Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Rencana Lawan Menjebak Bibi Yueyin Dimulai


__ADS_3

"Aura dari pengejar satu murid yang memisahkan diri sudah menghilang, begitu juga dengan targetnya. Jujur, ini membuatku resah ...."


Jauh di dalam hutan lebat dan gelap, di lembah misterius, beberapa sosok hitam bersembunyi di semak-semak. Mereka sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu.


"Ptooey! Kemungkinan bahwa orang itu mengambil harta setelah membunuh target lalu membawanya kabur sangat tinggi! Dunia gelap ini benar-benar tidak ada yang bisa dipercaya selain bawahan sendiri. Ptooey! Aku merasa muak dengannya namun aturan organisasi tidak memperbolehkan kita untuk saling membunuh, ah! Membuatku kesal, ck!" maki salah satu pria dari mereka.


"Apakah teknik pengganti tubuhmu sudah siap?" tanya salah satu anggota dengan suara ringan lainnya.


"Sebentar lagi, tinggal menyesuaikan kondisi jiwaku ...." jawab seorang wanita bertudung yang sedang fokus bermeditasi dengan setengah wajah tertutup kain topi kerucut sampai di garis bawah matanya.


"Bagus! Walau ada perubahan terhadap situasi kita saat ini, itu seharusnya bukan masalah besar!" ucap salah satu pria dengan nada beratnya. "Kirim pesan kepada tu—tidak, maksudku nona Mo Li untuk menyesuaikan waktu penyerangan. Jadi, salah satu anggota Sembilan Su itu akan terpancing tanpa sadar ke dalam jebakan. Pada saat yang sama, nona Mo Li juga akan mencapai tujuan utamanya."


Gelak tawa mengerikan terdengar dari beberapa sosok hitam itu. Pria tua dengan topi jerami bercorak hijau yang terlihat seperti pemimpin di antara kelompok itu mengepalkan tinjunya memberikan kode bahwa mereka bisa bergerak sesuai rencana.


Mereka semua pergi satu per satu dengan sangat cepat.


Setengah hari kemudian, beberapa sosok berpakaian hitam tiba-tiba menyerang Lin Qintian dan Bai Lien'er. Lin Qintian segera menghancurkan jimat komunikasinya tanpa pikir panjang karena lawan jauh lebih kuat dan mereka kalah jumlah.


Su Yueyin yang sedang duduk bersila mengawasi di atas awan segera melompat dari posisinya. Dia berbalik dan menggunakan teknik langkah awan bergegas ke lokasi kedua murid yang disergap.


Jenderal Lao mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mengikuti dari belakang.


Saat Su Yueyin bergerak di udara, hanya ada beberapa aura yang dapat dia rasakan di bawah.


Salah satu dari penyergap berada di tahap puncak alam ilahi, beberapa anggota yang ada di sekitarnya rata-rata berada di ranah kondensasi jiwa tahap kelima dan yang lainnya lagi tidak dapat ia rasakan.


Kemungkinan besar sejumlah dari mereka adalah teknik ilusi untuk mengelabui penglihatan target maupun kesadaran ilahinya.


Sementara itu, Lin Qintian sudah ditumbangkan dengan mudah oleh mereka. Seluruh tubuhnya diikat dengan rantai perak sehingga tidak dapat bergerak untuk membantu Bai Lien'er yang saat ini berdiri di depan melindunginya.


Keadaan Bai Lien'er juga hanya sedikit lebih baik dari Lin Qintian, tetapi dia terlihat sangat lelah dan sepertinya penyergap itu hanya sedang bermain-main dengan mereka berdua.

__ADS_1


Salah satu dari penyergap tersenyum licik sambil mencela dengan suara dalam, "Lihat ini! Seorang lelaki terikat, sementara teman wanitanya hampir kelelahan saat melindungi dia!" Pria yang mengenakan jubah hitam dengan topi jerami bercorak hijau itu bertepuk tangan kesenangan dan tertawa terbahak-bahak.


"Jika aku menjadi dia, lebih baik aku mati ditusuk jutaan pisau beracun daripada mendapatkan perlindungan dari seorang wanita! Hahahaha!" Pria berjubah hitam dengan topi jerami kerucut tanpa corak yang ada di belakangnya juga ikut menertawakan Lin Qintian.


"Nona, sebaiknya kamu tinggalkan dia kalau masih sayang nyawa." Salah satu gadis dari kerumunan itu maju beberapa langkah dari para pria memberikan saran kepada Bai Lien'er.


Lin Qintian yang sudah jatuh dengan sangat menyedihkan menatap ke belakang Bai Lien'er, hatinya merasa sakit karena tidak bisa mengalahkan orang-orang biadab ini.


Setidaknya, dia bisa mengulur waktu sampai Bibi Yueyin datang menyelamatkan mereka.  Dia telah menghancurkan jimat komunikasinya semenjak para penyergap menyerang, Lin Qintian juga sudah berencana untuk menahan mereka sendiri, namun Bai Lien'er menolak gagasan untuk meninggalkannya bertarung sendirian.


Gadis itu lebih memilih bertarung demi hidup dan mati mereka bersama, dibandingkan meninggalkan Lin Qintian sendirian mengulur waktu sementara dia bisa menjauh dari pertempuran.


Dengan suara tegas, Lin Qintian berkata, "Senior Lien'er, jangan pedulikan aku. Setidaknya kamu masih bisa bertahan untuk dirimu sendiri, tidak perlu melindungi aku. Kalau perlu, jadikan aku sebagai perisai dagingmu!—"


"Tidak! Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu! Kita sepakat datang kemari juga karena aku yang ingin mencari bahan obat itu, jadi sudah sewajarnya hidup dan mati kita juga akan dipertaruhkan bersama hingga saat ini!"


"Selama mulutmu masih bisa berbicara, lebih baik gunakan kepalamu untuk berpikir jalan keluar dari ini! Haah ... haah ...." Napas Bai Lien'er terengah-engah, tangan kanannya masih kokoh memegang pedang. Terdapat beberapa luka goresan di bagian lengan atasnya, sudut mulutnya juga sudah mengalir darah segar.


"Senior Lien'er ...." Mata Lin Qintian terbuka lebar, dia tidak menyangka bahwa Bai Lien'er akan mengatakan hal itu kepadanya.


Ketika mereka berdua dalam keadaan hidup dan mati seperti ini, baru saja dia bisa mengerti hal sederhana yang seharusnya ia sadari di masa lalu. Hati Lin Qintian mulai membara, tapi dia tidak memperlihatkannya dari luar dan segera menghentikan tingkahnya yang menyedihkan.


"Maaf Senior Lien'er, aku memiliki pemikiran egois yang terlalu memikirkan diriku sendiri," ucap Lin Qintian sambil memandang bagian belakang Bai Lien'er yang terengah-engah.


Sudut mulut kecil Bai Lien'er yang mengeluarkan darah terangkat sedikit, menunjukkan senyum hanya untuk dirinya sendiri.


Dia sudah menyadari bahwa Lin Qintian selalu memperhatikannya, bahkan dia terus memaksakan diri agar bisa mengejar ketertinggalannya dari Bai Lien'er.


Pria itu memang menyedihkan karena tidak peduli berapa kali harus merangkak di tanah agar bisa mengejar bahkan melebihi tujuannya, namun hal itu juga membuat Bai Lien'er selalu menerimanya apa adanya dengan ia yang juga seadanya.


"Aku sudah memberikanmu kesempatan, tapi kamu tidak mau." Wanita bertudung yang memberikan saran kepada Bai Lien'er menggelengkan kepalanya kecewa.

__ADS_1


Dia mengangkat lengan kanannya, di sekitar wanita itu muncul cambuk yang terbuat dari energi qi dengan aura hitam pekat.


Wanita itu berteriak dengan tawa lebar, "Kalau begitu, akan kusiksa kamu hingga terlihat menyedihkan di depan rekanmu, hah!"


Begitu wanita itu mengibaskan lengan kanannya, cambuk energi dengan ganas menuju ke arah Bai Lien'er yang sudah terengah-engah.


"Selamat menikmati siksaan cambuk energi ku! Hahahaha!!!" Wanita bertudung tertawa hingga suaranya terdengar seperti pekikan yang melengking tinggi.


Ketika cambuk energi itu hanya berjarak tiga kaki di depan Bai Lien'er—


Bam!


Pedang energi dengan aura biru awan ditembakkan dari samping hingga berbenturan dengan cambuk energi, menyebabkan gelombang ledakkan kuat.


Bai Lien'er hampir tidak dapat bereaksi tepat waktu karena sudah terlalu kelelahan, namun dia memaksakan diri untuk mengeluarkan sisa energi qi nya membuat perisai demi melindungi mereka berdua dari gelombang kejut hasil tabrakan kedua energi tersebut.


"Apa aku datang terlambat dan melewatkan kesempatan untuk menonton pertunjukan yang menarik?" Suara dingin itu begitu lembut masuk ke telinga kedua murid. Suara dingin lembut itu berasal dari Su Yueyin!


Tubuh Bai Lien'er bergetar, dengan sisa tenaga yang ada dia menggerakkan mulut kecilnya untuk menjawab, "Bibi datang tepat waktu ...."


Bai Lien'er yang sudah kehabisan energi, terjatuh lemas tak sadarkan diri ke tanah namun tangan besar yang terbentuk dari energi Su Yueyin menangkap lalu membaringkan tubuhnya dengan lembut.


Su Yueyin bergegas mendarat di depan kedua murid dengan kokoh dan tegak seperti tiang penyangga langit yang kuat. Dia tidak menyembunyikan aura haus darah dan tatapan tajam mata hitam cerahnya yang sangat dingin.


Rambut hitam panjangnya berkibar seperti jubah abadi sederhananya karena tekanan energi yang terpancar dari seluruh tubuh Su Yueyin keluar dengan gelombang energi qi besar.


Setelah memastikan kehadiran Bibi Yueyin, akhirnya Lin Qintian yang sudah babak belur dan kehabisan energi, kehilangan kesadarannya dengan perasaan yang tenang seolah-olah kemanan mereka berdua dapat terjamin karena Bibi Yueyin sudah tiba.


Su Yueyin melirik sedikit ke belakang dengan kesadaran ilahinya. 'Aiya, pasangan muda benar-benar penuh gairah, bibimu sudah tertinggal jauh dari kalian semua, hmph!'


Melihat kedatangan Su Yueyin, para penyergap segera melarikan diri dan hanya menyisakan wanita bertudung yang menyerang Bai Lien'er menggunakan cambuk energi. Kedua mata hitam cerah Su Yueyin mempelajari wanita itu, dia mengeluarkan sedikit lirikan mata yang agak kecewa.

__ADS_1


Wanita bertudung itu terkekeh geli dan berkata, "Su Yueyin, salah satu dari Sembilan Su yang melegenda, apakah kamu kecewa melihat basis kultivasiku yang hanya berada di tahap ketujuh kondensasi jiwa?"


"Ya," balas Su Yueyin dengan dingin. "Tapi, tidak peduli apapun itu, silakan nikmati waktumu sebelum menjadi makanan binatang buas!"


__ADS_2