
Keduanya berhenti bergerak, sama-sama menghilangkan pengaruh teknik penguatan mereka dan saling memandang dari jarak beberapa meter.
'Guru terlalu kuat! Itu adalah kemampuan penuhku yang disuntikkan energi qi murni secara diam-diam!' pikir Yan Xu.
Sementara itu, Lan Xihe hanya menggelengkan kepalanya secara lembut, membiarkan embusan angin di puncak meniup rambut putihnya.
'Murid Nakal terlalu menahan dirinya, tapi serangan yang terakhir tadi tidak buruk juga. Berada di ranah apa sebenarnya murid nakal ini?'
Yan Xu yang tidak ingin melewatkan kesempatan untuk melakukan adegan keran segera mengeluarkan darah dari sudut kecil mulutnya. Dia berlutut dengan satu kaki sambil menekan dada, seolah-olah menekan titik dantian agar gejolak energi berlebihan segera mereda.
Setelah selesai, dia menangkupkan kedua tangannya dengan ekspresi lembut dan berkata, "Kekuatan Guru tiada tara, Murid hanyalah secuil dari ujung kuku jari telunjuk dari kekuatan Guru. Langit dan bumi bisa menjadi saksi akan kehebatan, kebaikan hati dan betapa menawan juga berwawasannya Guru!"
Lan Xihe mengedipkan mata beberapa kali. Pada wajah indahnya, terdapat sebuah keterkejutan yang segera menghilangkan keinginan untuk memukuli Yan Xu beberapa kali lagi, setelah dia mendengar ucapan dari lidah emas murid nakalnya.
Lan Xihe mengangguk puas sambil berkacak pinggang dan berkata, "Baguslah kalau kamu masih sadar akan tempatmu berpijak."
Berbagai macam perbedaan pikiran di antara para penonton mulai muncul dari waktu ke waktu, melupakan hal mengejutkan yang telah mereka lihat hingga tercengang dengan hasil akhirnya terkecuali Miao'er, anggota yang sudah terbiasa dan kebal akan berbagai macam pujian dari kakak seniornya.
Miao'er secara diam-diam mengirimkan transmisi suara kepada ketiga peri yang baru saja bergabung ke Puncak Angin.
"Ini adalah salah satu aturan tak tertulis dimana kita tidak boleh menilai seseorang yang berasal dari Puncak Angin hanya melalui permukaannya saja."
"Kemudian, saat Guru ingin memukuli Kakak Senior, tidak ada yang boleh menolong juga membelanya. Jika kalian melakukan itu, kalian juga akan dipukuli dan Kakak Senior akan menanggung amarah yang lebih besar dari Guru."
"Itu saja untuk hari ini karena pertarungan mereka sepertinya sudah selesai. Untuk sisanya, mari kita bicarakan lain waktu."
Ketiga peri yang mendengarkan kembali penjelasan aturan tak tertulis dalam Puncak Angin selama pertarungan antara Yan Xu dan Lan Xihe berlangsung dari Ye Miao'er mengangguk setuju.
Sedangkan kedua orang yang sudah beradu tadi, melupakan kenapa mereka bisa bertarung satu sama lain. Masing-masing dari mereka menilai kekuatan tempur dari pihak lain.
Setelah selesai menenangkan gejolak energi qi pada dantian mereka, keduanya berjalan kembali ke naungan pohon besar sambil bercanda saat menuju ke sana berdampingan. Melihat kelakuan mereka, keempat anggota Puncak Angin lainnya hanya bisa menggelengkan kepala sambil menghela napas panjang.
Setibanya mereka di sana, Lan Xihe segera memulai apa yang sudah tertunda dan mengabaikan perubahan citra Su Yueyin. Sementara Yan Xu masih merasa terganggu dan merasakan ada yang salah dengan itu.
Lan Xihe menepuk tangan rampingnya dan berkata, "Saat ini kita akan memulai upacara resmi pengangkatan hubungan antara guru dan murid kalian berdua. Pertama, Wang Jia Li maju ke depan."
__ADS_1
"Murid menerima perintah Guru!" Wang Jia Li dengan tegas berdiri di depan Lan Xihe.
"Yan Xu, kamu berdiri di samping kanan, sementara Miao'er di kiri Guru."
"Baik, Guru!"
Keduanya segera bergerak sesuai arahan.
"Kemudian, Yueyin berdiri di sisi samping antara kami dan calon murid baru."
"Yin'er menerima perintah dari Kepala Puncak."
Dengan begini, semua orang tepat berada sesuai posisinya masing-masing.
"Hmm ... aku melupakan sesuatu— oh ya! Murid Nakal, siapa namanya?" tatapan Lan Xihe menuju ke arah Xiu Ruolan.
Yan Xu menggaruk punggung kepalanya sambil berkata, "Bukankah seharusnya Guru menanyakannya semenjak pertama kali bertemu?"
"Apa cuma gara-gara teknik jalur pedang kita tadi seimbang kamu jadi berani meremehkanku?" tanya Lan Xihe.
Lan Xihe menghela napas berat kemudian melanjutkan, "Jadi, siapa namanya?"
Ketika Yan Xu hendak menjawab, Xiu Ruolan terlebih dahulu berbicara.
Dia menangkupkan kedua tangannya dan memberikan hormat, "Senior, nama Junior adalah Xiu Ruolan."
Lan Xihe mengangkat salah satu alisnya. "Xiu Ruolan," panggil Lan Xihe dengan suara dingin.
Xiu Ruolan yang telah melihat pertarungan tadi merasa tersentak saat mendengar suara dingin Lan Xihe. "Y-ya, Senior?!"
"Aku akan memperingatkan mu satu hal, jangan meremehkan senioritas di dalam Puncak Angin. Orang yang aku suruh untuk menjawab pertanyaan ku adalah Murid Nakal, bukan kamu. Jadi, kamu hanya akan menampar wajah saudara seniormu saat melakukan itu."
Menyadari kesalahannya, Xiu Ruolan segera berlutut ke arah Yan Xu dengan satu kaki dan menangkupkan kedua tangannya, "Kakak Senior, Junior meminta maaf atas kelancangan tadi!"
"Tidak perlu dipikirkan, kesalahan bisa datang kapan saja pada setiap orang."
__ADS_1
Yan Xu mengangguk lembut dengan senyum hangat di wajahnya. Sebenarnya dia tidak mempedulikan itu, namun di masa yang akan datang ia harus memperhatikannya. Mengingat seberapa ketat Guru menekankan senioritas tadi.
Lan Xihe terlihat puas dan sekarang dia kembali melanjutkan penjelasan sebelumnya, "Apakah kalian tahu apa makna dari posisi ini?"
Semua orang hanya diam, mereka tidak berani berpendapat takut menyinggung perasaan Lan Xihe dan akan dipukuli kemudian. Setelah beberapa saat, melihat tidak ada yang menjawab dia kembali melanjutkan.
"Posisiku yang berada di tengah menandakan bahwa akulah puncak hierarki di tempat ini, Puncak Angin!"
"Di sebelah kananku, adalah Yan Xu yang merupakan hierarki kedua setelah Kepala Puncak karena dia merupakan Murid Tertua."
"Di sebelah kiri merupakan hierarki ketiga setelah murid tertua. Dia akan menjadi Murid Termuda, terlepas dari siapapun yang bergabung setelah mereka."
Mendengar itu, terdapat kejutan di mata Ye Miao'er. Lan Xihe yang menyadari fluktuasi emosi dari Murid Termuda, mengirimkan sebuah pesan singkat transmisi satu arah. Setelah mendengar itu, Miao'er menjadi tenang.
"Kemudian, ada tetua yang berada di antara kita. Para tetua berada di tingkat ketiga pada hierarki Puncak Angin, terlepas dari bagaimana aturan Sekte Abadi Luo."
"Namun, tetap saja Murid Tertua harus selalu menghormati siapapun yang merupakan sesama anggota puncak dan tidak boleh semena-mena dalam mengarahkan mereka."
Entah kenapa terdapat ekspresi lega pada wajah para gadis seolah-olah mereka akan merasa tidak nyaman kalau Yan Xu menyalahkan otoritas hierarkinya.
Walau itu bukan mereka, bagi orang yang sudah melihat betapa tidak bermoralnya kelakuan Murid Tertua, mereka pasti akan merasakan adanya bahaya di setiap hari.
"Dan yang terakhir ..." Lan Xihe mengangkat tangannya ke arah depan, tepat menuju kedua murid baru.
"Hierarki keempat adalah kalian yang merupakan murid langsung Guru. Sisa hierarki di bawahnya akan sesuai dengan aturan hierarki Sekte Abadi Luo."
"Untuk panggilan, khusus kepada Murid Tertua semua juniornya wajib memanggil dia dengan sebutan Kakak Senior. Selanjutnya panggilan khusus kepada Murid Termuda adalah Adik Junior. Sisanya akan sesuai dengan urutan persaudaraan kalian."
Setelah selesai dengan penjelasannya, Lan Xihe memberikan anggukan kepada Wang Jia Li. Memahami itu, Wang Jia Li melakukan sujud sebanyak sembilan kali dan diikuti dengan memberikan salam hormat kepada para anggota yang sudah bergabung terlebih dahulu sebelum dia.
Upacara pengangkatan hubungan antara guru dan murid, juga bergabungnya para murid ke Puncak Angin berjalan dengan lancar. Kini, mereka sampai ke tahap akhir dari proses yang panjang ini.
Lan Xihe menjentikkan jarinya dan aura putih murni mengelilingi seluruh wilayah Puncak Angin. Dia menggunakan teknik pengeras suara, agar dapat membuat suara indahnya bergema dengan keras di seluruh sudut puncak.
"Puncak Angin hanya memiliki dua aturan tertulis. Pertama, dilarang saling membunuh antara para murid maupun sesama anggota puncak. Kedua, aku adalah puncak hierarki yang mengatur segalanya atas perintahku."
__ADS_1
Untuk aturan tertulis pertama, akal sehat dan nalar mereka masih bisa menerima karena itu sesuai dengan nilai norma yang berlaku dalam kehidupan sehari-hari. Namun, bagian kedua dari aturan tertulis sangatlah mencurigakan terlepas dari apapun yang dapat mereka pikirkan.