
Keesokan paginya, mereka keluar sebagai keluarga besar dengan Du Du yang menggunakan kulit wajah asli dan mengubah warna rambutnya mengikuti dari belakang.
Kali ini, mereka akan bepergian ke arah Barat Laut, arah yang merupakan tujuan iblis tadi malam.
Yan Xu yang membawa Yaoyao di pergelangan tangannya tersenyum kecut sambil berkata, "Bukankah ini ... terlalu berlebihan?"
Yaoyao dari samping menjawabnya, "Ayah, jangan terlalu kaku! Kesempatan jalan-jalan sebagai keluarga sangat jarang terjadi! Kita harus menikmatinya! Benarkan, Ibu?"
Lan Xihe yang menikmati pertunjukan hanya mengangguk dengan senyum hangat perinya. Dia mau melihat rencana apa yang sedang berlangsung saat ini.
...
Ketika mereka sampai di pusat perbelanjaan wilayah Barat yang dekat dengan perbatasan wilayah Barat Laut, mereka melihat banyak sekali berbagai dagangan di tepi jalan.
Salah satunya— ....
"Mari, Tuan dan Nyonya! Ayo coba peruntunganmu di judi batu!" teriak seorang pria bertubuh kekar.
Mendengar itu, telinga Lan Xihe bergerak dan dia segera menarik pergelangan tangan suaminya.
Yan Xu bingung dengan perubahan mendadak istrinya, "Eh? Apa itu?"
Dengan senyum indahnya, Lan Xihe berkata, "Ayo kita coba judi batu disana!"
Yan Xu dan Yaoyao menjatuhkan rahangnya. Mereka tidak mengira bahwa Lan Xihe akan bersikap kekanak-kanakan seperti ini ketika menyangkut judi!
Yaoyao berbisik kepada Yan Xu, "Ayah, Ibu sepertinya sangat senang berjudi, tapi Yaoyao merasa bahwa dia tidak pandai dalam berjudi!"
Yan Xu mengangguk setuju, "Itulah kenapa, kita hanya perlu memberikan dia uang secukupnya saja."
Dengan senyum kecut di sudut mulut kedua ayah dan anak itu, mereka mengikuti Lan Xihe hingga ke tenda judi batu.
"Silakan Nyonya!" Pria besar tadi tersenyum lebar dan mempersilakan mereka untuk memilih batu mana yang ingin dibelah.
Sebelum Lan Xihe memilih, Yan Xu terlebih dahulu menghentikan dia.
"Ada apa?" tanya Lan Xihe.
Yan Xu mengirimkan transmisi suara, "Tunggu sebentar, istriku. Biar kita memastikan aturannya terlebih dahulu, takutnya ini adalah penipuan!"
Setelah mendengar ucapan suaminya, Lan Xihe mengangguk dan membiarkan Yan Xu berurusan terlebih dahulu.
Dengan senyum hangat, Yan Xu berkata, "Paman, apakah ada aturan dalam judi batu ini?"
Pria besar itu mengangguk keras sambil berkata, "Um! Setiap mencoba akan dikenakan biaya satu batu kristal roh. Setelah sepuluh kali, biaya akan meningkat sebanyak satu batu kristal roh. Jika beruntung, kemungkinan besar kalian akan mendapatkan sebuah peninggalan dari zaman kuno."
'Jelas sekali, ini adalah penipuan!' pikir Yan Xu di benaknya.
Dia ingin menghentikan Lan Xihe, namun dia berpikir itu tidak mungkin karena peluru yang sudah ditembakkan, takkan pernah kembali ke senapannya. Kalau begini, dia cuma bisa mengatakan kalau mereka hanya memiliki sepuluh batu kristal roh kepada istrinya.
__ADS_1
Yan Xu memberikan sekantung yang berisikan sepuluh batu kristal roh kepada Lan Xihe.
Lan Xihe dengan cepat mengambil sekantung batu kristal roh itu dengan senyuman indahnya. Kemudian, dia segera memilih sepuluh batu dengan sangat cepat tanpa memperhatikan bentuk maupun aura dari masing-masing mereka.
Yan Xu tercengang dengan betapa cepatnya dia menyerah terhadap yang namanya keberuntungan, sementara itu Yaoyao sudah memijat keningnya.
Yaoyao berbisik dengan nada pelan, "Ayah, sepertinya Ibu akan kalah."
Yan Xu juga berpikir demikian, "Benar, dia akan kalah."
Setelah semua batu dibuka, terdapat sinar emas di beberapa batu. Hal itu menyebabkan kegemparan di sekitar mereka!
"Lihat itu! Dia sangat beruntung!"
"Apakah itu peninggalan ajaran Buddha?"
"Mari kita lihat!"
Beberapa pejalan kaki di sekitar mereka berkumpul untuk melihat hasil judi Lan Xihe.
Yan Xu yang tercengang, segera menarik lengan ramping istrinya dan berbisik, "Istriku, kita sudah terlalu banyak menarik perhatian! Bisakah kita pergi sekarang!?"
Lan Xihe menggeleng lembut dan berkata, "Mari kita tunggu sebentar lagi, mungkin ada ikan besar yang akan datang."
"Kamu ingin memanfaatkan hasil judi batu itu untuk mencari keuntungan?"
Mendengar itu, Yan Xu tersenyum tipis dan menepuk bahu istrinya, "Sayangnya, aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi!"
Dia segera menggunakan teknik pengejaran jiwa dan membuat mereka berpindah ke sudut-sudut gang kecil yang minim akan pencerahan.
Lan Xihe mendengus kesal, "Kenapa kamu tiba-tiba menjadi seperti ini!?"
Yan Xu mengeluarkan batu yang dia ambil sebelum mereka berpindah dari kantung penyimpanan dimensinya, "Tenang saja, istriku. Masih ada kesempatan lain, di lain hari."
Melihat itu, Lan Xihe mengedipkan kelopak matanya beberapa kali dan mengangguk patuh, "O-oh ...."
Yaoyao tidak bisa berhenti mengerang karena kelakuan kedua orang itu. Ekspresi wajahnya seolah berkata, 'Sinting! Keluarga ini benar-benar sinting!'
Begitu juga yang dipikirkan oleh Du Du yang baru saja bangun dan tiba-tiba mendapatkan wahyu, ternyata putri yang dia layani adalah anak dari kedua orang di depannya!
Dari belakang, beberapa langkah kaki terdengar dan muncul siluet sekelompok orang.
Suara lembut dari seorang pria muncul dari siluet itu, "Permisi Tuan dan Nyonya, apakah kalian mau menjual hasil judi batu tadi kepadaku?"
Wajah Yan Xu jadi muram, jelas sekali pihak lain kemungkinan besar adalah sekelompok orang yang berada. Dengan kata lain, kemungkinan terjadinya perkelahian antara mereka tidak bisa dihindari apabila istrinya tidak setuju.
Dia segera mengubah ekspresinya menjadi wajah bisnis dengan senyum menyenangkan, "Maaf Tuan, sebelum kamu ingin membelinya, bukankah lebih baik untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu?"
Dari siluet itu muncul seorang pria dengan jubah istana bercorak emas dan ada rajutan naga di bagian lengannya. Semua orang yang berada di Kekaisaran Agung Ming pasti tahu dia siapa, hanya dengan melihat jubah itu.
__ADS_1
'Dia ... seorang pangeran.'
"Nama keluargaku adalah, Zhao. Bagaimana denganmu, Tuan?" pria itu memperkenalkan dirinya dengan cara yang sopan dan senyum hangat muncul di mulut tipisnya.
"Nama keluargaku adalah, Yan. Senang bertemu denganmu, Saudara Zhao." Yan Xu menangkupkan kedua tangannya sambil memberikan hormat.
"Tidak perlu sopan, tolong angkat kepalamu," ucap Pangeran Zhao sambil melambaikan tangannya ke depan.
Mendengar persetujuan dari pihak lain, Yan Xu segera mengangkat kepalanya.
Kedua mata orang itu memiliki pemikiran tersendiri, masing-masing dari mereka tidak ada yang menunjukkan sedikitpun celah!
Pangeran Zhao kembali meneruskan urusannya, "Aku akan membeli barangmu dengan harga senilai seratus batu kristal roh tiap masing-masingnya. Bagaimana dengan itu, Saudara Yan?
Lan Xihe mengirimkan transmisi suara kepada Yan Xu, "Dua ratus batu kristal roh tiap barang."
Yan Xu mengernyitkan keningnya karena transmisi itu terlalu mendadak. Dia belum menyiapkan berbagai macam balasan, apabila pihak lain ingin tawar menawar.
Yan Xu dengan senyum hangat berkata, "Saudara Zhao, bukankah lebih baik memeriksa barang yang didapatkan terlebih dahulu sebelum membelinya?"
Pangeran Zhao menggelengkan kepalanya sambil berkata, "Tidak perlu, sebenarnya aku sudah mengincar barang itu terlebih dahulu. Namun, keberuntunganku kurang cepat dibandingkan kalian."
"Benarkah? Kalau begitu, bagaimana dengan 300 batu kristal roh?" ucap Yan Xu.
Pangeran Zhao terlihat sedang berpikir keras, tetapi penjaga yang ada di belakangnya menjadi marah dan mengutuk keras terhadap Yan Xu.
"Kamu! Jangan lupa dimana posisimu! Kalian tidaklah lebih rendah dari Pangeran Zhao!" teriaknya.
Yan Xu tidak mempedulikan itu dan masih menunggu hasil berpikir Pangeran Zhao.
Setelah beberapa saat, dia akhirnya memutuskan, "Baiklah, tapi berikan anakmu kepadaku."
Yan Xu dan Lan Xihe tercengang karena permintaan itu. Entah kenapa, dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah di otak Pangeran Zhao.
Lan Xihe yang berada di samping Yan Xu mengirimkan transmisi suara, "Apakah pangeran ini termasuk orang yang seperti itu?"
Yan Xu yang kembali ke kenyataan segera menjawab pertanyaan itu, "Mungkin saja, lebih baik kita turuti permintaannya."
Lan Xihe mengernyit heran, "Kenapa? Bukankah Yaoyao anakmu?"
Yan Xu terkekeh geli, "Karena dia anakku, dia pasti akan baik-baik saja. Lagipula Pangeran Zhao tidak tahu apa yang dia karungi ke dalam rumahnya."
Lan Xihe menghela napas sambil memijat keningnya, sementara Yaoyao berwajah muram.
Melihat ekspresi Yaoyao, Yan Xu tersenyum tipis dan berkata, "Anakku tersayang, apakah kamu ingin berguna bagi orangtuamu?"
Yaoyao yang tahu bahwa akal bulus ayahnya sedang berjalan, segera menggelengkan kepalanya tidak setuju. Sementara Du Du yang berada di belakang mereka, dia hanya mengikuti drama ini karena ia tidak mau terjatuh ke kubangan lumpur sebanyak dua kali.
'Kalian mainkan saja skema apapun, tapi jangan menarikku ke kubangan lumpur yang kalian buat!' begitulah pikir Du Du.
__ADS_1