
Puncak Angin di malam hari sangat damai juga sepi. Angin sepoi-sepoi dapat terasa, begitu juga energi qi murni dari alam yang memasuki pori-pori kulit Yan Xu.
Yan Xu berjalan-jalan dengan kedua tangan berada di belakang punggungnya. Dia menatap ke sekeliling puncak, sambil melihat-lihat tanah kosong yang sudah dia perhitungkan sebagai lahan pembangunan.
Tatapan matanya menjadi semakin hangat ketika pikirannya mulai berkhayal tentang paviliun yang sudah dibangun. Dia menjadi kakak tertua dari para murid dan membimbing juga memukuli mereka dengan lembut. Terkadang beberapa senyum bengkok dapat terlihat dari wajahnya saat ini.
Ketika dia masih melayang saat menikmati imajinasinya seperti orang yang sudah terlalu banyak mengkonsumsi ekstasi, suara lembut Ye Miao'er telah menghempaskannya kembali ke tanah.
"Kakak Senior!"
Teriakan bahagia Miao'er dapat didengar dari arah gubuknya berada.
Miao'er yang masih basah kuyup dan mengenakan pakaian tipis keluar dari susunan formasi yang mengelilingi gubuknya dan segera memeluk Yan Xu.
"Kakak Senior, kenapa kamu pulang terlambat? Aku kira tidak lama lagi, mayatmu akan sampai dengan mengenaskan karena Guru pergi dengan amarah yang menggebu-gebu!"
Miao'er mengembangkan pipinya sambil mendongak ke atas.
Yan Xu tersenyum tak berdaya, dia melepaskan diri dari pelukan adik juniornya dengan lembut kemudian menggelengkan kepalanya, "Adik Junior, tidak baik memeluk pria saat dimalam hari, apalagi saat kamu baru saja selesai mandi dan menggunakan pakaian tipis. Bagaimana kalau pria lain melihat kamu keluar seperti ini?"
Yan Xu memarahinya dengan lembut dan tulus, seperti seorang kakak laki-laki yang menasehati adik perempuannya. Dia segera mengambil kain dari kantung penyimpanan dimensinya, kemudian membalut tubuh Miao'er dengan kain tersebut.
Dia mengangguk puas, "Begini seharusnya."
"Eh? Ada apa denganmu, Adik Junior?" Yan Xu menjadi bingung melihat wajah marah adik juniornya.
Alis indah Miao'er berkerut, pipinya menggembung dengan rona merah dan pupil mata cokelatnya bergetar. Tangan indah rampingnya menarik gendang telinga Yan Xu.
"A-aaa-aaahhh, Adik Junior! Itu sakit! Aa-aaaa!" Yan Xu menggerakkan kepalanya mengikuti tarikan dari lengan ramping milik adik juniornya, berpura-pura merasakan sakit.
"Bagus! Sekarang Kakak Senior juga mau berbohong lagi?! Sudah lupa dengan janjimu di kertas saat itu, hah?!"
__ADS_1
"A-aa-adik Junior! Ja-jangan galak, nanti kamu aaa-aaaaahh!!" Yan Xu kesulitan untuk bicara gara-gara lengan ramping Miao'er berputar dan membuat gendang telinganya kesakitan hingga merah.
"Ya, ya, ya! Kamu pikir salah siapa aku jadi begini?! Sekarang, diam dan ikut saja!"
Dengan begitu, Miao'er menarik gendang telinga kakak seniornya yang memerah ke arah gubuknya. Dia sudah sangat penasaran juga rindu dengan kakak seniornya, jadi dia tidak akan melepaskan kesempatan untuk menagih janji dan pelajaran bengkok setelah Kakak Senior pulang.
Yan Xu mengikuti adik juniornya tanpa perlawanan, di dalam hati dia sudah menghela napas lelah beberapa kali.
'Adik Junior kalau sedang marah akan terlihat seperti Guru. Sebaiknya, aku harus mencari cara untuk mengembalikan dia ke Miao'er yang lembut dan penyayang. Bukan Miao'er yang seperti iblis tanpa hati! Huhuhu, telingaku sangat kesakitan~♪'
....
Di dalam gubuk jerami adik juniornya.
Ye Miao'er duduk di atas kasur, sementara Yan Xu dibuat berlutut dengan kedua kakinya di lantai.
"Um ... Adik Junior, bukankah—"
"Bahkan, aku kesulitan untuk makan beberapa hari ini!" bentak Miao'er sambil mengelus air mata di wajah perinya yang bulat.
'Tidak, tidak, bahkan saat aku sampai, walaupun kamu menyembunyikannya menggunakan susunan formasi, aku tahu kamu tadi mandi sambil bernyanyi riang seperti biasa.' Sebenarnya itu yang ingin segera dia katakan, namun Yan Xu hanya bisa menelannya. Dia tidak memiliki hak untuk bicara sama sekali pada saat ini.
Yan Xu hanya diam sambil tersenyum hangat mendengarkan omelan adik juniornya selama satu setengah jam. Setelah Miao'er puas menghukum kakak seniornya, Yan Xu diperbolehkan untuk duduk ke kursi bambu yang ada di dekat jendela.
Setelah dia duduk, Miao'er pergi menyediakan teh dan berbagai makanan ringan kemudian duduk di seberang. Suasana skema kerinduan palsu maupun adik junior yang sedang memarahi kakak seniornya segera menghilang. Mereka kembali ke rutinitas seperti biasanya, itu adalah pelajaran untuk Adik Junior dari Kakak Senior!
Yan Xu terbatuk sekali, kemudian memulai pembelajarannya yang agak bengkok, "Ini dimulai saat kami meninggalkan wilayah Sekte Abadi Luo ...."
Butuh beberapa jam untuk Yan Xu hingga sampai pada akhir cerita. Setelah dia selesai, ekspresi Miao'er terlihat serius dan ada kekesalan terlihat jelas dari wajahnya.
"Bagaimana menurutmu, Adik Junior?" tanya Yan Xu sambil tersenyum hangat.
__ADS_1
Miao'er menyilangkan tangannya, dengan mata tertutup dan menggelengkan kepalanya, "Senior Wang Jia Li memang memiliki kondisi yang paling menyedihkan karena terjebak di antara dendam dan kasih sayang palsu seorang kakak dalam pembalasan dendam."
"Dia juga terjerat akan skema licik dari pihak suku asing, ini benar-benar menandakan bahwa kesialannya dalam hidup ini telah mencapai puncaknya!"
"Miao'er berpikir kalau takdir Kakak Senior Wang Jia Li ini dipenuhi akan bahaya dan berbagai skema apabila dia keluar dari wilayah sekte. Anehnya, tidak seharusnya orang yang sudah bergabung dengan sekte akan dipengaruhi oleh kehidupan sebelumnya di luar sekte."
"Yah, bukan salahnya. Lagipula, dia juga adalah pion yang bisa Kaisar buang kapan saja." Yan Xu mengangkat bahunya tak berdaya.
Miao'er mengangguk setuju, "Kakak Senior benar. Jika Miao'er adalah Kaisar, walaupun Kakak Senior Wang Jia Li mati, itu tidak akan pernah sekalipun menyentuh emosiku!"
Mata Yan Xu berkedip. Entah kenapa dia merasakan bahwa kalimat terakhir tadi seperti sumpah serapah tidak langsung dari adik juniornya. Belum lagi dia mengucapkannya dengan semangat yang menggebu-gebu.
Yan Xu masih mempertahankan ekspresi hangatnya, "Ya, kamu benar Adik Junior. Mo Li yang asli berharap dengan berhasilnya kejadian ini, Kaisar Ming akan marah dan menabrak Sekte Abadi Luo."
"Namun itu akan sebaliknya, Kaisar Ming tidak akan buang-buang waktu mengurusi masalah ini. Paling banyak, dia akan memberikan kompensasi sebisanya kepada sekte atas urusan luar mengganggu proses ekspedisi pribadi Sekte Abadi Luo."
Miao'er mengangguk setuju, "Papan catur dunia itu luas, satu bidak yang mudah dibuang bukanlah kunci dari permainan ini. Menguasai papan catur dunia adalah segalanya bagi seorang kaisar dan sekali bidak, tetaplah akan menjadi bidak di matanya."
Yan Xu bertepuk tangan, "Bagus! Kamu benar-benar sudah bertambah lebih bijak! Kakak Senior benar-benar terharu!"
Yan Xu mengacungkan jempolnya kepada Miao'er dengan senyum lebar.
Miao'er mengangkat dagunya, seolah-olah berkata, 'Terus, puji aku lagi, Kakak Senior!'
Pelajaran itu terus berlanjut hingga inti sari maupun berbagai macam jenis metode untuk menyelesaikan masalah itu juga akan mereka diskusikan dengan serius.
Waktu berjalan dan tanpa terasa sudah tiga jam, akhirnya diskusi mereka selesai dan Yan Xu kembali ke gubuk jeraminya untuk beristirahat.
Saat Miao'er melihat punggung Yan Xu yang pergi, matanya menyipit dan ada sedikit kilatan marah.
'Di belakangku, kamu sudah menyelamatkan kecantikan peri lainnya!' dengus Ye Miao'er dalam hatinya.
__ADS_1