
Jenderal Lao menggunakan setengah energi qi untuk memperkuat avatar nya, dia juga menggunakan teknik telapak tangan segel darah untuk memukul keras ke arah binatang buas itu!
Suara benturan antara petir ungu dan avatar beserta teknik milik Jenderal Lao menghasilkan ledakan. Gelombang kejut kuat beserta listrik mengalir di udara sekeliling mereka.
Tidak sampai disitu, serangan telapak tangan segel darah kedua milik Jenderal Lao memukul keras kepala ular itu hingga dia mundur beberapa langkah.
Ular hitam bercorak emas itu meraung dengan keras, jelas sekali dia terlihat sangat marah dan ingin mencabik-cabik orang tua yang ada di depannya.
Dari jauh, Yan Xu sudah memasang perangkap tepat di bawah Jenderal Lao ketika dia sedang mempersiapkan panggung untuk mereka sebelumnya. Di bawah pijakan Jenderal Lao terdapat racun tujuh kelopak akasia yang akan melumpuhkan pergerakan kultivator yang berada di bawah ranah pencerahan.
Pada saat yang sama, Yan Xu sudah memperhitungkan bahwa jebakan skala besar ini sudah menghabiskan lebih dari setengah racun yang dia simpan untuk perlindungan diri, tapi tidak ada ruginya demi menyingkirkan salah satu hama.
Di tempat lain, Wang Jia Li sudah bertindak sesuai dengan apa yang diinstruksikan oleh Yan Xu. Dia telah mundur ke belakang tebing, sesuai dengan arahan terakhir.
Tanpa kehadiran Jenderal Lao yang melindunginya, Mo Li tidak berani tetap berada di udara. Akhirnya, dia bergerak turun sambil mengarahkan jimatnya ke Wang Jia Li. Di matanya terdapat kilatan dingin saat menatap punggung Wang Jia Li.
Di sisi berseberangan, Wang Jia Li tidak mundur dan mengarahkan pedang energinya untuk menekan Mo Li sekaligus.
Meskipun tingkat kultivasi Mo Li sedikit lebih tinggi, sangat sulit baginya untuk mempertahankan diri dari serangan ganas pedang energi lotus milik Wang Jia Li.
Wang Jia Li merasa sedikit terganggu karena ular itu masih mengamuk di luar sana. Dia mengembangkan kesadaran ilahinya untuk mengamati pertarungan yang terjadi di sisi lain.
Dia juga merasakan sedikit aura Yan Xu berada di dekat sana, membuatnya agak khawatir takut kalau kakak seniornya berada dalam bahaya. Hal itu membuat Wang Jia Li semakin cemas. Setidaknya, dia masih ingat bahwa semua ini masih dalam genggaman Kakak Senior Yan Xu.
...
Ular hitam bercorak emas telah menganggap Jenderal Lao sebagai ancaman yang harus dia musnahkan.
__ADS_1
Jenderal Lao yang masih memanifestasikan avatarnya, menyerang ular itu tanpa henti. Dia mencoba untuk melindungi dua rekan mereka yang tersisa.
Dalam keadaan seperti ini, Jenderal Lao sangat mengerti bahwa di antara mereka harus ada yang mati!
Yan Xu secara diam-diam menunggu dengan sabar sambil menonton pertunjukan dari jauh. Dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk mengaktifkan jebakan. Tidak hanya sampai disitu, dia juga menyiapkan rute melarikan diri untuk mereka berdua karena akan merepotkan saat ular itu mengamuk secara membabi-buta.
Seluruh situasi terjadi secara mendadak, dia hanya bersikap sesuai dengan situasi, seperti biasanya.
Selama dia bertindak sesuai dengan situasinya, beberapa kesalahan dalam mempertimbangkan gerakan selanjutnya tidak akan terlalu berpengaruh terhadap hasil akhirnya. Hanya saja, nyawa Wang Jia Li ini tidak dapat dibiarkan melayang begitu saja.
Setelah beberapa saat pertarungan itu berlangsung dalam lima belas menit dan Jenderal Lao sudah terlihat mulai kelelahan.
Yan Xu terkekeh geli dan berkata, "Terima kasih atas pertunjukannya. Jangan lupa, kalian yang membawa ini pada diri sendiri!"
Yan Xu melambaikan lengannya dan tanah di sekitar Jenderal Lao dan ular hitam bersinar cerah. Dari tanah, keluar kabut asap kuning.
Jenderal Lao yang dengan ganas menyerang, saat ini gerakannya menjadi lambat dan pandangannya menjadi kabur.
Tidak terima kalau dia akan jatuh ke dalam trik murahan binatang buas yang biadab itu, dia melakukan apapun yang bisa dilakukan hingga saat terakhir. Dengan cepat dia sadar dari amarahnya dan memusatkan seluruh aliran energi menuju ke pusat dantian. Dia bergegas ke kepala ular itu!
Ular hitam bercorak emas itu merasa terancam dan berniat mundur namun dia menatap aura ginseng dan merasa ragu, enggan untuk mundur.
Berkat keraguan itu, kesempatan terakhirnya untuk bertahan hidup telah hilang selamanya.
"Ternak! Mati kau!"
Bersamaan dengan teriakan itu, suara ledakan yang kuat mengikutinya. Di tempat Jenderal Lao meledakkan diri, tidak ada yang tersisa selain kawah besar.
__ADS_1
Ledakan itu membumi hanguskan Jenderal Lao, bersama orang-orang juga binatang buas yang berada di dekatnya.
Melihat itu, Yan Xu mengalirkan air mata buaya dari sudut matanya lalu berkata, "Terima kasih atas kerja kerasmu demi pertunjukan yang menarik ini, Jenderal Lao. Sebagai penikmat, aku akan memberikan sedikit tempat di memoriku saat kamu meledakkan diri dengan cara yang menyedihkan— hiks!" Dia masih terisak dengan gerakan yang dibuat-buat seolah itu asli.
Setelahnya, Yan Xu tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata, itulah penyebab air mata itu sebenarnya mengalir. Dia sudah terlalu banyak menahan tawa hingga itu benar-benar menggelitik perutnya dengan sangat keras. Rasa geli itu semakin menjadi setelah beberapa detik dan kemudian hilang begitu saja.
Yan Xu menghela napas dan berkata, "Sudah lama aku tidak tertawa sekeras itu. Mungkin semenjak kematiannya?" dia mengangkat bahu dan kembali ke urusan saat ini.
"Apa kamu ada disini?" Yan Xu masih menatap ke depan, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Sebuah portal hitam kecil muncul di atas bahu Yan Xu, dari portal itu keluarlah sahabatnya yang berasal dari dimensi lain!
Cacing itu menggeliat seperti sedang memarahi Yan Xu.
"Ahahaha ... maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu! Buktinya, kamu baik-baik saja bukan?" Yan Xu tertawa canggung dan meminta maaf kepadanya. Ekspresinya berubah serius kembali, "Tolong tunjukan kepadaku sebagian pecahan ingatan milik Jenderal Lao."
Saat kalimat itu jatuh, beberapa informasi mengalir ke dalam benak Yan Xu.
'....'
Yan Xu segera membuang ingatan itu dari kepalanya.
'.....'
Dia tidak ingin membahasnya kepada siapapun.
Yan Xu mengambil napas ringan.
__ADS_1
"Aku merasa ... akan bermimpi buruk saat tidur malam ini, atau mungkin aku akan selalu meragukan keaslian dari seluruh wanita yang ada di sampingku ...."
Yan Xu memijat keningnya yang sakit, berharap tidak melihat apa-apa lagi dari pecahan ingatan milik Jenderal Lao.