Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Kebenaran Klan Situ - 2


__ADS_3

Ingatan Xia'er berhenti sampai di situ dan dia kembali pada kesadarannya.


Dia melihat pria tampan yang seharusnya selalu berwajah datar itu tersenyum tulus. Orang yang menanggung beban karma balas dendam klan Situ yang seharusnya tidak ia dapatkan. Pria yang selalu menolong Xia'er ketika dia sudah di penghujung batasannya dan lelah akan perjuangan demi kedamaian ras iblis.


Pria itu, tidak lain adalah Yan Xu yang saat ini jauh lebih lemah daripada kondisi primanya— menurut Xia'er.


Yan Xu memegang tangan ramping Xia'er lalu berkata, "Aku yang membunuh mereka, bukan kamu. Jadi, wajar saja karma balas dendam klan Situ akan mengarah kepadaku."


"Apa maksud ... mu?" kelopak mata indah Xia'er terbuka lebar, tidak percaya dia masih berbohong namun di lain sisi, ia merasa kalau Yan Xu juga mengatakan kebenaran padanya.


Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Apakah ada perbedaan antara ingatan Xia'er yang setengah sadar dengan kejadian sebenarnya?


Apa yang disembunyikan oleh pria tampan yang ada di sebelahnya?


Xia'er bertanya di dalam benaknya, namun tidak ada satupun jawaban yang dapat keluar. Seberapa keras dia memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada masa itu, dia tetap tidak dapat mengingat detil yang seharusnya.


Ketika dia berusaha keras mengingat kejadian yang sebenarnya, ada sesuatu yang menahan ingatan Xia'er bagai sebuah tembok penghalang. Berapa kali dia mencoba untuk menghancurkan tembok itu, tetapi tembok tersebut masih kokoh seperti baja. Ada yang salah dengan ingatannya, tak peduli seberapa keras ia mencoba sebisa mungkin untuk memunculkan kenangan yang sebenarnya.


Tangan ramping Xia'er masih bergetar, derai air mata keluar dari kedua mata indahnya yang menatap Yan Xu seolah-olah berkata bahwa ia tidak adil.


Pada titik ini, sudah terlambat bagi Yan Xu untuk melakukan sebuah kebohongan maupun menambah cerita karena dia memang tidak berniat melakukan itu sejak awal. Niat Yan Xu sebenarnya adalah membiarkan Xia'er menghadapi salah satu trauma yang ingin dia lupakan dengan memasang tembok kokoh pada ingatannya sendiri.


Sebelum itu, dia akan memberikan Xia'er peringatan agar pihak lain dapat mempersiapkan diri.


"Aku akan mengatakan kejadian yang sebenarnya, jadi kuatkan dirimu, Xia'er," ucap Yan Xu lalu tiba-tiba menarik Xia'er ke dalam pelukannya.


Dia tidak ingin melihat wajah peri tanpa cacat bagai porselen itu hancur cuma karena trauma masa lalunya. Jauh di lubuk hati Yan Xu, gadis seperti Xia'er tidak seharusnya merasa bersalah karena dari sudut pandang orang ketiga, itu merupakan kesalahan orang lain dan Xia'er hanya tidak sengaja terseret.


"Kejadian yang sebenarnya adalah kamu dengan sekuat tenaga melindungi gadis kecil yang menyelematkan mu. Saat itu, mereka ingin menumbalkan dia sebagai tanda kepercayaan dari klan Situ kepada dewa yang mereka sembah. Mengetahui rencana itu, kamu dengan sekuat tenaga melindungi gadis kecil tersebut dan bertarung dengan seluruh anggota klan Situ yang telah kehilangan kewarasan mereka."


Suara kecil yang tertekan datang dari Xia'er yang masih berada di dekapan Yan Xu, "Terus, kenapa gadis kecil itu tidak kehilangan kewarasan nya?"


"Karena kamu menyerap esensi dewa yang tertanam di dalam tubuh gadis kecil itu hingga tak bersisa dan menjadikannya sebagai penawar racun. Kamu tahu sendiri bukan, melawan racun dengan racun yang lebih kuat juga dapat menyembuhkan penderita. Oleh karena itu dia tidak kehilangan kewarasan dan berteriak minta tolong kepada siapapun, berharap ada yang masih memiliki kewarasan untuk menolong kamu yang sudah kewalahan walau masih setengah sadar demi melindungi dia."


Cengkeraman tangan ramping Xia'er mencapai jubah abadi Yan Xu dan semakin erat.


"Terus, apa yang terjadi selanjutnya?"

__ADS_1


Ada jeda sejenak, lalu Yan Xu melanjutkan, "Kamu gagal melindungi dia. Dia telah mati di tangan kedua orang tuanya sendiri yang berhasil melewati penjagaan mu, saat kamu lengah dan sudah terlalu lelah untuk bergerak lebih banyak."


"Terus?" tubuh Xia'er bergidik, menandakan dia terguncang.


"Aku datang dan membunuh mereka semua tanpa ampun. Namun, sebuah keajaiban terjadi tepat setelah kamu pingsan."


Yan Xu menghela napas kecil lalu mendongakkan wajah mungil Xia'er untuk menatap wajahnya.


Xia'er walaupun enggan, terpaksa menatap langsung ke wajah Yan Xu yang akan memberitahukan bagian terpenting dari kelanjutan tragedi yang merupakan salah satu trauma mendalam baginya.


Melihat tekad Xia'er yang tak tergoyahkan demi mengetahui kebenaran dari tragedi klan Situ, Yan Xu merasa bangga pada peri itu. Memang begitulah Xia'er yang dia kenal walaupun mereka seharusnya baru saja bertemu di dunia Xuanyuan.


"Tubuh gadis itu tercipta kembali dari kabut ungu, lalu dia berubah menjadi seperti manusia. Namun, ada batasan yang tidak boleh ia langgar sebagai penyalah aturan dari mereka yang menipu kematian."


Yan Xu mendekatkan mulutnya ke telinga Xia'er dan berbisik, "Dia tidak boleh mengingat alasan sebenarnya bahwa dirinya adalah seorang Jiangshi dan mengapa insiden klan Situ bisa terjadi."


Plak!


Xia'er yang tiba-tiba melepaskan diri dari pelukan Yan Xu, segera menampar wajah tampan itu tanpa menggunakan energi qi sedikitpun. Tamparan itu meninggalkan memar pada wajah Yan Xu maupun telapak tangannya sendiri.


Genggaman tangan ramping Xia'er menguat hingga bergetar karena marah.


Berdasarkan cerita Yan Xu, dia dapat menebak ada harga yang harus dibayar oleh pria itu demi menipu kematian dan menghindari hukum dunia mereka.


Yan Xu yang baru saja ditampar masih tersenyum dan menggelengkan kepalanya perlahan.


"Aku tidak membayar harga apapun," jawabnya dengan lembut.


"Bohong! Kalau kamu terus berbohong, aku tidak akan mempercayaimu lagi!" teriak Xia'er penuh emosi.


"Aku tidak berbohong, itulah kebenarannya. Pembayaran itu dilakukan oleh jiwa para anggota klan Situ dengan kemauan mereka sendiri. Mereka rela tidak bereinkarnasi untuk ditukarkan dengan kehidupan Qiqi, atas rasa bersalah dan petaka yang mereka bawa pada klan Situ sendiri."


"Itu berarti!"


"Aku memang membunuh mereka yang sudah kehilangan kewarasan, namun setelah itu jiwa mereka yang tidak terpengaruh oleh kekuatan dewa yang mereka sembah sempat berbicara denganku untuk sementara waktu. Kemudian, hasilnya seperti yang aku katakan barusan, jadi kamu tidak perlu khawatir selama Qiqi berada di dalam lingkup pengawasan yang tepat."


Menundukkan kepalanya, Xia'er dengan rasa bersalah karena mengambil tindakan yang kasar meminta maaf kepada Yan Xu atas kesalahannya.

__ADS_1


"Maaf."


Yan Xu memperbaiki postur tubuh Xia'er lalu berkata, "Tidak perlu. Seharusnya, aku yang minta maaf karena merahasiakan hal sepenting ini darimu."


"Apa kamu punya alasan untuk itu?" tanya Xia'er.


Alasan, sebenarnya Yan Xu sendiri tidak tahu apa yang pemilik lama tubuh ini pikirkan. Dia hanya bisa melihat ingatan, tapi tidak dengan apa yang dipikirkan maupun dirasakan oleh pemilik tubuh lama. Kalau ada yang bisa dia katakan, ia hanya mengatakan dengan jujur menurut pandangannya saat ini.


"Tidak ada— aiya! Kamu! Apa-apaan itu dengan menginjak kaki ku?!"


Xia'er menginjak kaki Yan Xu hingga pria biadab itu kesakitan.


"Sama, tidak ada juga— hmph!"


Xia'er mengalihkan pandanganya dari Yan Xu, demi menyembunyikan wajahnya yang memerah.


Penjelasan apalagi yang dia butuhkan pada tindakan Yan Xu yang sengaja menyembunyikan fakta itu darinya?


Tentu saja, tidak ada. Dia paham betul akan tindakan Yan Xu yang sengaja menyembunyikan fakta tersebut, demi melindungi Qiqi yang tertidur dan baru saja terbangun dari tidur panjangnya. Selain itu, Xia'er menyadari bahwa Yan Xu saat itu juga telah mengatur ingatan Qiqi agar dia lupa akan siapa dan darimana asalnya agar eksistensi gadis itu tidak akan menghilang dari dunia.


Perasaan syukur yang Xia'er lihat sesaat sebelum mereka pergi merupakan kejujuran dari Yan Xu. Dia bisa mengerti setelah melihat bagaimana Qiqi tumbuh dan menjalani hidupnya walaupun harus berbaur dengan manusia sekunder, jauh dari dunia kultivasi yang menyimpan rahasia siapa dirinya yang sebenarnya. Menurut Xia'er, Qiqi dapat hidup dan memiliki tingkat kultivasi juga kemampuan yang menjanjikan juga merupakan suatu berkah bagi gadis itu.


Terlebih lagi, sekarang dia juga sudah tidak terlalu peduli karena kejadian itu sudah lama. Hanya saja, rasa bersalah yang menghantui Xia'er kini telah hilang dan dia dapat meyakinkan diri untuk berinteraksi secara normal terhadap Qiqi di kemudian hari.


"Aku juga akan bertanggung jawab," ucap Xia'er.


"Hm?" Yan Xu tidak mengerti dan memiringkan kepalanya.


Xia'er berlari dan melompat sambil bertumpu pada pundak lebar Yan Xu hingga mulut kecilnya yang manis mendekati telinga pria itu.


"Pokoknya, aku juga akan bertanggung jawab atas anak didik pertama kita."


Dengan kata lain, Qiqi bukan hanya diterima sebagai murid langsung dari Tuan Pertama Puncak Angin, melainkan dia juga akan diterima sebagai seorang murid dari Wakil Kepala Puncak Angin!


Tidak ingin berdebat, Yan Xu hanya tersenyum dan berbisik balik, "Kalau begitu, mohon kerjasamanya, Wakil Kepala Xia."


"Tentu saja, Tuan Pertama!" jawab Xia'er dengan senyum lebar yang menghangatkan di wajahnya.

__ADS_1


Angin segar berembus di antara keduanya, mengalirkan perasaan hangat yang saling percaya dan bergantung satu sama lain.


__ADS_2