
"Ehem! Bibi Lixuan, Paman Weiyan dan Tetua Agung Yueyin, mari, silakan masuk lewat sini."
"Ya, ya, tidak perlu bertele-tele. Tapi ... hmmm ... ini adalah gerbang kehidupan formasi, kan?" tanya Su Lixuan yang menyipitkan matanya, menatap tajam pada susunan formasi yang terlihat indah dan memiliki energi spiritual kecil itu.
"Benar, seperti yang diharapkan dari Bibi Lixuan, Anda benar-benar memiliki penglihatan yang tajam," jawab Yan Xu sambil tersenyum. "Kami selalu memiliki kebiasaan untuk selalu memasang formasi di sekitar bangunan dengan alasan keamanan. Jadi, harap dimaklumi apabila Bibi Lixuan maupun Paman Weiyan kurang merasa nyaman dengan formasi yang 'biasa-biasa' ini."
"Tentu, bukan masalah. Kalau begitu, tunggu apa lagi? Jangan buang-buang waktu dan lanjutkan urusan kita."
Su Lixuan dengan angkuh masuk melalui pintu kehidupan formasi, sementara Su Weiyan mengikuti dari belakang.
Saat dia melewati Yan Xu, dia menundukkan kepalanya untuk meminta maaf atas perlakuan kasar istrinya. Sementara itu, Yan Xu hanya mempertahankan senyum dan melambaikan sedikit tangannya meminta agar Su Weiyan tidak perlu terlalu memikirkan perilaku tersebut.
"Benar-benar sikap yang tidak dewasa, aku harap dia tidak menyesali perbuatannya nanti."
Ye Miao'er menghela napas panjang seolah-olah mulutnya sudah menyemburkan bola api dan ingin membakar habis Su Lixuan. Dia masih tetap patuh karena tinggal sebentar lagi, rencana mereka akan dimulai. Saat Yan Xu memulai kesepakatan, di situlah dia akan lari dan meminta bantuan kepada guru mereka untuk memukuli tamu tak tahu malu itu.
Senyum licik tersungging di sudut mulut kecil Ye Miao'er, sementara jari-jarinya bergerak lincah.
Yan Xu dan Su Yueyin yang mengetahui kebiasaan bahwa Ye Miao'er sedang merencanakan sesuatu, hanya bisa tersenyum pahit. Mereka tidak ingin memperingatkan dia karena tahu bagaimana Miao'er akan bertindak kalau sudah ada dendam kesumat. Tinggal menunggu waktu saja yang akan menjawab bagaimana dia mengeksekusi tiap dendam yang ada.
Kelima orang itu memasuki bangunan dan pergi ke lantai dua, dimana ruangan khusus untuk bernegosiasi telah dipersiapkan.
__ADS_1
Akhirnya, masalah yang sebenarnya dimulai sekarang.
Sebelum itu, Yan Xu segera memberikan tanda kepada Miao'er untuk menyiapkan teh maupun cemilan untuk mereka berempat.
Memahami kode itu, Ye Miao'er menyeduh teh hingga mengambil beberapa cemilan yang telah mereka persiapkan. Dia meletakkan semuanya dengan gerakan yang elegan seolah-olah telah terlatih.
Sebagai anak yang lahir dari keluarga berada, Ye Miao'er telah mempelajari setiap pelajaran tata krama. Tentu saja, menyambut tamu juga merupakan salah satunya. Karena itulah, dia lebih lihai dibandingkan Yan Xu dalam hal ini.
Sikap yang ditujukan Yan Xu selama ini juga merupakan apa yang diajarkan oleh Ye Miao'er. Awalnya dia bertanya-tanya untuk apa Yan Xu meminta pelajaran itu. Ternyata, alasannya untuk hari penting ini.
Dengan bangga, Ye Miao'er menyajikan semuanya dan dengan diam-diam berjalan ke sudut ruangan, dimana formasi yang akan menteleportasi dia ke luar berada. Di dekatnya ada sebuah meja tinggi, di sana ada secarik kertas yang merupakan pesan dari Yan Xu.
Setelah memastikan pesanan nya sampai kepada Miao'er, Yan Xu mulai membuka mulutnya.
"Pertama-tama, Murid ucapkan terimakasih banyak atas kemauan hadirin sekalian untuk menghadiri pertemuan ini. Murid yakin semuanya sudah tahu apa tujuan pertemuan ini, tapi Murid akan mengatakannya dengan jelas sekarang."
Yan Xu menarik napas dalam-dalam, kemudian mengembuskannya dengan halus.
"Pertemuan ini Murid adakan untuk membicarakan perihal kepindahan Tetua Agung Yueyin secara permanen ke Puncak Angin."
Setelah pembukaan itu, Yan Xu mulai menjelaskan bagaimana Puncak Angin merawat Su Yueyin dengan baik hingga kinerjanya yang sangat berharga bagi sumber daya manusia puncak.
__ADS_1
Tidak lupa juga, dalam setiap menyebutkan kelebihan Su Yueyin, dia selalu menyelipkan kalimat pujian seperti berkat bimbingan keduanya lah Su Yueyin dapat melakukan pekerjaan sebaik itu.
Setelah belasan menit dia menjelaskan, Yan Xu mengakhirinya dengan baik menggunakan kalimat eksekusi sesuai yang sering dia gunakan ketika sedang rapat di kehidupan Yan Shen untuk meyakinkan pihak lain.
"Jujur, aku kira kamu orang yang cerdas. Tetapi, apa kamu yakin cuma itu saja?" gumam Su Lixuan. "Jika kita menggunakan sudut pandang sebagai salah satu tetua Puncak Surgawi, kamu memang sudah memberikan penjelasan yang baik. Namun, bukankah kamu sudah memperkirakan kami kesini bukan hanya sebagai tetua, melainkan juga sebagai orangtuanya, bukan?"
Su Weiyan tersenyum halus dan meletakkan tangannya di punggung saat dia mendengar ucapan istrinya. Sosok ayah dari seorang Su Weiyan memberikan tekanan jelas, bahwa dia tidak marah dengan cara Yan Xu menjelaskan. Dari sudut pandangnya, dia terlihat puas, namun dia tidak bisa menyuarakan itu secara langsung karena Su Lixuan adalah puncak dominasi saat ini.
"Nak, ucapan bibimu ada benarnya juga. Aku senang kamu bisa melihat bagaimana hebatnya Yin'er kecil yang telah kami besarkan selama ini, tetapi aku belum melihat bagaimana kamu memandangnya sebagai seorang wanita. Sebagai seorang ayah, bukankah kamu juga tidak akan merasa nyaman kalau putrimu cuma dinilai secara objektif ketika kita berada di kondisi sekarang?"
Sesudah mendengarkan saran tidak langsung dari Su Weiyan, Yan Xu masih belum mengerti dengan maksud mereka.
Bukankah dia kemari karena Su Yueyin itu memang cocok menjadi Tetua Agung di Puncak Angin? Kenapa pula dia harus memberikan pendapat seolah-olah ia sedang melakukan proses lamaran kepada keluarga mempelai wanita?
Meskipun tidak mengerti dari tujuan keduanya, Yan Xu masih memasang ekspresi tersenyum dan ikut bermain. Dia tidak bisa mundur karena tekanan dari Su Lixuan hampir memenuhi ruangan, sementara Ye Miao'er sedang mencari saat-saat yang tepat untuk kabur.
Dengan dua tugas yang harus dia lakukan secara bersamaan, Yan Xu tidak bisa berbuat banyak agar Miao'er dapat kabur dengan lancar. Jika dia tidak mengalihkan perhatian semua orang hanya tertuju padanya, dapat dipastikan pelarian Ye Miao'er akan gagal total dan rencana mereka berantakan.
Yan Xu melirik sedikit ke arah Su Lixuan, mencoba membaca keinginan pihak lain melalui ekspresi wajah. Pada wajah gadis remaja itu, terlihat dia setuju akan pendapat suaminya. Tidak memberi Yan Xu pilihan lain, selain memberikan pendapat jujurnya yang dilebih-lebihkan.
"Jujur saja ... bagi Murid— tidak, bagiku, Yan Xu, sebagai seorang pria yang menatap Yueyin sebagai lawan jenisnya. Hanya ada satu kalimat yang bisa menggambarkan betapa berharganya Yueyin."
__ADS_1