Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Tongkat dan Wortel - 2


__ADS_3

Gedebuk!


Itu adalah suara Jiqing yang tanpa sadar memukul meja di dekat tempat tidurnya.


"Tidak bisa ku terima ..." Jiqing yang sedari tadi diam, kini mulai angkat bicara. Matanya menunjukkan kilatan tajam, tidak ingin menerima ucapan Wang Jia Li.


"Oh? Bagian yang mana, yang kamu tidak bisa terima, Jiqing?" tanya Wang Jia Li.


"Kematian kami tidak akan sia-sia selama itu demi Tuan Pertama!" teriak Jiqing yang sudah tidak peduli dengan sopan santun ketika itu menyangkut orang yang dia hormati.


Setelah mendengar ucapan Jiqing, semua wajah anggota fraksi pengikut setia Tuan Pertama mengeras tak terkendali.


Mereka masih memiliki tingkat kultivasi yang rendah, namun bila dikatakan kematian yang baru saja mereka alami adalah sia-sia, sama saja mengatakan bahwa pelayanan mereka untuk Tuan Pertama hanyalah sia-sia belaka!


Dengan kata lain, orang-orang fanatik ini benar-benar sudah tidak dapat membedakan apa yang benar dan salah ketika itu menyangkut tuan mereka.


Wang Jia Li sampai merasa pusing dibuat para fanatik gila ini. Dia hampir menangis karena penolakan keras Jiqing yang telah meruntuhkan momentum yang sudah dia bangun di awal. Kali ini, Miao'er yang memiliki tongkat memang lebih dibutuhkan, dibandingkan dengan Wang Jia Li yang membawakan wortel untuk mereka.


Melirik ke arah Miao'er, Wang Jia Li dengan wajah bermasalah meminta pertolongan.


Miao'er membuka sedikit mulutnya seolah berkata "Lakukan sendiri." sebagai balasan.


Menghela napas lelah, akhirnya Xiu Ruolan mau turun tangan karena sudah waktunya dia berkontribusi sedikit sebagai Nona Ketiga Puncak Angin.


"Jangan konyol," itulah kalimat pertama yang keluar dari Xiu Ruolan yang berjalan ke arah Jiqing.


Dia mengarahkan jari telunjuk rampingnya ke arah Jiqing, lalu melanjutkan, "Apa kamu pikir Kakak Senior membutuhkan pengikut yang hanya tahu menyelesaikan masalah dengan mengorbankan nyawa mereka? Jangan terlalu menilai tinggi dirimu, Anak Muda!"


Kedua mata Jiqing terbelalak mendengar itu. Kepalan tangannya yang mengeras, kini melemah. Dia tidak memiliki satupun jawaban untuk menyangkal pernyataan akhir pihak lain yang menyebut mereka terlalu menilai tinggi diri sendiri.

__ADS_1


Jika bukan kepuasan karena berhasil menjadi yang teratas dan telah memiliki sedikit kualifikasi untuk menjadi pengikut setia Tuan Pertama, apa lagi namanya. Kali ini, mereka terlalu berpuas diri dengan pencapaian yang baru saja diraih dan melupakan tujuan utama terbentuknya fraksi. Bahkan, peraturan ketat dimana sekali masuk tidak akan bisa lagi keluar, telah mereka langgar karena dengan mudahnya mengorbankan nyawa pada pertarungan terakhir.


Jiqing hanya tertunduk diam, tanpa kata.


Melihat itu, Xiu Ruolan kembali melepaskan anak panah lain melalui mulutnya.


"Tidak dapat menjawab? Itu berarti kamu sudah sadar bahwa kalian selama ini terlalu menilai tinggi diri sendiri!— Lihat? Hanya dengan pencapaian yang luar biasa menurut generasi kalian yang belum seumur jagung abadi saja sudah besar kepala, bagaimana dengan Kakak Senior yang telah menorehkan prestasi untuk menjadikan Puncak Angin hingga sebesar ini? Bahkan, itu hanya usaha dari satu orang, ya, itu adalah hasil pencapaian yang dilakukan oleh Kakak Senior sendirian, sementara pencapaian kalian selama ini masih sangat jauh dari Tuan yang kalian ikuti!"


Andai saja suara hati yang patah dapat terdengar, mungkin ada sekitar lima hingga tujuh belas kali akan bergema di dalam ruangan itu. Kebanggaan semua orang di sana benar-benar diinjak oleh ucapan Xiu Ruolan, termasuk Ye Miao'er dan Wang Jia Li. Inilah kenapa mereka berdua tidak ingin Xiu Ruolan turun tangan untuk bicara, lidahnya bagai pada bermata dua, tidak mengenal mana kawan dan musuh, semua orang akan terkena dampaknya!


'Seharusnya kamu hanya menceramahi mereka, jangan terlalu realistis sampai-sampai memukul titik tersakit temanmu sendiri!'


'Nima! Kakak Ketiga, kamu selalu memiliki lidah yang tajam dan tak kenal ampun. Tetapi, bisakah kamu membedakan mana lawan dan mana kawanmu? Kami di sini juga terkena dampak ucapanmu, kuncir dua sialan!'


Wang Jia Li, Ye Miao'er mengeluh dalam hati mereka. Berbagai sumpah serapah mereka lontarkan kepada Xiu Ruolan yang juga terkena dampak atas ucapannya sendiri. Ruangan itu dibuat hening seketika olehnya, semua orang di sana benar-benar menjadi murung seolah baru saja jatuh dari ketinggian puncak tertinggi.


...


Dia berdeham sekali dan perhatian semua orang langsung tertuju ke leluhur kecil Puncak Angin.


"Mungkin terlambat untuk mengatakan tujuan lain kami datang kesini, tapi aku akan langsung menuju poin utamanya setelah selesai memberikan kalian pelajaran atas misi terakhir."


Ye Miao'er menarik sebuah gulungan dimana terdapat nama Yan Xu, Wang Jia Li, Xiu Ruolan dan namanya sendiri. Di sana ada ruang kosong yang kemudian mulai terisi secara otomatis pada bagian milik Yan Xu. Di bawah nama Tuan Pertama Puncak Angin, nama Qiqi ditulis dengan sangat rapi yang menandakan bahwa ia telah setuju menjadi murid langsung Yan Xu.


Mereka yang tahu keadaan Qiqi, mulai memiliki gambaran umum tentang apa yang diinginkan Ye Miao'er.


"Seperti yang kalian lihat pada gulungan ini. Nama kami berempat sebagai murid langsung Kepala Puncak tertulis di sana, kemudian ada satu nama yang baru saja ditulis secara otomatis di bawah milik Kakak Senior. Itu menandakan bahwa Qiqi telah menyetujui Kakak Senior menjadi gurunya."


Menyimpan kembali gulungan yang baru saja dia perlihatkan, Ye Miao'er meletakkan tangannya di belakang punggung lalu berkata, "Dengan ini, kami juga akan menjadikan beberapa di antara kalian sebagai murid langsung. Bagi yang tidak terpilih, tidak perlu berkecil hati karena kalian masih bisa mempelajari ilmu yang kami berikan melalui mereka yang terpilih. Perbedaannya hanya ada pada status, perlakuan yang akan kami berikan kepada mereka yang terpilih dan bagaimana mereka harus menjalankan kewajibannya sebagai murid langsung dari kami."

__ADS_1


Kelopak mata indah Ye Miao'er menutup sejenak, kemudian terbuka kembali. Kedua mata cokelat indahnya menatap Yueqin dan Ahn secara bergantian.


Dia mengangguk beberapa kali dan memanggil mereka, "Yueqin, Ahn!"


" "Ya, Nona Keempat!" " jawab dua bersaudara itu serempak.


"Karena berkah kalian ada pada bagian penguatan tubuh, maukah kalian menjadi muridku? Dengan jalur kultivasi milik ku, kalian akan mencapai ketinggian lain dan aku jamin itu bisa membantu Kakak Senior kedepannya," ucap Ye Miao'er.


'Membantu ibumu! Kamu menjual Kakak Senior untuk mendapatkan hati mereka!' teriak Wang Jia Li dan Xiu Ruolan dalam hati.


Setelah hening sejenak, Yueqin bertanya dengan polos, "Mengapa kami? Bukankah masih banyak murid lain, Nona Keempat?"


"Karena kalian adalah garis terdepan dari formasi tempur. Tentu saja masih ada yang memiliki berkah lebih baik dari kalian, tapi aku ingin kalian berdua menjadi muridku karena berkah kita memiliki kesamaan walau agak beda."


"Apakah kami akan disiksa setiap hari?" tanya Yueqin.


"Tentu saja?— yah, itu bukan siksaan, cuma bagian dari latihan kok!" balas Miao'er sambil tersenyum.


Glup!


Dapat terdengar jelas suara Ahn maupun Yueqin yang meneguk air liur mereka. Mereka saling tukar pandang dan mengangguk secara bersamaan.


Keduanya menangkup kedua tangan dan memberikan salam hormat sebagai formalitas.


"Murid Ahn, menyapa Guru!"


"Murid Yueqin, menyapa Guru!"


Mengangguk beberapa kali, Ye Miao'er dengan ekspresi yang cukup berwibawa menerima penghormatan mereka. Akhirnya, dia mendapatkan dua murid dengan berkah yang bagus, sementara Wang Jia Li merekrut Jiang Nalan sebagai murid langsung. Untuk Xiu Ruolan, dia merekrut Jiqing karena spesialis mereka sama-sama jarak jauh.

__ADS_1


Keempat peringkat teratas dari fraksi Pengikut Setia Tuan Pertama Puncak Angin telah diterima sebagai murid langsung para Nona Muda Puncak Angin. Berita itu dengan cepat menyebar ke seluruh anggota Puncak Angin hingga menyebabkan kegemparan selama beberapa hari.


__ADS_2