
Di gubuk jerami milik Yan Xu.
Yan Xu masih memegangi telinganya yang merah dan panas. Memang benar tubuhnya sudah diperkuat karena ranah penempaan tubuh, tapi begitu juga dengan Miao'er. Lebih lagi, dia merasakan bahwa fisik Miao'er melebihi rata-rata kultivator satu generasinya.
Dia mengelus-elus kupingnya yang merah sambil mengangguk beberapa kali, "Seperti yang diharapkan dari Adik Junior."
Ketika dia tidak memikirkan apapun dan hanya mengelus-elus telinga merahnya, Yan Xu secara tidak sadar memasuki kondisi linglung. Kepalanya tidak memikirkan apapun juga bereaksi akan apa yang ada di sekitarnya.
Di tempat yang sunyi senyap dan hanya diiringi suara embusan angin malam, dia dapat mendengarkan suara yang dapat diingatnya. Suara itu memiliki berbagai macam variasi, kalimat maupun pengulangan dengan waktu yang berbeda-beda.
'Yan Shen, Mengapa kamu menjadi pecundang sampah begini?!'
'Kamu adalah anak iblis!'
'Yan Shen, kamu pembohong! Kamu cuma seorang pengecut!'
'Yan Xu, itulah nama orang yang membawa malapetaka itu.'
'Yan Shen ....'
'Yan Xu ....'
Mendengar berbagai macam suara dari dalam kepalanya sendiri, membuat Yan Xu merasakan sakit kepala. Tangannya sudah memegangi kepalanya, rambut panjang yang diikat ke belakang terurai sendiri karena gelombang energi qi yang secara tidak sengaja keluar dari tubuhnya.
Yan Xu meringkuk di atas kasur lembutnya. Tanpa sadar dia memeluk kedua kakinya, menutup mata sambil menahan rasa sakit kepala yang masih berlanjut karena suara itu masih belum berhenti. Air mata di sebelah mata kanannya mengalir, membasahi sudut matanya dan jatuh ke kain lembut alas kasur.
Berbagai macam sumpah serapah dan hinaan yang dialami Yan Shen juga Yan Xu saling tumpang tindih satu sama lain. Gema suara dari rasa jijik, berubah menjadi amarah yang meraung pada benaknya. Namun, dia terus menerima semua ucapan itu sambil bergumam sendiri.
"Aku memang sampah, memang begitulah takdirku ...."
"Aku bukan pembawa malapetaka. Ketidaktahuan dan pengetahuan kalian yang dangkal, membawa malapetaka itu sendiri kepada diri kalian ...."
"Aku bukan pembohong. Aku tidak bisa melawan kehendak orangtuaku, impianku juga hancur dan semenjak hari itu aku sudah tidak memiliki keberanian untuk muncul di hadapanmu ...."
__ADS_1
"Yan Xu itu adalah nama yang membawa kebahagiaan serta rasa syukur atas kehidupan, bukan sebaliknya ...."
"Jangan terlalu tinggi menilai ku. Bahkan orangtuaku sendiri selalu merendahkan dan tidak pernah mengakui kemampuanku ...."
"Aku terlahir abadi bukan karena kehendak ku sendiri ...."
Dia terus-menerus bergumam seolah-olah memberikan jawaban yang rasional kepada setiap suara yang datang di kepalanya. Fluktuasi energi qi dari Yan Xu merupakan salah satu bawaan yang ia derita selama menjadi Yan Shen, begitulah menurut Yan Xu.
Setiap tidur maupun lelah yang berlebihan, akan membuat Yan Xu memasuki kondisi ini. Dia terkadang akan merintih karena merasakan sakit kepala yang terlalu berlebihan, seakan kepalanya ingin meledak karena terlalu banyak menyerap udara.
Kantung dimensi yang diberikan Xiu Ruolan bergetar, sepertinya dia merasakan ada yang aneh dengan kejadian di luar sana. Namun, itu hanya sebatas rasa penasaran singkat karena dia tetap tidak keluar, dengan patuh menunggu tanda dari Yan Xu.
Kejadian itu masih terus berlanjut hingga sesosok bayangan ramping berjalan di sudut kasur. Sinar rembulan yang redup menyinari sesosok itu. Dia berpenampilan peri abadi yang dibalut dengan kain putih bersih tanpa noda.
Sesosok bayangan itu adalah Lan Xihe, gurunya Yan Xu.
Saat hendak tidur, dia selalu melakukan pengawasan terlebih dahulu kepada semua muridnya secara diam-diam. Ketika sampai di tempat Yan Xu, dia merasakan bahwa susunan formasi pedang energi melemah dan ada fluktuasi dari emosi seseorang yang berada di dalam gubuk.
Untung saja dia hanya bergumam bahwa dirinya adalah sampah tak berguna, namanya bukanlah untuk orang yang membawa malapetaka dan tidak melibatkan rahasia besar apapun yang ia simpan secara dalam.
Mata merah Lan Xihe menjadi lebih lembut, dia mengerucutkan bibir manisnya saat melihat kondisi menyedihkan Murid Nakal. Orang yang biasanya ceria, rajin belajar dan nakal sepertinya hanyalah seorang pria dengan perasaan rapuh.
Murid nakal ini dengan sangat baik menyembunyikan kerapuhan yang setidaknya bisa dia bagi kepada Lan Xihe, itu karena dia adalah gurunya. Sudah sewajarnya bagi seorang guru untuk mendengarkan juga memberikan solusi atas kerapuhan muridnya.
Lan Xihe menggelengkan kepalanya dengan lembut, "Kamu terlalu banyak bersembunyi dari yang lain. Apakah aku yang merupakan gurumu juga tidak bisa kamu percaya?" gumam Lan Xihe dengan acuh tak acuh.
Jari ramping Lan Xihe mengusap air mata di wajah Yan Xu. Kemudian, dari jari-jari ramping itu tersalurkan energi qi putih murni, membawa ketenangan dan kedamaian atas pikiran murid nakalnya hingga ia tertidur dengan wajah yang mirip seorang anak-anak.
Lan Xihe menghela napas dan berkata, "Anak-anak, tetaplah anak-anak. Orang tua akan memberikan kasih sayang, sementara anak akan menerimanya. Begitu juga dengan Guru. Kasih sayang guru kepada muridnya, bagaikan orang tua kandung kepada anaknya."
"Sehari menjadi guru, selamanya kan menjadi seorang ibu. Seseorang pernah mengatakan itu kepadaku saat aku masih berusia cukup muda. Sangat lucu bahwa pepatah itu kini menusuk tepat ke titik tersakit ku."
Lan Xihe tersenyum kecut dan beranjak dari duduknya. Dia berbalik sekali untuk terakhir kali melihat kondisi murid nakalnya, kemudian berubah menjadi kabut dan menghilang setelah ditiup angin.
__ADS_1
Sebenarnya kejadian ini sudah terjadi beberapa kali semenjak Lan Xihe menerima Yan Xu sebagai murid. Semenjak kejadian yang pertama, membuatnya selalu berpikir bahwa Murid Nakal selalu berbohong dan menyembunyikan wajah aslinya. Dia menjadi agak skeptis dengan kejujuran yang keluar dari mulut wajah tampan itu.
Yan Xu yang menerima bantuan dari gurunya sudah tidak mendengarkan berbagai suara kasar itu lagi. Wajah tampan dengan aura abadinya tersenyum lembut seakan-akan ia sedang bermimpi indah. Posisi tubuhnya sudah tidak meringkuk seperti udang lagi, dia berpindah ke posisi terlentang.
....
Di sisi lain.
Xiu Ruolan yang berada di kantung penyimpanan dimensi yang dia berikan kepada Yan Xu memperluas kesadaran ilahinya untuk mengintip kejadian di sekitar. Saat sesosok bayangan Lan Xihe muncul, kesadaran ilahinya kebetulan mulai mengintip semenjak saat itu.
Sayangnya, dikarenakan kondisi kultivasinya yang masih belum jelas di dunia ini, dia hanya bisa melihat gambar tanpa suara.
Saat Lan Xihe duduk di kasur dan mengusap air mata di wajah Yan Xu, urat kepala Xiu Ruolan menegang.
Dia menggigit jari kukunya sambil berkata, "Apakah aku sudah menyaksikan sebuah kisah cinta terlarang?!"
Mata indahnya berkedip beberapa kali. Semua fantasi akan cinta terlarang mulai muncul di benak Xiu Ruolan. Akan tetapi, dia segera menghapus pemikiran bengkok itu.
Dia tahu bahwa itu tidak mungkin karena sifat Yan Xu yang jelas sekali tidak pernah menerima perasaan orang yang berada di dekatnya, tetapi secara tidak sadar dia memberikan perasaan hangat kepada orang-orang yang berada di sekitar.
Begitulah seseorang yang bernama Yan Xu bagi Xiu Ruolan.
'Lupakan, aku harus bersiap untuk rencana besok pagi. Lebih baik memikirkan bagaimana akan bersikap nanti daripada hal-hal tidak penting seperti ini! Humph!'
Dengan begitu, Xiu Ruolan kembali bermeditasi. Namun, andai saja ada cermin, dapat dilihat bahwa wajah seorang peri dengan berkulit putih dan mulus memerah seperti telah dipanggang dengan suhu yang tinggi.
...----------------...
Berbagi pengalaman :
Kalau boleh jujur, sebenarnya saya terkadang memang mengalami seperti yang dialami Yan Xu.
Suara orang bicara bisa di dengar masuk ke telinga, tapi tidak ada orang di sekitar yang sedang bicara. Jadi, kadang itu membuat saya merasa aneh dan ingin menggambarkannya lewat bab ini. (ಠ∀ಠ)
__ADS_1