
Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang dengan waktu sesingkat mungkin, akhirnya mereka bertiga tiba tidak jauh dari gerbang wilayah barat laut ibukota kekaisaran.
Agar tidak menarik perhatian, Bibi Yin membuat kuda peraknya tetap siaga di sekitar tempat pemberhentian, sementara mereka akan memasuki daerah ibukota.
"Kenapa kamu harus ikut dengan kami?!" keluh Miao'er sambil menatap tajam ke arah Bibi Yin dengan penuh permusuhan.
Bibi Yin segera bersembunyi ke belakang Yan Xu sambil berkata, "Sudah jadi tugasku sebagai penjaga kalian agar tidak pergi terlalu jauh."
"Kami tidak pernah membutuhkan itu!" bentak Miao'er, membuat Bibi Yin bergidik karena masih trauma dengan kejadian sebelumnya.
Kelihatannya, posisi Miao'er telah naik tinggi berkat rasa permusuhan dan serangan verbalnya yang tidak bisa dilawan balik oleh Bibi Yin.
Yan Xu yang mengamati mereka berdua menghela napas panjang dan segera menegur adik juniornya, "Miao'er, tetap jaga sopan santunmu."
"B-baik, Kakak Senior!" Miao'er langsung patuh terhadap peringatan Yan Xu.
Dia masih teringat jelas bagaimana Yan Xu bisa tiba-tiba berganti sifat menjadi lebih tegas, membuat Miao'er merasa harus patuh karena tidak mau mendapatkan perlakuan yang sama seperti Bibi Yin sebelumnya dari Yan Xu.
Memastikan Miao'er sudah menjadi penurut, Yan Xu memindahkan Bibi Yin agar berjalan di sampingnya sementara Miao'er berada di sisi lain.
Mereka bertiga berjalan dengan santai menuju ke gerbang wilayah barat laut ibukota kekaisaran.
Keheningan di antara mereka dipecahkan oleh Yan Xu terlebih dahulu untuk menghancurkan atmosfer diam ini, "Bibi Yin, apa kamu tahu suatu tempat dimana banyak barang berharga di wilayah barat laut ibukota?"
"Hmmm ... ada beberapa tempat lelang seperti paviliun menara hitam, putih, hijau dan biru. Biasanya yang paling menarik adalah tempat lelang yang memiliki barang-barang aneh, contohnya seperti Paviliun Menara Hijau."
"Barang aneh seperti apa yang mereka lelang?" tanya Yan Xu mulai merasakan firasat aneh.
"Pakaian bekas dikenakan seorang wanita tanpa dicuci," bisik Bibi Yin dengan suara sekecil mungkin.
Yan Xu mengerutkan keningnya sambil menatap ke arah Bibi Yin, "Bibi Yin, tolong jangan menghasut Murid ke jalan yang tidak bermoral itu."
Bibi Yin tertawa cekikikan sambil menyodok jari telunjuk rampingnya yang indah ke samping perut Yan Xu.
"Sebenarnya itu cuma tampilan luarnya saja, apa yang benar-benar penting adalah rune yang berada di pakaian tersebut."
"Rune?" Yan Xu tidak asing dengan kata tersebut, namun dia masih bertanya karena belum memiliki informasi yang lebih lanjut.
"Rune atau bisa dibilang tulisan kuno yang diukir menggunakan berbagai metode oleh seorang kultivator ahli rune. Ahli formasi dan ahli rune terkadang dilihat sama di mata kebanyakan kultivator, namun sebenarnya mereka memiliki perbedaan."
"Tentu saja, merekanya saja yang terlalu buta dalam menilai keahlian orang lain," ucap Miao'er dengan ketus.
Bibi Yin tertawa canggung kemudian berkata, "Benar, Leluhur Kecil. Mereka terlalu buta, jadi em— sampai mana tadi?— Oh ya, rune yang mereka lelang memiliki berbagai macam jenis dan keunikannya masing-masing."
"Dengan membeli barang yang bertuliskan rune, pembeli dapat mempelajari cara pembuatan juga kerja pada rune tersebut. Pemakaian rune tidak rumit karena bisa diaktifkan secara otomatis maupun manual."
"Jika kamu ingin menyimpan lebih banyak trik di lengan bajumu, rune adalah salah satu pilihan yang tepat."
Mengakhiri penjelasannya, Bibi Yin mengamati seluruh ekspresi wajah Yan Xu dan Ye Miao'er. Di matanya, kedua orang itu sepertinya sedang merencanakan sesuatu usai mendengarkan penjelasan tentang rune.
Yan Xu dan Ye Miao'er saling memandang satu sama lain sebentar kemudian mengangguk, seakan keputusan dengan suara bulat telah dibuat.
Yan Xu melirik Bibi Yin yang berada di sampingnya dengan datar sambil berkata, "Bibi Yin, apakah kamu memiliki pengetahuan tentang rune?"
"Tentu saja! Siapa aku kalau tidak bisa memahami pengetahuan dasar tentang rune!?" jawab Bibi Yin dengan sangat percaya diri.
Yan Xu tersenyum tipis sambil berkata, "Kalau begitu sudah diputuskan. Bibi Yin, kami akan mengandalkan penilaianmu terhadap rune nanti."
"E-eh!? Bukankah itu— ...."
Tidak membiarkan Bibi Yin menyampaikan protesnya, Miao'er segera ambil tindakan.
"Bujangan Tua, kalau kamu ingin mengikuti kami, setidaknya menjadi bergunalah dalam perjalanan ini!" ucap Miao'er ketus dan penuh rasa jijik.
"Lagi?! Beraninya kamu memanggilku Bujangan Tua!— hiks!" Air mata hampir keluar dari kedua mata Bibi Yin yang selalu terkena pukulan telak oleh serangan verbal tanpa ampun Miao'er.
Melihat itu, Yan Xu segera memukul lembut kepala adik juniornya dan berkata, "Jangan menyela ketika orang yang lebih tua bicara!"
"—Aiya! Kakak Senior, kamu seharusnya memukul kepala wanita tua itu karena dia tidak ingin menjadi berguna dan cuma ikut-ikutan saja!" protes Miao'er yang lagi-lagi dengan sengaja melancarkan serangan verbal secara tidak langsung kepada Bibi Yin secara alami.
Hampir tidak kuat menahan siksaan verbal dari Miao'er, Bibi Yin sudah di ujung batasannya dan hampir menangis.
'Ah, mereka mulai lagi,' Yan Xu juga ingin menangis karena lelah secara mental sebelum menikmati perjalanan yang dia inginkan.
Sebagai penengah antara kedua gadis cantik yang ada di sebelahnya, Yan Xu merasa harus lebih tegas dan berhati-hati dalam bertindak. Meskipun terlihat kokoh di luar, Bibi Yin sangat rapuh di dalam, terutama hatinya seperti dinding kaca.
Sementara itu, Miao'er yang berada di sisi lain memiliki kemauan keras dan tidak akan melepaskan setiap kesempatan untuk melancarkan aksinya.
Terjebak di antara keduanya sangat membebani pikiran dan ketenangan Yan Xu. Apapun itu, dia harus segera menyingkirkan permusuhan di antara mereka berdua agar perjalanan ini dapat ia nikmati dengan tenang.
Yan Xu berhenti berjalan dan membuat keduanya saling berjalan berdampingan sebelum berhenti dengan wajah bingung, berbalik ke belakang pada Yan Xu yang tiba-tiba berhenti.
"Aku berubah pikiran, sebaiknya kita kembali saja," ucap Yan Xu dengan datar, seolah kehilangan minat.
"Eh? Kenapa?! Bukankah Kakak Senior selalu mengimpikan dapat berjalan-jalan seperti ini?!" tanya Miao'er dengan nada membujuk dan terdapat kebingungan di wajahnya.
Yan Xu menghela napas sambil menundukkan sedikit kepalanya, "Aku tidak bisa menikmati perjalanannya karena situasi seperti ini. Bagaimanapun dipaksa, rasanya hanya akan membuatku terlalu malas untuk bergerak."
"Ja-jangan begitu, Kakak Senior! Kamu harus semangat! Salah satu tujuan sudah berada di depan mata, sangat disayangkan apabila terlewat begitu saja!" bujuk Miao'er lagi.
Bibi Yin yang melihat betapa kerasnya Miao'er dalam membujuk Yan Xu menjadi tergerak. Awalnya dia mengira mereka hanya berjalan-jalan biasa, tidak tahu kalau sebenarnya tujuannya adalah mengabulkan keinginan Yan Xu.
Bibi Yin yang sudah hidup lama memiliki sifat selalu menghargai bagaimana orang lain berusaha keras demi mencapai keinginan mereka. Terutama melihat Yan Xu yang akhirnya dapat berjalan ke wilayah ibukota kekaisaran yang sudah tepat di depan mereka.
Kesempatan itu tidak boleh dilepaskan begitu saja, walaupun mereka bisa berkunjung lagi. Apa gunanya membuang kesempatan yang sudah berada tepat di depan mata mereka. Hal tersebut tidak bisa dibiarkan begitu saja oleh Bibi Yin.
Dengan hatinya tergerak untuk membantu Yan Xu dalam mencapai keinginannya berjalan-jalan di ibukota kekaisaran, Bibi Yin juga ikut membujuk sebisa mungkin walau harus memberikan sedikit perlakuan khusus kepada Yan Xu yang hampir menyerah dalam mencapai tujuannya.
"Leluhur Kecil benar! Yan Xu, kamu tidak boleh menyerah! Aku juga akan membantu agar kamu bisa menikmati perjalanan ini, oke? Ayo semangat lagi, jangan putus di tengah jalan!"
Miao'er menarik salah satu lengan jubah abadi Yan Xu sambil membujuknya, "Bibi Yin juga sudah berjanji akan membantu, ayo pergi Kakak Senior!"
Wajah Yan Xu tetap datar dan tidak dapat berkata apa-apa karena sambil menahan diri untuk tidak tertawa. Meskipun dia tidak perlu bergerak, Miao'er yang menarik lengan jubahnya sudah menyeret tubuhnya hingga meninggalkan parit di belakang.
Melihat kelakuan mereka sendiri, hampir membuat Yan Xu berteriak seperti orang gila. Mana ada seorang pria dewasa, ditarik— atau lebih tepatnya diseret oleh seorang gadis muda sambil membujuknya agar tidak merajuk.
'Bukankah di sini aku yang akan terlihat seperti kekanak-kanakan?' pikir Yan Xu di benaknya.
Seketika itu juga dia sadar dan menerima serangan atas pikirannya sendiri. Dia akhirnya sadar kalau selama ini dia sedang diseret seperti anak nakal gara-gara tak ingin bergerak karena keinginannya tidak dituruti.
Yan Xu dengan lembut memegang tangan kecil Miao'er yang menarik jubahnya sambil berkata, "Baik, kalian menang. Kita akan melanjutkan jalan-jalannya, tapi semua orang harus berjanji."
Keduanya saling menatap Yan Xu menunggu kalimat berikutnya, seolah mereka telah memberikan persetujuannya dalam diam.
"Tolong tetap rukun dan tidak boleh ada yang membuat masalah satu sama lain. Di tempat orang, kita juga harus menghargai orang lain."
Kedua gadis itu hanya tersenyum hangat, tidak menyanggah apapun dan segera menyetujuinya.
"Baik!"
"Tentu, Kakak Senior!"
Bibi Yin maupun Miao'er segera menghilangkan suasana permusuhan dingin di antara mereka. Dengan begitu, Yan Xu setidaknya merasa lebih tenang karena kemungkinan mereka akan membuat masalah telah diperkecil.
"Bibi Yin, tolong pimpin jalannya," ucap Yan Xu dengan senyum hangat seperti biasanya.
Bibi Yin sempat tertegun sejenak dan segera mengalihkan pandangannya ke depan sambil berkata, "Oke, ikuti aku!"
Dia mulai berjalan ke depan gerbang, memilih rute masuk lain yang sepertinya tidak ada seorangpun telah lewat. Di depan mereka terdapat seorang penjaga yang lebih gagah dibandingkan penjaga di rute lain, dia hanya menatap kosong tanpa bicara kepada mereka.
Tiba di depan penjaga itu, Bibi Yin memberikan isyarat kepada Yan Xu, "Perlihatkan kartumu."
Yan Xu segera mengeluarkan kartu yang diberikan oleh Tetua Fan sebelumnya dan menempatkannya agar terlihat oleh penjaga gerbang. Memastikan kartu tersebut asli, gerbang itu terbuka dan mereka bertiga dipersilahkan masuk dengan gerakan yang sangat sopan oleh penjaga gerbang walau tanpa suara.
Setelah melewati gerbang, Yan Xu menjadi penasaran dengan kegunaan kartu yang ada di tangannya.
"Bibi Yin, apakah kartu ini sangat berharga di wilayah sini?"
Bibi Yin mengangguk dan berkata, "Hanya ada dua puluh kartu yang serupa, jadi kamu bisa mengerti sendiri kan seberapa bernilainya barang yang kamu bawa di sini?"
Yan Xu segera mengerti bahwa kartu ini menunjukkan betapa istimewanya mereka. Dia juga harus menyimpan kartu tersebut agar tidak dicuri.
Ketika dia ingin menyimpannya, seorang gadis yang berpenampilan seusia Miao'er mendatanginya.
Gadis itu segera memberikan salam hormat dengan sangat sopan sambil memperkenalkan dirinya.
"Selamat datang di wilayah barat laut ibukota, Tuan Muda. Namaku, Jiang Nalan, kalau boleh bisakah Tuan Muda membiarkan aku untuk melayani perjalananmu selama berada di sini?"
Belum sempat memberikan jawaban, Bibi Yin terlebih dahulu berbicara.
"Jiang? Apakah kamu salah satu anggota keluarga Jiang?"
Gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Jiang Nalan mengangguk dan menjawab dengan anggun, "Benar, Nona Muda. Aku di sini sebagai perwakilan dari keluarga Jiang untuk menyambut tamu penting yang datang berkunjung secara tiba-tiba hari ini."
Tamu yang datang secara tiba-tiba yang dimaksud oleh Jiang Nalan merujuk kepada kelompok Yan Xu. Mereka yang masuk dengan menggunakan kartu anggota, akan selalu menjadi tamu penting dan sangat dihormati.
Bibi Yin yang sudah menduga kalau hal ini akan terjadi hanya memasang ekspresi biasa, tidak ada keterkejutan sama sekali. Sementara itu, Yan Xu masih mempertahankan sikap tenang yang berwibawa. Dia tidak bisa menjatuhkan wajah Tetua Fan yang memberikannya kartu anggota tersebut dengan perilaku urak-urakan.
Memperhatikan bagaimana kondisi di pihak mereka, Yan Xu sudah menimbang keuntungan maupun kerugian ditemani oleh Jiang Nalan memutuskan untuk mengikuti arahannya.
"Pimpin jalannya," ucap Yan Xu datar seolah tidak terkejut maupun peduli.
Jiang Nalan mengangguk dengan anggun, "Sesuai keinginan Anda, Tuan Muda."
Mereka berjalan mengikuti Jiang Nalan seperti anak itik setiap jalan sambil mendengarkan setiap penjelasan darinya. Setelah berkeliling cukup lama, Yan Xu merasa bosan dan mencari beberapa pertunjukan dadakan di sekitar mereka.
Tidak jauh dari mereka, dia melihat seorang pria dan wanita yang bertengkar hebat dengan suara yang cukup keras. Isi pembicaraan itu cukup jelas sampai dia tidak perlu memperkuat indera pendengarannya.
Yan Xu segera berhenti dan kebetulan, di depan mereka ada sebuah kedai kecil yang sepi dan sangat cocok untuk spot menonton pertunjukan.
__ADS_1
"Aku lapar, kita akan makan sebentar di kedai ini."
"Dimengerti, mohon tunggu sebentar," Jiang Nalan bergegas masuk ke kedai terlebih dahulu untuk memesan tempat sementara ketiga orang lainnya menunggu.
Miao'er yang menyadari ada sesuatu yang aneh, segera berbisik di dekat telinga Yan Xu.
"Kakak Senior, aku tahu kamu tidak merasa lapar dalam artian di perut. Apa ada yang membuatmu tertarik di sekitar sini?" tanya Miao'er penasaran sambil mencari-cari arah yang dilihat Yan Xu.
Yan Xu terkekeh kecil, "Akan ada pertunjukan, itulah kenapa kita akan menonton sebentar."
Mendengar jawaban itu, alis Miao'er berkedut dan matanya menyipit. Dia masih belum mendapatkan maksud pesan dari kakak seniornya. Itu dikarenakan dia terlalu lelah berpikir dalam membalas setiap perbuatan rubah licik yang akan menodai kakak seniornya selama perjalanan mereka berlangsung.
Setelah beberapa menitan, Jiang Nalan keluar dari kedai.
"Semuanya sudah siap, silakan masuk Tuan dan Nona."
"Hoo ... cukup cepat," komentar Bibi Yin.
"Nona terlalu memuji, Itu juga merupakan salah satu kualitas unggulan layanan kami."
"Seperti yang diharapkan dari keluarga Jiang," Bibi Yin hanya menutup mata dan segera mengikuti Yan Xu.
Dalam pertukaran singkat tersebut, Bibi Yin menyinggung bagaimana mereka bisa mendapatkan tempat seenak jidatnya. Ketentuan transaksi umum pada dunia fana, memesan tempat biasanya dilakukan minimal sehari sebelum waktu yang ditentukan. Mengurus segalanya dalam beberapa menit, menunjukkan kalau kekuasaan keluarga Jiang sesuai dengan reputasinya.
Terlebih lagi kedai yang mereka kunjungi memang kecil dan sepi, namun tidak berarti kalau itu adalah kedai miskin yang hampir bangkrut. Sebaliknya, kedai ini biasanya untuk mereka yang bisa membayar mahal dan tempat membeli informasi. Selama mereka berjalan, Bibi Yin hanya berpikir kalau Yan Xu bermaksud untuk membeli informasi dan bukan makanan.
'Apakah dia sengaja menggiring kami ke tempat informasi berkumpul? Tidak mungkin kalau ini kebetulan, bukan?' begitulah yang ada di benak Bibi Yin.
Sementara itu, di dalam benak Jiang Nalan, 'Apakah Tuan Muda sedang mencari informasi untuk melaksanakan tugas dari keluarga besarnya?'
Tidak, tidak sama sekali.
Itu cuma kebetulan karena dekat dengan pertunjukan yang ingin Yan Xu tonton.
Sekali lagi, kesalahpahaman terjadi di antara mereka dan Yan Xu sebagai sumber tidak tahu menahu. Dalam benaknya cuma ada satu, yaitu menonton pertunjukan sambil menjelaskan beberapa ajaran kehidupan untuk adik juniornya.
...
Keempat orang itu telah mengambil duduknya masing-masing di dekat jendela, dimana mereka dapat melihat dengan jelas pertunjukan yang sedang berlangsung.
"Silakan, mau pesan apa, Tuan dan Nona?"
Seorang pelayan datang menghampiri yang dikira Yan Xu sedang ingin mencatat pesanan mereka, dia menatap sekeliling dan berakhir pada Jiang Nalan.
"Nona Jiang, bisakah kamu merekomendasikan menu terenak untuk kami?" pinta Yan Xu.
"Tentu, di kedai ini paling khas dengan ayam bakar manis-pedasnya. Tinggal pilih mau paha atau dada?"
"Hmmm ...." Yan Xu mulai memikirkan bagian mana yang paling nikmat untuknya, sementara itu Miao'er yang sepertinya telah menyadari sesuatu.
Miao'er diam-diam melirik seluruh perabotan yang ada di dalam kedai. Terdapat beberapa jenis senjata beladiri, artefak pajangan yang setidaknya tingkat kuning sebagai dekorasi dan Pemilik yabg cantik sangat tidak cocok dengan imej kedai kecil sepi.
Merasakan tatapan Miao'er, Pemilik hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum ramah. Ketika lambaian itu terjadi, Miao'er memperhatikan bentuk telapak tangan pemilik kedai dan bagaimana otot tubuhnya. Benar saja, postur tubuh itu hanya dimiliki oleh orang yang sudah terlatih.
'Apa ini bukan kedai biasa?' pikir Miao'er dan sekali lagi kecurigaannya terbukti jelas.
Ada sedikit penampakan bayangan di langit-langit kedai, dimana beberapa pasukan tersembunyi sedang siaga. Mereka sepertinya memang sengaja menampilkan sedikit hawa kehadirannya untuk menunjukkan bahwa tidak ada permusuhan terhadap tamu— yang tidak lain adalah mereka.
Yan Xu yang sudah menetapkan pikiran, ingin membuka mulutnya tetapi Miao'er segera menyela terlebih dahulu.
"Bisakah kamu mengambilkan menu makanan terlebih dahulu? Kakak seniorku biasanya suka pilih-pilih dengan apa yang ingin dia makan, perutnya belakangan ini juga sedang tidak stabil," ucap Miao'er mengisyaratkan bahwa mereka hanya ingin makan, bukan untuk hal lain.
Menerima isyarat itu, pelayan yang sudah profesional segera mengerti dan menjawab dengan sopan, "Baik, Nona Muda."
Ketika pelayan itu berjalan memunggungi mereka, Miao'er menghela napas lega. Pergerakan yang tidak biasa dari Miao'er menarik perhatian Yan Xu, namun dia tidak mempertanyakan tentang hal itu sebab pertunjukan yang ingin dia perlihatkan kepada Miao'er akan dimulai.
Yan Xu mengetuk bahu Miao'er dengan jari telunjuknya dan segera mengarahkan pandangan mereka ke arah sepasang pria dan wanita yang sedang berdebat di pinggir jalan.
"Apa ada yang menarik dengan sepasang pria dan wanita itu?" tanya Miao'er sambil memicingkan matanya ke arah mereka.
Dari samping, wajah Yan Xu menjadi sangat serius sambil bicara dengan suara dalam, "Mulai detik ini, kita akan menjadi saksi bisu kelahiran sebuah legenda baru di dataran Xuanyuan."
Miao'er memukul pelan permukaan meja makan dengan tangan rampingnya sambil terkejut, "Kelahiran legenda baru!? Kakak Senior, Miao'er tidak bisa melihat sesuatu yang spesifik dari ucapanmu barusan!"
Yan Xu membuat seringai beringas sambil menatap tajam ke arah pertunjukan, seolah-olah dia seperti pemangsa haus darah.
Dia menuliskan sesuatu di udara menggunakan energi qi, "Pembatalan kontrak pernikahan."
Membaca itu, pikiran Miao'er hampir melayang dan punggungnya sudah basah oleh keringat dingin. Jika ada yang membuat kakak seniornya tertarik, dia tidak akan segan untuk mempelajarinya dengan serius. Namun, kali ini sudah terlalu jauh dari berbagai hal yang selama ini dia pernah lihat.
Agak ragu, Miao'er memberanikan diri untuk bertanya.
"Apakah dia akan menjadi legenda setelah menerima kenyataan pahit tersebut?"
Yan Xu menggelengkan kepalanya dan berkata, "Lihat saja situasinya terlebih dahulu sebelum mengambil kesimpulan."
...
Tidak jauh dari kedai itu, ada sebuah rumah keluarga yang terlihat agak usang dikarenakan pemilik rumahnya telah jatuh.
Dengan kata lain, mereka merupakan keluarga yang telah jatuh pada kondisi kemiskinan dan saat ini, seorang wanita datang dan ingin membatalkan kontrak pernikahannya dengan Tuan Muda yang berasal dari rumah tersebut.
Wanita itu adalah Na Rong, berasal dari keluarga besar ternama di ibukota wilayah utara yang merupakan daerah dengan pengaruh pangeran pertama. Keluarga Na dikenal sebagai salah satu keluarga yang memiliki posisi kuat di bagian militer kekaisaran. Dengan kata lain, tidak mudah mendapatkan relasi dari keluarga yang berbasis militer dengan posisi kuat.
Na Rong memiliki kontrak pernikahan atas keputusan sewenang-wenang dari kakeknya dengan seorang pria dari keluarga Xiao, Xiao Xiaoran. Perjanjian itu dibuat karena kakek Xiao Xiaoran— Xiao Lin— telah menyelamatkan kakek dari Na Rong— Na Zhengzhou— dengan mempertaruhkan harta keluarga Xiao juga nyawanya sendiri dalam peperangan di wilayah benua timur laut.
Terkesan akan keberanian dan betapa berdedikasinya Xiao Lin atas kedamaian penduduk kekaisaran, Na Zhengzhou menjanjikan untuk menikahkan cucu mereka yang saat itu lahir di tahun yang sama sebelum kematian penyelamat hidupnya. Tetapi kenyataan terlalu pahit karena keluarga Xiao mengalami kejatuhan akibat kematian Xiao Lin dan hilangnya harta keluarga mereka.
Bukan hanya itu, dengan kematian Na Zhengzhou beberapa bulan yang lalu menyebabkan Na Rong berani mengambil tindakan untuk melanggar janji antara kakek mereka. Hingga tibalah hari ini, dimana akhirnya dia bisa melepaskan belenggu yang telah mengekangnya selama ini. Benar, itu adalah kontrak pernikahan antara dia dan Xiao Xiaoran.
Semenjak kecil, Na Rong tidak pernah melihat Xiao Xiaoran sebagai manusia apalagi seorang lawan jenis. Xiao Xiaoran memang tampan di atas rata-rata, namun dia masih tidak dapat menarik minat Na Rong.
Bagi Na Rong sendiri, Xiao Xiaoran hanyalah sampah berwajah tampan dan mereka hanya saling melihat tanpa berbicara satu patah katapun setiap bertemu. Banyak hal yang ingin Na Rong ucapkan, namun dia ingin segera mengakhiri ini demi kebaikan semua orang, termasuk Xiao Xiaoran sendiri.
Semakin lama hal yang dipaksa tanpa mempedulikan pendapat mereka, itu hanya akan menyiksa kedua belah pihak lebih lama. Begitulah yang di pikiran Na Rong selama ini, walau dia harus berpura-pura menjadi anak penurut sebelum kematian kakeknya tiba.
Na Rong berdiri di depan pintu gerbang rumah besar keluarga Xiao ditemani oleh beberapa pria tua sebagai wali pendamping dan saksi atas pemutusan kontrak pernikahan mereka.
Di depannya, Xiao Xiaoran terlihat setenang permukaan air danau tanpa memperlihatkan ekspresi apapun. Namun, di dalam hatinya terdapat beberapa kekecewaan atas perlakuan tidak hormat Na Rong kepada keluarga Xiao-nya.
"Bisakah kita membahasnya di dalam kediaman keluarga Xiao? Hal sepenting ini tidak baik dibicarakan di luar," bujuk Xiao Xiaoran.
Namun, Na Rong dengan tegas menolak sambil menaikkan suaranya.
"Tidak! Aku tidak ingin menginjakkan kaki di kediaman keluarga kumuh ini lagi. Kita selesaikan di sini secepat mungkin karena aku tidak ingin membuang waktu dengan keluarga Xiao mu."
Xiao Xiaoran menghela napas lelah dan mengubah ekspresinya menjadi lebih keras, "Na Rong, aku masih bersikap baik karena kakekmu telah membantu kami selama ini. Tetapi, aku tidak bisa mentolerir sikapmu yang tidak sopan di depan kediaman keluarga Xiao."
Tidak gentar, Na Rong menjawabnya dengan tatapan jijik kepada pria di depannya, "Tidak sopan? Untuk apa aku harus bersikap sopan kepada keluarga yang akan bersatu dengan tanah? Sudahi saja percakapan yang tidak perlu ini dan tanda tangani surat pemutusan kontrak pernikahan kita!"
Na Rong mengarahkan sebuah surat yang telah dia tanda tangani terlebih dahulu beserta pena bulu angsa ke arah Xiao Xiaoran.
Xiao Xiaoran mengambil surat perjanjian tersebut dari tangan Na Rong dan segera menandatanganinya tanpa banyak tanya. Meskipun begitu, dia benar-benar merasa kecewa atas tindakan yang tidak sopan kepada keluarganya yang dulu sangat dihormati karena kekuatan militer rahasia mereka yang sebenarnya di atas keluarga Na.
Setelah selesai menandatangani, dia melemparnya kembali, berharap Na Rong akan segera pergi. Namun, di luar dugaan Na Rong tersenyum licik dan mengangkat surat tersebut mengarah ke langit.
Sebuah segel besar, muncul seperti gambar hologram memperlihatkan isi ketentuan pemutusan hubungan antara mereka menyelimuti beberapa wilayah di sekitar kediaman keluarga Xiao. Dengan begitu, semua orang bisa tahu bahwa keluarga Na tidak lagi memiliki hubungan dengan keluarga Xiao dan secara tidak langsung memberikan perlakuan tidak hormat atas kehormatan keluarga Xiao.
Melihat itu, Xiao Xiaoran sudah tidak tahan lagi. Garis hitam di dahinya sudah semakin terlihat hingga beberapa urat nadi bermunculan.
Dia segera berteriak dengan keras ke arah wanita keparat tak tahu malu yang sudah mempermalukan nama keluarga Xiao-nya.
"Wanita biadab! Aku sudah menyetujui permintaanmu untuk membatalkan kontrak pernikahan di antara keluarga kita, mengapa kamu masih menghina keluarga Xiao ku?!"
Na Rong memandang Xiao Xiaoran dengan jijik dan penuh penghinaan di setiap sudut matanya, "Keluarga penjilat seperti keluarga Xiao mu memang pantas mendapatkannya! Tidak mungkin Kakek akan setuju dengan keluarga rendahan seperti kalian kalau tidak ada sesuatu yang terjadi di masa lalu!"
Xiao Xiaoran mencapai batasnya, dia segera maju dan hendak memukul Na Rong namun dia segera dipukul hingga terhempas ke belakang karena seorang wali yang ada di belakangnya.
Xiao Xiaoran yang sudah terhempas dengan menyedihkan, masih mencoba untuk bangkit dan menatap tajam ke arah mereka.
"Kalian ... sudah puas, bukan? Enyahlah dari wilayah keluarga Xiao ku ...."
Salah satu pria tua yang datang bersama dengan Na Rong menggelengkan kepala beberapa kali dan mengarahkan tangannya ke kediaman keluarga Xiao.
Menyadari ada sesuatu yang salah, Xiao Xiaoran segera berteriak dengan putus asa, "Apa yang ingin kamu lakukan?! Berhen— Ughh!"
Sebuah serangan telapak tangan kembali mengenai dada Xiao Xiaoran membuat jatuh ke tanah dengan tubuh yang kotor dan dipenuhi darah. Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia memutar tubuhnya untuk melihat ke arah kediaman keluarga Xiao yang telah lama kosong dan menyisakan dirinya sendiri.
Selang beberapa detik, sebuah telapak tangan besar jatuh dari langit dan meluluh lantakkan kediaman keluarga Xiao hingga rata dengan tanah.
Xiao Xiaoran ingin berteriak, namun sakit di sekujur tubuhnya dengan tulang rusuk yang patah tidak mengizinkan. Hanya ada air mata yang penuh dengan amarah keluar dari kedua matanya. Di dalam hati, dia bersumpah suatu saat akan membalas penghinaan ini kepada keluarga Na.
Sementara Xiao Xiaoran berkabung atas hancurnya rumah yang selama ini merupakan tempat bernaung dan terpenting dalam hidupnya, Na Rong dan kedua pria tua bersamanya hanya memandang jijik dan berbalik arah untuk kembali.
Beberapa langkah menjauh, suara Xiao Xiaoran dapat terdengar dari belakang mereka.
"Tiga tahun! Aku akan membalaskan dendam ini kepada keluarga Na-mu, camkan itu Na Rong!!!"
Na Rong yang tidak mengambil hati hanya mencibir dengan jijik, "Sungguh pria yang menjijikkan."
Mereka terus berjalan menjauh dari kediaman keluarga Xiao, meninggalkan Xiao Xiaoran yang masih menangis tersedu-sedu atas takdirnya.
...
Di dalam kedai, Yan Xu menepuk bahu adik juniornya dengan ekspresi lega.
"Adik Junior, suatu hari mungkin saja pria itu akan menjadi legenda baru dan kita harus menantikannya selama 3 tahun."
Miao'er menjatuhkan rahangnya karena benar-benar tidak mengerti atas ucapan Yan Xu. Dia berkali-kali menatap bolak balik antara Bibi Yin dan Jiang Nalan, namun keduanya masih tetap diam dan tidak ingin bicara.
__ADS_1
Secara tidak langsung, keduanya menolak dalam ambil bagian menghilangkan kebingungan atas ucapan Yan Xu. Mereka juga tidak mengerti darimana asal keyakinan Yan Xu yang mengatakan pria dari keluarga Xiao itu akan bangkit dan menjadi legenda baru atas drama yang biasa terjadi di ibukota.
Jiang Nalan yang setidaknya menyaksikan drama tersebut empat hingga enam kali dalam sehari, tidak dapat berkata apa-apa. Dia juga tidak berani mengatakan itu, takut akan mengganggu pelajaran yang sedang Yan Xu ajarkan kepada adik juniornya. Sebagai pebisnis, keahlian membaca suasana juga sangat diperlukan terutama dalam kondisi sekarang.
Tidak menemukan jawaban yang berguna dari kedua rubah licik itu, Miao'er menanyakan langsung kepada Yan Xu, "Kakak Senior, darimana sumber kepercayaan dirimu yang mengatakan kalau pria itu akan bangkit menjadi legenda baru?"
"Takdir," jawab Yan Xu singkat dan mengambil menu makanan yang diletakkan oleh pelayan di ujung meja mereka.
Gubrak!
Sebuah kursi jatuh dan suara itu bersumber dari pemilik kedai yang tiba-tiba berdiri dengan wajah terkejut.
Dia mendatangi Yan Xu sambil memberikan salam hormat dan berkata, "Tuan Muda, apakah Anda memiliki kemampuan untuk melihat jalur takdir?"
Yan Xu hampir tertawa terbahak-bahak, namun dia menahannya dan membuat wajah melankolis. Dia menatap ke arah jendela tanpa mempedulikan Pemilik sambil berkata, "Takdir kah ... sayangnya, kamu terlalu memandang tinggi diriku. Kemampuan seperti itu tidak ada di dunia ini."
Kemampuan membaca jalur takdir yang dikatakan oleh Pemilik merupakan salah satu tabu menurut hukum ketentuan langit di dunia ini. Makhluk yang tinggal di dunia fana dan masih belum mendalami dunia kultivasi, belum mengerti sama sekali konsep tabu tersebut.
Para kultivator yang biasanya mendengarkan ini, akan memukuli siapapun yang bertanya dengan marah. Pemilik kedai juga sudah bersiap terhadap hukuman dari Yan Xu karena sikap kasarnya yang tiba-tiba.
Namun, dia kali ini salah dan Yan Xu memperlakukan mereka berbeda dengan para kultivator yang sering memandang rendah pada setiap makhluk fana. Kultivator yang satu ini tidak hanya tenang, dia bahkan memperlakukan semua orang sama dengan rendah hati.
Yan Xu yang tidak tahu bahwa dirinya tiba-tiba mendapatkan penilaian tinggi dari Pemilik masih melanjutkan, "Jalur takdir manusia tidak bisa dibaca. Namun, kalian masih bisa melakukan sebuah deduksi terhadap arah mana takdir yang akan diambil seseorang."
Semua mata di ruangan itu melebar. Mereka yang masih bicara dengan suara kecil, langsung menghentikan pembicaraan di antara mereka dan segera membuka lebar-lebar telinganya.
Yan Xu masih terus melanjutkan dalam menyampaikan kalimat yang ada di dalam benaknya tanpa ragu. Itu merupakan salah satu keinginannya untuk mengatakan kalimat keren setiap ada kesempatan.
"Jika dia memilih hanya diam dan membalikkan punggung seperti pecundang, maka dia hanya akan menjadi pecundang seumur hidup."
"Sebaliknya, pria itu mengangkat tangan atas penghinaan yang selama ini telah dengan sabar dia terima. Tidak peduli pria atau wanita, setiap orang akan merasa marah jika keluarga tempatnya bernaung dihina."
"Dengan menghubungkan sebab-akibat dari tindakannya barusan, pria ini memang layak untuk mendapatkan kesempatan berdiri di jalur legenda baru."
Yan Xu mengakhiri kalimatnya sambil menutup kedua mata dan memanggil pelayan dengan mengangkat tangannya secara elegan.
Pelayan itu segera menghampiri meja mereka dengan ekspresi yang lebih hormat sementara Pemilik berterimakasih kepada Yan Xu dan segera kembali ke tempatnya.
Ketika pelayan sampai, dia langsung memberikan salam hormat seperti yang dilakukan oleh Pemilik sebelum melakukan pekerjaannya.
"Sepertinya Pemilik sedang dalam suasana hati yang baik," ucap Yan Xu tersenyum tipis.
"Semua itu berkat Anda, Tuan Muda. Jika Anda ingin, Anda bisa memesan pelayanan terbaik tanpa membayar sepeserpun kepada kami."
Mata Jiang Nalan melebar dan bertanya kembali untuk mengkonfirmasi, "Gratis?"
Pelayan mengangguk, "Benar, Nona Muda."
Rupanya, khotbah yang disampaikan Yan Xu telah memberikan pencerahan kepada Pemilik. Dia juga secara diam-diam memberikan perintah untuk memberikan layanan terbaik kepada tamu istimewa ketika mereka berpapasan tadi.
Kedai kecil yang sepi ini merupakan kantor pusat dari serikat pembunuh bayaran Kafka yang merupakan peringkat kedua di ibukota. Selain melakukan tugas pembunuhan, sebenarnya mereka juga melakukan pengintaian, mengumpulkan informasi dan apapun selama dibayar. Tidak pernah ada dalam sejarah mereka menerima pelayanan gratis, kasus Yan Xu merupakan kali pertamanya.
Mata Jiang Nalan dipenuhi kilauan cahaya baru saat memandang ke arah Yan Xu. Seorang kultivator biasanya memiliki sikap sombong dan inferior atas makhluk dunia fana. Namun, Tuan Muda yang ada di depannya berbeda dengan mereka, membuat naluri wanita sekaligus pebisnis Jiang Nalan semakin sensitif dalam menilainya.
Melihat bagaimana Jiang Nalan menatap Yan Xu dengan cara yang berbeda, naluri kewanitaan Miao'er menjadi lebih kuat. Dia segera melotot seperti kucing kesurupan pada siapapun yang menatap ke arah Yan Xu. Semua orang tidak mengambil hati karena jelas sekali mereka tahu bahwa Miao'er sangat menyukai kakak seniornya, sementara orang yang dia sukai sama sekali tidak peka.
...
Yan Xu yang telah selesai melihat menu, memutuskan pesanannya dan sebelum selesai, dia akhirnya menyadari maksud dari layanan spesial dan kedai seperti apa yang sedang mereka kunjungi.
Dia mengelus dagu walau masih belum pasti dengan tebakannya, tapi sangat jelas bahwa ini adalah kantor dari serikat pembunuh bayaran ketika halaman terakhir menu berisikan layanan pembunuh maupun hal lain beserta harganya.
Memberanikan diri walau sudah terlihat sok keren di depan semua orang, Yan Xu membuka mulutnya, "Katamu tadi layanan terbaik dari kalian adalah gratis, kan?"
"Benar, Tuan Muda," jawab pelayan dengan sigap.
Yan Xu menunjuk ke arah Xiao Xiaoran dan berkata, "Bisakah kalian melindunginya secara diam-diam selama 3 tahun sampai waktu yang dijanjikan tiba? Tidak perlu menjadi penjaga, hanya cukup bantu dia seadanya saja tanpa perlu mengikuti kemanapun ia berada."
"Apa Anda yakin, Tuan Muda? Layanan terbaik gratis seperti ini sangat jarang dan Anda menggunakannya untuk orang lain."
Yan Xu mengangguk dan memberikan jawaban dengan nada yang bijaksana, "Tiga tahun bukanlah waktu yang lama, kalian juga pasti penasaran bukan dengan kelanjutan pertunjukannya?"
Dia menatap bosan ke arah Bibi Yin hingga Miao'er, memaksa mereka untuk setuju. Spontan ketiga orang itu langsung setuju, takut menyinggung perasaan Yan Xu yang sedang menikmati liburannya.
"Baik, apa ada lagi yang lain, Tuan Muda?" tanya pelayan memastikan.
"Tidak ada, kalau bisa tolong percepat membawakan makananku. Aku sudah terlalu lapar," ucap Yan Xu untuk mengakhiri pesanannya.
"Baik, Tuan Muda!"
Pelayan itu memberikan salam hormat dan bergegas kembali untuk menyampaikan pesanan mereka.
Sambil menunggu, percakapan antara keempat orang itu mulai berjalan diawali oleh Jiang Nalan.
"Tuan Muda sungguh dermawan, Lan'er merasa tercerahkan atas kebaikannya."
Yan Xu yang sudah kebal akan pujian membalasnya dengan datar, "Tidak perlu terlalu sopan. Hanya kebaikan kecil, tidak perlu disebutkan ...."
Bibi Yin yang sedari tadi diam melanjutkan, "Kebaikan kecil? Menurutku itu terlalu banyak. Hampir mustahil bagi seorang kultivator peduli akan perkembangan orang lain karena mereka takut menjadi target dari orang yang bertambah kuat itu suatu hari nanti."
"Bibi Yin benar Kakak Senior! Kakak Senior terlalu baik kepadanya. Bukankah membiarkan dirinya dimakan serigala hidup-hidup juga merupakan salah satu latihan untuk menjadi lebih kuat?" sambung Miao'er berapi-api.
Yan Xu menjentikkan jarinya ke ujung hidung adik junior yang nakal itu dan menghela napas kecil.
"—Aiya!" teriak Miao'er sambil memegangi ujung hidung kecilnya yang memerah.
"Dengar ya, di dunia ini tidak ada yang benar-benar gratis. Aku membantu pria itu, berarti suatu hari nanti dia akan berhutang budi kepada kita. Dengan begitu, aku bisa menggunakannya saat ada kesempatan yang tepat," ucap Yan Xu dengan seringai lebar.
"Oh! Kakak Senior memang bijak! Miao'er telah tercerahkan!" kabut di kepala Miao'er telah dibersihkan dengan alasan rasional Yan Xu, membuatnya berhenti menekan kakak seniornya.
Sementara itu, tatapan penasaran dari dua lainnya masih tidak percaya dengan alasan milik Yan Xu. Bisa dibilang mereka masih merasakan hal lain yang belum dibicarakan oleh Yan Xu.
Jiang Nalan membuka mulut kecilnya sambil meletakkan dagu di atas punggung tangan seolah-olah menilai sesuatu, "Tuan Muda, apa gunanya mendapatkan utang budi dari seseorang dengan keluarga jatuh sepertinya?"
Yan Xu menyandarkan kepalanya di atas tangan dan berkata, "Ternak tidak akan mengkhianati Tuan-nya ketika dia dibantu saat masa-masa tersulit. Contohnya seperti yang ada di depan kita."
"Dari sifatnya, aku tahu pria itu adalah orang yang baik dan masih akan kesulitan melupakan perasaan untuk membalas budi kepada penolongnya. Meskipun dia sudah dipermalukan seperti tadi, dia masih waras dan tahu akan batasannya."
"Orang yang masih berpikir rasional dan mengetahui batasannya seperti pria itu, tahu bagaimana menjadi seorang oportunis. Kesempatan baik ini, tidak mungkin akan dia lepaskan walau harus menjilat sepatuku yang dipenuhi kotoran."
Mendengar jawaban Yan Xu, seringai sadis muncul dari sudut mulut Jiang Nalan. Dia sudah tidak bisa menahannya ketika mendengarkan pemikiran Yan Xu dan bagaimana dia memandang pria itu sebagai ternak, bukan manusia.
Jika pria yang ada di depannya ini adalah seorang pebisnis, Jiang Nalan yakin keluarga mereka akan runtuh dalam satu malam tanpa diketahui oleh siapapun. Sama seperti dia yang membuat keluarga Xiao hancur dan mendorong Na Rong untuk menginjak harga diri Xiao Xiaoran.
Bahkan, kematian dari kakek Na Rong sendiri merupakan ulah dari rencana Jiang Nalan. Dia secara diam-diam mengganti salah satu pelayan setia keluarga Na dan meracuni Na Zhengzhou lalu mendorong emosi Na Rong untuk menghancurkan keluarga Xiao.
Semua itu berada di genggaman Jiang Nalan sebagai orang yang menarik benang merah di balik pertunjukan hari ini. Namun, dia tidak menyangka kedatangan Yan Xu beserta rombongannya telah menyelamatkan nyawa Xiao Xiaoran, bahkan membuatnya menjadi bidak catur yang mudah dibuang sama seperti ternak.
Bagaimana bisa dia tidak tertawa dan merasa senang karena menemukan seseorang dengan pemikiran sepertinya?
Begitu melihat seringai Jiang Nalan, Yan Xu juga tersenyum kejam dan mengeluarkan niat membunuh yang sangat kental. Udara di sekitar mereka terasa mencekik, dengan tujuan di arahkan langsung kepada Jiang Nalan.
Meskipun kesulitan bernapas, Jiang Nalan tetap mempertahankan seringainya karena dia tahu Yan Xu sedang mengujinya. Benar saja, setelah wajahnya pucat pasi bahkan hampir pingsan, Yan Xu segera menarik niat membunuhnya.
Yan Xu tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Skenario ini merupakan ulah mu, bukan?"
Jiang Nalan yang mengabaikan penampilannya sedikit berantakan segera menjawab, "Pandangan Tuan Muda memang sangat jeli. Benar, itu disebabkan oleh ku."
"Bagaimana kamu merangkainya hingga jadi seperti ini?" tanya Yan Xu penasaran.
Jiang Nalan memulai penjelasannya yang memakan waktu setidaknya tiga menit walau sudah dirangkum sesingkat mungkin karena makanan mereka sudah berada di atas meja.
Yan Xu yang mendengarkan mengangguk kemudian berkata, "Jika aku jadi kamu, aku akan menargetkan keduanya."
"Adakah cara yang lebih tepat, Tuan Muda?" tanya Jiang Nalan dengan kelopak mata yang terbuka lebar, seolah meminta pencerahan.
"Pertama, tidak perlu membunuh Na Zhengzhou. Aku lebih suka menggunakan pedang Na Zhengzhou untuk mengeksekusi keluarga Xiao dengan tangannya sendiri."
"Tidak mungkin ...." mulut Jiang Nalan menganga lebar karena terkejut. Dia sudah memikirkan cara untuk mencapai skenario tersebut, namun belum ada cara yang tepat.
"Na Zhengzhou sampai mati masih mempercayai keluarganya karena tidak pernah curiga kalau pelayan setianya, walau diganti sih— meracuni dia sedikit demi sedikit hingga ajalnya menjemput."
"Lebih baik menggunakan anggota keluarganya untuk mengkambing hitamkan keluarga Xiao dengan bukti palsu. Dia pasti akan memakan umpannya karena Na Zhengzhou mudah percaya terhadap orang terdekat maupun yang telah menyelamatkan hidupnya."
"Jadi, kesalahan ku tidak memperhatikan sifat mudah percaya itu?" tanya Jiang Nalan.
"Tepat, selain itu kalau kamu berhasil memberikan tekanan batin kepada Na Zhengzhou, kalian bisa melancarkan serangan malam dimana dia masih berkabung atas apa yang telah ia lakukan terhadap keluarga Xiao. Dengan begitu, dalam satu hari kalian telah menghancurkan dua keluarga besar dan mengamankan harta mereka."
Setelah menyelesaikan kalimatnya, Yan Xu segera menyantap makanannya. Dia tidak mempedulikan bagaimana orang lain mulai memandangnya setelah penjelasan singkat tersebut.
Terutama pemilik kedai, Jiang Nalan maupun Bibi Yin. Mereka benar-benar telah melihat seseorang yang tidak boleh terjerumus ke jalan iblis agar umat manusia dapat bertahan hidup di dunia ini.
Jika orang biadab seperti ini memutuskan untuk menghancurkan dunia manusia, kecil kemungkinan mereka bertahan hidup. Walau bertahan hidup pun, rasanya lebih baik mati dibandingkan hidup di dalam skema biadab papan catur pria abadi tampan itu.
Nilai Yan Xu mulai memuncak dan semua orang yang berada di sana telah menetapkan prioritas untuk tidak menyinggung perasaan Yan Xu apabila bertemu dengannya. Serikat Pembunuh Kafka juga akan memperhatikan tugas yang diminta oleh Yan Xu secara maksimal karena takut pria biadab itu akan mengarahkan pisaunya kepada mereka kalau ada yang tidak sesuai dengan keinginannya.
Berdasarkan hari itu, Yan Xu mengingat sangat jelas bahwa sifat asli Jiang Nalan benar-benar licik dan licin seperti pebisnis. Namun, dia tidak menyadari kalau Miao'er semakin berhati-hati terhadap Jiang Nalan karena tahu akan sifat aslinya juga.
Sementara itu, Yan Xu kira Miao'er saat itu tidak mengetahui jelas sifat asli kebengisan Jiang Nalan. Kenyataannya, Miao'er sangat jelas dan benar-benar merasakan bahaya apabila sifat tersebut keluar lalu mengarahkan pisau kepadanya.
Setelah kejadian di kedai kecil itu, mereka melakukan tur normal seperti biasanya dan pulang sesuai jadwal tanpa melewati batas waktu yang telah diberikan oleh Lan Xihe. Mereka juga tidak lupa membawa oleh-oleh minuman keras dari ibukota untuknya.
...
Dengan ini selesai sudah alur dan bab panjang dari Kakak Senior Mengingat Sifat Asli Jiang Nalan!
Mohon maaf karena lama tidak update. Author sedang kesulitan untuk beli kuota, jadi akan update setiap ada kesempatan bisa online saja.
Terima kasih banyak kepada kalian yang sudah setia menunggu update bab selanjutnya!
__ADS_1