Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Kedatangan Putri Kecil


__ADS_3

"Agak lama ...."


Di bawah naungan teras milik perumahan kakak keempatnya, Su Yueyin menatap ke arah langit yang masih cerah. Wajah dengan ekspresi dingin dan datar itu tidak menunjukkan adanya fluktuasi dari luar, namun jika ada orang yang sering bersama dengannya pasti tahu bahwa saat ini ia sedang kesal karena terlalu lama menunggu.


'Aku sudah menunggu selama 3 jam, kapan mereka akan selesai? Biasanya Kakak Keempat paling lama cuma hampir satu jam. Aku penasaran, benda apa yang Yan Xu jejalkan ke dalam perut pria tua itu sampai tongkatnya menjadi lebih tahan lama, huft!'


Su Yueyin terus mengeluarkan keluh kesahnya di dalam hati, tetapi dia masih sabar menunggu demi menyelesaikan pesanan dan ia juga merasa sedikit rindu dengan kedua orang tua yang telah membesarkannya hingga menjadi seperti sekarang.


Perlakuan yang penuh kasih sayang dari Su Weiyan maupun Su Lixuan hampir sama seperti orangtua kandung. Mereka akan baik saat masa santai, tegas saat masa pelatihan dan terkadang semena-mena kalau sedang bertengkar satu sama lain. Mengingat masa-masa saat dia masih diasuh oleh keduanya, membuat Su Yueyin tertawa kecil.


Sayangnya, dia tidak tahu bahwa kedua orang itu sedang merasa stres karena putri semata wayang mereka dilepas dan tinggal di atas puncak yang sama dengan pria biadab yang mengerikan. Demi melepas rasa stres itu, setidaknya pasangan dao tersebut lebih sering berhubungan dibandingkan biasanya. Hanya saja kali ini berbeda karena Su Weiyan berhasil memperpanjang durasinya berkat bahan ramuan dari Yan Xu.


Menghela napas pendek, Su Yueyin melenturkan sebagian tubuhnya karena dirasa lelah duduk tanpa melakukan apapun.


Ketika dia ingin beranjak untuk melakukan peregangan lebih lanjut, pintu rumah terbuka dengan keras.


Bang!


Dari dalam, terdengar suara Su Weiyan yang sedang bahagia seolah hari ini merupakan hari terbaik yang pernah ada baginya.


"Hahaha! Aku berhasil meningkatkan durasinya!"


Su Weiyan dengan percaya diri melangkah keluar dan saat kakinya menyentuh bagian luar rumah, dia langsung menetapkan ke arah samping, dimana Su Yueyin sedang duduk.


"Oh? Yin'er! Apa kamu sudah menunggu lama?"

__ADS_1


Su Weiyan segera menyapa Su Yueyin dengan sapaan akrab dan hangat seperti biasa, tapi kali ini wajahnya penuh akan kebahagiaan tanpa perlu ia sembunyikan.


Sebelum menyentuh dunia luar, Su Weiyan tidak merasakan adanya fluktuasi kehadiran dari Su Yueyin. Jadi, dia mengira kalau Su Yueyin kebetulan datang tepat saat ia baru saja selesai melakukan rutinitas mereka. Namun, dia berpura-pura tidak tahu, lagi pula dia tidak membuat putri mereka lama menunggu di luar.


Sebaliknya, Su Yueyin hampir gagal menahan emosinya dan menyerang tulang tua itu dengan energi yin dingin murni. Biasanya, Su Yueyin akan merobohkan atap rumah mereka kalau telat sepuluh menit ketika dia sudah menunjukkan hawa kehadirannya di depan pintu. Akan tetapi sekarang kebiasaan itu telah tiada karena dia memiliki kesadaran diri untuk tidak mengganggu hubungan pasangan dao itu ketika mereka sedang bersama.


Tidak ingin merusak suasana, Su Yueyin menjawab dengan datar, "Tidak, kebetulan aku baru saja tiba."


"Begitukah? Kalau begitu tanpa membuang waktu, lekaslah masuk ke rumah. Aku yakin Kakak Ketiga memiliki beberapa pertanyaan untukmu."


Su Weiyan tanpa membuang waktu segera mengundang Su Yueyin masuk ke rumah. Mereka berjalan ke ruang tamu, dimana itu terletak di tengah, sementara letak kamar lebih ke bagian dalam.


"Duduklah dimanapun kamu suka, aku akan memanggil Kakak Ketiga terlebih dahulu."


"Baik."


Su Weiyan meninggalkan Su Yueyin dengan helaan napas kecil di dalam hatinya. Dia berjalan menuju ke kamar.


Saat tiba di depan pintu kamar, Su Weiyan mengetuk pintu beberapa kali lalu memanggil istrinya.


"Xuanxuan, Yin'er datang berkunjung dan sedang berada di ruang tamu. Kamu temui dia lebih dulu, aku akan membuatkan teh dan cemilan," ucap Su Weiyan dengan nada lembut saat memanggil istrinya.


Tak lama setelah itu, pintu kamar terbuka dan di balik pintu ada seorang gadis cantik nan muda berpenampilan remaja dengan rambut kepang dua berwarna hitam khas timur tenggara keluar. Pakaiannya sedikit longgar karena terburu-buru dan hiasan di rambutnya agak berantakan.


Melihat perilaku istrinya, Su Weiyan tertawa kecil sambil membetulkan riasan maupun jubah abadi Su Lixuan.

__ADS_1


"Yin'er tidak akan kabur kemana-mana. Kenapa harus terburu-buru seperti ini? Bukan seperti dirimu saja— aiya!"


Saat sedang memperbaiki penampilan istrinya, Su Weiyan dipukul oleh tangan ramping Su Lixuan pada bagian perutnya.


"Sudah beberapa bulan aku tidak melihat gadis kecil itu, tentu saja aku tidak boleh membuang waktu terlalu lama dan membuat dia menunggu! Kamu tulang tua, bagaimana bisa cuma tongkat mu saja yang berkembang sementara cara bernalar kamu masih sama saja seperti anak-anak, sih!?" bentak Su Lixuan kepada adik ketiganya.


Setelah mendengar bagaimana Su Yueyin menjawab pertanyaan Su Weiyan, dia sadar kalau putri kecil mereka telah lama menunggu. Belum lagi dengan temperamennya yang baru saja menjadi lebih dewasa, itu membuat Su Lixuan segera menyadari kalau putri kecilnya sudah berkembang lagi menjadi pribadi yang lebih baik.


Meski begitu, dia masih merasa stres karena terpisah dari putri kecil yang ia besarkan seperti anak kandungnya sendiri selama beratus-ratus tahun lamanya. Kali ini, putrinya sedang berkunjung, tidak mungkin Su Lixuan merasa tenang karena telah membiarkan dia menunggu terlalu lama.


Di sisi lain, Su Weiyan sama sekali tidak sadar akan perkembangan sikap Su Yueyin dan hanya menganggap itu adalah kebetulan. Jelas sekali, tindakan tersebut membuat Su Lixuan marah dan segera memukul tubuh tuanya. Tetapi, untuk menjaga imej suami yang baik, dia lebih baik bermain aman dengan membuat alasan seolah-olah mengerti.


"Duh, Istri— Kakak Ketiga, aku cuma bercanda. Lagipula dia juga baru datang kesini tepat saat aku keluar untuk mencari—aiya! Kakak Ketiga, kenapa kamu memukuli ku lagi, sih!?"


Su Lixuan menepuk jidatnya sambil menghela napas dan berkata, "Suamiku yang idiot, seharusnya—arghh! Lupakan! Berdebat denganmu itu cuma buang-buang waktu! Aku pergi sekarang, hmph!"


"Hehehe, ya, ya, pergilah. Kalau bisa tolong beri ajaran singkat kepada putri kecil kita selama aku menyiapkan cemilan."


"Hmph! Tanpa harus kamu ingatkan, aku juga sudah tahu!" ucap Su Lixuan yang sudah berjalan memunggungi Su Weiyan, menuju ke arah tuang tamu.


"Seperti yang diharapkan dari istriku, hehe ...."


Su Lixuan yang mendengar itu memutar bola matanya dengan kesal. Pujian dari suaminya, untuk sekarang terdengar agak menyebalkan setelah dia tiba-tiba mengalami peningkatan saat mereka berhubungan. Hal ini membuat Su Lixuan jadi agak sensitif terhadap setiap kalimat pujian yang mengarah kepadanya.


Melihat punggung kecil Su Lixuan telah semakin jauh, Su Weiyan juga berbalik ke arah dapur sambil bergumam dengan bahagia, "Saatnya menyiapkan cemilan untuk reuni kecil keluarga kami."

__ADS_1



__ADS_2