
'Aneh, kenapa dia tidak menggunakan avatarnya?' Wang Jia Li merasa curiga, sesuatu yang tidak beres sedang terjadi tanpa dia sadari.
Sementara itu, Yan Xu yang menikmati pertunjukan sudah menyebarkan racun tujuh kelopak akasia dengan wajahnya yang merasakan sensasi kenikmatan. Racun akasia menyebar di sekitar murid dan guru yang sedang bertarung.
Tanpa sadar, murid berparas peri yang agak otak otot itu terlambat menyadari ada sesuatu yang salah karena dia dilindungi oleh aura api merahnya. Sedangkan musuh yang berada di sisi berlawanan, tidak dilindungi oleh aura api dan sedang membakar esensi hidup juga berjuang keras melawan efek racun yang disebarkan oleh kakak seniornya secara diam-diam.
'Tebas! Pukul! Tendang ujung pedangnya di sudut itu!' Yan Xu di kejauhan menyemangati sambil bertepuk tangan untuk adik juniornya, tanpa merasa bersalah karena perilakunya yang tidak bermoral.
Bagi Yan Xu, tiada kata bermoral bagi mayat hidup yang dikendalikan oleh sihir. Dia juga sudah berjanji untuk memberikan perpisahan yang layak kepada jiwa tetua Fan Jiaodao melalui pertunjukan ketiga ini.
Mulut Yan Xu terangkat sedikit dan berkata dengan nada pelan juga hangat, "Pertunjukan ketiga, murid berhasil mengalahkan gurunya, sehingga jiwa sang guru dapat tenang di alam sana."
Klik!
Yan Xu menjentikkan jarinya, efek racun tujuh kelopak akasia semakin aktif menggerogoti tubuh juga dantian milik Fan Jiaodao!
Melihat gerakan lawannya semakin melambat ketika mereka bertukar tebasan, Wang Jia Li segera menembakkan pedang energi dari segala arah dan mengambil beberapa langkah mundur. Dia mengambil napas panjang untuk menenangkan gelombang energi qi di dalam dantiannya, kemudian bersiap menggunakan teknik agungnya.
Wang Jia Li mengambil pedang lotus di udara, kemudian berkata, "Guru, Murid akan mengirim jiwamu menggunakan teknik agung yang kamu ajarkan terakhir kali."
Energi qi merah menyala mengalir ke pedang lotus, api merah berkobar di bilah pedang, kemudian Wang Jia Li mengangkat gagang pedang lotus dengan kedua tangannya.
"Gerakan ketiga —!"
"Tidak akan ku biarkan! Uhuk! Uhuk!" Fan Jiaodao yang tidak bisa bergerak karena racun tujuh kelopak akasia, dengan putus asa mengangkat jarinya. Tanpa mempedulikan batuk darahnya yang sangat banyak.
Tiba-tiba pedang energi hitam melesat ke bagian belakangnya, namun Yan Xu muncul dan membiarkan tubuhnya tertusuk sambil berkata, "Lanjutkan!"
Wang Jia Li mengangguk lalu dia menebas dengan pedang lotusnya secara vertikal, "Tebasan lotus api! Haaaaaahhhhhhhh!!!" Wang Jia Li berteriak dengan air mata mengalir di kedua sisi wajah perinya, namun air mata itu segera menguap karena panas api merah membara.
Tebasan energi api merah menyala menebas tubuh Fan Jiaodao hingga terbelah dua. Beberapa mikro detik sebelum tebasan itu mengenainya, terdapat senyum hangat di mulut tua Fan Jiaodao dan itu sempat tertangkap oleh kesadaran ilahi milik Wang Jia Li.
Terdapat ledakan susulan yang melahap seluruh tubuh Fan Jiaodao juga senjata maupun artefak di sekitarnya, sehingga membuat parit yang dalam di jalur tebasan nya.
__ADS_1
"Kakak Senior!" Wang Jia Li segera berbalik ke belakang, segera berlari ke arah Yan Xu untuk memeriksanya.
Yan Xu terengah-engah karena perutnya tertusuk pedang energi hitam yang agak korosif bagi tubuhnya. Wang Jia Li mencoba untuk menghilangkan energi korosif itu dengan energi qinya, namun energi korosif itu masih ada dan tak kunjung hilang.
Yan Xu meraih pergelangan tangan ramping Wang Jia Li yang ditutupi oleh jubah peri abadinya sambil menggelengkan kepala dengan lembut dan berkata, "Hentikan, Adik Junior Jia Li."
"Tapi—!" Wang Jia Li dengan cepat menolak, namun penjelasan Yan Xu berikutnya membuat dia dengan enggan segera berhenti menyalurkan energi qi merahnya.
"Semakin kamu mencoba menghilangkannya, energi korosif ini akan semakin kuat. Cara yang tepat adalah membiarkannya secara alami atau menunggu para tetua sekte membantu untuk menghilangkannya. Keduanya tidak akan membahayakan ku, kecuali caramu." Yan Xu tersenyum lembut mengingatkan adik juniornya.
Wang Jia Li berhenti mengalirkan energi qinya namun wajahnya tersipu malu dan memerah seperti tomat.
'Kakak Senior terlalu lama memegang tanganku!' teriak Wang Jia Li dalam hati merasakan sensasi panas dingin di hatinya, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya karena rasa gugup.
Yan Xu yang menyadari itu segera melepaskan pergelangan tangan ramping Wang Jia Li dengan lembut, lalu kembali bangkit. Dia merapalkan mantra untuk membuka dimensi kecil agar sahabatnya memakan jiwa milik Fan Jiaodao secara diam-diam. Selama proses itu berlangsung, dia akan mengalihkan perhatian Wang Jia Li.
'Maaf, Adik Junior. Kakak seniormu masihlah pria bermoral, dia juga mencegah kemungkinan bahwa jiwa itu akan terlahir kembali lalu dikendalikan lagi oleh Mo Li asli! Ini demi keamanan kita! Ya, demi keamanan!'
Dia tidak akan merasa bersalah dan itu juga dianggap sebagai hal yang lumrah terjadi di dunia yang kejam ini. Jika dia tidak mencari cara untuk jadi lebih kuat setiap ada kesempatan, kenangan ratusan juta tahun lalu akan kembali lagi menghantuinya.
Bukan hanya itu, Yan Xu merasa bahwa ada sesuatu yang terjadi di belakang insiden dirinya yang disebut sebagai pembawa malapetaka. Setiap berpindah ke tempat baru, dengan identitas baru, hanya butuh beberapa bulan sampai dia ketahuan dan dibunuh lagi. Siapapun yang memiliki kecerdasan rendah dapat melihat bahwa ada seorang Dalang yang menjebaknya!
Takut bahwa Dalang itu akan menargetkannya, dia harus menjadi lebih kuat dan membalas dendam atas ketidakadilan yang diderita oleh Yan Xu lainnya! Ini demi kepuasan pribadi dan sebagai pembayaran tunai atas mengambil alih tubuh abadi berwajah tampannya!
Yan Xu dengan senyum hangatnya mulai bicara dengan kecepatan santai, seolah-olah tidak ada yang terjadi padanya.
"Apakah kamu terluka?" tanya Yan Xu.
Wang Jia Li melihat ke bawah, tepatnya pada jubah abadinya. Terdapat beberapa sobekan dan luka gores. Dia segera mengangguk berat lalu menunjuk ke sobekan yang ada dengan jari telunjuk rampingnya.
'Sesekali tidak apa kan minta dimanjakan oleh Kakak Senior?' Pemikiran lain muncul di benak Wang Jia Li.
Sementara itu dengan senyum hangatnya, Yan Xu menggunakan energi qinya hingga membungkus bagian sobekan dan luka gores pada tubuh Wang Jia Li.
__ADS_1
Udara sejuk memasuki rongga kulit Wang Jia Li, dia merasakan bahwa sentuhan energi qi milik Kakak Senior sangat nyaman dan lembut. Bukan hanya lukanya yang sembuh, kulitnya terasa lebih kencang dan muda lagi!
"Selesai." Yan Xu menarik energi qinya dan—, "Uhuk! Uhuk!" Yan Xu sengaja batuk darah dan segera menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Tubuhnya terkulai lemas dan saat dia hampir jatuh— ....
"Kakak Senior!" Wang Jia Li segera menangkap tubuh Yan Xu dengan kedua tangan rampingnya.
Ketika kulit mereka bersentuhan, Yan Xu mengeluarkan seteguk darah segar dari hidung dan mulutnya. Suara teriakan panik Wang Jia Li dapat terdengar hingga ke luar didinding pembatas yang masih belum menghilang.
Yan Xu : 'Sahabatku, Leluhur Kecilku yang tiada tara, kapan kamu selesai melahap jiwanya? Aku akan mati jika terus-terusan mengeluarkan darah karena dipeluk erat begini! (〒﹏〒)'
Sementara itu, hati Wang Jia Li merasa senang karena dapat mengambil kesempatan dalam kesempitan secara sempurna dan alami. Namun, dia sudah lupa dengan penyakit iblis mental yang diderita Kakak Senior!
......................
Tingkat Kultivasi yang sudah diperlihatkan hingga chapter ini :
- Penempaan tubuh
- Kondensasi qi
- Pembentukan fondasi (Membentuk Pagoda)
- Inti emas (Menempa Inti emas)
- Alam mistik (Mulai membentuk avatar dengan tinggi 10 kaki)
- Kondensasi jiwa (Lahirnya jiwa baru (Nyawa tambahan) dari inti emas)
- Alam Ilahi (Tinggi avatar meningkat jadi 20 kaki)
- ..... (Masih banyak lagi!)
Saya menggunakan campuran dari mengkultivasi jiwa baru dan avatar sehingga para karakter tidak mudah mati karena memiliki nyawa tambahan maupun berbagai macam metode untuk hidup kembali sesuai jalur kultivasi masing-masing.
__ADS_1