
Ketika diskusi panas sedang berlangsung di antara kedua pasangan guru dan murid itu, suara Su Weiyan datang dari samping untuk mengingatkan mereka.
"Uhuk! Syukurlah kalian berdua selamat tanpa ada yang terluka— ..."
Su Weiyan terhenti di tengah kalimatnya karena mendapatkan tatapan tajam dari sampingnya, sumber tatapan itu berasal dari Senior Lan Xihe yang galak!
Mata merah cerahnya dipenuhi akan tekanan yang siap menerkam mangsanya!
Sambil melirik ke samping dan berkeringat dingin di punggung kepalanya, Su Weiyan ragu-ragu berkata, "Apa ada yang salah, Senior?"
Lan Xihe dengan tatapan tajam juga suara dinginnya berkata, "Apakah kamu buta? Mata tua mu sudah terlalu rabun karena selalu membuat kalkulasi susunan inti formasi? Perlukah aku mencangkokkan mata baru untukmu? Bola mata mana yang kamu inginkan? Bola mata sapi atau kerbau?"
Tubuh Su Weiyan langsung tersentak, dia melambaikan tangan ke depan sambil menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak, tidak perlu, Senior ...."
Setelah mendapatkan peringatan keras dan sangat jelas dari Senior Lan Xihe, dia melakukan pemeriksaan secara menyeluruh kepada dua murid yang ada di sana. Dia tidak menemukan adanya keanehan apapun terhadap tubuh Wang Jia Li, namun saat dia memeriksa Yan Xu ....
"Uhuk! Uhuk!" Yan Xu yang sudah menyakiti organ dalamnya sendiri dan masih memelihara dampak api hitam Tetua Fan Jiaodao batuk darah beberapa kali.
Dari waktu ke waktu, batuknya meningkat bersamaan dengan darah yang keluar menjadi hitam. Darah itu menyembur keluar hingga mengotori jubah peri abadi serba putih Lan Xihe. Melihat keadaan muridnya, Lan Xihe mengerutkan kening dan kedua alisnya hampir menyatu.
Melihat ekspresi wajah Lan Xihe, ekspresi Su Weiyan dan Su Yueyin menjadi tegas. Mereka tidak bisa menganggap remeh masalah ini. Kalau tidak, setidaknya setengah dari Sekte Abadi Luo akan hancur dalam beberapa hari.
Su Yueyin bergegas maju ke arah Yan Xu sambil berkata, "Biarkan aku memeriksa tubuhnya!"
Dia menjulurkan jari rampingnya ke tangan Yan Xu. Saat kulit mereka bertemu, Yan Xu semakin banyak mengeluarkan darah bahkan dia memiliki ekspresi wajah lebih kesakitan dengan keringat bercucuran deras. Su Yueyin segera menarik jari rampingnya kembali, sebelum sempat memeriksa tubuh Yan Xu.
__ADS_1
Su Yueyin menepuk jidatnya sambil berkata, "Aiya! Aku lupa kalau anak ini memiliki penyakit iblis mental! Ba-bagaimana ini?" Su Yueyin melemparkan tatapan meminta tolong kepada kakak senior keempatnya.
Su Weiyan menggelengkan kepalanya, kemudian bergegas maju untuk memeriksa Yan Xu. Namun, ketika datang gilirannya untuk menyentuh kulit Yan Xu ....
"Uhuk! Uhuk! Huuek!" Yan Xu batuk lebih keras hingga memuntahkan seteguk darah!
Lan Xihe semakin terlihat marah dan menarik tubuh Yan Xu ke dekapannya, menjauhi yang lainnya. Di sisi lain, Yan Xu semakin menikmati jalannya situasi menarik, seperti menonton sebuah film sinetron dengan kesadaran ilahinya.
Dia benar-benar melupakan rasa sakit karena nikmatnya bermain sandiwara sambil melihat pihak lain semakin ketakutan akan amarah gurunya. Seperti yang dia pikirkan, Guru benar-benar senjata terkuat untuk merobek seluruh tulang tua di dalam Sekte Abadi Luo!
"Mundur!" teriak Lan Xihe, membuat dua lainnya segera memberikan jarak sejauh lima kaki dari mereka.
Su Weiyan terlihat gugup. Dia segera menangkupkan kedua tangannya dan berkata, "Se-senior, itu bukan kesalahan Junior! Junior tidak melakukan apa-apa — ...."
"Diam!" Lan Xihe membentaknya dengan keras hingga dia terpental beberapa meter ke belakang.
Su Weiyan menekan titik dantiannya untuk menghentikan luka dalam karena bentakan keras dari Lan Xihe. Dengan ekspresi serius, dia segera berlutut di hadapan Lan Xihe dengan kedua kakinya.
"Junior tidak tahu! Mohon Senior memaafkan ketidaktahuan junior ini! Junior akan memberikan kompensasi sebisanya atas luka yang diderita murid tertua Senior!" Su Weiyan menundukkan kepalanya, terlihat sangat menyesal.
Berlawanan dari yang dia harapkan, ekspresi wajah Lan Xihe semakin berkedut. Mata merahnya semakin gelap, pupilnya melebar karena amarah yang memuncak.
'Apa aku salah bicara lagi?! Aiya! Seharusnya aku tidak pernah membuka mulut pembawa sial ini jika di depan Senior Xihe!' keluh Su Weiyan di relung hati terdalamnya.
"Sebisamu? Apa kamu mau bermain trik denganku?!— Ptooey! Saat kamu belum berada di rahim ibumu, aku sudah banyak bermain jutaan trik saat hidup di dunia ini!"
__ADS_1
"La-lalu ... bagaimana Junior harus bersikap, Senior?!" Pikiran Su Weiyan benar-benar kacau, dia masih ketakutan akan dipukuli oleh Lan Xihe.
"Apa kamu tahu apa yang Su Yinfeng pikirkan saat mengirimmu kemari?" tanya Lan Xihe sambil mengalirkan energi qi putihnya ke tubuh Yan Xu seolah-olah sedang mengobatinya, padahal itu cuma efek proyeksi semata.
Su Weiyan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menyesal kemudian berkata, "Junior tidak tahu."
Lagipula menurut Su Weiyan, gurunya pasti memilihnya karena dari semua murid yang bisa berpikiran jernih saat menghadapi pemukulan tak bermoral Lan Xihe itu cuma dia. Dia adalah seorang oportunis, melihat situasi sebelum bergerak, mengambil keputusan dengan mempertimbangkan untung dan rugi.
Pada saat awalan pertemuan mereka di Hutan Kekacauan, keputusan Lan Xihe masih bisa diprediksi. Namun, setelah bertemu muridnya, tiba-tiba arah mata angin berubah drastis dan berhembus lebih kencang sehingga menyebabkan teknik deduksi Su Weiyan terombang-ambing tanpa arah.
Dalam artian lain, dia tidak bisa lagi memprediksi bagaimana tindakan yang akan dilakukan oleh Lan Xihe!
Lan Xihe memijat keningnya, mendengus beberapa kali dan mata merahnya sudah kehilangan cahayanya.
Dia mendecakkan lidahnya beberapa kali kemudian berkata, "Kamu selalu bisa berpikiran secara rasional dalam situasi apapun, jadi kamu seharusnya bisa menebak dimana letak salahmu."
Lan Xihe menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan ekspresi dingin dan berkata, "Namun, apa yang kamu lakukan sekarang? Bukan hanya semakin menyakiti organ dalam murid tertuaku, kamu juga sudah dua kali ingin bermain trik denganku!"
Dia mengumpulkan energi qi putih di seluruh tubuhnya, membentuk aura dengan niat membunuh yang sangat pekat. Mata merahnya menyala, ekspresi datarnya menunjukkan takkan ada lagi belas kasihan.
Bibir merah muda kecilnya kembali berucap dengan suara yang lebih dingin tanpa emosi, "Aku memberikanmu kesempatan sekali lagi untuk mengoreksi perilaku kurang ajar mu. Asal kamu tahu, aku tidak pernah memberikan kesempatan lain setelah tiga kali, termasuk untuk murid ku sendiri."
Yan Xu yang mendengarkan tahu bahwa gurunya juga sedang memperingatkan dia, namun dia tidak peduli. Lagipula dia selalu berbakti kepada gurunya, memberikan yang terbaik untuk Puncak Angin mereka, begitulah pikirnya.
Sementara itu, Su Weiyan yang sudah mendapatkan peringatan ketiga berpikir keras. Dia mengingat apa saja yang sudah dia katakan juga lakukan dari sebelum hingga sampai di sini. Dari relung hatinya, dia tidak pernah merasakan adanya kesalahan sama sekali.
__ADS_1
Namun, pihak lain berkata lain. Bahkan, dia juga sudah membuat kesalahan itu sampai dua kali. Jika kali ini dia tidak bisa menemukan letak kesalahannya, sudah pasti amarah dari pihak lain akan memukulinya hingga menjadi bubur tua.
'Apa yang sudah kukatakan sebanyak dua kali sehingga membuat Senior Xihe marah? ...'