Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Harga Kecil Yang Harus Dibayar Kakak Senior


__ADS_3

"A-apakah Kakak Senior berpikir kalau aku akan mengatakan itu kepada orang lain selain kamu?" tanya Miao'er dengan tergesa-gesa.


'Apa yang dimaksud anak yang satu ini?' Yan Xu mengangkat salah satu alisnya, bingung dengan pertanyaan aneh adik juniornya.


Setelah beberapa saat memikirkannya, Yan Xu mendapatkan sedikit pencerahan akan apa yang diucapkan oleh Miao'er sebelumnya.


'Apakah Miao'er pikir aku sedang memberikan isyarat kepadanya agar dia tidak mengatakan itu kepada orang lain selain kepadaku!? Terus, dia ingin memastikannya, begitu kan?!'


Satu ....


Dua ....


Tiga ....


Mendapatkan pemahaman tentang situasi sekarang, Yan Xu segera membuka mulutnya.


"Kalau bisa, jangan katakan itu kepada orang lain selain kepadaku."


'—Jika kamu mengatakannya kepada orang lain, mereka akan segera membunuhmu!' Yan Xu menelan lanjutan kalimat itu untuk dirinya sendiri.


Mendengar itu, membuat wajah sepolos susu Miao'er memerah.


Dia menggesekkan jari-jarinya sambil menunduk, "Te-tentu, jika i-itu yang Kakak Senior inginkan .... Miao'er akan dengan senang hati menurut ...."


Yan Xu mengangguk senang dengan jawaban itu, tapi dia merasa ada sesuatu yang salah dengan interpretasi dari sudut pandang pihak lain.


Dia hanya memperingatkan Miao'er karena itu akan membawanya ke dalam bahaya, tidak ada maksud lain dari kalimat itu.


Hanya saja, di sisi lain— ....


'Kakak Senior tidak ingin aku khawatir dengan orang lain selain dia!? A-apa dia ingin mengatakan secara tidak langsung kalau ia ingin mendominasikan rasa khawatirku hanya untuknya!? Eh? Bukankah itu berarti ... Kakak Senior benar-benar peduli bagaimana aku memperlakukan orang lain selain dia!?'


Semakin Miao'er memikirkannya, jantungnya semakin berdegup kencang.


'Tidak mungkin kan!?'


Dia tidak tahu kenapa, tapi wajahnya mulai terasa panas dan memerah secerah tomat.


Bahkan, jika pemikirannya ada sedikit salah, tetap saja kalimat dari Yan Xu benar-benar menunjukkan sikap kepedulian terhadapnya.


Mulut kecil Miao'er sedikit terangkat, "Terima kasih, Kakak Senior."


Dia tidak tahu mengapa ucapan terima kasih itu keluar walau dengan suara rendah. Namun, apa yang sudah keluar tidak dapat ditarik kembali ke dalam mulutnya.


Yan Xu tidak tahu kenapa dia berterimakasih, tapi dia segera menjawab sebagai tanda kesopanannya, "Sama-sama, itu sudah seharusnya karena termasuk kewajiban bagiku."


Miao'er tidak bisa menahan wajahnya yang semakin memerah ketika dia mendengar kata-kata ini.


Dia dengan jelas mendengar bahwa Yan Xu mengatakan itu adalah kewajiban baginya, membuat fantasi liar Miao'er semakin terbang jauh ke atas alam semesta yang tiada akhir.

__ADS_1


Melihat wajah Miao'er yang memerah, Yan Xu segera meletakkan tangannya ke dahi Miao'er, "Adik Junior, apakah kamu sedang sakit?"


Merasakan sentuhan lembut tangan Yan Xu membuat Miao'er kembali ke dunia nyata, "E-eh!? Te-tentu saja tidak! Ini ... — ah! Ya, aku sedang kepanasan! Ahahaha ...."


'Kepanasan? Bukankah energi qi membantumu untuk mengatur suhu tubuh?' Yan Xu merenung sedikit atas ucapan adik juniornya, matanya menunjukkan sedikit kebingungan juga ketertarikan aneh.


Ada yang aneh dan dia menjadi bingung sendiri dibuatnya.


...


Tok tok tok


Namun, itu tidak berlangsung lama karena sebuah ketukan membuat dia harus segera membuang pemikirannya.


"Lelu— Tuan Pertama, apakah Anda sedang sibuk?"


Mendengar panggilan dari luar, membuat Miao'er segera berdiri, ingin keluar melalui jendela ruangan yang ada di dekatnya.


Langkahnya berhenti karena Yan Xu menarik lengannya dengan lembut mengisyaratkan bahwa dia tidak perlu pergi.


Dia menuruti perintah Yan Xu karena ia juga penasaran ada urusan apa seorang anggota baru Puncak Angin menemui kakak seniornya.


"Tidak, silakan masuk."


Yan Xu mempersilakan orang itu masuk ke ruangannya dengan nada yang berwibawa.


Pintu terbuka dengan lembut dan orang yang ada di baliknya adalah Jiang Nalan.


"Salam, Nona Keempat."


Jiang Nalan dengan sopan memberikan salam hormat kepada Yan Xu dan Miao'er dengan gerakan yang anggun.


Mereka hanya mengangguk sebagai tanggapan, kemudian Yan Xu langsung bicara.


"Ada urusan apa kamu datang kemari, Lan'er?"


"Ini tentang keluarga Jiang ... apakah Tuan Pertama mendapatkan kabar dari ayahku? Aku merasa khawatir karena dia tidak pernah sama sekali mengirimiku surat, sementara keuntungan dari keluarga Jiang selalu masuk ke buku besar administrasi puncak."


"Oh, itu. Dia mungkin sedang sibuk, jadi tidak bisa mengirimkan surat untukmu. Bukankah dengan pemasukan dari keluarga Jiang, itu berarti dia sudah mengirimkan pesannya kepadamu?" balas Yan Xu dengan suara lembutnya.


"Pesan? Kepadaku?" Jiang Nalan memiringkan kepalanya, tidak mengerti.


Yan Xu mengangguk dan berkata, "Ya, itu artinya keluarga Jiang juga dia masih baik-baik saja dan terus menendang kesana-kemari!" dia mengangkat kepalannya ke atas.


"Begitu, aku harap tidak ada yang terjadi dengan mereka setelah kepergian kami ..."


Jiang Nalan yang sudah mengerti apa maksud Yan Xu, masih merasa belum terbiasa dengan kondisinya saat ini. Dia selalu bersama ayahnya semenjak kecil, jadi wajar saja masih ada rasa keterikatan akan orangtuanya— begitulah yang ada di benak Yan Xu.


Yan Xu yang menyadari bagaimana perasaan Jiang Nalan tidak dapat memaksanya untuk melepaskan keterikatan tersebut.

__ADS_1


Sebelumnya, dia juga beberapa kali mengkonsultasikannya dengan Yan Xu. Jadi, mereka membuat keputusan untuk mengikuti naskah yang ada untuk memberikan sugesti kepada Jiang Nalan agar dia bisa sedikit demi sedikit melepaskan keterikatannya.


Cara itu perlahan memang berhasil, hanya saja Yan Xu masih merasa kalau apa yang mereka lakukan bukanlah cara yang tepat. Namun, saat-saat seperti ini masih belum tepat untuk melakukan metode lain.


Jadi, mereka— dia dan Jiang Nalan masih memainkan permainan peran ini sambil berdiskusi saat kondisi mental Jiang Nalan menjadi normal.


Yan Xu memberikan senyuman hangat kepada Jiang Nalan, "Tenang saja, mereka bukanlah orang yang akan melakukan kesalahan dalam bertindak."


Mendengar ucapan Yan Xu, ekspresi khawatir Jiang Nalan menjadi terhapus, "Ya, Tuan Pertama benar. Aku cuma mengkhawatirkan hal-hal yang tidak perlu!"


Setelah mengatakan itu, dia segera keluar dengan wajah bahagia.


...


Miao'er melirik ke arah Yan Xu, "Kakak Senior, aku rasa dia tidak memerlukan sugesti diri seperti itu."


"Benarkah?"


"Ya, Miao'er merasa ....—"


'—Sugesti diri milik rubah licik itu cuma alasan. Dia pasti sengaja agar bisa mencampuri keseharian Kakak Senior!' Miao'er hanya menelan kalimat itu untuk dirinya sendiri.


"Apa itu?" tanya Yan Xu sedikit tertarik.


"Bu-bukan apa-apa! Hanya saja Miao'er berpikir kalau dia harus lebih menguatkan mentalitasnya secara mandiri."


Yan Xu mengangguk setuju, "Ya, ucapanmu ada benarnya. Akan tetapi, Jiang Nalan tidaklah sekuat kamu."


"Kakak Senior, bukankah kamu menilai ku terlalu tinggi!?— Y-yah, bukannya Miao'er akan meragukan penilaian Kakak Senior ...—!"


Ye Miao'er sekali lagi, merasa bahwa dia akan berfantasi liar dan segera menghentikan pemikiran itu.


Sebelum keadaan mereka jadi lebih tidak menguntungkan bagi jantungnya, Miao'er segera pamit.


"Sepertinya sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Miao'er akan pamit terlebih dahulu."


Tanpa menunggu balasan dari Yan Xu, Ye Miao'er segera melangkah keluar.


Melihat kepergian Miao'er, Yan Xu menggelengkan kepalanya.


"Hubungan manusia itu saling memberi. Jika itu yang bisa aku berikan, tidak apa karena harga itu sebenarnya jauh lebih kecil dibandingkan dedikasi hidup dan bakat mereka."


Yan Xu kembali menikmati kesendiriannya, tidak lagi mengatakan apa-apa dan hanya memandangi sisi lain dari jendela ruangan.


Sebenarnya, Yan Xu tahu kalau Jiang Nalan bukanlah orang yang memiliki mentalitas lemah seperti yang dikatakan Miao'er. Dia telah melihat sifat asli dari anak itu semenjak pertemuan pertama mereka.


Namun, dia tidak bisa menolak permintaan kecil tersebut karena mereka sudah memberikan nyawa hingga dedikasi tinggi kepada Puncak Angin.


Perlakuan kecil yang ia lakukan, hanyalah harga kecil dari apa yang seharusnya dia bayar atas nyawa-nyawa garis keturunan langsung keluarga Jiang yang berbakat.

__ADS_1


'Aku bukanlah orang yang adil, jadi membayar mereka dengan perlakuan kecil bukanlah masalah besar.'


__ADS_2