbeda mengambil inisiatif sendiri untuk membantu keinginan pelanggan wanita.
"Kami hanya memiliki satu kamar dengan satu kasur untuk dua orang. Jadi, mari ikut aku ke lantai dua," tanpa basa basi, Qiqi mengantarkan mereka dengan gerakan yang profesional seolah dia sudah terbiasa dengan itu.
Yan Xu yang sangat peka akan situasi ini, hanya bisa mengeluh di dalam hati. Mereka sering disalahpahami karena permintaan dari pelanggan wanita yang sering berbeda. Berkat pernyataan mendadak dari Xia'er kemarin, Yan Xu sudah mempersiapkan mental apabila saat tidur ada seseorang yang akan menyerangnya, orang itu tidak lain adalah rekan seperjalanannya sendiri.
Di dalam kamar untuk dua orang, Yan Xu duduk di sebuah kursi sementara Xia'er berada di atas kasur.
Interior kamar tidur ini sangat sederhana. Berdinding kan kayu yang mengeluarkan aroma manis, memiliki pencahayaan yang baik dan tidak ada serangga. Sepertinya, mereka benar-benar mendalami bisnis ini karena dapat menyaingi rumah singgah mewah walau tanpa bantuan energi qi.
"—Tidak, ada yang aneh di sini," ucap Yan Xu mengerutkan keningnya.
"Kamu juga merasakannya? Mustahil aroma manis tidak menarik perhatian serangga, kecuali hanya para kultivator saja yang dapat merasakannya. Kayu-kayu ini mengumpulkan energi qi dari alam lalu memberikan berkah pada kamar yang kita tempati dari sumber tersebut," jelas Xia'er sambil memainkan energi qi yang tersebar di udara dengan jari telunjuk nya.
Terdapat aura sejuk mengitari ruangan mereka, walaupun tidak ada angin yang masuk dari celah ventilasi udara. Itu semua disebabkan oleh salah satu pengaruh dari kayu yang digunakan untuk membuat bangunan rumah singgah ini. Jadi, semenjak awal mereka digiring kemari karena sudah dikenali sebagai seorang kultivator.
Baru saja melangkah masuk, mereka berdua sudah tertangkap basah oleh rakyat pinggiran kota. Hal ini membuat Yan Xu benar-benar trauma terhadap seorang gadis kecil yang menawarkan tempat untuk menginap. Mungkin, lain kali dia akan segera pergi apabila ada gadis kecil lagi yang menawarkan mereka tempat untuk menginap.
Menikmati sejuknya ruangan itu, Xia'er berbaring di atas kasur.
Kelopak mata indahnya tertutup, namun kesadaran ilahi Xia'er masih tertuju pada Yan Xu.
Merasakan dirinya sedang diawasi, Yan Xu tersenyum lembut ke arah Xia'er dan berkata, "Mau sampai kapan kamu ingin menatapku seperti itu? Kalau ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan, bicara saja."
Xia'er membuka satu matanya dan berkata, "Janjimu."
__ADS_1
"Hm?" Yan Xu memiringkan kepalanya, tak mengerti.
"Bukankah aku sudah memilih tunggangan yang bagus? Kalau kita bisa mencabut kutukan pada Ziu Long, nilai yang dimiliki keledai itu akan melonjak dari asalnya," ucap Xia'er sambil tersenyum kemenangan.
Mengangguk sekali, Yan Xu mengakui kekalahannya dan berkata, "Kamu benar, itu adalah kekalahan ku. Terus, apa yang kamu mau?"
"Itu ..." terdapat sedikit keraguan dari suara lembut Xia'er. Setelah jeda sedikit, dia kembali bicara, "Bisakah kamu melakukan hal yang dulu pernah kamu lakukan saat kita masih bepergian bersama?"
"Apa itu?" tanya Yan Xu untuk memperjelas maksud dari Xia'er.
"Itu ... aku ingin mendengarkan cerita pengantar tidur sambil berbaring di pangkuan mu," ucap Xia'er dengan wajah lugunya yang imut dan agak kemerahan karena malu.
"B-baiklah, tapi kali ini saja," ucap Yan Xu beranjak ke kasur dan membiarkan Xia'er berbaring di pangkuannya.
"Cerita apa yang ingin kamu dengarkan?" tanya Yan Xu dengan sabar, seolah dia sedang ingin membacakan dongeng pengantar tidur kepada anak kecil.
"Cerita yang belum pernah aku dengar," balas Xia'er yang sudah menutup kedua matanya.
"Kalau begitu ..." Yan Xu membenarkan posisi rambut panjang Xia'er yang berantakan lalu melanjutkan, "Aku akan menceritakan cerita yang sedikit aneh, tapi aku jamin cerita ini tidak pernah kamu dengar dari siapapun."
"Baik, tolong ceritakan dengan perlahan seperti biasanya," pinta Xia'er yang berbaring lemah di pangkuan Yan Xu.
"Ya, ya, sesuai keinginanmu, Yang Mulia—uhuk!"
Xia'er mencubit perut Yan Xu dengan pipinya yang menggembung, menandakan bahwa dia sedang marah. Melihat wajah peri yang lucu itu, membuat Yan Xu tertawa kecil sambil mengelus rambut hitam panjangnya yang mengkilap.
"Cerita ini diawali dengan ketidak beruntungan seorang anak sebelum ia terlahir ke dunia ini."
Yan Xu mulai menceritakan tentang kisah hidupnya hingga tidak sadar kalau Xia'er sudah tertidur nyenyak.
Dia membaringkan Xia'er dengan lembut dan berkata, "Selamat tidur, Sheng Ji A'xia."
Yan Xu meletakkan selimut di atas tubuh ramping Xia'er, lalu duduk kembali di atas bangku sambil memikirkan langkah mereka selanjutnya. Dia tidak bisa tidur nyenyak karena takut akan diserang secara tiba-tiba. Tidak mungkin penginapan yang tidak biasa ini akan memberikan dia waktu istirahat dengan damai, kecuali matahari sudah terbit dari Barat.
Melihat wajah Xia'er yang tertidur pulas, Yan Xu tersenyum nostalgia dan berkata, "Yaoyao, ibumu terlihat dewasa di luar, namun sebenarnya dia masih memiliki kepribadian seperti remaja yang membutuhkan kasih sayang dari orang terdekatnya. Ayah harap kamu menjadi wanita dewasa yang lebih dewasa dari ibumu, supaya kamu bisa menjaga dia."
Menjaga Xia'er dalam banyak hal merupakan suatu keharusan menurut Yan Xu. Peri yang terlihat imut saat tidur ini sebenarnya bukanlah pribadi yang merepotkan, hanya saja kemampuannya dalam bersosialisasi sangat buruk. Sedetik saja dia bicara, mungkin sudah ada ratusan kultivator akan membunuhnya tanpa mau mengerti maksud dari ucapan nya.
"Apakah sudah benar memberikan jawaban yang sama kepada semua orang. Bagaimana kalau takdir ini memiliki cabang yang tiada akhir, apakah hubungan kami semua selalu memiliki tembok pembatas? Entahlah, untuk sementara waktu aku tidak bisa memikirkan hal yang tidak perlu. Tugasku sudah jelas harus melindungi mereka dan orang-orang yang berharga bagiku. Apapun yang terjadi, walaupun itu adalah keberadaan yang setara dengan Dewa, aku harus bertahan agar dapat kembali dan melanjutkan hari-hari biasanya bersama mereka."
Yan Xu telah menetapkan tekadnya sedari awal. Dia memiliki tempat untuk pulang maupun dijaga. Namun, saat ini masih ada ancaman yang akan datang di masa mendatang.
Untuk itu, dia harus menjadi jauh lebih kuat dibanding pemilik asli tubuh ini. Demi orang-orang yang berharga baginya, juga demi kebebasan yang selalu ia inginkan. Kesempatan ini dia yakin tak kan datang untuk kedua kalinya, jadi dia akan benar-benar bersiap demi menghadapi ancaman besar itu.
__ADS_1