
"Adik Bungsu!"
"Ughhfff!— Ka-kakak Ketiga, a-aku ... kesuli-tan ... ber ... na ... pas—uhuk!"
Su Lixuan yang telah mencapai ruang tamu segera berlari dan memeluk Su Yueyin dengan sangat erat, membuat adik bungsunya itu kesulitan bernapas.
"—Aiya!"
Menyadari Su Yueyin yang hampir pingsan gara-gara pelukannya yang terlalu kuat, Su Lixuan segera melepaskan putrinya dan duduk di sebelah sambil meminta maaf.
"Ma-maaf, Adik Kesembilan! Aku terlalu bersemangat!"
"Uhuk! Uhuk— Sudahlah, lupakan saja. Bagaimana kabarmu, Kakak Ketiga? Aku dengar kalian sudah mencapai perkembangan yang sangat besar," ucap Su Yueyin sambil tersenyum lembut dengan ekspresi dingin khas, melupakan rasa sesak napas sebelumnya.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Su Lixuan memerah dan dia mengalihkan pandangannya sejenak kemudian menjawab dengan malu-malu, "Y-yah ... itu ... memang sangat manjur. Aku dengar, resep itu adalah racikan dari murid yang sudah menjebaknya. Apakah itu memang benar-benar dia yang membuat ramuan tersebut?"
Su Lixuan yang tidak ingin membahas topik itu segera menyalurkannya ke arah Yan Xu agar. Sejujurnya, dia masih tidak percaya kalau seseorang yang bisa membuat racikan itu hanyalah murid di suatu puncak.
Walaupun dia tahu bahwa Yan Xu berasal dari Puncak Angin, tetap saja itu masih dipertanyakan bagaimana anak nakal itu menemukan sebuah resep ramuan tersebut.
Menyadari kakak ketiganya sedang mengalihkan topik, Su Yueyin mengerutkan keningnya sedikit dan masih belum disadari oleh lawan bicara. Dikarenakan belakangan ini dia sering menggunakan otaknya saat berbicara, Su Yueyin dapat melihat dengan jelas tujuan dibalik pembicara yang berada di depannya.
Keahlian tersebut seperti yang telah diketahui oleh Su Yinfeng dan Lan Xihe, merupakan bakat deduksi tersembunyi dari Su Yueyin ketika menggunakan otaknya untuk berpikir.
Berbeda dari dirinya yang dulu, sering kali ceplas-ceplos tanpa berpikir karena emosinya yang tidak ditekan akibat jalur kultivasi, tidak seperti sekarang yang berekspresi dingin.
Dengan pertimbangan yang matang, Su Yueyin memutuskan untuk ikut bermain, "Ya, bisa dibilang kalau dia mengembangkan bukan membuatnya. Aku dengar, dia memiliki sebuah buku resep berbagai macam jenis ramuan, namun dia tidak selalu mengikuti apa saja yang tertulis dan mencoba dengan caranya sendiri."
__ADS_1
Su Lixuan mengangguk beberapa kali sambil memejamkan matanya seolah-olah sedang berpikir, "Hmm ... pria ini benar-benar memiliki potensi."
"Ya, setidaknya melebihi seseorang yang sedang tidak ada di sini," balas Su Yueyin dengan nada menyindir.
Su Lixuan menutupi mulutnya sambil tertawa cekikikan dan berkata, "Fufufu~ kalau pria tua itu mendengarnya, aku tidak akan membantu kamu lho~"
"Biarkan saja karena itu memang fakta. Dia sudah menjatuhkan wajahnya ke tanah ketika dengan tidak tahu malunya meminta sesuatu dari seorang junior."
Su Yueyin menghela napas sambil tertunduk kesal karena dia masih merasakan perasaan malu. Itu terjadi ketika dia melihat Su Weiyan mencoba untuk mencari keuntungan dari Yan Xu ketika insiden benua selatan berakhir.
Tidak menyembunyikan kekesalannya, Su Yueyin menambahkan, "Jika saat itu aku bisa bertindak, mungkin sudah ku tendang pantat pria tua tak tahu malu itu."
Su Lixuan tercengang dengan pemikiran adik bungsunya yang benar-benar tidak terduga.
'Terlalu galak! Putri kecil kami berubah menjadi wanita dewasa yang terlalu galak!' terik Su Lixuan di dalam hatinya.
Itu berarti, dia tidak akan membela maupun membenarkan siapa saja di antara mereka berdua, biarkan saja ayah dan anaknya menyelesaikan urusan masing-masing.
Pokoknya dia tidak ingin ikut campur walau terjadi pertikaian darah segar di antara mereka, meskipun ia sangat yakin itu tidak mungkin terjadi mengingat seberapa dekat hubungan yang mereka miliki.
Namun, jauh di kesadaran Su Lixuan, dia merasa kalau Su Yueyin akan bertindak terlalu jauh apabila menyangkut pria itu. Jika dia tidak diberi setidaknya pemahaman tentang hubungan antara manusia, Su Lixuan takut bahwa putri kecil mereka menyalahkan arti dari hubungan tersebut dan bertindak tidak sesuai dengan moral manusia.
Yang mereka bicarakan di sini, merupakan pria yang bisa menjerumuskan orang lain karena mereka berani menghitungnya dalam perhitungan antar penyelesaian masalah yang ada. Masih banyak terdapat bagian yang hilang dari bagaimana seharusnya sifat asli pria itu.
Menanggapi bagaimana kekesalan putri kecilnya, Su Lixuan tertawa canggung dan berkata, "Ya ... aku harap Adik dapat memakluminya. Kamu juga tahu sendiri kan, bagaimana kakak keempatmu itu terobsesi dengan hal tersebut? Oh ya! Kamu bilang dia tahu dari sebuah buku resep, apakah— ...."
"Tidak, apapun dari perpustakaan milik Kepala Puncak hanya diperuntukkan bagi mereka yang mendapat izin. Bahkan, anggota puncak lainnya hanya mendapatkan ilmu dari setiap ajaran harian yang dijadwalkan secara bergiliran oleh para murid langsung Kepala Puncak."
__ADS_1
Sebelum Su Lixuan selesai bicara, Su Yueyin segera menolak permintaannya. Dia tahu kalau Su Lixuan ingin meminjam buku kumpulan resep tersebut untuk mempelajarinya. Namun, sebagai tetua dari Puncak Angin, sudah semestinya dia akan menolak hal tersebut karena berada di luar otoritasnya.
Meskipun dia sudah mendapatkan posisi tetua sementara di Puncak Angin, hierarki di Puncak angin memiliki tiga orang yang berada di puncaknya. Ketiga orang itu adalah mereka yang merupakan anggota pertama yaitu, Lan Xihe sebagai kepala puncak, Yan Xu sebagai murid pertama dan terakhir ialah Ye Miao'er sebagai leluhur kecil tak terkalahkan Puncak Angin.
Ketiga orang itu merupakan puncak hierarki berada di atas para tetua yang kedudukannya setara dengan murid langsung kepala puncak lainnya, kecuali Yan Xu dan Ye Miao'er. Mengingat aturan hierarki tersebut, sudah jelas di benak seluruh anggota Puncak Angin bahwa mereka bertiga memegang banyak kendali atas urusan puncak.
Namun, sudah menjadi rahasia umum bahwa orang yang paling banyak berjasa untuk Puncak Angin adalah murid pertama. Dia telah membawa banyak perubahan juga keuntungan untuk Puncak Angin yang bahkan tidak sedikitpun terpikirkan oleh Kepala Puncak saat itu.
Mengingat hal tersebut, Su Yueyin hanya bisa menerima kenyataan bahwa dia juga tidak bisa berbuat banyak sebelum mendapatkan izin dari ketiga orang tersebut. Bukannya dia merasa kasihan, dia juga terlalu malas berurusan untuk meminjam sebuah barang yang dinilainya berharga di Puncak Angin kepada orang luar, termasuk saudara-saudari seperguruan maupun gurunya sendiri.
Mendapatkan penolakan tegas, Su Lixuan tidak merasa kecewa karena dia sudah menduga hal tersebut mustahil. Siapa juga yang akan memberikan barang berharga di puncaknya secara cuma-cuma kepada orang luar, begitulah pikirnya. Dia masih memaklumi karena posisi Su Yueyin juga sebagai tetua walaupun itu hanya sementara untuk saat ini.
Su Lixuan hanya mengangkat bahu dengan santai sambil berkata, "Sudah kuduga kamu pasti akan menolaknya~"
"Kalau sudah tahu, kenapa tanya?" balas Su Yueyin datar.
"P.e.n.a.s.a.r.a.n, ehe!~" Su Lixuan dengan centil mengedipkan salah satu kelopak mata indahnya sambil menjulurkan lidah.
......................
Mohon maaf atas keterlambatan updatenya. Beberapa hari ini kondisi kesehatan saya agak buruk dan mengharuskan saya untuk tidur supaya tidak merasa kesakitan.
Untungnya hari ini kondisi saya sudah membaik dan sudah tidak kesakitan lagi.
Kepada seluruh pembaca, tolong jaga kesehatan selalu karena sehat itu mendatangkan kebahagiaan tersendiri bagi tiap orang, apalagi termasuk saya yang penyakitan, ahahaha ....
Terima kasih banyak sudah mengikuti hingga saat ini!
__ADS_1