
Setelah percakapan singkat antara dia dan Mo Li, Yan Xu berhasil memulihkan energi qi pada inti dantian ke kondisi puncaknya.
Dia menginjak lantai dan segera meninggalkan bayangannya dengan menggunakan teknik pengejaran jiwa, menuju ke lokasi istri tercinta dan para tambang emas kesayangan mereka.
Sesampainya di lokasi yang tidak jauh dari pintu masuk utama cabang wilayah Barat Laut, dia sudah melihat beberapa anggota keluarga yang sudah dikenal termasuk kepala keluarga Jiang, Jiang Nan.
Kehadiran Yan Xu di sebelah Lan Xihe, membuat wajah anggota keluarga Jiang bertambah cerah dan mereka akhirnya bisa merasakan tenang.
Yan Xu memberikan senyuman hangat kepada mereka kemudian berbicara dengan istrinya, "Istriku, apakah kamu menemukan keanehan saat menyelematkan mereka?"
Lan Xihe menggelengkan kepalanya dengan lembut dan berkata, "Jika yang kamu maksud adalah keanehan dari dimensi lain ..." senyum nakal Lan Xihe muncul, "Aku sempat bertemu dengannya."
"Be-begitukah? — Ahahaha ... tidak perlu kamu jelaskan, lebih baik kita ke topik utama saja," Yan Xu segera menyanggah topik yang akan membawanya pada bencana baru.
Namun, Lan Xihe masih bersikeras untuk mengatakannya, "Dia teman masa kecilku."
"Eh? Maaf? Bisa kamu ulangi sekali lagi?" Yan Xu menajamkan pendengarannya.
Lan Xihe mengangguk gembira, "Dia adalah teman masa kecilku. Saat itu, kami berbagi makan juga kasur tidur bersama. Namun, tidak ada yang mengingat dia selain aku."
Keringat dingin membasahi punggungnya, tetapi Yan Xu masih memasang senyum hangat di wajahnya sambil berkata, "Istriku sayang, bisakah kita membahas hal lain? Aku sebenarnya menemukan beberapa informasi penting terkait faksi lama dan sisi gelap Kekaisaran Agung Ming— aiya!"
Lan Xihe mencubit lembut hidung suaminya dengan tawa yang lebih indah dari seorang peri abadi, "Simpan saja untuk dirimu sendiri, Xihe tidak peduli."
'Lagipula, seluruh tugas sampinganku sudah selesai dan sisanya tinggal yang terakhir ini. Kalau sudah, hehehe ... undian ....' pikiran Lan Xihe hanya dipenuhi fungsi undian sistemnya.
Wajah tampan Yan Xu berubah muram, dia hampir ingin menangis karena tidak ada tempat untuk mengadu. Setelah pulih kembali, dia menghela napas dan mendatangi kelompok anggota keluarga Jiang.
Dengan senyum hangatnya yang menyegarkan, dia berkata dengan suara sopan, "Maaf telah membuat kalian melihat tontonan yang menyedihkan."
__ADS_1
Kepala keluarga Jiang— Jiang Nan segera melambaikan tangannya tidak setuju sambil tersenyum bahagia, "Leluhur, tolong jangan begitu! Kita semua adalah keluarga, tidak perlu meminta maaf. Justru, kamilah yang seharusnya berterimakasih."
Semua anggota keluarga Jiang di belakangnya bersujud ke arah Yan Xu dengan ekspresi penuh syukur. Melihat itu, membuat punggungnya bergidik ngeri. Dia tidak terlalu suka menjadi sesembahan banyak orang, ini terlihat seperti sedang menyembah orang yang sudah mati!
Suara lembut Yan Xu mengalir dari udara ke seluruh anggota keluarga Jiang, "Tolong angkat kepala kalian."
Semua orang tanpa sadar patuh dan bangun dari sujudnya dengan ekspresi bingung.
Jiang Nan segera melambaikan tangannya dan membuat mereka segera beradaptasi dan tenang.
Yan Xu merasa kagum dengan keturunan Jiang ini. Mereka benar-benar cepat dalam beradaptasi dengan lingkungannya berada, sehingga membuat mereka cocok sebagai keluarga pedagang yang hebat.
"Tidak nyaman terlalu lama di sini, kita semua harus pindah ke tempat yang lebih nyaman," ucap Yan Xu.
Mengerti dengan maksud dari leluhurnya, Jiang Nan segera berkata, "Di wilayah Barat Laut kami memiliki mansion yang berjarak sekitar 40 kilometer dari sini. Kita bisa pergi ke sana terlebih dahulu."
Yan Xu mengangguk, dia memanggil awan putih untuk memuat semua anggota keluarga Jiang dan membiarkan Jiang Nan untuk memimpin arah sementara dia mengendalikan awan, tentu saja keamanan awan mereka dibantu oleh istrinya tercinta— Lan Xihe.
Di aula utama mansion keluarga Jiang, wilayah Barat Laut Ibukota Kekaisaran Agung Ming.
Pada bagian tengah dari semua orang penting, terdapat sebuah meja persegi panjang besar dengan berbagai hidangan juga anggur disajikan secara megah.
Yan Xu duduk di tengah menandakan bahwa dia adalah orang yang memiliki posisi hierarki paling tinggi sementara itu, Lan Xihe sebagai istrinya duduk di sebelah kanan dan Jiang Nan yang merupakan kepala keluarga Jiang berada pada sisi seberang.
Sisa dari tempat duduk itu diisi oleh para tetua juga garis keturunan langsung dari leluhur pendahulu mereka. Semua orang memiliki ekspresi bahagia dan lega karena mereka akhirnya bisa selamat tanpa ada seorangpun yang menjadi korban.
Jiang Nan memulai perjamuan makan itu dengan memberikan berbagai kata sambutan juga pujian kepada para leluhur mereka termasuk Yan Xu. Setelah itu, dia mengangkat gelasnya dan semua orang mulai makan dan minum tanpa mengkhawatirkan keadaan mereka saat ini.
Meskipun mereka terlihat seperti suasana jamuan keluarga bahagia, namun kenyataannya mereka semua sangat gugup. Tidak ada yang berani menyapa dan melakukan hal kurang ajar di depan Yan Xu. Mana mungkin mereka berani membuat leluhurnya marah.
__ADS_1
Jadi, mereka tidak ingin memikirkan masalah kesopanan karena leluhurnya sendiri mengatakan lakukan seperti biasa. Mereka langsung makan dan saling bicara satu sama lain, tapi masih tidak ada yang berani bicara kepada Yan Xu maupun istrinya— Lan Xihe.
Kedua peri abadi itu menikmati makan mereka dengan beberapa kali suapan dan sedikit minum. Setelah itu, mereka tidak melanjutkan makan maupun minumnya.
Melihat itu, Jiang Nan memberanikan diri untuk bicara kepada leluhur yang sudah membuat keluarga mereka ada hingga saat ini!
"Leluhur, ini adalah pertemuan kita yang ketiga kalinya. Jika tidak keberatan, adakah sesuatu yang ingin Leluhur sampaikan dalam jamuan ini?" ucap Jiang Nan sambil memperhatikan sikap maupun kalimatnya.
Yan Xu tersenyum hangat dan membalas, "Memang ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan kepada kalian semua."
"Apakah itu adalah hal yang sangat mendesak?" Jiang Nan memperlihatkan ekspresi penasaran seperti anak-anak.
Yan Xu mengangguk sebagai jawaban.
Jiang Nan pun menepuk lembut meja di depannya. Hanya dengan sekali tepukan, semua gelak tawa maupun pembicaraan yang sedang berlangsung segera berhenti. Semua tatapan anggota keluarga Jiang langsung terarah Ke Yan Xu.
Dari kursinya, Yan Xu dapat merasakan tekanan yang sangat luar biasa seperti saat pertama kali dia sedang melakukan sebuah presentasi. Meski begitu, dia tetap berwajah datar dan dengan tenang mulai menyampaikan apa yang harus dikatakan.
"Pertama, mari kita bahas tentang hal yang melibatkan kalian saat ini."
Yan Xu berdiri dari duduknya, kemudian meletakkan kedua lengan di belakang punggungnya sambil melanjutkan penjelasannya.
"Kalian telah terseret ke dalam salah satu skema biadab dari para pemuja iblis yang sesat. Sialnya, basis mereka terletak di wilayah Barat Laut dan Tenggara dimana tempat itu juga merupakan pijakan bagi keluarga Jiang."
Sebelum melanjutkan, Yan Xu tersenyum lembut dan berkata, "Apa ada yang ingin ditanyakan terlebih dahulu?"
Di depannya, ada dua orang yang mengangkat tangan. Salah satu dari kedua orang itu adalah kepala keluarga dan yang lain— anaknya, Jiang Nalan.
Yan Xu memberikan anggukan ringan untuk mempersilakan mereka bertanya. Orang yang bersuara lebih dulu tentu saja adalah Jiang Nan yang merupakan hierarki tertinggi setelah leluhur mereka.
__ADS_1
"Leluhur, mengapa Kaisar tidak mengambil tindakan atas kebiadaban dari para pemuja iblis yang sesat ini? Seharusnya, mereka bisa meminta bantuan kepada beberapa sekte untuk mengurusi masalah penting ini!" tanya Jiang Nan yang terdapat kekecewaan dalam matanya terhadap pihak istana.
"Seperti yang kalian ketahui, pihak istana sedang dalam masa perang dingin di antara mereka. Para pangeran saling bersaing untuk berebut takhta, sementara Kaisar masih menutup diri dari urusan Kekaisaran Agung Ming."