Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Sebuah Awal Dari Era Baru Terlepas Dari Roda Takdir


__ADS_3

Beberapa kali beradu tinju di udara, keduanya mendapati kekuatan mereka sama-sama setara dan saling mundur untuk menjaga jarak.


"Kamu ..." Pendendam mengerutkan kening, menatap tajam ke arah Yan Xu.


Meskipun seratus pecahan jiwa Yan Xu baru saja mewujudkan kekuatan mereka, menurut Pendendam seharusnya Yan Xu masih belum bisa mengendalikan seluruh kekuatan itu.


Dengan bobot yang besar dan pengalaman tentang menjadi dewa, mustahil bagi dewa tingkat rendah mampu mengendalikan kekuatan yang setara dengan dewa tingkat menengah seperti dirinya.


Seorang dewa tingkat rendah yang baru saja memasuki tingkat menengah, seharusnya tidak masalah baginya. Tetapi Yan Xu yang berada di depannya, telah memberikan perlawanan lebih dari yang bisa ia pikirkan.


Bagaimanapun juga, Pendendam bahkan perlu memecah antara kesadaran dengan tubuh aslinya agar dapat menemukan lokasi Yan Xu. Sementara tubuhnya kosong, kesadaran beserta jiwanya telah memasuki hukum ruang berbeda, tempat Yan Xu berada.


Apabila dia kalah di sini, maka keberadaannya akan menghilang untuk selamanya.


"Meskipun kamu berkata bahwa tindakanmu untuk mengadili ku karena telah menipu takdir, faktanya kamu sendiri yang telah menipu takdir," ucap Yan Xu tegas.


"Takdir apa yang bisa aku tipu, ketika takdir itu sendiri telah menipu ku terlebih dahulu," balas Pendendam.


Ini bukanlah tindakan yang dia putuskan dalam sesaat, tetapi banyak hal maupun penderitaan tiada akhir membuatnya mengambil jalan ini.


Melihat pria yang sama dengannya sebelum ditelan oleh kegelapan, Pendendam berkata dengan suara yang dingin, "Kamu masih belum merasakan semua penderitaan ku. Saat waktunya tiba, aku yakin kamu akan mengambil jalan yang sama."


"Omong kosong! Bahkan, jika dunia hancur sekalipun, aku tidak akan sudi mengambil jalan yang sama denganmu!" balas Yan Xu.


"Aku tidak membutuhkan pernyataan dari mulut yang sering berbohong itu. Aku adalah kamu, kita memiliki prinsip yang sama dalam menyampaikan sesuatu. Tidak dengan kalimat kosong, tetapi dengan tindakan!"


Pendendam mengakhiri ucapannya dengan teriakan amarah, membuat energi qi di seluruh tubuhnya memancarkan aura ganas yang dapat menghancurkan apapun.


"Memang, makna tindakan selalu melebihi kata yang terucap dari lisan."


Yan Xu mengangguk setuju, matanya berubah menjadi muram. Ketenangan yang selalu datar dapat terlihat dari bagaimana Yan Xu berdiri tegak dengan kekuatan dewanya.


Tersiksa karena fakta tentang dirinya sendiri telah terbongkar, ketahanan mental Yan Xu mendapatkan peningkatan drastis. Dia tidak lagi menjadi orang yang mudah terganggu akan sekitarnya. Peningkatan tersebut membuat Yan Xu bisa menjaga ketenangannya, lebih dari sebelumnya.


Wush!


Dengan demikian, pertarungan antara hidup-mati Yan Xu dan Pendendam berlanjut.


Pendendam mengambil sebuah pedang energi dengan aura hitam pekat dan kilatan merah darah dari udara kosong. Dia Memusatkan energi qi pada gagang pedang, membuat pedang energi berubah bentuk menjadi pedang legendaris yang dikenal oleh Yan Xu.


"Pedang Dayu?"


Mengetahui pihak lain adalah dirinya sendiri, Yan Xu tidak bisa menganggap remeh fakta bahwa Pendendam juga memiliki berbagai jenis senjata yang sama dari dunia tempatnya berasal.


Tidak sampai di situ, perubahan pedang energi di tangan Pendendam, membuat aura pedang itu menjadi tajam. Dari pedang tersebut, keluar bayangan seorang wanita di belakang Pendendam.


"Sekarang ada bayangan Jing Dayu?"


Menanggapi keheranan Yan Xu, Pendendam bicara dengan nada mengejek, "Heh, kamu bahkan belum pernah merasakan puncak asli dari ilmu pedang ilahi, tahu apa kamu."


Ilmu pedang yang dimaksud oleh Pendendam merupakan salah satu teknik 'Inkarnasi', dimana pengguna dari teknik tersebut dapat menggunakan teknik berpedang milik bayangan yang sedang ia gunakan.


Saat ini, Pendendam sedang menggunakan bayangan milik Jing Dayu, akan sulit bagi Yan Xu untuk menghadapi inkarnasi Jing Dayu karena pergerakannya tidak mudah terbaca dan sangat tajam.


Tidak menanggapi celaan Pendendam, Yan Xu memanifestasikan pedang dayu yang sama. Namun, saat dibandingkan aura antara keduanya, sangat berbeda jauh, mengartikan bahwa milik Pendendam ada yang asli, sementara Yan Xu terlihat seperti replika murahan.


"Kamu melupakan hal penting dalam berpedang," ucap Yan Xu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hah? Aku lebih berpengalaman dibandingkan dengan dirimu. Bahkan, aura dari pedang kita sudah menjadi bukti nyata akan hal tersebut!"


"Memang, setelah menggunakan inkarnasi Jing Dayu kamu akan berdiri di puncak teknik pedang ilahi bahkan bisa disebut sebagai Pendekar Ahli Pedang Surgawi. Tetapi! Kamu sudah lupa seperti apa Jing Dayu yang sebenarnya!"


Yan Xu berteriak keras dengan amarah yang membuat udara di sekitarnya menjadi panas.


Jing Dayu yang dia lihat dalam bayangan itu, bukanlah Jing Dayu yang ia kenal melalui garis waktu manapun. Namun, Yan Xu dapat melihat bagaimana bayangan Jing Dayu itu menatap Pendendam yang sudah ditelan oleh kegelapan.


Rasa iba, keengganan dan pengkhianatan.


Itulah perasaan yang terpancar dari bayangan Jing Dayu yang berada di belakang Pendendam.


"Memang Jing Dayu yang berada di belakangmu adalah seorang ahli pedang yang mungkin telah mencapai puncak sejati dari teknik berpedang, tetapi di mataku, itu hanyalah sebuah kaca yang mudah rapuh!" teriak Yan Xu sambil mengangkat pedangnya.


Mendengar hinaan itu, Pendendam yang biasanya hanya mencela memasang wajah cemberut.


"TUTUP MULUTMU!!!"


Dia berteriak dengan keras sambil menerjang ke arah Yan Xu dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Pendendam melakukan manuver pergerakan lurus, kemudian melakukan tebasan dengan lintasan rumit yang akan menuju ke leher Yan Xu.


Melihat lintasan pedang milik Pendendam, Yan Xu segera memberikan balasan dengan menepis tebasan pihak lain.


Tsing!


Tebasan itu berhasil di tepis, namun Pendendam segera memutar tubuhnya dan melakukan tendangan.


Yan Xu mengangkat lengan kirinya untuk menahan serangan itu, sembari melakukan gerakan menusuk ke jantung Pendendam.


Pendendam segera menarik kakinya, menahan tusukan dengan tubuh pedang dayu. Dia mengambil beberapa langkah, kemudian menggunakan lengan besar yang terbuat dari energi qi untuk menyerang Yan Xu dari sisi samping.


Berbekalkan zirah yang terbuat dari seratus pecahan jiwa, Yan Xu mengeraskan pertahanannya dan menerima langsung serangan itu.


"Keugh!"


Walaupun sudah mengetahui bahwa serangan itu akan terasa menyakitkan, Yan Xu masih belum terbiasa terkena pukulan dari lawan yang kuat.


Dia memanggil avatarnya segera dan menghancurkan tanah di bawah kaki avatar besar itu.


Avatar dengan tinggi 15.000 kaki membuat permukaan tanah hancur dengan mudah, membuat pijakan dari tanah terbang di udara.


Memanfaatkan itu, Yan Xu segera keluar dari avatarnya lalu bergerak di sela-sela pijakan untuk mengaburkan penglihatan lawan.


"Trik murahan tidak akan mempan terhadap ku!"


Pendendam segera melemparkan kesadaran ilahinya, namun kehadiran Yan Xu tak kunjung ditemukan.


Menyadari ada hal aneh yang sedang terjadi, Pendendam mengikuti cara Yan Xu dengan bergerak melalui pijakan yang ada di udara.


Saat kakinya menyentuh pijakan itu, dua buah tangan yang kekar menarik kakinya.


"Kena kau!"


Dari dalam pijakan itu, Yan Xu bersembunyi sambil menekan aura keberadaannya. Sampai saatnya Pendendam mengikuti langkah yang telah ia lakukan, Yan Xu berhasil menangkap kedua kakinya.


Tentu saja itu bukanlah Yan Xu, melainkan sebuah klon yang dia buat dengan tergesa-gesa menggunakan sedikit bagian tubuh avatar raksasanya.


Yan Xu yang asli ternyata masih berada di dalam avatarnya, itulah mengapa avatar itu masih belum hilang.


Terjebak dalam cengkeraman tangan yang kuat, Pendendam tidak memiliki sedikitpun kepanikan dalam menanggapi hal tersebut. Dia dengan santai menusuk kedua lengan itu menggunakan pedang dayu, hingga terlepas dari cengkeraman itu.


Tidak meremehkan kemampuan Yan Xu dalam mempelajari hal yang baru saja dia lihat, Pendendam segera terbang ke zona aman agar tidak terkena lintasan tebasan pedang besar.


Yan Xu yang tahu bahwa pihak lain akan segera menuju zona aman telah menunggunya dan telah bersiap dengan postur tubuh yang kuat.


"Teknik pedang ilahi."


Hanya berjarak 10 meter dari zona aman, Pendendam dapat melihat Yan Xu yang telah siap menyerangnya. Dia segera menguatkan seluruh tubuhnya menggunakan energi qi agar pergerakannya lebih fleksibel, dia terus maju tanpa takut akan teknik yang dikeluarkan oleh pihak lain.


Yan Xu mengakui bahwa dimana saja, dia tidak akan maju tanpa rasa percaya diri akan hal yang bisa ditangani. Namun, dalam kesempatan ini dia akan membuang kebiasaan itu dan mencoba keberuntungannya.


Hanya berjarak lima kaki, mereka saling berhadapan.


Pendendam dengan kecepatan penuh menendang wajah Yan Xu hingga dia terpental ke belakang. Sementara itu, ujung tebasan pedang Yan Xu berhasil mengenai tubuh pedang dayu milik Pendendam.


'Aiya! Mencoba keberuntungan apanya! Itu cuma fiksi!'


Yan Xu yang terpental jauh ke belakang berteriak dalam hati. Dia tidak punya kesempatan untuk mengeluh karena Pendendam segera menyusul dengan gerakan menusuk.


Ujung pedang dayu milik Pendendam sangat tajam ditambah dengan sikap maupun gerakan berpedang, membuat tekniknya selalu halus dan dapat memberikan pukulan tersakit bagi lawannya!


"Kalau pikirmu dunia ini hanyalah fantasi tak berguna, sebaiknya enyahlah segera!" teriak Pendendam sambil menusukkan pedang dayu tepat ke leher Yan Xu.


Yan Xu segera menendang bagian tubuh pedang dayu milik Pendendam untuk menggeser sedikit arah tusukan pihak lain. Dia memompa energi qi dari inti dantiannya dan segera menciptakan formasi di udara kosong.


Formasi lima elemen utama terbentuk dengan kelima simbol elemen yang mengambang di udara bercahaya. Dari lingkaran cahaya itu keluar sebuah misil cahaya yang menuju ke titik dantian bagian tangan Pendendam yang memegang pedang.


Mengetahui Yan Xu ingin menyerang titik dantian tangannya, Pendendam juga membuat sebuah formasi pelindung. Pelindung energi segera membelokkan serangan Yan Xu, sementara itu Yan Xu menghilang entah kemana saat perhatian Pendendam tertuju pada susunan formasi bertahan.


"Fantasi? Permainan? Aku juga sadar bahwa ini adalah kenyataan dan merupakan kesempatan kedua ku untuk menjaga mereka, juga melenyapkan mu untuk selamanya!" teriak Yan Xu yang sudah muncul dari belakang dan sedang melakukan sepuluh tebasan ke punggung Pendendam.


Pendendam yang tahu dia tidak bisa menghindari serangan itu, segera menarik pedangnya dan membiarkan tubuh pedang dayu menerima tebasan kuat itu.


Menerima tebasan pedang kuat yang setara dengan keberadaan dewa, membuat pedang dayu Pendendam terguncang. Kedua orang itu dapat mendengar suara pecahan dari dalam mata pedang dayu milik Pendendam.


Dampak dari pecahan tersebut, membuat inkarnasi Jing Dayu yang berada di belakang Pendendam hancur berkeping-keping dan menjadi bintik-bintik cahaya, kemudian menghilang di udara kosong.

__ADS_1


Menyadari ada yang salah, Pendendam segera memanfaatkan jeda waktu pada serangan Yan Xu untuk mengambil jarak lalu berkata, "Jadi, itu rencanamu. Sejak awal, kamu hanya mengincar pedang dayu, bukan aku."


Selama ini, serangan Yan Xu dapat ia tahan karena pihak lain memang sengaja mengincar hal tersebut. Bahkan, tidak peduli seberapa legendaris perang tersebut, tetap saja pedang itu masih memiliki durabilitas yang terbatas.


Terus dihantam dengan daya penghancur dari seorang dewa dan teknik pedang ilahi yang telah mencapai puncak hingga dapat menciptakan keretakan dimensi, pedang dayu milik Pendendam akhirnya menjadi rapuh.


Niat aslinya telah ditebak dan Yan Xu masih menggelengkan kepalanya karena itu hanyalah setengah jawaban yang benar.


"Aku terkesan kamu dapat memahami yang terakhir dengan cepat dan segera mencegah kerugian pada dirimu sendiri. Hanya saja, itu masih setengah benar."


Yan Xu memperlihatkan ekspresi kecewa di wajah tampannya. Dengan tatapan merendahkan, dia masih menatap rendah pada Pendendam yang melotot ke arahnya.


Pendendam yang tidak sepenuhnya dibutakan oleh amarah maupun dendam atas keterlambatannya dalam mengerti niat asli Yan Xu, mulai menyadari seberapa jauh pihak lain berencana untuk memberikan tekanan padanya.


Hal itu mulai ia sadari semenjak wujud Jing Dayu perlahan menghilang, menandakan bahwa dia tidak akan pernah bisa menggunakan kekuatan penuh Jing Dayu karena ia bukan lagi inkarnasinya.


Bukan hanya itu, hubungan antara Pendendam dengan Jing Dayu yang berasal dari dunia yang sama dengannya telah terputus secara permanen. Dia tidak dapat memanggil ataupun menjadi inkarnasi Jing Dayu lagi, terlepas seberapa keras ia mencoba untuk mengembalikannya.


"Kamu!"


Pendendam menggertakkan giginya, melotot pada Yan Xu yang tersenyum bengkok ke arahnya.


Sadar akan emosi Pendendam yang muncul ke permukaan, Yan Xu memulai sedikit permainan psikologis untuk menendang emosi itu hingga keluar semua.


"Benar! Apa kamu pikir aku tidak tahu tentang sesuatu yang disembunyikan oleh mu?— Ha! Naif!"


Yan Xu mengacungkan jari tengahnya dengan senyum lebar yang semakin bengkok.


Awalnya, dia tidak bisa melihat niat sejati Pendendam hingga saat wajahnya dipukul, Yan Xu menyadari sesuatu yang salah.


Bagaimana bisa pecahan seratus jiwa keluar dari tubuhnya?


Mengapa pertarungan di antara mereka tidak membuat guncangan dahsyat terhadap dunia?


Itu semua dikarenakan mereka tidak berada di alam nyata. Mereka berada di alam lain, dimana jiwanya yang sedang beraksi, sementara tubuh asli kosong terdiam di dalam hukum ruang tertutup.


Mustahil bagi siapapun untuk menciptakan hukum ruang yang dapat menggambarkan hampir semua kejadian di setiap garis waktu terlihat sangat persis seperti kenyataan, kecuali itu adalah ilusi dan sejenisnya.


Kali ini, kedatangan Pendendam bukan hanya untuk melenyapkan dia. Masih ada satu lagi niat tersembunyi yang dia simpan secara mendalam.


Yan Xu kembali membuka mulutnya dan berkata, "Tubuh yang abadi memang tidak dapat hancur, tetapi bukan berarti jiwa yang berada di dalamnya tidak dapat dihancurkan, kemudian digantikan oleh jiwa lain yang memiliki kecocokan tinggi dengan tubuh tersebut."


Yan Xu menunjuk ke arah Pendendam lalu berkata, "Kamu! Siapa kamu?!"


Perlahan, wujud Pendendam yang mirip dengannya mulai berubah kembali.


Tidak memiliki wujud, itulah wujud asli dari Pendendam.


Yan Xu percaya akan semesta yang mungkin saja terbagi menjadi beberapa cabang dan berjalan beriringan dengan mereka. Namun, dia tidak percaya bahwa dirinya sendiri dari semesta lain akan melakukan hal seceroboh itu hingga menginvasi semesta lain tanpa alasan yang kuat.


Jika mereka adalah pribadi yang sama, tragedi yang menimpa Lan Xihe, Ye Miao'er dan Yaoyao di awal tragedi penderitaan tanpa akhir ini dimulai, tidak mungkin hal tersebut dilakukan tanpa alasan kuat yang menyertainya.


Hanya cemburu? Tidak mungkin, pasti ada hal lain!


Begitulah yang dia percaya semenjak awal pertarungan mereka hingga sekarang. Setelah pertukaran pukulan hingga terlihat saling membunuh juga menyuarakan pemikiran masing-masing, Yan Xu semakin yakin masih ada hal lain.


Pendendam juga mengetahui bahwa dia tidak bisa menyembunyikan niatan aslinya selama mereka bertarung. Cepat atau lambat, Yan Xu akan menyadari ada yang salah dan dia akan menjelaskan semuanya saat itu tiba.


Pendendam yang terlihat marah, kini tidak memiliki kulit dan hanya memiliki bentuk tubuh manusia. Masih ada rasa permusuhan terpancar, namun dia masih terlihat tenang dari postur tubuhnya.


Dia sekali lagi memperkenalkan dirinya, "Aku adalah kamu, bedanya memang benar bahwa akulah hasil dirimu yang tertelan akan kegelapan. Kamu berhasil menjadi dewa di semesta lain, namun seluruh hubungan yang kamu lewati akan menjadi siksaan bagi dirimu sendiri. Keberadaanmu yang telah menjadi dewa, mulai menghilang dari semesta yang kamu tempati, mereka yang selalu bersamamu seolah tidak tahu bahwa kamu ada di dunia itu."


"Awalnya, aku pikir itu adalah hal yang biasa dan menjalankan peran ku sebagai seorang dewa untuk melindungi mereka. Namun, perlahan, erosi mulai melandaku, seluruh hubungan yang telah dibentuk memulai pergolakan dalam hatiku. Hari demi hari berlalu, aku semakin tersiksa, hingga akhirnya aku melakukan sebuah tabu bagi para dewa."


"Kamu ikut campur dalam urusan dunia?" tebak Yan Xu.


Pendendam mengangguk, membenarkan tebakan Yan Xu lalu berkata, "Apa kamu bisa menebak yang terjadi selanjutnya?"


Yan Xu meletakkan jarinya di dagu seolah berpikir keras lalu berkata, "Semesta yang kamu tempati berakhir tragis menjadi debu? Bahkan, setelah melanggar tabu itu, kamu masih memiliki kekuatan dewata. Dengan kekuatan dewata itu, kamu mencari semesta lain yang berjalan berdampingan dengan semestamu, kemudian kamu menemukan kebenaran bahwa semesta kita hampir sama dan dipenuhi dengan kehidupan yang kamu kenal?"


"Benar, tetapi juga salah," balas Pendendam.


"Apa yang salah?" tanya Yan Xu mengangkat salah satu alisnya.


"Semesta kita sama, hanya saja manusia yang hidup berbeda. Seperti kamu yang bereinkarnasi ke dirimu sendiri sebelum bencana di Bumi terjadi, apakah menurutmu kamu masih pribadi yang sama dengan Yan Xu yang berada di garis waktu awal?"


Yan Xu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Kami berbeda, karena itulah ...."

__ADS_1


Yan Xu melebarkan kelopak matanya seolah terkejut dengan apa yang baru saja ia sadari.


Melihat reaksi itu, Pendendam yakin bahwa Yan Xu telah mendapatkan pemahaman yang sama dengannya. Dia tidak lagi memiliki permusuhan karena orang yang bicara di seberangnya, bukan lagi orang yang tidak tahu apa-apa tentang kebenaran semesta ini.


__ADS_2