Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Empat Bulan Berlalu


__ADS_3

Empat bulan telah berlalu semenjak kedatangan dua murid baru dan satu tetua sementara ke Puncak Angin.


Kini, di Paviliun Utara, tepatnya pada bagian kantor administrasi puncak dua orang sedang duduk di kursi masing-masing. Meja yang ada di depan mereka dipenuhi dengan tumpukan lembaran kertas tersusun rapi, sesuai dengan kepentingan yang tertulis di dalamnya.


Seorang pria tampan dengan aura keabadian, mengenakan jubah khas Puncak Angin yang memiliki warna biru langit dan corak merah juga motif yang menandakan bahwa ia adalah Murid Langsung dengan kedudukan tertua, meninjau kembali berbagai tumpukan kertas dengan ekspresi serius.


Di sebelah mejanya, seorang kultivator wanita dengan ekspresi dingin yang juga mengenakan jubah peri abadi khas Puncak Angin dengan warna sama dan corak juga motif yang menunjukkan posisinya sebagai Tetua Puncak Angin, sudah tertidur pulas dengan pipi ramping indahnya menyentuh permukaan meja kerja.


Pria tampan yang terlihat agak serius itu adalah Yan Xu, murid tertua dari Kepala Puncak— Lan Xihe. Sedangkan Tetua yang tertidur, tidaklah lain dan bukan adalah Su Yueyin. Selama tiga bulan penuh ini, mereka sangat sibuk di bagian administrasi yang kacau balau.


Penampilan Yan Xu yang agak lebih kurus dapat terlihat dan matanya yang merah dengan kantung hitam lebar, menandakan bahwa ia sudah bekerja sangat keras bagaikan budak kantor.


'Tiga bulan ... aku terjebak di dalam kantor administrasi! Aku tidak bisa berlatih walaupun terus menyerap energi qi murni dari metode Qi Gong!'


Yan Xu memijat kepalanya dan menghela napas, "Akhirnya, aku mengerti mengapa Guru memberikan posisi ini kepadaku. Jika dia menyerahkan ini kepada anggota lain, para gadis itu akan membuat kekacauan di bagian pusat administrasi Sekte Abadi Luo."


Dia tersenyum kecut sambil membalik-balikkan beberapa kertas yang ada di tangannya. Dari seorang murid yang harusnya cuma tahu berkultivasi, sekarang dia mendapat kenaikan pangkat menjadi budak kantor administrasi puncak. Penampilannya yang berubah karena stress menumpuk, tidak dapat ia sembunyikan dari tatapan orang lain.


Selama dia mengurus bagian administrasi yang sama sekali tidak pernah diurus oleh Lan Xihe semenjak adanya Puncak Angin, membuat Yan Xu ingin mengubur dirinya sendiri ke dalam tanah dan tidak ingin keluar sama sekali.


Awal-awal setelah pembangunan Paviliun Utara rampung, berbagai kertas dikirimkan kepada mereka oleh bagian administrasi. Yan Xu yang sudah mengira ini akan terjadi, sudah menyogok—uhuk! Meminta bantuan kepada Tetua yang ada di administrasi pusat untuk mengurus beberapa yang tidak benar-benar penting.


Meski Yan Xu sudah melakukan filterasi pada tiap lembar administrasi yang sangat penting dan tidak, tetap saja seratus kotak kayu besar berisikan tumpukan kertas dikirimkan ke Puncak Angin.


Jelas sekali kalau dia tidak meminta bantuan Tetua di pusat administrasi, kemungkinan besar pekerjaannya ratusan kali lipat lebih banyak dibandingkan saat itu.

__ADS_1


Angin sepoi-sepoi yang melewati jendela menggoyangkan rambut dan jubah abadi kedua orang di dalam ruangan administrasi. Yan Xu menatap ke arah Su Yueyin yang sedikit mengernyit karena kedinginan, menggelengkan kepala sambil meletakkan selimut yang diambil dari kantung penyimpanan dimensinya dengan lembut.


Kemudian dia berjalan ke dekat jendela, menghirup udara segar yang berasal dari luar. Dia menyebarkan kesadaran ilahinya untuk memantau pembangunan tiga paviliun yang tersisa. Semuanya masih berjalan dengan baik, tidak ada kesalahan dalam desain maupun letak bangunan.


"Jika ada yang salah, itu hanyalah tata letak seorang peri yang sedang tidur di belakangku ..." gumam Yan Xu sambil meregangkan otot tubuhnya yang lelah.


Rencana awal Yan Xu saat itu adalah menggunakan Su Yueyin sebagai kuli dengan tujuan membantu pembangunan sekiranya dapat selesai di bawah setengah tahun.


Semenjak pembangunan dimulai, Su Yueyin memang ikut membantu namun setelah pembangunan Paviliun Utara selesai, pergantian rencana secara tiba-tiba dari Lan Xihe mematahkan sebagian perkiraan Yan Xu.


'Sesuatu di dunia memang tidak selalu berjalan mulus, tapi mengapa harus rencana yang aku pikirkan secara matang-matang dan terbukti sangat efektif malah dipatahkan bagai stik es krim begini?!' keluh Yan Xu yang merasa tidak adil akan nasibnya.


Tetapi, dia juga merasa sangat bersyukur karena Su Yueyin memang memiliki kemampuan dalam mengurus beberapa pekerjaan sebagai Tetua. Namun, ada beberapa perubahan situasi yang membuat dia merasa agak canggung dengan perkembangan kondisi di antara mereka.


Kesadaran ilahi Yan Xu menangkap sedikit gerak gerik kecil di belakangnya. Su Yueyin yang baru bangun dari tidur, mengusap lembut kelopak mata indahnya yang masih tertutup rapat dengan jari telunjuk, lalu menguap sambil menutup mulut kecilnya dengan gerakan yang anggun.


Yan Xu berbalik ke sumber suara. Dia tersenyum hangat sambil menjawab, "Murid sudah cukup beristirahat. Jika Tetua Yueyin masih merasa lelah, Murid sarankan untuk beristirahat kembali. Tidak perlu memikirkan segudang pekerjaan yang masih menumpuk ini, Murid sudah menyelesaikan sebagian."


Su Yueyin menggoyangkan kepalanya dengan lembut dan senyuman dingin khas yang menunjukkan kelembutan dari seorang peri abadi, "Aku juga sudah cukup beristirahat. Kalau kamu mau, kita bisa bicara sebentar untuk mengatasi rasa jenuh karena terkurung di sini."


Yan Xu kembali berjalan ke kursinya dengan santai. Saat dia duduk, ia berkata, "Kalau begitu, Murid tidak akan menolak."


Su Yueyin mengangguk lembut, "Kamu terlihat seperti pria yang tidak terbiasa dengan pekerjaan administrasi, ini cukup mengejutkan bahwa kebanyakan pekerjaan sudah kamu selesaikan sendiri."


"Tetua Yueyin terlalu melebih-lebihkanku. Murid hanyalah pelajar yang cepat mengerti dan lupa, tidak ada yang bisa dibanggakan."

__ADS_1


"Tidak, aku serius mengatakan ini. Bahkan Kakak Keempat yang sering mengurus urusan pusat administrasi sekte tidak sebaik dan serapi yang kamu lakukan. Aku bahkan berpikir kalau dia melihat hasil kerjamu, ia akan bersujud kepada Kepala Puncak untuk membawamu ke bagian pusat administrasi sekte!"


Setelah mengatakan itu, Su Yueyin tertawa cekikikan sambil menutupi bagian mulutnya dengan anggun sambil membayangkan hal itu terjadi.


Yan Xu menunjukkan senyum bermasalah dengan kalimat itu. Dia juga tidak terbiasa dengan sikap anggun dan kecantikan elegan khas wanita dewasa dari Su Yueyin.


Terlebih lagi, sudah sangat jelas bahwa Su Yueyin memandangnya sebagai lawan jenis dengan posisi yang setara, bukan seorang Murid Tertua maupun keponakan yang beda generasi di bawahnya.


'Semenjak tiga bulan lalu, dia juga sudah mulai memanggilku dengan "Xu'er" dan "Keponakan Xu Xu". Siapapun yang membaca situasi panggilan dekat ini, akan membuat kesimpulan bahwa hubungan antara kami tidaklah biasa!'


Yan Xu meraung keras di dalam hati. Dia bukanlah tipe orang yang senang akan kedekatan yang tiba-tiba. Apalagi kalau melihat lawan jenis terlihat sengaja mendekatkan diri dengan alih-alih pendekatan secara alami.


Prinsip kehidupan lama dimana harus melalui berbagai macam ujian dan bukan pihak lain yang mengejar, melainkan dia yang akan mengejar mereka masih tertanam hingga ke tulang sumsumnya.


Namun, Yan Xu tidak bisa mengatakan dengan pasti apakah itu benar-benar merupakan sikap asli atau palsu. Dia ingat bahwa kondisi perilaku kesulitan berekspresi Su Yueyin ini dikarenakan hukuman dimana ia tidak boleh meminum anggur.


Tanpa anggur yang memperlemah penekanan emosi, Su Yueyin akan memiliki emosi datar dan dingin namun masih bisa terlihat memiliki ekspresi lembut di wajah cantiknya. Tanpa kepastian, Yan Xu hanya mengira bahwa ini adalah jebakan yang iseng dilakukan karena dia tidak dapat meminum anggur.


Bukan hanya itu, dia juga telah berjanji kepada Su Yueyin untuk membuat pengganti anggur selama masa hukuman sepuluh tahunnya. Namun, dikarenakan Paviliun Selatan dalam proses pembangunan dan perlengkapan yang dibutuhkan masih belum ada, dia terpaksa harus menunda kesepakatan mereka.


'Apakah Tetua Yueyin melakukan ini sebagai pengingat agar aku tidak lupa?' begitulah yang dipikirkan Yan Xu hingga saat ini dan memutuskan bahwa dia akan ikut bermain peran agar tidak melupakan kesepakatan yang belum lunas.


Ketika permainan peran ini berlanjut, di situlah letak bermulanya perasaan ketidaknyamanan yang dia rasakan sekarang.


Yan Xu terkekeh sambil berkata, "Jika Paman Weiyan ingin merekrut Murid, apa yang akan Tetua Yueyin lakukan?" terdapat ekspresi nakal di wajahnya.

__ADS_1


Su Yueyin tersenyum lembut, dia mengangkat sedikit kepalan tangan putih mulus rampingnya yang kecil, "Aku akan memukuli tulang tua Kakak Keempat sampai dia melupakan pemikiran seperti itu!"


Melihat tingkah lucu yang agak kaku itu, membuat Yan Xu tertawa terbahak-bahak sambil menepuk pahanya. Su Yueyin juga ikut tertawa, namun tawanya masih kurang ekspresif seperti saat di Benua Selatan. Ruangan administrasi sementara waktu dipenuhi dengan gelak tawa dua orang itu.


__ADS_2