
Keesokan paginya, Yan Xu bangun lebih awal dan melakukan beberapa pemanasan seperti mempraktikkan seluruh gerakan bela diri tangan kosong maupun dasar ilmu berpedang.
Bedanya kali ini adalah dia memperkuat fisiknya secara terus menerus dengan energi qi, tanpa ada jeda sedikitpun. Membuat waktu latihannya lebih lama daripada sebelum menguasai metode Qi Gong.
Selama melakukan pemanasan, Yan Xu juga memikirkan bagaimana dia bisa menerima energi qi secara terus menerus walaupun tidak melakukan apapun. Pemikirannya yang cepat tanggap, segera menjawab pertanyaan tersebut.
"Aku sudah menguasai metode Qi Gong, oleh karena itu aku tidak perlu melakukan apapun selama terhubung dengan alam."
Jawaban itu keluar dari mulutnya sendiri, meskipun masih ada rasa tidak percaya dan kurang nyaman dengan kenyataan bahwa ia sudah menghilangkan buku yang diberikan gurunya.
Menyampingkan kekhawatiran itu, toh lagipula ujung-ujungnya dia pasti akan dipukuli. Yan Xu lebih mementingkan bagaimana caranya dalam mengurangi rasa sakit yang dia derita di masa mendatang akibat pukulan keras dari gurunya.
Dia terus memperkuat kemampuan fisiknya, melebihi batas normal dari seorang kultivator tahap akhir kondensasi qi.
Baru-baru ini, ranah Yan Xu meningkat pesat setelah mimpi buruk terakhirnya. Ranahnya langsung melonjak ke tahap akhir kondensasi qi, sepertinya dia juga sudah siap untuk menerobos ke ranah berikutnya— pembentukan fondasi.
Setelah setengah bulan, akhirnya Yan Xu mencapai puncak ranah kondensasi qi sambil bersabar mengikuti setiap latihan keras dan selalu memanfaatkan momen tepat untuk selalu menerapkan kode parasit kepada gurunya.
Sekarang, dia akan berlibur sebentar karena harus perasaan mendesak yang mencoba untuk mendorong Yan Xu agar segera menerobos ke ranah pembentukan fondasi. Namun, dia menghiraukan dorongan itu karena merasa masih ada yang kurang sebelum melakukan terobosan.
"Yang kurang adalah saat-saat dimana aku harus pergi ke suatu tempat dan membuat beberapa kenangan saat masih berada di puncak kondensasi qi."
Yan Xu menetapkan pikirannya dan mencoba mencari jalan keluar untuk permasalahan sebelum melakukan terobosan, yang sebenarnya sangatlah tidak penting dan hanya sebagai pemuas kebutuhan sekundernya yang bengkok.
Kebutuhan sekunder bengkok dari pria bebas yang bernama Yan Xu ini adalah menolak jadi pemeran utama dalam kehidupan, mencoba melakukan sesuatu di balik bayang-bayang tanpa harus menerima penghargaan atas amal baiknya.
Daripada penghargaan, kebanyakan tindakan Yan Xu lebih baik menerima hukuman karena bertindak terlalu bebas tanpa mengikuti aturan setiap wilayah yang ada.
Karena pemikiran seperti bebas tanpa memandang hukum itulah, pria ini sangat menanti-nanti akan hari dimana dia bisa beraksi untuk memuaskan kebutuhan sekundernya yang tidak penting tersebut.
Walau pemikirannya sudah merembes kemana-mana, Yan Xu masih tetap menggerakkan tubuhnya dengan teratur dan sesuai ilmu beladiri tangan kosong yang dia pelajari melalui Lan Xihe maupun beberapa buku yang ada di perpustakaan puncak.
Mulai dari memasang kuda-kuda yang kokoh, melakukan pukulan lurus dan menukik, peragaan dalam bertahan juga serangan balik dan yang terakhir, melakukan beladiri dari Bumi yang serupa dan sangat sulit untuk diperagakan tanpa bantuan penguatan tubuh.
Dengan kontrol yang sangat baik dalam memanipulasi energi qi, Yan Xu sudah bisa dikatakan sebagai ahli. Hanya saja, kekuatan ranah yang dia miliki saat ini masih belum mendukung tekniknya yang telah dipoles sedemikian rupa— walau ada beberapa yang dia latih secara rahasia.
Satu jam berlalu tanpa dirasa, begitupun dengan Yan Xu yang melakukan pemanasan non-stop itu akhirnya berhenti.
Dari sisi lain, Miao'er keluar dengan pakaian tipis berkain halus yang dapat memperlihatkan beberapa sisi kulit putihnya dan bentuk tubuh ramping yang basah dan sangat menawan. Sebenarnya, dia sengaja berpura-pura tidak sadar saat berjalan keluar setelah mandi guna melihat reaksi lucu dari kakak seniornya.
Berlawanan dari harapan Miao'er, Yan Xu hanya meliriknya sekali dan kembali menenangkan aliran qi pada dantiannya dengan bermeditasi, seolah-olah tidak ada hal menarik yang dapat mengganggu ketenangan pikirannya.
Miao'er mendecakkan lidahnya, kembali ke gubuk dengan wajah muram sambil bergumam dengan suara kecil, "Tch! Apa aku kurang menarik di mata Kakak Senior?!"
Merasakan tidak ada lagi kehadiran dari adik juniornya, Yan Xu melirik sedikit ke arah gubuk Miao'er sambil memastikan gadis kecil itu tidak sedang mengawasinya.
Setelah memastikan tidak ada tanda-tanda pengawasan sedikitpun dari gubuk adik juniornya, Yan Xu membuka kedua matanya dan menghela napas panjang.
"Haaah~ ... untung saja dia tidak marah karena aku sempat meliriknya."
Dengan helaan napas panjang itu, Yan Xu membuang rasa khawatirnya karena takut Miao'er akan marah. Terbiasa hidup di lingkungan dimana wanita lebih banyak dari pria, Yan Xu menjadi lebih waspada saat itu bersangkutan dengan kejadian seperti ini.
Meski begitu, dia masih sempat melirik walau hanya sekilas. Memori itu masih tersimpan dan tidak bisa dihapus sama sekali, membuat aliran qi pada dantian Yan Xu menjadi tidak stabil. Itulah kenapa dia harus segera menstabilkan aliran qi-nya.
...
Setelah beberapa saat kemudian, Miao'er kembali dengan mengenakan jubah perinya yang indah.
Dia berjalan dengan santai menghampiri Yan Xu seakan kejadian tadi tidak pernah ada sama sekali.
"Kakak Senior, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Miao'er dengan nada cerianya yang biasa.
Yan Xu yang masih duduk bersila tersenyum hangat ke arah adik juniornya sambil menjawab dengan lembut, "Aku sedang istirahat setelah melakukan beberapa pemanasan."
"Pemanasan? Apakah semua kultivator membutuhkan itu di pagi buta begini?" Menghiraukan Yan Xu yang penuh keringat, Miao'er duduk di sebelahnya dengan jarak yang sangat dekat.
Yan Xu mengangkat kedua bahunya, "Entahlah, tapi bagiku ini sangat penting. Apalagi saat aku sudah menemukan sebuah pencerahan yang luar biasa."
Mendengarkan kata pencerahan, mata Miao'er mulai berbinar dan segera menunjukkan minatnya.
Dia memegang lengan Yan Xu dengan kedua tangan rampingnya sambil memohon, "Kakak Senior, tolong bagikan pencerahan itu juga kepada Adik Junior!"
"Hmmm ...."
Dari jarak yang sangat dekat itu, Yan Xu dapat merasakan aroma wangi dari tubuh Miao'er yang baru saja selesai mandi. Itu membuatnya sedikit merasa gelisah karena adik juniornya mulai menjadi lebih dekat tanpa ada rasa waspada ketika mereka sedang berdua.
Terutama hari ini, Miao'er jauh lebih melekat padanya dibandingkan hari-hari sebelumnya. Yan Xu sedikit khawatir dan bingung karena dia kepikiran kalau selama ini, ia sudah terlalu memanjakan adik juniornya. Takutnya, Miao'er akan memiliki keterikatan hingga tidak bisa mandiri dan membuat masalah ketika dia sedang tidak berada di dekatnya.
Walau terlihat tidak pedulian, Yan Xu masih tetap peduli terhadap adik junior maupun gurunya. Hanya saja, dia tidak pernah memperlihatkan kepeduliannya secara langsung dan hanya melalui tindakan.
Melihat ekspresi bermasalah pada wajah Yan Xu, Miao'er tersenyum nakal. Dia memeluk pergelangan Yan Xu dan menempel dengan erat seakan tidak ingin lepas.
"A-adik Junior ... ini tidak pantas untuk dilakukan ...."
Yan Xu mencoba untuk menjauhkan Miao'er dengan membujuknya menggunakan kalimat bermoral, namun gadis itu masih bersikeras tidak mau melepaskan tangannya sambil tersenyum manis.
Tidak punya pilihan lain, Yan Xu menggunakan sedikit penguatan fisik pada lengan yang dipeluk oleh Miao'er. Ketika dia mencoba untuk menggerakkannya, lengan Yan Xu malah tidak dapat bergerak sedikitpun.
'Jangan bilang gadis kecil ini ....'
Yan Xu mulai curiga kalau Miao'er telah menguasai penguatan fisik sama sepertinya.
Kecurigaan Yan Xu terbukti benar karena aura hijau muda yang sangat indah terpancar di sekitar tubuh Miao'er, dengan kata lain dia sedang menggunakan energi qi guna menguatkan fisiknya.
Tidak ingin berbuat kasar, Yan Xu masih membujuk Miao'er dengan sabar dan halus, "Adik Junior, kakak seniormu ingin melanjutkan pelatihannya, bisakah kamu melepaskannya?"
Sudut mulut Miao'er menukik tajam ke atas, "Tidak mau."
Melihat gadis kecil itu tidak bisa dibujuk, Yan Xu mendekatkan wajahnya ke Miao'er hingga ujung hidung dan dahi mereka saling bertemu. Mulai sekarang, dia akan membujuknya dengan tekad demi menghemat waktu yang tersisa, sebelum guru mereka keluar dan mulai memukulinya.
"Lepaskan."
"...."
__ADS_1
Tampilan luar Miao'er masih tidak gentar, namun di dalam hatinya dia sudah berteriak sekencang mungkin karena wajah mereka terlalu dekat.
Sayang sekali wajahnya yang memerah mengkhianati ketenangan Miao'er, menandakan kekalahannya. Dia menghela napas pendek sambil melepaskan lengan kakak seniornya dengan enggan, lalu mengambil sedikit jarak.
Di luar dia bisa merasa kekalahan, namun di dalam hatinya Miao'er merasakan kemenangan entah dari bagian mana yang telah dia menangkan. Tentu saja itu tidak akan berpengaruh sedikitpun terhadap ekspresi wajahnya yang polos di luar.
Udara di sekitar mereka menjadi agak canggung, sulit bagi keduanya untuk mulai bicara hal lain. Mereka hanya terdiam dan terkadang saling melirik sekilas, tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya masing-masing.
...
Lan Xihe yang muncul secara tiba-tiba dari belakang mereka memecahkan suasana canggung itu, "Oh, tidak biasanya kedua kakak-beradik ini terlihat sangat pendiam."
Dia merangkul Yan Xu dan Miao'er di masing-masing sisi dari belakang, mendekatkan mereka ke dekapannya dengan lembut.
Yan Xu yang sudah terbiasa dengan sikap Lan Xihe hanya menghela napas kecil dan tersenyum ringan, "Guru terlalu banyak berpikir, kami hanya sedang melakukan latihan masing-masing. Benarkan, Adik Junior?"
Miao'er yang mendapatkan ketenangannya segera mengikuti arahan Yan Xu, "Be-benar. Itu cuma pemikiran Guru kalau kami agak pendiam."
Lan Xihe tersenyum nakal, namun tidak melanjutkan godaannya kepada dua murid licik itu. Dia masih mempertahankan posisi mereka bertiga yang dekat dan memulai sambutan paginya.
"Ya, ya, Guru terlalu sangat banyak berpikir karena kalian terlalu licik. Apapun itu, selamat pagi murid-murid ku."
Keduanya saling tersenyum lembut sambil menjawab, "Selamat pagi juga, Guru."
Merasakan betapa harmonisnya hubungan antara mereka bertiga, membuat pagi Lan Xihe diisikan kehangatan dalam hatinya yang sudah terlalu lama menyendiri.
Dia merasa sangat bersyukur karena dapat merasakan berkah dimana ia tidak perlu hidup sendiri lagi, walau orang-orang yang hidup bersamanya ini memiliki sifat bengkok dengan kelicikannya— tentu saja Lan Xihe sendiri tidak sadar, beberapa sifat bengkok itu diwariskan dari ajaran moralnya.
Lan Xihe melepaskan rangkulannya terhadap kedua murid dan pindah ke tengah, di antara Yan Xu dan Miao'er. Kedua muridnya tidak terlalu peduli karena mereka sudah diperlakukan begini setiap harinya, bahkan terkadang mereka menikmati momen singkat kebersamaan di pagi hari ini.
Lan Xihe menyilangkan tangannya sambil berkata, "Aku merasa bingung dengan materi apa yang harus diajarkan kepada kalian berdua."
"Evaluasi dari proses belajar kalian sebenarnya memiliki tingkat yang sama. Hanya saja kecepatan Miao'er dalam menguasai pengetahuan, sudah menyamai kecepatan pemahaman Yan Xu pada setiap bahan ajaran."
"Apa maksudnya itu, Guru?" tanya kedua murid itu sambil menatap bingung ke arah Lan Xihe.
"Dengan kata lain, materi ajaran kepada kalian berdua itu sebenarnya sama dan tidak memiliki perbedaan sama sekali. Saat Yan Xu telah belajar penguatan tubuh menggunakan kontrol energi qi, Miao'er juga telah berhasil melakukannya."
"A-apa?! Guru, bukankah itu berbahaya bagi Adik Junior karena dia masih belum memasuki ranah kondensasi qi?!" protes Yan Xu dengan keras karena dia benar-benar khawatir itu akan menyakiti Miao'er.
Lan Xihe sedikit tercengang karena melihat Yan Xu bisa mengkhawatirkan orang lain, dia pikir murid nakal itu tidak akan peduli dengan sesamanya. Melihat bagaimana sikap Yan Xu, kekhawatiran Lan Xihe terhadap kepribadiannya yang masih belum terbuka berkurang sedikit.
Lan Xihe menggelengkan kepalanya dengan lembut sambil berkata, "Sudah aku bilang, literasi kuno yang ketinggalan zaman itu hanya bisa dijadikan referensi. Namun, kalian tidak boleh membuat itu sebagai patokan yang akan membatasi tindakanmu."
"Mengikuti orang bijak memang akan membuat hidupmu lebih aman, tapi kamu tidak akan pernah berkembang lebih baik dengan selalu berdiri di zona aman. Aku memang mengajarkan kalian agar terus berhati-hati, namun ...."
Lan Xihe menunjuk ke hidung Yan Xu menggunakan jari telunjuk rampingnya, memberikan kode agar murid nakalnya melanjutkan kalimatnya.
Yan Xu yang mengerti, segera melanjutkan, "Guru tidak pernah mengajarkan kami untuk menjadi pribadi yang pengecut dan menghindari tantangan untuk menempa diri."
"Tepat, nilai sempurna untukmu, " ucap Lan Xihe sambil bertepuk tangan dengan senyum lebar di wajah cantiknya.
Yan Xu yang melihat senyum indah gurunya segera mengalihkan pandangannya, dia merasa jantungnya hampir tersihir sesuatu yang tabu hanya dengan melihat senyuman itu lebih lama.
Miao'er hanya diam tanpa menjawab, sepertinya dia sedang merasa cemburu karena hanya dengan senyum guru mereka dapat membuat kakak seniornya tersipu malu, hingga mengalihkan pandangannya.
Melihat reaksi diam dari kedua muridnya, Lan Xihe tertawa ringan, "Kalian ini ..."
Lan Xihe merangkul keduanya kali ini, mendekatkan wajah mereka bertiga lalu berkata, "Jika kalian memiliki masalah, jangan ragu untuk mengatakannya di depan orang tersebut. Di sini, kita adalah keluarga yang tinggal di tempat yang sama. Guru akan merasa sedih kalau kalian saling bertengkar atau tidak akur satu sama lain."
Melihat ekspresi lembut Lan Xihe, keduanya saling merenung atas tindakan mereka, terutama Miao'er yang terlalu agresif tanpa berpikir panjang.
Menguatkan tekadnya, Miao'er meneguk ludah dengan keras dan berkata, "Kakak Senior, apa kamu tidak tersipu ketika melihat aku keluar dengan kain tipis?"
"Eh?"
"Su-sungguh pertanyaan yang tidak senonoh!"
Lan Xihe sebagai penengah juga Yan Xu yang sebenarnya tidak tahu apa yang sedang dipikirkan adik juniornya, sama-sama terkejut.
Lan Xihe segera memotong sebelum ada yang bicara, "Jadi, Miao'er marah karena Yan Xu tidak mengatakan apapun seolah tidak terjadi apa-apa. Dengan kata lain, Yan Xu juga bersalah karena tidak memandang harga diri kewanitaan Miao'er."
"Tu-tunggu, Guru! Tolong jangan membawa hal yang tidak senonoh dalam diskusi kali ini!" wajah Yan Xu memerah karena dia hampir mencapai batasnya untuk menyembunyikan rasa malunya karena masih mengingat penampilan indah Miao'er.
"Eeeh~~ kenapaaa~~ lihat wajahmu, memerah secerah tomat. Kamu juga Miao'er ..." Lan Xihe menatap Miao'er dengan tatapan memarahi, "Seharusnya kamu tidak boleh memperlihatkan bagian tubuhmu yang indah secara sembarangan, terutama di hadapan laki-laki!"
"Gu-Guru! Miao'er hanya memperlihatkannya kepada Kakak Senior, pria lain tentu saja tidak pantas melihat tubuh— eehhhh!!!"
Miao'er segera menutupi wajahnya yang memerah, dia sudah tidak memiliki keinginan untuk marah ataupun bicara lagi karena sudah terjebak kedalam tipu muslihat Lan Xihe.
Sementara itu, Yan Xu hanya diam sambil menundukkan kepalanya. Tidak berani bicara karena dia tahu kalau Lan Xihe akan memasang ranjau baru ketika mereka menjawab setiap ucapannya.
Lan Xihe tertawa terbahak-bahak sambil mengelus lembut kepala kedua murid liciknya.
"Kalian ini, benar-benar aneh dan sangat unik!"
"Guru, tolong jangan mencampurkan aneh dan unik karena itu mengandung arti yang sama," balas Yan Xu datar.
"Oh, benarkah? Menurutku, itu terlihat berbeda," Miao'er mulai mengikuti percakapan dan segera mengubah rasa malunya. Pokoknya, dia harus mengalihkan topik tadi secepat mungkin agar kakak seniornya tidak sadar dengan tujuan asli tindakan Miao'er sebelumnya.
Lan Xihe mengangguk lembut, "Aku setuju dengan ucapan Miao'er. Aneh dan unik memiliki artian yang berbeda. Aneh karena itu terkadang tidak memandang moralitas, sementara unik adalah hal yang berbeda namun masih dalam batasan moralitas manusia."
"Moralitas manusia? Kalau begitu, mereka yang aneh merupakan salah satu bagian dari binatang buas?" tanya Yan Xu dengan lancar, seolah melancarkan serangan dalam permainan kata di antara mereka bertiga.
"Benar, contohnya adalah ..." Lan Xihe melirik ke arah Miao'er.
Miao'er yang mengerti apa yang akan dikatakan oleh gurunya, segera mengalihkan topik pembicaraan diawali teriakan dengan suara yang lucu, "Awawawa! Guru, tolong langsung jelaskan bagian uniknya saja!"
Lan Xihe dan Yan Xu tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Miao'er yang lucu. Setelah puas, Lan Xihe mulai melanjutkan penjelasannya.
"Kalau bagian unik, seharusnya kalian tahu sendiri yang aku maksudkan," ucap Lan Xihe sambil mengangkat kedua bahunya dengan ringan.
Yan Xu dan Miao'er saling menatap untuk beberapa saat, sepertinya mereka memiliki pemikiran yang sama atas apa yang dimaksud oleh Lan Xihe.
__ADS_1
Keduanya saling menjawab dengan kalimat yang sama, "Keberhasilan kami dalam mempelajari setiap metode dan teknik dari Guru?"
"Ping pong~ Tepat sekali!" jawab Lan Xihe dengan riang.
Dia beranjak dari duduknya, menatap kedua muridnya sambil tersenyum hangat, "Itulah kenapa gurumu sangat dilema sekarang. Dia benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus diajarkan kepada para muridnya."
Lan Xihe memijat keningnya seolah merasa pusing karena terlalu banyak berpikir.
Melihat guru mereka kebingungan untuk pertama kalinya, membuat Yan Xu dan Miao'er saling memandang satu sama lain. Sepertinya, sudah saatnya mereka menunjukkan penemuan baru kepada gurunya. Mungkin itu bisa memberikan inspirasi baru bagi Lan Xihe dalam memikirkan bahan ajaran baru untuk mereka berdua.
Yan Xu mengambil wajah palsu dengan kualitas terbaik yang pernah dia buat dari kantung penyimpanan dimensinya, kemudian menodongkan itu ke arah Lan Xihe.
"Guru, kami berdua telah melakukan percobaan dan menghasilkan benda ini. Tolong lihatlah, siapa tahu Guru akan mendapatkan pencerahan tentang bahan ajaran untuk kami."
Melihat apa yang ada di tangan Yan Xu, kedua mata Lan Xihe berbinar. Dia segera mengambil kulit wajah palsu itu dan mengamatinya dengan sangat teliti.
"Hmmm ... ini pasti terbuat dari kulit Zhuxin yang berada di ujung selatan Puncak Angin. Ketebalan kulitnya juga sangat persis seperti milik manusia pada umumnya, bahkan sudah dipoles sedemikian rupa agar terlihat lebih alami."
Lan Xihe menatap kedua muridnya sambil bertanya, "Apakah kalian berdua yang membuat ini?"
Kedua muridnya mengangguk dengan ragu, tapi jelas tidak ada satupun kebohongan dari jawaban mereka. Saat dia bertanya, Lan Xihe telah membeli fungsi deteksi kebohongan untuk sementara waktu pada sistemnya. Tidak ada reaksi bohong, berarti mereka berdua memang mengatakan yang sebenarnya.
"Sangat bagus! Kalian benar-benar berkembang karena tidak hanya fokus pada bahan ajaran yang aku bawakan, kalian juga telah mencoba berbagai macam hal lain," ucap Lan Xihe sambil tersenyum bangga.
Ketika dia memberikan kembali kulit wajah palsu itu, Yan Xu mendorong kembali lengannya sambil berkata, "Itu adalah hadiah untuk Guru, dari kami berdua. Tentu saja sebagai ucapan terima kasih atas jasa Guru karena sudah memberikan berbagai macam jenis pengetahuan kepada kami berdua."
Miao'er di samping Yan Xu juga melanjutkan dengan suara yang tulus, "Tanpa Guru, Miao'er dan Kakak Senior tidak akan menjadi seperti diri kami yang sekarang."
Setelah mengatakan itu, keduanya saling berlutut ke arah Lan Xihe. Perilaku itu menunjukkan bahwa mereka benar-benar menghormati orang yang ada di depan mereka.
Pergantian suasana yang aneh itu membuat Lan Xihe merasa canggung dan segera membantu keduanya untuk berdiri tegak kembali. Dia tidak terlalu terbiasa menerima penghormatan yang terlalu hangat dan penuh syukur dari dua orang paling licik yang pernah ditemuinya ini.
"Karena pembukaan di pagi hari sudah selesai, aku akan mengumumkan bahwa kalian bisa bebas selama satu minggu."
'Akhirnya!' keduanya saling tersenyum licik di dalam hatinya, terutama Yan Xu yang merasa sangat bahagia karena dapat libur dari pemukulan tak bermoral gurunya.
Menyembunyikan rasa senangnya, Yan Xu segera bertanya dengan penasaran, "Guru, apa yang bisa kami lakukan selama seminggu ini?"
"Kalian bebas pergi jalan-jalan keluar karena aku tahu kamu akan menggunakan wajah palsu dan tidak mungkin menggunakan teknik yang berhubungan dengan sekte."
"Tidak terhubung dengan sekte?" tanya Miao'er sambil memiringkan kepalanya.
"Semua metode dan teknik yang aku ajarkan kepada kalian berdua, sama sekali tidak pernah memiliki sangkut paut dengan Sekte Abadi Luo. Jadi, kamu tidak perlu ragu menggunakannya saat dalam perjalanan di luar demi menjaga keselamatan diri," jawab Lan Xihe penuh perhatian.
Kedua muridnya mengangguk.
"Apa masih ada yang ingin kalian tanyakan?"
"Guru, apa kami boleh pergi ke ibukota Kekaisaran Agung Ming?" tanya Yan Xu.
"Tentu, kemana saja boleh asalkan tidak lebih dari satu minggu. Selebihnya harus bagaimana, kamu tahu sendiri bukan harus mencari siapa," jawab Lan Xihe sambil tersenyum licik kepada kedua muridnya.
Yan Xu dan Miao'er mengangguk dan menjawab secara bersamaan, "Murid menerima perintah, Guru."
"Bagus-bagus, sekarang ..." Lan Xihe sudah menghilang dan hanya meninggalkan bayangannya dengan suara lembut, "Sampai jumpa satu minggu lagi."
Kedua muridnya ditinggalkan begitu saja.
...
Setelah beberapa saat, keduanya saling memandang dan mengangguk.
Mereka segera bergerak dan mengamati lingkungan di sekitarnya.
"Adik Junior, bagaimana dengan situasimu di sana?" tanya Yan Xu.
"Aman," balas Miao'er terlihat gugup.
"Oke."
Setelah memastikan keamanan di lingkungan sekitarnya, kedua murid picik itu berkumpul kembali sambil tersenyum licik.
"Hadiah untuk menyogok Guru demi mendapatkan hari libur, sukses!" ucap kedua murid biadab itu sambil saling bertepuk tangan.
Keduanya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya masing-masing. Andai saja Lan Xihe melihat ini, dia akan memukuli kedua murid liciknya tanpa ampun karena sudah berani berkomplot melawannya.
Namun, Lan Xihe saat ini lebih tertarik akan penemuan kedua muridnya. Guru mana yang tidak senang saat melihat muridnya membuat sesuatu yang belum pernah dia ajarkan. Itu juga berlaku kepada Lan Xihe, sebagai guru dari kedua murid licik itu.
Setelah puas tertawa, mereka mulai merencanakan perjalanan yang sudah dinantikan oleh keduanya.
"Pertama, kita akan pergi ke tempat administrasi pusat terlebih dahulu," ucap Yan Xu dengan serius.
"Apakah Kakak Senior akan melakukan penyogokan yang sama terhadap Tetua Fan?" tanya Miao'er yang kedua mata bulatnya sudah melebar.
Yan Xu mengangguk dan berkata, "Itu merupakan salah satu hal terpenting dan bagian lainnya adalah ..."
Yan Xu dengan sengaja melambatkan bicaranya agar Miao'er dapat menjawab sisanya dengan mulutnya sendiri.
"Kulit wajah palsu, benar kan?" Miao'er tersenyum percaya diri akan jawabannya.
"Tepat!" Yan Xu juga tersenyum lebar sambil bertepuk tangan.
Tujuan kedua orang itu sudah ditetapkan.
Sebelum mereka pergi ke adminstrasi pusat, mereka mengambil tiga buah ikan spiritual dan membungkusnya secara khusus. Begitu juga dengan tiga buah kulit wajah palsu yang memiliki enam poin pesona juga ditambahkan pada kemasan yang berlainan.
Yan Xu memanggil awannya kemudian melompat bersama Miao'er sambil tersenyum bengkok, "Amunisi penyogokan sudah selesai, saatnya berangkat."
"Berangkat!" lanjut Miao'er dengan semangat.
Kedua murid licik itu menggunakan dua lapis kulit wajah palsu dan mengubah sedikit pola pada pakaiannya dengan mengaktifkan rune yang telah terpasang pada jubah abadinya.
Awan yang menampung keduanya melaju di ketinggian yang sudah mereka sepakati sebagai jarak teraman. Selanjutnya, administrasi pusat— Tetua Fan akan mendapatkan hadiah yang menarik dari kedua murid licik Puncak Angin.
__ADS_1