
Semua orang diam dan tatapan mereka menjadi semakin datar, seolah-olah emosi mereka telah berpisah dari tugas yang sedang dijalankan. Lan Xihe mengangguk puas karena ini berjalan dengan lancar.
Dengan begitu, Lan Xihe segera membagi tugas mereka.
"Tetua Pin dan Tetua Shi, antarkan kedua murid yang tidak sadarkan diri ke kota terdekat."
"Su Yueyin dan Su Weiyan akan ikut bersamaku untuk mencari para murid ke sisi terdalam. Sisanya, akan mencari keberadaan mereka di sekitar wilayah permukaan."
Setelah pembagian tugas itu dikumandangkan, semua orang segera bergerak tidak ingin membuang waktu.
...
Pada saat yang sama, tiga orang pemuda-pemudi yang terjebak dalam sebuah dinding penghalang sedang dalam situasi yang panas. Sangat panas, sehingga dapat memanggang seorang pria abadi yang berada di tengah-tengah kedua gadis yang sedang saling melotot ke arah satu sama lain.
Sementara itu, pria yang berada di tengah berpura-pura tidak ada dan hanya melemparkan kayu bakar ke api unggun, tanpa mempedulikan mereka untuk meringankan tekanan suasana di sana terhadap dirinya.
Pria tampan dengan aura abadi itu adalah Yan Xu yang sudah kehilangan kulit palsu pada wajahnya. Sementara yang duduk di sebelah kanan dan kirinya adalah Wang Jia Li dan Xiu Ruolan. Kedua gadis muda itu saling memandang dan menilai pihak lainnya.
Perlahan, situasi dingin ini terus berlanjut hingga membuat keringat panas-dingin membasahi punggung Yan Xu, yang merupakan korban di antara perang saling menatap kedua gadis itu. Namun, dia tidak tahu bahwa dialah penyebab percikan api itu sendiri.
...
Kembali lagi pada saat Wang Jia Li baru terbangun.
kelopak mata indahnya berkedip beberapa kali melihat dua orang yang sedang duduk menatapnya di depan. Satu pria tampan dengan aura keabadian— Kakak Senior Yan Xu dan satunya lagi adalah gadis muda yang berpenampilan usia enam belas tahun.
Yan Xu menatapnya dengan senyum hangat dan berkata, "Kamu sudah bangun?"
Wang Jia Li segera duduk dan mengangguk ringan sambil tersipu, dia benar-benar tidak terbiasa dengan wajah asli Kakak Senior dan senyuman hangat itu.
__ADS_1
Yan Xu yang sedang memanggang daging binatang buas mengalihkan pandangannya lagi ke kayu bakar. Wajah tampan dengan aura keabadiannya yang serius sangat menenangkan hati setiap orang yang melihatnya. Sesekali, Wang Jia Li akan mencuri pandang ke gadis yang berada di sebelahnya.
'Siapa itu?' hati Wang Jia Li bertanya-tanya, mengapa tiba-tiba ada seorang gadis berada di sini, dimana seharusnya hanya mereka berdua yang terkunci di tempat ini!
Merasakan tatapan mata Wang Jia Li kepadanya, Xiu Ruolan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, "Apa kamu punya sesuatu untuk dikatakan kepadaku?"
Mata Wang Jia Li menajam sambil berkata, "Siapa kamu?"
Xiu Ruolan memiringkan kepalanya, tatapannya beralih ke samping dimana Yan Xu berada dan kembali lagi menatap ke arah Wang Jia Li. Ada sedikit sengiran di sudut mulutnya, seolah-olah dia sudah mengetahui gambaran umum tentang topik apa yang mereka bahas saat ini.
Dia menyatukan kedua jari telunjuknya seolah-olah tersipu, membuat pipinya merona memerah kemudian menundukkan kepalanya sambil mencuri pandang ke arah Yan Xu lalu berkata, "Itu ... aku ... istrinya?— Aiya!"
Yan Xu yang merasakan akan ada percikan api segera memukul kepala gadis nakal itu dan menjelaskan dengan benar, "Dia adalah salah satu rekan kita. Gadis ini bernama Xiu Ruolan, dia yang membantuku untuk menyelamatkanmu dari penuaan beberapa jam yang lalu."
Kemudian, Yan Xu menatap tajam ke arah Xiu Ruolan, "—Dan kamu, Leluhur Kecil! Jangan berbuat onar dengan membicarakan tentang hal-hal aneh!"
Melihat itu membuat Xiu Ruolan menggeram kesal dan kemudian berbalik ke Yan Xu, dia menarik leher Yan Xu dengan kedua tangan rampingnya. Namun, Yan Xu segera menghindar menggunakan teknik pengejaran jiwa, membuat Xiu Ruolan hanya menarik bayangannya hingga ia jatuh ke tanah dengan menyedihkan.
"Pfftt! Hahahaha!"
Wang Jia Li yang tidak tahan, akhirnya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.
Xiu Ruolan menatap ke arah Yan Xu dengan matanya yang berkaca-kaca, "Kenapa kamu menghindarinya?!"
Ekspresi wajah Yan Xu menjadi muram sambil menjawab dengan nada datar, "Kenapa aku tidak boleh menghindarinya?"
"Jangan bertanya balik saat aku menanyakan itu!" teriak Xiu Ruolan kesal dengan mata tertutup.
Yan Xu menggelengkan kepalanya perlahan dan berkata, "Seorang gadis tidak boleh asal-asalan memeluk seorang pria. Leluhur Kecil— ..."
__ADS_1
Belum selesai dengan kalimatnya, Xiu Ruolan segera membantahnya, "Cuih! Bukankah tadi kamu mengangkat tubuhku?! Bahkan kita berputar kemana-mana! Lalu kita juga saling berpelukan erat satu sama lain!— Ptooey! dasar munafik!"
Kerutan muncul di wajah tampan Yan Xu.
'Leluhur Kecil ini!'
Wang Jia Li yang mendengarkan itu, entah kenapa merasakan bahwa kepalanya agak pusing dengan setiap kata yang diucapkan oleh Xiu Ruolan. Tanpa sadar, suhu tubuhnya agak naik, wajahnya juga merona merah hingga ke telinga dan leher peri yang indah itu.
Melihat reaksi dari Wang Jia Li, Xiu Ruolan menunjukkan senyum licik.
Dia memeluk dirinya sendiri dengan kedua tangan ramping itu, kemudian menggoyangkan tubuhnya ke kiri dan kanan.
"Aaahh! Yan Xu, kamu sangat nakal tadi. Bahkan aku sampai dibuat pusing karena turun-naik di udara, juga berputar kemana-mana, sementara itu dia sedang tertidur pu— aiyoo!!!"
Duar!
Sebuah lotus merah dilempar ke dekatnya, namun Xiu Ruolan segera menghindarinya dengan lincah. Ledakan terjadi saat lotus itu menyentuh tanah, setidaknya itu menciptakan sebuah kawah sebesar setengah meter.
Dengan ekspresi dingin yang biasa di wajahnya, Wang Jia Li berkata dengan nada dingin, "Ah, maaf. Tanganku terpeleset." tatapannya tidak pernah lepas dari tempat Xiu Ruolan berada.
"Terpeleset?— Ah, maaf! Kaki ku juga terpeleset!" Xiu Ruolan menendang tanah hingga terbentuk gumpalan yang keras, itu melesat ke arah tempat Wang Jia Li duduk bersila.
Pedang lotus yang sudah terbang di udara segera menebas gumpalan tanah yang ditendang ke arah Wang Jia Li.
Saat gumpalan tanah itu sukses terbelah menjadi jutaan bagian, Wang Jia Li diam-diam menggerakkan jarinya ke arah Xiu Ruolan.
Xiu Ruolan yang merasakan bahaya segera melesat ke samping. Benar saja, di belakangnya— tepat di garis lurus ia berdiri tadi, terdapat ledakan yang lebih besar. Jika dia tidak melesat ke samping, kemungkinan tubuhnya akan meledak tidaklah nol.
Garis hitam gelap muncul di kening Xiu Ruolan, dia segera menunjuk ke arah Wang Jia Li sambil berteriak, "Apa kamu mau membunuhku, hah?!"
__ADS_1