Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Matahari Terbit Dari Selatan


__ADS_3

"Murid Nakal!"


"Yan Xu! Wang Jia Li!— Eh? Kenapa kamu menangis di sana?!"


Suara panggilan dari Lan Xihe dan Su Yueyin datang secara bergiliran.


Yan Xu sudah berdiri dan menghadap ke arah dua tetua dan gurunya. Dia dengan sabar menahan fluktuasi emosinya agar tidak bocor dan mempengaruhi hasil terbaik.


Perlahan, air mata sejernih kristal mengalir di sudut mata Yan Xu ketika dia menatap ke arah gurunya. Air mata itu dipenuhi akan banyak sekali emosi yang terkandung di dalamnya. Membuat para tetua juga Wang Jia Li yang ada di sebelahnya tercengang.


'Aku tidak menyangka bahwa saat melihat Guru, hatiku tidak tahan ingin menangis karena sangat bahagia. Senjata terkuat di dunia! Itulah Guru dari Puncak Angin kami! Tenang saja Guru, murid akan menggunakanmu sebaik mungkin!'


Dengan ekspresi wajah yang sangat emosional dan berlinangkan air mata, Yan Xu berjalan menuju ke arah gurunya. Saat dia berada di depan Guru, air matanya semakin mengalir deras dan terlihat sangat alami.


Gedebuk!


Yan Xu bersujud di depan kaki gurunya kemudian berteriak, "Murid menyapa Guru!"


Gedebuk!


Yan Xu sekali lagi bersujud dan melanjutkan, "Rahmat kasih dari Guru benar-benar tiada tara! Langit dan bumi bisa menjadi saksi, betapa baik dan pengasihnya Guru terhadap Murid! Murid sangat tersentuh dan sangat senang!" ucap Yan Xu sambil terisak.


Su Weiyan dan yang lainnya menjatuhkan rahang mereka, kecuali Lan Xihe yang sudah kebal akan pujian. Namun, sudut kecil mulutnya terangkat sedikit, ada senyum kecil yang tidak bisa dilihat oleh orang lain di sana.


Dia membantu Yan Xu berdiri kembali dan menghapus air mata buaya itu dengan kedua tangan rampingnya lalu berkata, "Kamu dapat tenang sekarang, karena Guru sudah ada di sini, tidak ada yang perlu kamu takutkan!"


'Kamu mau bermain sandiwara? Baik, Guru akan bermain bersamamu. Mari kita lihat, seberapa banyak tingkat sandiwara buayamu berkembang, Murid Nakal!' seru Lan Xihe di dalam hati.


"Guru ...." Bukannya berhenti menangis, air mata Yan Xu semakin mengalir deras tak terbendung. Dia segera memeluk pinggang ramping Lan Xihe, membenamkan wajahnya di jubah abadi peri gurunya. Tangisannya semakin menjadi, dia juga meraung-raung dengan sangat menyedihkan.


"Guru, Murid sangat ketakutan. Takut bahwa Murid tidak akan bisa lagi melihat Guru dan Adik Junior. Selain itu ... hiks!— uuhhn ... Murid benar-benar—hiks! Murid benar-benar merindukan Guru dan rumah kita di Puncak Angin!"


'Oh, kamu sangat merindukanku? Tenang saja, Guru akan memukuli—uhuk! Mendidikmu hingga mengganti sebanyak tiga kali lipat koin yang aku gunakan, kemudian bermain undian lagi!' begitulah yang ada di dalam isi hati Lan Xihe.

__ADS_1


Namun, di luar ia berkata lain, "Tenang, kamu sudah aman. Aku sudah di sini, lihat? Sekarang, tenangkan dirimu, oke?" Lan Xihe menepuk punggung Yan Xu dengan lembut.


Melihat perilaku kedua pasangan guru dan murid itu membuat mata Su Yueyin dan Su Weiyan melebar, rahang mereka semakin jatuh hampir menyentuh ke tanah.


'Bukankah dia selalu galak? Mengapa sekarang dia terlihat sangat lembut, bahkan memanjakan muridnya!'


'Ini pasti mimpi ... benar! Aku sedang bermimpi!'


Masing-masing dari duo Su mencubit dan menepuk wajah mereka karena tidak dapat menerima hal di luar nalar yang ada tepat di depan mata. Sayangnya, itu adalah kenyataan karena mereka sama-sama merasakan sensasi rasa sakit dari perbuatannya.


'Ini bukan mimpi!'


'Sepertinya, saat pagi besok matahari akan terbit dari selatan. Bahkan jika kiamat terjadi, dia tidak akan pernah berperilaku seperti ini!'


Su Yueyin dan Su Weiyan kembali pada kenyataan dengan segera. Mereka hanya bisa tersenyum tak berdaya melihat kelakuan kedua orang itu. Perasaan bahaya dari beberapa saat yang lalu mulai menjalari punggung mereka kembali.


Sedangkan untuk Yan Xu dan Lan Xihe, mereka sedang berkomunikasi dengan teknik transmisi suara tingkat lanjut yang hanya dikuasai oleh anggota Puncak Angin saja.


"Guru, Murid mendapatkan barang bagus untuk Guru. Anggap saja itu sebagai kejutan, Murid akan menunjukkannya saat kita pulang nanti."


"Tentu saja, Murid tidak akan pernah melupakan juga menusuk Guru dari belakang! Langit dan bumi bisa menjadi saksi akan kebenaran ucapan tulus dari Murid!"


'Tidak, tidak, bahkan tanpa langit dan bumi bersaksi, dengan tolak ukur sistem yang akurat, kesetiaan mu itu cuma secuil dari ujung kuku jari kelingkingku!' sebenarnya itulah yang ingin dikatakan Lan Xihe, namun dia hanya menelan kalimat itu untuk dirinya sendiri dalam hati.


Lan Xihe kembali melanjutkan transmisi suara mereka, "Sekarang, permainan sandiwara apa yang sedang kamu mainkan?"


"Kebahagiaan Murid bukan sekedar sandiwara, Guru! Murid benar-benar merasa bersyukur! Namun, ada juga untuk hal lain, sudah pasti akan ada penagih setiap ada utang dari pihak lain ...."


"Murid berpikiran untuk mendapatkan keuntungan secara maksimal demi Puncak Angin kita yang agak miskin!"


"Murid Nakal! Beraninya kamu menghina rumahmu sendiri! Apa kamu sudah melupakan setiap ajaran dan juga betapa kerasnya pukulan ku?!"


"Ti-tidak Guru! Murid tidak bermaksud begitu!"

__ADS_1


"Tidak! Kamu benar-benar sudah bilang begitu!"


"Tidak Guru— haah ... mari kita kembali ke topik utama. Izinkan Murid mengetahui keadaan pada sisi Guru terlebih dahulu."


"Hmm ..." Lan Xihe berpikir sejenak lalu melanjutkan, "Aku sudah memberikan peringatan keras dan memukuli tulang tua di sana sehingga dia berjanji untuk memberikan kompensasi yang terbaik sebisanya."


"Hanya sebisanya?" Suara Yan Xu menjadi suram.


"Apa maksudmu dengan itu?" Lan Xihe menatap tajam ke arah Yan Xu yang masih memeluk erat pinggang rampingnya.


Hati Yan Xu mengernyit ketika merasakan tatapan tajam dari gurunya, namun dia dengan cepat menenangkan diri dan segera menjawab pertanyaan gurunya.


"Jika hanya sebisa dia, itu berarti kita masih belum bisa mendapatkan apa yang kita inginkan. Menurut Murid, dia seharusnya berjanji untuk mengusahakan yang terbaik sebisa sekte! Bukan dirinya secara pribadi! Itu sama saja dengan penipuan!"


Lan Xihe mengerutkan keningnya sambil berkata, "Ucapanmu ada benarnya juga. Apakah aku harus memukulinya lagi karena sudah bermain trik denganku?"


"Tidak perlu, Guru tidak perlu repot-repot membuang tenaga hanya untuk memukuli tulang tua itu. Lagipula, dia bukan orang yang memiliki posisi biasa-biasa saja bukan? Murid dapat menebak, setidaknya dia memiliki posisi yang tinggi di dalam sekte."


"Benar, dia adalah Su Weiyan, murid keempat dari Su Yinfeng," jawab Lan Xihe setuju.


"Kalau begitu, kita akan menginjak-injak triknya menggunakan trik lainnya, Guru. Bukankah membalas dendam juga akan terasa nikmat apabila pihak lawan jatuh ke bidang yang sama?"


Mata Lan Xihe melebar seolah-olah mendapatkan wahyu suci yang turun dari langit.


"Bagus! Lakukan sesukamu, Guru akan mengikuti alur yang kamu sediakan."


"Baik, Guru! Tunggu saja, Puncak Angin kita tidak akan miskin lagi. Bahkan jika itu harus memukuli tulang tua hingga kepala sekte, murid tidak akan gentar selama ada Guru yang ikut bermain!"


Lan Xihe mengangguk setuju dan merasa puas. Namun, di kedalaman hatinya, dia merasakan ada yang salah dengan kalimat terakhir Yan Xu. Sayangnya, dia tidak bisa mengerti dimana letak sesuatu yang ganjil itu.


Sementara itu, Yan Xu yang sudah mendapatkan jaminan dari gurunya tersenyum licik.


'Bagus! Guru tidak menyadari niat asliku!— Ptooey! Niat asli apanya?! Aku kan cuma membantu Puncak Angin kami! Itu adalah hal yang wajar bagi seorang murid!'

__ADS_1


Yan Xu tidak bisa menahan tawa di dalam hatinya, sambil memikirkan setiap tindakan balasan yang selalu dia ulang saat terkurung di dalam dinding pembatas. Hatinya sudah berapi-api, sangat ingin menyuarakan betapa inginnya dia akan hadiah kompensasi yang sangat manis!


__ADS_2