
Sinar mentari yang cerah melewati awan dan sampai ke permukaan puncak, qi alam murni yang berlimpah dapat dirasakan sedang mengelilingi seluruh wilayah di sekitarnya.
Yan Xu yang sudah mencuci muka dan mengenakan jubah abadi khas murid Puncak Angin memanggil awan menggunakan energi qi. Dia melompat dengan anggun ke atas awan dan menyerahkannya menuju ke sisi tengah puncak.
Sambil terbang dengan santai, dia melihat pemandangan di sekelilingnya yang masih khas dengan betapa miskin Puncak Angin mereka akan fasilitas maupun sarana dalam latihan berkultivasi.
Andai saja sistem yang dia punya memiliki fungsi untuk membeli berbagai item yang dapat digunakan sebagai sarana latihan maupun bangunan sebagai tempat berlatih, ia tidak akan membuang waktunya menjilati Sekte Abadi Luo maupun melakukan berbagai transaksi gelap secara diam-diam dengan beberapa tetua di aula administrasi.
Namun, sistem yang dia miliki sangatlah sampah dan penuh akan kecacatan sehingga ia harus menggunakan jalan yang memutar demi keuntungan pribadi—uhuk! Puncak Angin mereka.
Yan Xu tersenyum kecut sambil mengelus dadanya kemudian dia menciptakan beberapa pedang energi dengan energi qi. Pedang energi yang dia ciptakan memiliki warna hijau muda dengan corak putih awan di pagi hari.
Tingkat kepekatan energi qi pada pedangnya melebihi yang berwarna hitam pekat dengan kilatan merah yang ia ciptakan saat berada di Hutan Kekacauan. Melihat perbedaan ini, Yan Xu hanya menghela napas berat karena dia akhirnya mengerti dengan karakteristik dari pedang energi yang ia ciptakan.
"Pedang energi milikku seharusnya tidak memiliki warna, sama seperti aura yang terpancar dari energi qi yang keluar dari tubuhku."
Yan Xu memperkecil ukuran bilah pedang energi dan membuat mereka berputar mengelilingi jari telunjuk kanannya.
"Warna, karakteristik, kepekatan dan kekuatan dari penciptaan pedang energi dariku terpengaruh oleh lingkungan dimana aku berada. Namun, aku dapat memanipulasi sedikit detil dari pedang energi seperti ..."
Pedang energi yang mengelilingi jari telunjuk Yan Xu secara perlahan mulai berubah warna menjadi biru awan dengan corak hijau daun dan kilatan oren cerah seperti sinar mentari di sore hari.
"Karakteristik pedang energi yang awalnya sangat murni dan dipenuhi dengan energi qi alam di pagi hari, sekarang dimanipulasi menjadi murni bagaikan langit berawan ditemani sinar cahaya pada sore hari."
__ADS_1
"Aku selalu menggunakan aura berwarna biru muda dikarenakan karakteristik ini sangat cocok dengan teknik dao yang menyembunyikan basis kultivasi. Hanya saja, kekurangan dari manipulasi ini adalah terlalu banyak memakan energi qi."
Yan Xu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Berkat lembaran tesis yang Guru miliki tentang metode penyerapan energi Qi Gong di perpustakaan, akhirnya aku bisa menyelesaikan teknik ini dengan sedikit improvisasi. Namun, setiap kenaikan ranah, aku juga harus lebih mengembangkannya menjadi versi yang lebih sederhana dan mudah digunakan."
Yan Xu mengingat kembali tentang adik juniornya, Miao'er. Gadis itu sangat fenomenal karena dapat menguasai teknik penyembunyian ranah yang telah dia sederhanakan dengan sempurna.
Dengan penyederhanaan yang telah dikembangkan oleh Yan Xu, Miao'er tidak perlu menguasai metode penyerapan energi Qi Gong. Itu bukan hanya karena bakatnya yang menentang langit, tapi juga kegigihan, inovasi maupun berbagai metode kultivasi dari ajaran Guru yang saat ini dia gunakan.
Yan Xu terkekeh geli melihat situasinya, "Aku memiliki cheat yang sangat sampah, sementara Adik Junior memiliki bakat yang menentang surga. Jika aku tidak lebih berimprovisasi, hanya butuh waktu sebentar saja kesenjangan di antara kami akan merapat."
Dia menatap pohon besar yang dekat dengan sungai ikan spiritual di kejauhan, sudah terdapat tiga peri yang sedang duduk bersila di naungannya yang teduh.
Yan Xu tersenyum lembut dan berkata dengan suara rendah, "Dari lahir sebagai Yan Shen hingga saat ini, aku tahu bahwa diriku bukanlah orang yang berbakat. Aku harus berusaha mendayung sebanyak ribuan kali demi mencapai kejauhan yang hanya perlu sepuluh kali dayung dari mereka yang berbakat."
"Usaha tidak akan mengecewakan dirimu, asalkan kamu tidak membandingkannya dengan orang-orang yang berbakat." Yan Xu menggelengkan kepalanya sambil terkekeh geli.
Saat dia sudah dekat dengan pohon besar yang biasanya mereka gunakan sebagai tempat berteduh dan belajar, Yan Xu melompat dari awannya dan berjalan dengan anggun menuju ke sana. Dia tersenyum hangat sambil menatap para peri yang sudah ada di sana terlebih dahulu sebelum ia sampai.
...
Ketika Yan Xu sudah berada di bawah naungan pohon besar, sebuah tangan ramping menadah ke arahnya. Tangan ramping itu berasal dari peri abadi yang dibaluti kain serba putih, tidak bukan dan tidak lain adalah gurunya, Lan Xihe.
Senyum hangat di wajah Yan Xu sesaat berubah jadi masam. Terkadang dia berpikir, 'Apakah aku sudah memeluk paha orang yang salah?' di benaknya. Berkata kelakukan kekanak-kanakan dari gurunya, Yan Xu terkadang merasa skeptis akan gurunya sendiri.
__ADS_1
Melihat Yan Xu hanya diam tanpa bergerak, suara datar yang menenangkan datang dari gurunya.
"Dimana kejutan yang kamu janjikan?"
Yan Xu menggaruk pipinya dengan ekspresi kesusahan sambil berkata, "Umm ... Guru, yang Murid maksud sebagai kejutan untuk Guru bukanlah barang ..." Yan Xu dengan hati-hati melirik ke arah Lan Xihe.
Lan Xihe menurunkan tangan rampingnya, dengan satu alis terangkat ia berkata, "Lalu, apa yang mau kamu jadikan sebagai kejutan?"
Deg!
Jantung Yan Xu berdetak kencang sesaat. Dia merasakan adanya tekanan yang begitu kuat dari aura sekitar gurunya. Yan Xu segera menekan titik dantiannya untuk menenangkan diri.
Setelah itu, dia berlutut dengan satu kaki dan menangkupkan kedua tangannya sambil berkata, "Murid memiliki pertemuan takdir dengan seseorang yang mungkin berpotensi menjadi murid langsung Guru. Dia memiliki bakat yang baik dan Guru hanya perlu melatihnya dalam berkultivasi dengan santai."
Setelah mengatakan itu, Yan Xu mengeluarkan kantung dimensi yang berisikan Xiu Ruolan di dalamnya. Dia menyalurkan energi qi pada kantung penyimpanan dimensi, setelah beberapa saat Xiu Ruolan keluar diiringi sinar emas cerah dari kantung penyimpanan dimensi.
Dengan ekspresi tegas, Xiu Ruolan ikut berlutut dan menangkupkan kedua tangannya sambil berkata, "Junior menyapa Senior!"
Lan Xihe hanya mengangkat sedikit satu tangannya sambil berkata, "Tidak perlu terlalu sopan."
Kemudian, Lan Xihe memandangi gadis yang baru saja muncul dengan cara yang luar biasa sebelumnya. Dia mengelus dagunya beberapa kali sambil mengangguk lembut. Setelah selesai menilai, tatapan Lan Xihe beralih ke murid nakalnya.
"Jadi, ini yang kamu maksud sebagai kejutan untukku?"
__ADS_1
Yan Xu mengangguk dan menjawab dengan suara tegas, "Ya, Guru!"