
Siapa itu Biao Yunhee?
Biao Yunhee adalah anak dari seorang pangeran dan seorang wanita yang sama-sama berasal dari suku asing. Dia lebih tua enam tahun dibandingkan dengan Wang Jia Li, memiliki paras yang memang cantik dan aura seorang putri kerajaan.
Namun, kehidupannya mulai hancur ketika dia berusia tepat enam tahun, wilayah mereka berperang dengan tentara kekaisaran yang dipimpin oleh Jenderal Lao dan berakhir dengan kekalahan di pihak suku asing.
Sebagai pihak kalah, beberapa kekuatan di pihak suku asing memutuskan untuk memberikan kepala ayah Biao Yunhee— Qu Yi sebagai kompensasi perang untuk memasuki masa damai sementara.
Ketika pengeksekusian ayahnya sedang berlangsung, Biao Yunhee yang masih anak-anak berlari terengah-engah ke arah Kaisar yang merupakan ayah dari Wang Jia Li kemudian bersujud ratusan kali sambil memohon ampunan untuk ayahnya.
Para tetua suku asing yang melihat itu mengernyitkan keningnya dan segera beranjak dari tempat masing-masing. Namun, mereka dihentikan oleh Kaisar Ming saat dia mengangkat tangannya. Mata Kaisar meneliti gadis kecil yang masih bersujud itu dengan tatapan tajamnya.
Gadis itu— Biao Yunhee, tidak gentar akan tatapan tajam Kaisar Ming dan terus bersujud dengan tubuh kecilnya. Pakaiannya sangat lusuh seolah-olah dia bukan berasal dari keluarga bangsawan. Bahkan, wajahnya dipenuhi dengan lumpur dengan rambut yang acak-acakan.
Entah dia masih bisa hidup atau mati setelah ini, dia sudah mengeraskan tekadnya untuk meminta pengampunan terhadap ayahnya. Sebagai anak yang tidak memiliki kekuatan apapun, hanya ini yang dia bisa lakukan.
Suara dalam yang tidak pernah bisa dia lupakan itu bergema dari orang yang ada di depannya, "Mengapa aku harus mengampuninya?"
Mata Yunhee kecil melebar, ada rasa terkejut di dalamnya. Namun, dia segera pulih dan menjawab, "Aku yakin ada kesalahpahaman di sini, Ayahku bukanlah orang jahat yang harus dihukum mati karena dia adalah orang yang baik!"
Tatapan dari orang-orang di sekitar menatap Biao Yunhee dengan tajam, tetapi gadis itu tidak mempedulikan mereka. Bahu kecil itu tidak akan goyah hanya karena tatapan dari orang-orang tidak berperasaan yang membuang kesetiaan ayahnya terhadap tanah air mereka!
Kaisar Ming menjawab dengan dingin, "Apakah orang yang membunuh puluhan ribu prajurit masih bisa disebut sebagai orang baik?"
Gedebuk!
Biao Yunhee bersujud dengan keras hingga dahinya mengeluarkan darah lalu berkata, "Bagi pihak lain mungkin Ayah terlihat seperti orang jahat, namun dia tetaplah orang baik yang mencoba membela tanah airnya! Tanpa pejuang yang membela tanah air, siapa lagi yang akan melindungi rakyat yang membutuhkan perlindungan!"
Kaisar Ming bangkit dari duduknya. Dia meletakkan kedua tangannya di belakang punggung lalu berjalan turun dari panggung menuju ke Biao Yunhee.
Jawaban tak terduga keluar dari mulut Kaisar, "Bagimu juga mungkin tindakanku adalah hal yang keji, namun sama seperti yang kamu katakan juga. Aku melakukan ini untuk melindungi rakyatku, menghilangkan kemungkinan yang akan mengancam kedamaian wilayah kekaisaranku, walaupun harus membuat seorang anak menjadi yatim dan menjadikan wanita yang menunggu kepulangan suaminya sebagai janda perang."
Hati Yunhee kecil menjadi hancur, pecah berkeping-keping seperti kaca rusak. Air matanya sudah tak terbendung, namun dia masih meredam suara rintihan dari mulut kecilnya. Bibir mungil itu mengerucut, tanpa sadar dia menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan sedikit darah.
Kaisar Ming masih melanjutkan sambil melewati Biao Yunhee yang masih bersujud di tanah, "Dunia ini seperti papan catur, Nak. Ayahmu adalah bidak yang digerakkan oleh orang yang lebih berkuasa di atasnya, sementara aku adalah penggerak bidak di sisi yang berlawanan. Kami saling menyingkirkan masing-masing bidak, saling menyeimbangkan kekuatan antara pihak satu sama lain, saling bertarung hingga hasil akhir keluar."
"Jika kamu ingin menyalahkan seseorang, kamu bisa menyalahkan diriku. Benci aku, teruslah hidup untuk mengingat hari ini, jadilah lebih kuat dan mungkin, suatu hari nanti akan ada kesempatan bagimu untuk mencari keadilan padaku."
"Aku, sebagai Kaisar dari Kekaisaran Agung Ming, dengan segenap kekuatan yang ada akan menyambutmu di papan catur dunia ini!"
__ADS_1
Suara Kaisar Ming menggelegar, namun tidak ada yang berani menentang ucapannya. Semua orang memahami situasi mereka sebagai pihak yang kalah, pecundang hanyalah bisa menerima perlakuan dari pemenang.
Saat itulah, Kaisar melihat seorang wanita yang berlari menuju ke arah anak yang sedang bersujud di tanah. Wanita itu adalah ibu Biao Yunhee— Biao Ai.
Pada pandangan pertama, mata Kaisar Ming jelas memancarkan sebuah cahaya. Dia merasakan sensasi bahwa wanita yang ada di depannya akan memberikan seorang keturunan yang dapat membantu para pangeran dalam persaingan takhta kaisar mereka. Namun, dia masih diam tak peduli membiarkan wanita itu menarik anaknya.
"Yun'er, kamu tidak boleh ada di sini! Cepat, ikut Ibu pulang ke rumah!"
Yunhee yang masih keras kepala menolak keras, "Tidak! Ibu, Ayah bukan orang yang jahat! Dia tidak harus menerima hukuman mati!"
Biao Ai yang menolak pendapat anaknya dan segera menarik Yunhee kecil dengan paksa. Dia terlalu fokus pada Yunhee kecil, hingga melupakan dimana mereka berada. Suara dalam muncul di belakangnya.
"Tunggu."
Bahu Biao Ai bergidik, dia merasakan keringat dingin pada punggungnya namun dia segera menstabilkan napasnya kemudian berbalik ke arah suara.
"Mohon maaf, Yang Mulia Ming. Hamba terlalu tidak sopan, mohon untuk mengampuni dosa ini!" Biao Ai menangkupkan tangannya dengan gerakan anggun hingga berlutut.
"Bagaimana jika aku tidak bisa melepaskan masalah ini?" Suara dalam itu terdengar sangat serius dan dia juga mengeluarkan aura seorang kaisar, membuat beberapa orang merasa dingin.
Gedebuk!
"Baiklah, aku akan menuruti keinginanmu dengan dua syarat."
"Tolong katakan, Yang Mulia Ming!"
Kaisar Ming berjalan mendekat ke Biao Ai sambil berkata, "Pertama, kalian berdua harus menyaksikan proses eksekusi Qu Yi ..."
Deg!
Hati Biao Ai mengeras tangannya juga menegang, namun dia segera memperbaiki posturnya dengan cepat seolah tidak terjadi apa-apa.
"..... Kedua, aku akan menjadikanmu sebagai selir untuk memperingati perjanjian damai antara kedua pihak. Dengan ini, anakmu juga adalah anakku dan kalian berdua akan menjadi bagian dari keluarga Kekaisaran Ming ku."
Biao Ai yang sudah kehilangan semua, tidak ingin kehilangan anak yang merupakan harta karun berharga dari suaminya. Dia dengan enggan langsung menyetujui persyaratan Kaisar Ming.
"Hamba setuju dengan persyaratan dari Kaisar Ming."
Dengan persetujuan itu, Kaisar Ming tersenyum dan mengangguk.
__ADS_1
"Bagus, keturunan yang baik akan berasal dari induk yang berkualitas. Aku sangat senang kamu masih bisa berpikir rasional dengan situasi seperti ini."
Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, proses eksekusi mati Qu Yi berlangsung tepat di depan mata istri dan anaknya.
Biao Yunhee kecil saat itu meronta dengan keras, namun tubuh kecilnya tidak dapat memberikan perlawanan yang berarti di depan seorang prajurit kuat.
Dia hanya bisa menerima takdirnya sebagai pecundang, dimana ayahnya dieksekusi mati tepat di depan mata dan dia tidak bisa melakukan apapun tentang hal itu. Bahkan, ibunya juga terpaksa harus tunduk saat mencoba menyelamatkan dia. Yunhee kecil mulai mengutuk dunia pada hari itu, hingga menit terakhir kematiannya yang menyedihkan di tangan Kakak Senior.
...
"Jadi, begitu ...."
Yan Xu menghela napas panjang setelah melihat ingatan dari pecahan jiwa milik Biao Yunhee yang dikirim oleh sahabatnya.
Biao Yunhee termasuk jenis orang yang memiliki takdir untuk menjadi lebih kuat, namun dia telah jatuh ke dalam amarah dan keputusasaan. Tidak ada anak yang akan merasa biasa-biasa saja setelah orang tua mereka dibunuh tepat di depan mata, terlebih lagi dia merasakannya di usia yang dini.
Dia tidak pernah menyalahkan Biao Yunhee yang ingin melampiaskan amarahnya melalui skema ini, namun kesalahannya terletak pada bagian dimana Mo Li asli terlibat. Mo Li yang asli memanfaatkan kemarahan yang ada di dalam hati Biao Yunhee, memberikan dia celah untuk mempengaruhi pihak lain.
Biao Yunhee kecil bertemu dengan Mo Li yang asli dan membiarkan orang itu mengendalikannya menggunakan sihir di saat perlu, mereka juga melakukan kontrak dengan iblis agar Biao Yunhee mampu menggunakan sihir.
Pada saat melakukan proses mengikat kontrak, niat Mo Li asli sangat jelas terlihat oleh Yan Xu karena dia hanya memanfaatkan orang lain sebagai katalis memanggil pihak lain, kemudian membuat kesepakatan terpisah tanpa harus mengorbankan dirinya sebagai pemanggil.
Orang ini sangat biadab dan memiliki berbagai macam pemikiran yang sangat licik, namun Yan Xu merasa bahwa dia masihlah bukan seseorang yang menggerakkan bidak catur. Dia masihlah seorang bidak dengan kemampuan tinggi dan dapat mempengaruhi bidak di pihak lawan. Yan Xu merasa bahwa dia kemungkinan akan bertemu pihak lain sebagai lawan, tapi tidak saat ini.
Guru pernah mengajarinya sedikit tentang sihir yang keji seperti pengendalian manusia. Sihir itu sangat keji, memiliki berbagai macam syarat dan memberikan arus balik kuat saat sihirnya dihilangkan. Mo Li yang asli pasti akan merasa dendam dan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian hari ini.
"Wajah ini sudah tidak bisa digunakan, aku akan membuat bentuk wajah baru lagi saat pulang ...."
Yan Xu menggunakan teknik pengejaran jiwa, berjalan santai ke arah Wang Jia Li berada dan meninggalkan bayangan di belakangnya.
Apakah Yan Xu merasa kasihan atas takdir Biao Yunhee?
Tidak, dia juga memahami rasa sakit atas kekalahan pada yang namanya takdir. Manusia sudah diberikan berbagai jalur takdir untuk mereka sebelum lahir ke dunia. Dia tidak membenci maupun kasihan atas dendam itu, hanya saja dia cuma bisa memberikan tepuk tangan dalam hati.
'Aku bukan pahlawan keadilan, hanya bisa turut berduka dalam hati. Jangan berharap karena aku tahu tentang takdirmu, aku akan mengubahnya seperti yang ada di cerita novel.'
'Apa yang salah hanyalah saat kalian memasukkan aku dalam rencanamu.'
Jika ada yang benar-benar dia benci, itu adalah salah satu hama yang masih jauh darinya, orang yang merupakan salah satu saksi mata bahwa dia memiliki keterlibatan mendalam dengan insiden ini, Mo Li!
__ADS_1