Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Diskusi Antara Kakak Senior & Guru


__ADS_3

"Jadi, kamu tidak akan mengubah keputusanmu?" tanya Lan Xihe menatap murid nakalnya yang masih tergeletak di tanah.


"Ya, keputusan Murid sudah bulat."


Murid nakal yang tergeletak di tanah itu memandangi langit sambil tersenyum sendiri seolah sedang mengingat sesuatu.


Melihat itu, Lan Xihe menjentikkan jarinya ke hidung mancung murid nakal itu.


"Aiya!— Guru, tolong jangan kasar terhadap murid yang sedang terluka!" dengus sang murid nakal yang tidak lain adalah Yan Xu.


Lan Xihe cekikikan sambil menutup mulut nya. Dia tidak pernah menolak akan keputusan Yan Xu untuk ikut dalam ujian kepindahan Su Yueyin, hanya saja dia agak kesal karena murid nakal itu sudah tidak bergantung lagi kepadanya.


Jika saja murid nakal itu memohon untuk menjungkir-balikkan Sekte Abadi Luo agar kepindahan Su Yueyin dipermudah, Lan Xihe tidak akan segan melakukan hal tersebut. Toh, lagipula dia sudah memberikan undangan kepada Su Yueyin untuk menaiki kapal yang sama.


Sudah sepatutnya bagi Lan Xihe sebagai sesama penumpang saling tolong menolong dengan yang lainnya, kan?


"Gurumu ini merasa sedikit sedih karena murid nakalnya sudah tidak bergantung lagi pada guru tersayangnya~" ucap Lan Xihe dengan nada yang dibuat-buat.


"Benarkah?"


Di luar dugaan Lan Xihe, Yan Xu malah bereaksi sebaliknya. Bukannya memberikan sarkasme atau gurauan balik, dia terlihat serius dan ada ekspresi sedih di wajah tampannya.


Lan Xihe merasa tergelitik dengan wajah itu, jadi dia memutuskan untuk bermain lebih jauh.


Dia mengangguk dengan cemberut seperti anak kecil. Bahkan, wajahnya yang sangat cantik, tetaplah seperti porselen tanpa cacat walaupun sedang cemberut.


Melihat wajah gurunya, Yan Xu membalas dengan ekspresi wajah bersalah seorang anak kepada orangtuanya.


'Ingin bermain peran? Kamu memilih lawan yang salah!' berbeda dengan wajah luar, beginilah suara hati busuk dari murid nakal itu untuk membalas gurunya.


Bermain lebih jauh, Lan Xihe malah mengeluarkan air mata di kedua matanya. Dia menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang sedang patah hati karena tidak dibelikan mainan.


"Hwaaaa!!! Murid Nakal! Mana janji yang kamu katakan untuk selalu bergantung dengan gurumu ini!— hwwaaa! Hiks! Hwaaaa!"


Raungan tangisan dari seorang peri dengan jubah abadi serba putih dan kulit nya yang putih nan lembut, tidak memiliki celah seperti porselen itu memancarkan kecantikan tiada tara.


Melihat gurunya menangis walaupun dia tahu itu hanya dibuat-buat, membuat Yan Xu tidak tahan.


Dia segera duduk berseberangan dengan Lan Xihe dan menghapus air mata dari kedua pipinya.


"Guru, tolong jangan menangis. Murid nakal ini sangat menyesal atas perbuatannya."


"Tidak! Pembohong! Hwwwaaaaaaa!!!—uph!"


Untuk mendiamkan gurunya, Yan Xu memeluk peri itu di dalam dekapan dadanya yang lebar.


Dengan suara kecil dan terdengar kesakitan, ia berkata, "Tolong jangan menangis. Melihat Guru bersedih, benar-benar membuat Murid merasa sakit."


"...."


Tidak peduli seberapa kuat Lan Xihe, dia masih seorang gadis. Mendapatkan perlakuan tiba-tiba yang di luar kebiasaan muridnya, membuat Lan Xihe terlambat untuk melakukan perlawanan balik.


Pria yang selalu dia permainkan walaupun tahu akan kebenaran tentang dirinya, orang yang selalu berusaha keras dan tak kenal lelah, seorang murid sekaligus kekasihnya di kehidupan sebelumnya, itulah seorang Yan Xu bagi Lan Xihe.


'Dia masih sama seperti biasa, ataukah cuma aku yang mendapat perlakuan begini?'


Lan Xihe bertanya kepada dirinya sendiri. Meskipun sudah memperlakukan setiap penumpang kapal secara adil, dia masih seorang gadis yang memiliki pemikiran lebih dicintai dari siapapun. Pemikiran itu hanya ada pada Yan Xu karena dia mengenal baik murid nakal itu.


Jika itu pria lain, jangankan peduli, menatap mereka saja tidak akan menarik minat Lan Xihe terlepas seberapa tampan aset para pria di dunia Xuanyuan.


Tenggelam dalam pikirannya, dia tidak sadar kalau mereka masih berada di posisi yang sama tanpa bergerak sedikitpun.


'Sebentar saja, tidak apa kan?'


Lan Xihe masih ingin berada di dekapan pria yang dulu adalah kekasihnya. Dia masih merasakan kehangatan dari Yan Shen yang ia kenal.


Sementara itu, Yan Xu di sisi lain hanya bisa pasrah akan rentetan panah yang sedang datang dan menancap di kepalanya.


Entah kenapa, tatapan yang mengawasinya lebih intens dari sebelumnya. Mereka seolah-olah ingin mencabik-cabik Yan Xu hingga ratusan bagian.


'Ini cuma perasaan ku saja kan? Kesadaran ilahi tidak mungkin akan membunuh seseorang, kan?!'

__ADS_1


Yan Xu bertanya-tanya apakah dia telah salah langkah. Akan tetapi, di dalam hatinya terdapat kepuasan karena dapat menemani gurunya bermain sejauh yang ia bisa.


'Sangat sulit untuk memahami seorang wanita. Apakah mereka serius atau hanya bercanda? Aku tidak tahu. Tetapi ... kenapa ... Kenapa aku merasakan deja vu saat bersama Guru?'


Perlahan, perasaan yang pernah ia lalui sebagai Yan Shen mulai berasimilasi ketika Yan Xu lebih lama berada di dekat gurunya.


Rambut putih yang berbeda, namun sifat dan bagaimana caranya bertindak juga mengajar sangat mirip.


Menyadari perasaannya mulai menggerogoti pikiran, Yan Xu segera menenangkan diri dengan mengatakan bahwa itu tidak— ....


'Mungkin ....'


Kemungkinan yang ada dari ketiadaan. Itu juga berlaku kepada dirinya sendiri sebagai transmigran dari kehidupan di Bumi.


'Bukankah tidak mustahil bahwa dia mungkin terlahir kembali di dunia ini?'


Mendapatkan poin yang selama ini tidak pernah ia pikirkan membuat jantung Yan Xu berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Menyadari sesuatu telah berbeda, Lan Xihe bertanya, "Apa kamu merasa gugup karena sedang merangkul sesosok peri cantik dalam dekapanmu?"


"Gugup? Hanya tulang-berulang hidup tanpa kulit yang tidak akan merasa gugup apabila ada seorang peri berada di dekapannya."


"Dasar perayu handal."


"Jika semua pria adalah sama di mata para wanita, maka begitulah adanya. Mungkin, Murid memang seorang perayu yang handal."


"Pftt! Tidak ada seorang pria yang akan dengan bangganya mengatakan hal tersebut kepada seorang wanita selain kamu."


"Tentu saja! Bukankah itu yang membuat Murid menjadi lebih unik daripada kebanyakan pria?"


"Jika kamu meneruskan lagi, aku akan memukulmu seribu kali lebih menyakitkan dibandingkan yang tadi."


"Astaga, Guru, berhentilah menjadi pemarah. Itu akan menambah kerutan pada wajahmu."


"Lebih baik begitu dibandingkan menjadi seorang gadis yang lemah lembut dan membosankan," dengus Lan Xihe.


"Membosankan? Apa itu? Murid pikir, Guru yang lemah lembut juga sangat manis— aiya!"


Meskipun itu terlihat seperti cubitan biasa, tenaga yang digunakan Lan Xihe dapat dengan mudah menghancurkan sebuah batu besar. Wajar saja Yan Xu kesakitan karena daya tahan tubuhnya masih belum sebanding dengan tenaga kuda milik Lan Xihe.


Sekali lagi, Yan Xu mendapatkan wahyu secara tiba-tiba.


Benar, wahyu yang telah membuatnya tidak ingin memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan pasangan dao.


'Ketika wanita lebih kuat daripada pria, dipastikan pria itu akan mati pada malam pertamanya. Kematian di malam pertama, istrimu menjanda di malam pertama, itu hanya akan membuat namamu menjadi bahan ejekan sampai ratusan juta tahun berlalu.'


Yan Xu telah yakin dengan wahyu itu. Itu sebabnya, dia tidak ingin menaruh hati pada pasangan dao. Bukan karena dia tidak normal, hanya saja dia tidak ingin mati di malam pertama.


Meskipun dia abadi, Yan Xu tidak akan pernah mengungkapkan rahasia itu kepada siapapun termasuk pasangan daonya.


......................


Selesai bercanda, kini guru dan murid itu sama-sama memiliki ekspresi serius di wajah porselen mereka.


"Guru, apa Guru memiliki informasi tentang ujian yang akan Murid laksanakan kali ini?" tanya Yan Xu.


"Sejauh yang aku tahu ..." terdapat jeda sejenak sebelum Lan Xihe melanjutkan, "Hanya ada satu tempat untuk melaksanakan ujian tersulit dalam sekali jalan. Tepatnya, seperti yang dikatakan oleh pak tua kolot dan istrinya, Persimpangan Jalan Bawah."


Lan Xihe mengambil sebuah peta Benua Utara dan telunjuk rampingnya mengarah ke sebuah negara.


"Kekaisaran Naga Long Tanjiao ..." gumam Yan Xu pelan saat membaca nama yang tertera pada peta.


Mengangguk kecil, Lan Xihe melanjutkan penjelasannya, "Mulai dari sini, kamu akan menuju ke sana dan menghadapi berbagai masalah dalam perjalanan. Bisa dibilang, ujianmu bukan hanya ada pada Persimpangan Jalan Bawah, melainkan perjalanan itu sendiri."


"Seperti yang diharapkan dari ujian sekali jalan. Pantas saja kebanyakan orang akan gagal sebelum mencapai tujuan utama ujian."


"Un, Tidak mungkin sekte tidak memperhitungkan kesulitan yang akan diambil untuk melewati sepuluh ujian secara sembarangan. Belum lagi dalam setiap perjalanan, akan ada banyak masalah menghampiri. Kita ambil contoh, saat kamu menuju Benua Utara, tidak jauh dari perbatasan tanah Sekte Abadi Luo akan ada sebuah negara menengah yang sedang berperang melawan negara kecil di sekitar. Ketika negara dunia sekunder sedang berperang, sudah aturannya seorang kultivator tidak melewati wilayah mereka. Jadi, perjalananmu akan terhambat sampai perang itu berakhir," jelas Lan Xihe diakhiri dengan mengangkat kedua bahunya.


Sambil memegang dagunya, Yan Xu mengangguk kemudian berkata, "Jadi, Murid harus meredakan perang terlebih dahulu agar dapat lewat. Masalahnya, menurut peraturan dunia sekunder, seorang kultivator tidak bisa langsung ikut campur dalam perang antar negara. Kalau tidak, kultivator yang melanggar akan menjadi buronan bagi seluruh sekte dunia kultivasi."


"Bukan hanya itu, kamu juga harus memperhatikan sikap dalam dunia sekunder karena sedang membawa nama Sekte Abadi Luo. Meskipun kita sering dianggap semena-mena, tidak ada sekte yang lebih menjunjung tinggi nilai-nilai aturan selain sekte kita."

__ADS_1


Menghela napas kecil, Yan Xu menjawab ocehan gurunya, "Yah ... Itu merupakan salah satu keajaiban dunia bahwa kita adalah salah satu puncak yang ada di sekte tersebut."


Lan Xihe mengangguk setuju walau ekspresinya berkata sebaliknya.


Guru dan murid itu memiliki pemikiran yang sama.


'Tampilan luar Sekte Abadi Luo benar-benar merepotkan!' Begitulah yang mereka pikir.


Kemudian, Lan Xihe kembali melanjutkan.


"Agar bisa ikut campur, itu bukanlah hal sulit bagimu yang punya bantuan keluarga Jiang."


"Ya, Murid tidak akan menyangkalnya. Melihat perkembangan mereka, Jiang Nan bilang kalau mereka telah bertransaksi dengan ras iblis. Murid tidak tahu apakah itu faksi moderat milik Yaoyao atau yang lain."


"Tidak perlu dipikirkan. Lagipula, keluarga Jiang memiliki kesetiaan mutlak cuma kepadamu."


Merasakan keraguan dari nada bicara Yan Xu, Lan Xihe memintanya untuk tidak terlalu memikirkan hal tersebut.


Yan Xu memahami maksud dari ucapan gurunya hanya mengangguk dalam diam. Dia tidak ingin bertindak terlalu gegabah dengan menggunakan pengaruh keluarga Jiang secara terbuka. Menurutnya, lebih baik bertindak diam-diam dibandingkan menarik terlalu banyak perhatian.


Kartu di dunia sekunder tidak ada yang bisa digunakan sesukanya, kalau tidak orang lain akan menyadari identitas asli Yan Xu.


Dia yang tahu bagaimana konsekuensi yang harus dihadapi apabila identitas aslinya terkuak, tentu saja tidak akan membiarkan hal itu terjadi.


Menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar, Yan Xu menatap langit-langit sambil berkata, "Hanya ada satu bantuan yang dapat menghapus kesulitan dalam perjalanan menuju lokasi ujian."


Mendengar itu, Lan Xihe langsung bertanya, "Ratu Iblis Xia? Xia'er, kan?"


Yan Xu mengangguk setuju dan melanjutkan, "Cuma dia yang tidak terkait dengan siapapun. Menurut informasi yang Murid lihat dari Yaoyao, dia sepertinya masih duduk tenang di singgasananya."


Seperti yang Yan Xu katakan, Ratu Iblis Xia memang tidak bergerak sedikitpun dari singgasananya. Pekerjaan kasar seperti menambah pengikut maupun tatanan hukum, semua itu diurus oleh Yaoyao dan para pengikutnya. Tidak ada hal penting yang perlu dikerjakan karena dia adalah otak sekaligus lambang kekuatan bagi faksi moderat agar tetap eksis hingga sekarang.


Berdasarkan percakapan terakhir yang dilakukan oleh Lan Xihe bersama Ratu Iblis Xia, gadis itu juga sedang bingung kenapa Yan Xu terlihat takut kepadanya. Melihat adanya kesempatan yang didatangkan sendiri oleh murid nakalnya, tentu saja Lan Xihe tidak akan melewatkan kesempatan tersebut.


Lan Xihe menyikut Yan Xu sambil berkata, "Kalau begitu, minta tolong saja kepadanya."


Yan Xu segera menolak dengan tegas, "Tidak, tidak mungkin dia akan mendengar hingga membantu Murid."


Mendengar penolakan itu tidak membuat Lan Xihe heran karena wajar saja Yan Xu akan merasa takut karena yang mereka bicarakan adalah seorang ratu ras iblis. Mengingat kekuatan Xia'er jauh melampaui Yan Xu, membuat Lan Xihe harus memutar otak agar mereka bisa mendapatkan kesempatan bersama di perjalanan ujian.


Sebagai guru juga kekasih di kehidupan sebelumnya, Lan Xihe sangat kenal akan sifat Yan Xu yang terlalu berhati-hati.


'Seperti seekor kucing besar yang pemalu, dia tidak akan melemparkan diri ke zona bahaya kecuali memiliki asuransi untuk menyelamatkan hidupnya.'


Entah seberapa kali mereka saling beradu teknik, Lan Xihe yakin bahwa sifat alami Yan Xu semakin dominan karena terus menerus mendapatkan pukulan mematikan darinya. Tujuan lain Lan Xihe dari membuatnya sering babak belur, agar Yan Xu tidak bermain peran sebagai pahlawan dan mati meninggalkannya.


Demi keegoisan di hatinya, dia tidak ingin meninggalkan atau ditinggal oleh orang yang selama ini terus dia cintai walau suatu hari nanti, rahasia yang mereka simpan pasti akan terbongkar pada masanya.


Tidak mau membuang banyak waktu untuk meyakinkan Yan Xu, Lan Xihe mengirimkan pesan langsung kepada Xia'er meminta dia segera ke posisinya.


Tahu bahwa gurunya sedang melakukan sesuatu, Yan Xu mengerutkan keningnya dan berkata, "Guru, jangan bilang kamu sedang memanggil dia kemari."


"Memang!"


Wush—!


Yan Xu segera melakukan teknik pengejaran jiwa namun tengkuk lehernya sudah ditangkap lebih dahulu oleh Lan Xihe sehingga hanya menciptakan tekanan angin.


"Gu-guru, se-sebaiknya Guru tidak bertindak gegabah. Bu-bukankah akan melanggar peraturan sekte kalau mengundang orang luar tanpa izin?"


Yan Xu yang tertangkap telah kehabisan akal dan terus memberikan pendapat masuk akal dari mulut manisnya.


Namun, semua itu sia-sia saat Lan Xihe menjawab.


"Tidak perlu, dia bukan orang luar. Dia adalah salah satu tetua Puncak Angin."


'Sialan.' Ini adalah pertama kalinya Yan Xu berkata sumpah serapah di pagi hari.


Dia sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Puncak Angin sendiri memiliki standar universal dan tidak mengenal batasan ras!


Yan Xu : "Umm ... Apakah sudah terlambat bagiku untuk menarik kalimat bahwa Ratu Iblis Xia adalah satu-satunya bantuan yang relevan?༎ຶ⁠‿⁠༎ຶ"

__ADS_1


__ADS_2