Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Kakak Senior Tanpa Ragu Mengungkapkan Sedikit Rahasia Milik Su Yinfeng


__ADS_3

Di dalam sebuah kantor yang megah, Bibi Feng duduk di sofa tamu dan mempersilakan Yan Xu maupun Ratu Iblis Xia duduk.


"Silakan duduk."


Yan Xu dan Ratu Iblis Xia tidak sungkan dan segera duduk di posisi yang menurut mereka paling nyaman.


"Seperti yang diharapkan dari anggota puncak milik Kakak, bahkan di kantor Kepala Sekte kalian juga berbuat seenaknya," ucap Bibi Feng yang hendak menangis sambil memijat keningnya.


"Kenyamanan adalah nomor satu, kesopanan itu belakangan, terutama untuk kamu, Bibi Feng," balas Yan Xu tak tahu malu.


Bibi Feng menghela napas berat dan berkata, "Entah apa dosa yang aku lakukan di kehidupan ku sebelumnya kepadamu, hubungan kita malah jadi aneh begini, huft~"


"Mungkin saja di kehidupan Bibi Feng sebelumnya, Bibi sering menjahili Murid hingga akhirnya Murid tidak kuat dan bunuh diri. Jadi, di kehidupan ini masih ada dendam takdir di antara kita," balas Yan Xu sambil mengangkat kedua bahunya.


"Astaga, aku takut~" cibir Bibi Feng dengan senyuman nakal.


"Uhuk."


Ratu Iblis Xia berdeham sekali dan suasana di ruangan itu menjadi dingin.


"Bisakah kita lanjut ke inti permasalahannya saja? Kita terlalu banyak membuang waktu," ucap Ratu Iblis Xia.


"B-benar, Bibi tolong pinjamkan kami tunggangan mu!" lanjut Yan Xu dengan tatapan memaksa.


Melihat murid nakal itu terlalu patuh, Bibi Feng mencium bau-bau mencurigakan di antara mereka berdua. Semenjak pertemuan di aula utama tadi, dia selalu memancing emosi dari wanita cantik di sebelah Murid Nakal. Namun, peri itu hanya bertindak tegas dan jarang memperlihatkan emosi aslinya, seolah-olah dia adalah dasar kolam yang tenang tanpa riak.


Bibi Feng meletakkan dagu di atas punggung lengannya yang ramping sambil tersenyum licik lalu berkata, "Berapa yang bisa kamu tawarkan?"


Kali ini, Bibi Feng mencoba untuk menggigit Yan Xu atas kerugian terakhir yang ia dapatkan dari insiden saat itu. Jika Yan Xu tidak sadar bahwa saat ini mereka sedang digiring oleh Su Yinfeng demi mendapatkan kembali kerugiannya, maka dapat dipastikan murid nakal itu akan menderita kerugian yang lebih besar.


Memahami niat Bibi Feng, Yan Xu tersenyum tipis dan berkata, "Jika kamu meminjamkan kami tunggangan terbaik, kontribusi misi kali ini akan dibagi setengahnya."


"Murid Nakal, apa kamu tahu arti dari setengah kontribusi dibagikan?" tanya Bibi Feng dengan matanya yang menyepit, seolah sedang menilai lawan bicaranya.


"Ya, seluruh jarahan yang kami dapatkan akan menjadi milikmu. Sebagai gantinya, kami hanya mengambil Su Yueyin dan meminjam tunggangan mu selama misi berlangsung."


"Yakin? Bukankah kamu orang yang perhitungan?"


Bibi Feng merasa tidak nyaman dengan pengajuan kondisi yang sangat lancar ini. Dia berpikir kalau ada celah pada kondisi yang diajukan oleh Yan Xu. Kalau dia tidak teliti pada bagian ini, sama saja dia tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dan hanya menderita kerugian.


Yan Xu mengangguk dan berkata, "Tentu saja yakin. Karena Murid adalah orang yang perhitungan, Murid akan memberikan jarahan kami dengan adil tanpa kurang sedikitpun."


"Hmm ... bisakah kamu sebutkan ketentuan yang berlaku pada perjanjian ini?" pinta Bibi Feng.


Mencapai kondisi yang ia harapkan, Yan Xu menjaga ketenangan emosinya di hadapan lawan bicara. Dia tidak akan memperlihatkan sedikitpun cacat maupun ketidaksabaran agar niat sebenarnya tidak muncul ke permukaan. Jika Bibi Feng tahu niat sebenarnya dari Yan Xu, dapat dipastikan negosiasi ini akan gagal.


Ketentuan dalam perjanjian mereka harus dapat dilihat tanpa celah oleh lawan bicaranya, oleh karena itu Yan Xu memancing perhatian Bibi Feng pada kalimat seluruh jarahan saat misi berlangsung akan dibagikan kepadanya. Pihak lain tidak memakan umpan itu secara menyeluruh, itulah mengapa dia menanyakan ketentuan dari perjanjian mereka terlebih dahulu sebelum setuju. Seperti yang diharapkan dari seorang Bibi Feng, meskipun menyebalkan, bakatnya dalam mempersulit Yan Xu terlalu mengerikan.


'Yah, lagipula dia adalah Su Yinfeng. Tidak mungkin, orang yang memiliki kemampuan untuk mendirikan sebuah sekte nomor satu di dunia kultivasi dapat diruntuhkan dengan mudah," ucap Yan Xu di dalam hatinya.


Jadi, selama ini dia telah mengetahui bahwa Bibi Feng merupakan Kepala Sekte Abadi Luo. Kemudian, masih ada lagi identitas rahasia yang luar biasa dimiliki oleh Bibi Feng selain menjadi Kepala Sekte. Dia juga merupakan salah satu saint yang telah mempertahankan dunia Xuanyuan bersama Lan Xihe.


Itulah mengapa Yan Xu sangat hati-hati dan berpura-pura memiliki emosi yang labil di depan Bibi Feng. Jika dia terlalu dingin dan perhitungan, sisi asli yang disembunyikan oleh Yan Xu bisa saja diketahui oleh Bibi Feng dengan sangat mudah. Kalau Bibi Feng mendapatkan kelemahan Yan Xu, ada kemungkinan wanita licik itu akan mempergunakannya di kemudian hari.


Tentu saja, sebagai seorang pria yang menjunjung tinggi martabat kelakiannya, seorang Yan Xu tidak dapat menerima hal tersebut. Untuk itulah, dia harus mundur selangkah demi bertahan dari Bibi Feng agar dapat maju sepuluh langkah. Dia tidak akan membiarkan pertahanan terakhirnya dirobohkan hanya karena seorang Bibi Feng yang bau!


"Bukankah sudah jelas? Ketentuannya adalah apa saja barang jarahan yang Murid dapatkan saat misi berlangsung, akan menjadi milik Bibi."

__ADS_1


"Cuma itu saja? Bagaimana kalau kamu tidak memiliki satupun barang jarahan atau kalian menyimpannya di tempat lain, lalu saat kembali kamu akan mengatakan bahwa kalian tidak memiliki satupun barang jarahan. Kemudian, kalian akan mengambil kembali barang jarahan yang disimpan setelah misinya dianggap sele— hieek!— a-apa yang kamu lakukan?!"


Yan Xu memojokkan Bibi Feng di sofanya, sama seperti ia memojokkan wanita itu di dinding aula utama sebelumnya. Kali ini, wajah mereka hanya memiliki sedikit jarak untuk saling berbenturan. Keempat kelopak mata yang sama-sama indah itu saling bertemu dan bertukar pandang.


"Su Yinfeng, apa kamu lupa siapa aku?" ucap Yan Xu dengan suara dingin.


"K-kamu ..." kali ini Su Yinfeng benar-benar terpojok karena nama aslinya terkuak tepat di dalam kantornya sendiri oleh Murid Nakal.


Dia tidak tahu kapan murid nakal itu mengetahui identitas aslinya. Padahal dia sudah berusaha keras agar identitas aslinya tidak terkuak dengan mudah. Namun, sayangnya dia tidak tahu kalau Yan Xu bukanlah seorang remaja yang masih berusia seumuran jagung abadi di dunia Xuanyuan, itulah kesalahan kecil yang memang tidak dapat diketahui oleh Su Yinfeng.


Yan Xu yang tidak memiliki satupun pilihan, akhirnya harus memojokkan wanita cantik itu dengan identitas aslinya. Dia sebenarnya ingin mengakhiri negosiasi ini dengan damai, namun Su Yinfeng terlalu teliti dalam pembicaraan mereka. Hal tersebut membuat Yan Xu harus mengeluarkan kartu truf terakhir dengan membuat bangku negosiasi semakin panas, sehingga membuat pertaruhan mereka semakin besar.


"Tidak perlu bicara lagi, aku akan langsung pada inti pembicaraan. Kamu ingin meminjamkan kami tunggangan atau tidak?" tanya Yan Xu mendesak Su Yinfeng yang masih panik karena ini kali pertamanya ia dipojokkan sedekat ini oleh lawan jenisnya.


"A-aku ... " genggaman tangan ramping Su Yinfeng bergetar, dia hampir mencapai batasnya. Wajahnya sudah mulai merasakan panas yang menyengat, punggung rampingnya pun telah basah oleh keringat dingin.


"Sudah ku bilang, aku tidak akan menipumu karena kamu adalah Kepala Sekte. Aku bukan orang yang bertindak tanpa perhitungan tegas. Kamu juga pasti tahu itu, bukan? Sekarang, apa lagi yang kamu ragukan?" cara bicara Yan Xu telah berubah, seolah dia bukan lagi seorang remaja yang labil melainkan pria dewasa yang setara bahkan lebih tua dibandingkan dengan Su Yinfeng.


Perubahan yang mendadak dari Yan Xu membuat Su Yinfeng tidak dapat berpikir. Bahkan, isi kepalanya kini berputar-putar tak karuan akibat dampak dari rasa terkejutnya.


Yan Xu memegang tangan ramping Su Yinfeng dan berkata, "Apa kamu perlu kita membuat sumpah dao di sini? Jika kamu mau, maka mari lakukan itu dengan seratus lebih pasal yang sudah aku sediakan semenjak dahulu tentang pembagian kompensasi maupun rahasia identitas aslimu."


Yan Xu semakin menekan Su Yinfeng tanpa mempedulikan kondisinya. Kali ini, dia harus menekan seorang peri cantik yang memiliki kekuatan saint. Jadi, ketulusan maupun ketegasan yang setengah matang tidak akan berhasil tanpa adanya bukti maupun faktor pendukung dalam menaikkan persentase keberhasilannya.


'Ketika susu sudah setengah gelas tumpah, tumpahkan saja sekalian seluruh isinya!' inilah niat Yan Xu sebenarnya ketika dia pertama kali menyebutkan nama asli Bibi Feng yang selama ini terlalu mengganggu.


Dia tidak ingin memberikan waktu agar Su Yinfeng dapat menenangkan diri. Untuk itu, dia akan terus menekan walau keselamatannya masih ada dalam jaminan karena Ratu Iblis Xia ....


'Tunggu ....'


'Ga-gawat! Jaminan keselamatan ku!'


Yan Xu berteriak histeris karena dia telah maju terlalu jauh sehingga membuat dirinya sendiri ikut terpojok ke tepi jurang. Kali ini, bukan Su Yinfeng yang berbahaya, melainkan Ratu Iblis Xia yang memiliki kilatan membunuh di matanya yang merupakan entitas paling berbahaya!


Jika dia masih sayang nyawa, Yan Xu harus membuat porsi dari kedua pihak harus setara.


Dia berhenti menekan Su Yinfeng dan segera menjauh, duduk di sebelah Ratu Iblis Xia seperti sebelumnya. Wajah tampan Yan Xu tidak memiliki perubahan sedikitpun, seolah dia tidak tahu apa-apa. Namun, mulutnya masih pedas seperti biasa.


"Bagaimana, Su Yinfeng, apa kamu tidak akan melewatkan kesempatan ini untuk menguji kami?" tanya Yan Xu datar, tanpa merasa takut sedikitpun.


Su Yinfeng yang mendapatkan waktu untuk menenangkan diri, akhirnya dapat berpikir jernih dan mengubah ekspresi nya menjadi layaknya seorang Kepala Sekte.


"Maaf, tapi aku tidak bisa setuju semudah itu terhadap permintaan mu. Setidaknya, itulah jawabanku sebagai Kepala Sekte."


"Oh? Bagaimana dengan ini, aku akan memberikan kompensasi yang dua kali lipat dibandingkan yang kami dapatkan dari Puncak Surgawi mu yang bobrok itu sekarang?"


Brak!


Lengan ramping milik Su Yinfeng menghempas meja yang ada di depan mereka. Ekspresi khas Kepala Sekte nya kini menilai dengan hati-hati melebihi dari biasanya. Itu karena lawan bicara kali ini bukanlah orang yang bisa diajak kompromi dengan cara yang aman.


"Apa yang seorang murid dengan ranah kultivasi puncak inti emas sebelum penempaan bisa berikan untuk ku? Apa kamu pikir aku adalah seorang idiot yang akan percaya begitu saja terhadap kultivator kecil lemah sepertimu?"


Terdapat cibiran dari mata indah milik Su Yinfeng, namun Yan Xu tidak menghiraukan itu dan terus maju.


"Menurutmu, apa seorang kultivator kecil rendahan ini hanyalah seekor semut yang menempel pada paha gurunya setiap hari demi keuntungan sedikit?"


"K-kamu! Jangan-jangan!"

__ADS_1


Menyadari kalimat yang diucapkan Yan Xu persis seperti seorang pria penghibur, kini Su Yinfeng dibuat naik darah lagi. Dia tidak menyangka bahwa kakaknya akan menerima seorang murid yang sangat tidak tahu diri seperti ini.


Terlambat untuk menyesal, Su Yinfeng tidak dapat berkata karena kemunculan sebuah pedang legendaris yang seharusnya sudah tidak ada di dunia Xuanyuan.


Bibir mungil milik Su Yinfeng sedikit terbuka dan nama yang tak asing keluar dari mulutnya.


"Pedang Dayu ...."


Ketika lengan ramping itu ingin menyentuh Pedang Dayu, terdapat penolakan luar biasa dan membuat kilatan menyambar lengan jubah abadi milik Su Yinfeng hingga terdapat beberapa sobekan. Melihat kekuatan destruktif yang dapat memberikan kerusakan pada jubah abadinya, Su Yinfeng menatap Yan Xu dengan kesal.


"Ini ... dimana— bukan, aku akan langsung ke intinya. Berikan pedang ini setelah misi kalian selesai. Dengan begitu, kamu tidak perlu membayar yang lain," ucap Su Yinfeng yang pandangannya tak lepas dari Pedang Dayu.


Yan Xu menarik pedang Dayu dan mengembalikannya ke kantung penyimpanan dimensi.


Dia menggelengkan kepalanya sebagai penolakan lalu berkata, "Kamu tidak memiliki kualifikasi yang cukup untuk menggunakannya."


"Jangan main-main! Apa kamu tahu seberapa besar harga yang harus ditanggung oleh pemilik senjata itu? Bahkan, kualifikasi yang perlu dipertanyakan disini adalah milikmu, bukan milik ku!" jawab Su Yinfeng terlalu antusias dan tidak sabaran.


Tersenyum tipis, Yan Xu memberikan sebuah perintah kepada Pedang Dayu untuk mewujudkan dirinya sendiri melalui telepati.


Sing!


Pedang Dayu muncul kembali di hadapan Yan Xu dan dia memegangnya tanpa ada hambatan sedikitpun.


"Su Yinfeng, menurutmu hak atau kualifikasi apa yang dibutuhkan demi mendapatkan pengakuan dari Pedang Dayu?" tanya Yan Xu.


Su Yinfeng tertunduk, tidak percaya bahwa murid nakal bau yang selama ini terlihat tidak dapat diandalkan tiba-tiba mendapat pengakuan dari senjata legendaris. Di dunia ini, seharusnya tidak ada kecurangan seperti itu selain milik saudarinya, Lan Xihe.


Kepalan tangan ramping Su Yinfeng terbuka, kemudian dia mengambil napas lalu menjawab dengan tenang.


"Itu adalah keberanian, keteguhan dan energi qi yang berlimpah."


Yan Xu menancapkan pedang dayu di atas meja kayu lalu berkata, "Menurutmu, bagaimana bisa kultivator kecil yang lemah dan masih di ranah puncak inti emas sebelum penempaan ini bisa memenuhi tiga kualifikasi tersebut?"


"Mudah saja, kamu pasti mengakalinya dengan sesuatu!" jawab Su Yinfeng tak terima, matanya sudah hampir berlinangkan air mata karena merasa terhina akibat termakan omongan nya sendiri.


"Mengakali kah ...— pfffttt! Hahahahaha!"


Yan Xu tertawa lepas tak terkendali hingga suaranya dapat memenuhi seisi ruangan. Dia tidak dapat menahan perasaan geli di perutnya sekaligus menunjukkan penghinaan secara terbuka terhadap kepolosan dari jawaban Su Yinfeng yang tak berdasar.


"Berhenti tertawa!" teriak Su Yinfeng tidak terima dan matanya sudah berlinang air mata, menandakan sedikit lagi dia akan menangis karena rasa malu yang dapat mengguncang martabatnya sebagai salah satu saint di dunia Xuanyuan.


"Baiklah, aku akan berhenti. Tidak baik bagi seorang pria kelas teri seperti Murid untuk merundung seorang peri secantik Kepala Sekte."


"Lagi-lagi, kamu menggunakan kalimat penghormatan untuk menghinaku!—hiks!" teriak Su Yinfeng yang hampir menangis.


Ekspresi hampir menangis dari seorang peri secantik Su Yinfeng benar-benar membangkitkan semangat Yan Xu untuk lebih keras. Namun, dia segera berhenti karena takut akan menimbulkan dampak buruk di kemudian hari. Oleh karena itu, dia segera mencabut pedang Dayu dari meja kayu, lalu menarik salah satu lengan ramping Su Yinfeng.


Kulit mereka yang sama-sama putih dan mulus saling bersentuhan, disertai dengan Pedang Dayu yang Yan Xu letakkan di genggaman ramping milik Su Yinfeng.


"Mulai sekarang, kamu boleh memilikinya. Jadi, tolong berikan kami tunggangan terbaik demi Su Yueyin kita," ucap Yan Xu dengan senyum tulus.


Sementara itu, terdapat perselisihan di dalam hati Yan Xu karena Pedang Dayu dengan kuat menolak pemilik barunya. Namun, niat pedang Dayu segera dipatahkan oleh niat pedang kuat milik Yan Xu sehingga dia harus terpaksa menerima Su Yinfeng sebagai pemilik baru. Meskipun begitu, Pedang Dayu tidak mencabut hak kepemilikan Yan Xu terhadap nya, dengan kata lain pedang itu akan langsung datang ketika Yan Xu memanggilnya.


Berhasil menenangkan Su Yinfeng yang hampir menangis karena perundungan tak berperasaan dari Yan Xu, kini mereka mendapatkan sebuah tunggangan berbentuk keledai terbang yang dapat mengeluarkan suara berisik dengan keras.


Dalam perjalanan menuju ke arah Persimpangan Jalan Bawah, Yan Xu menyesal karena melupakan perasaan Ratu Iblis Xia yang sedari tadi diam dan hanya menonton. Namun, dia lega bahwa mungkin saja itu mengartikan taruhan di antara mereka merupakan kekalahan dari pihak lain. Jadi, dia tidak perlu khawatir dan harus memikirkan dengan matang bagaimana dia akan meminta hadiah dari peri cantik berjubah abadi serba hitam itu.

__ADS_1


__ADS_2