Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Guru Memberikan Wawasan Umum Kepada Murid Ketiga


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang menuju ke Puncak Angin.


Lan Xihe terbang menggunakan awan putih bersama muridnya Wang Jia Li yang sudah berganti pakaian dengan jubah abadi khas anggota Puncak Angin. Sementara itu, Su Yueyin akan segera datang ke Puncak Angin keesokan harinya. Dia perlu berkemas dengan seluruh perabotan di tempat tinggalnya pada Puncak Surgawi.


Di ketinggian terbang 350 kaki, hanya sedikit orang yang berpapasan dengan mereka. Namun, tidak ada yang dapat melihat kedua orang itu karena Lan Xihe menggunakan dinding pembatas agar mereka tidak terlihat juga terdeteksi oleh kesadaran ilahi sesama anggota sekte.


Lan Xihe dengan datar memulai doktrin bengkoknya kepada murid ketiga.


"Ingatlah di masa depan, ketinggian terbang yang paling relatif aman adalah 300 hingga 500 kaki. Dalam penelitian Guru, yang paling relatif aman dan nyaman adalah 350 kaki. Pada ketinggian ini, kamu akan jarang bertemu orang maupun kultivator senior."


"Lihat itu," Lan Xihe menunjuk ke arah beberapa awan yang berada di atas mereka. "Menurutmu, pada ketinggian berapa awan yang menampung banyak orang itu terbang?"


Wang Jia Li mengikuti arah jari telunjuk ramping gurunya. Dia memperhitungkan ketinggian dari awan yang terbang di atas mereka, ".... Antara ... 400 hingga ... 450 kaki?"


"Benar, lebih tepatnya 445 kaki. Kebanyakan dalam ketinggian itu adalah mereka yang berada satu generasi di atas kamu dan kakak tertuamu. Dalam hal senioritas yang merepotkan, kamu tidak perlu terlibat dalam berinteraksi dengan mereka dengan ketinggian terbang yang Guru sarankan."


Wang Jia Li mengangguk, "Mendengarkan ajaran Guru lebih baik dibandingkan membaca buku selama puluhan tahun, Murid benar-benar tercerahkan."


Lan Xihe mengangguk puas, "Bagus, kamu memang cepat pengertian. Apa kamu tahu mengapa aku mengajarkan ini kepada setiap anggota Puncak Angin?"


Wang Jia Li segera menjawab dengan suara tegas dan penuh akan kebanggaan, "Itu agar para murid bisa bersikap lebih rendah diri, terhindar dari rasa superioritas maupun kesombongan yang akan menghancurkan diri sendiri di masa depan!"


Lan Xihe mengedipkan matanya beberapa kali, dia tidak pernah memikirkan sesuatu seperti itu. Sederhananya, dia cuma mau para murid tidak akan terlibat dalam masalah yang tidak perlu sampai melibatkan dia.


Dia terlalu malas mengurusi urusan sekte, kalau bisa Puncak Angin akan selalu menjadi transparan, tidak dikenal oleh banyak anggota puncak lainnya. Namun, itu tidak bisa dihindari karena mereka harus aktif sebagaimana mestinya dalam beroperasi sebagai salah satu puncak di Sekte Abadi Luo.

__ADS_1


Memikirkan bagaimana cara kerja salah satu puncak sekte seharusnya, dia akan menyerahkan itu kepada Yan Xu dan Su Yueyin. Meskipun terlihat aneh, kedua pasangan itu bisa menggunakan otak dan pengetahuan Su Yueyin sebagai tetua di Puncak Surgawi untuk mengatur ulang cara kerja Puncak Angin.


Lan Xihe mengangguk dalam diam dengan pemikirannya. Kemudian dia memberikan doktrin bengkok selanjutnya, "Benar, itu jawaban yang bagus."


"Ajaran selanjutnya adalah kamu harus belajar cara menyembunyikan kehadiran dan fluktuasi energi qi mu saat berada di luar. Setiap anggota Puncak Angin akan mempelajari dasar teknik itu dan mengembangkannya sesuai kemampuan mereka masing-masing."


"Ini terlihat seperti cukup aneh bagi orang lain, namun kita harus selalu bersiap kapanpun juga dimanapun dalam menghindari yang disebut karma pada kehidupan sehari-hari. Kamu tidak ingin terlibat dalam situasi yang merepotkan, maka tidak perlu membuat dirimu terlihat oleh orang lain."


"Apalagi sekarang kamu bukanlah pria cantik Wang Jia Li dari Puncak Surgawi, melainkan peri cantik nan abadi yang berasal dari Puncak Angin yang tidak dikenal banyak orang! Wanita cantik yang jarang dikenal memiliki kemisteriusan tersendiri dan akan menjadi magnet para pria hidung belang!"


"Jadi kamu harus ingat wahai peri cantik abadi, Wang Jia Li. Kamu adalah termasuk kembang Puncak Angin ku, peri cantik yang memiliki bakat kultivasi yang diidamkan banyak anggota di satu generasi denganmu dan pesona kamu akan menjadi masalah tersendiri hingga membawa karma pada diri sendiri!"


Lan Xihe berbalik ke arah murid ketiganya dan tersenyum lebar sambil menepuk kepalanya dengan lembut, "Menjadi cantik seperti peri abadi bukanlah sebuah dosa, namun kebanyakan dari mereka yang mendambakanmu hanyalah serigala berbulu domba! Jadi, tidak ada salahnya untuk menghindar dari deteksi orang-orang seperti itu!"


Wang Jia Li menjadi tersipu karena tidak terbiasa mendengar pujian yang mengatakan tentang penampilan cantiknya. Dia mengangguk lembut pada doktrin gurunya, sebagai tanda paham.


"Murid ketiga tersayangku, apa yang kamu pikirkan tentang kakak tertuamu?" bisik Lan Xihe dengan nada yang nakal.


Terdapat beberapa fluktuasi dari aura maupun ekspresi wajah Wang Jia Li. Kulit putihnya yang lembut merona merah hingga ke telinga, wajahnya terlihat agak pusing dan memanas.


Melihat itu, sudut mulut Lan Xihe terangkat.


"Kakak tertuamu itu ..." Lan Xihe segera mengakhirinya ketika telinga Wang Jia Li bergerak sedikit, yang tandanya dia mempertajam kemampuan pendengarannya.


Lan Xihe dengan cepat menjauh beberapa langkah dari murid ketiganya. Tangan ramping indahnya menutupi mulutnya dan dia cekikikan tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Gu-guru!" Ekspresi penasaran dan malu-malu kucing dapat terlihat dari wajah cantik Wang Jia Li.


"Kamu penasaran?" tanya Lan Xihe dengan ekspresi nakalnya yang tidak biasa.


Wang Jia Li mengangguk dengan patuh.


"Aiya!" Wang Jia Li segera berteriak terkejut karena tiba-tiba mendapatkan pukulan lembut dari lengan peri Lan Xihe. Dia segera memegangi kepalanya dengan kedua tangan.


"Kalau begitu, kamu harus bekerja keras selama latihanmu berlangsung! Dengan begitu, Guru akan melanjutkannya satu demi satu kata setiap kali kamu mengalami kemajuan yang sesuai dengan penilaian Guru!"


Lan Xihe tersenyum lebar sambil berkacak pinggang. Rambut putihnya yang indah bergerak ke kiri dan kanan karena embusan angin malam. Dia terlihat seperti seorang anak kecil yang sedang bercanda saat tersenyum lebar dengan candaannya.


Wang Jia Li yang secara tidak sadar terbawa suasana menangkupkan kedua tangannya dan berkata, "Guru dapat yakin Murid akan berusaha keras hingga memenuhi atau mungkin, bahkan melebihi penilaian ketat Guru!"


Lan Xihe mengangguk puas seperti seorang guru yang berhasil memotivasi muridnya, "Bagus! Kamu benar-benar sebelas dua belas dengan murid kedua."


Lan Xihe terkekeh geli sambil menyipitkan matanya dan menyodokkan jari telunjuknya ke pipi lembut Wang Jia Li. Sementara itu, Wang Jia Li hanya tersenyum tak berdaya dengan bisikan iblis gurunya. Dia benar-benar terpukul keras di titik paling sakit.


Tiba-tiba ada pemikiran yang datang di kepalanya dan ia segera menyuarakan itu, "Guru, kenapa Guru membawa Kakak Senior di dalam pembicaraan kita?!" ekspresi polos Wang Jia Li menunjukkan rasa penasaran tanpa fluktuasi seperti tadi.


Lan Xihe hanya mengangkat bahu, dia segera berbalik dan menggelengkan kepalanya.


'Murid Nakal! Lagi-lagi, aku punya murid yang nakal lagi! Kapan kalian semua bisa dewasa dan jujur kepada Guru?! Hais! Dasar anak-anak muda!'


Lan Xihe diam-diam mengutuk keras muridnya sendiri tanpa ia sadari di benaknya.

__ADS_1


Membutuhkan waktu dua puluh menit hingga mereka akhirnya sampai di Puncak Angin. Lan Xihe membiarkan Wang Jia Li untuk menginap di gubuk jeraminya untuk malam ini, dia masih belum selesai menerapkan doktrin bengkok yang ada terhadap murid ketiganya.


__ADS_2