Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Keesokan Pagi Kakak Senior


__ADS_3

Keesokan paginya setelah pertemuan rahasia mereka, Yan Xu terbangun dari meditasi dan berjalan menuju ke arah sumur tempat dia biasa mencuci muka.


Percikan air dengan konsentrasi kemurnian yang tinggi mengguyur wajah tampan Yan Xu.


Saat berjalan di halaman utama paviliun timur, Yan Xu merasakan berbagai tatapan menuju ke arahnya. Namun, dia masih berpura-pura tidak tahu dan ia benar-benar tidak ingin peduli akan hal tersebut.


Namun, lambat laun seluruh tatapan itu telah mendorong rasa ketidaknyamanan yang ada di dalam hati Yan Xu.


Dia melirik ke setiap sudut yang sangat sepi dan tidak ada siapapun di sana, tapi sebagai seorang murid tertua langsung kepala puncak, Yan Xu bisa melihat beberapa murid masih menatapnya dari kejauhan menggunakan metode kesadaran ilahi yang mereka ajarkan.


Menghela napas kecil, Yan Xu hanya bisa membiarkan rasa tidak nyaman itu di dalam hatinya. Dia tidak bisa menyalahkan perilaku orang lain terhadapnya karena ia sadar bahwa kemungkinan besar isi pertemuan rahasia telah bocor sangatlah besar.


'Tidak diragukan lagi, bahkan dengan persiapan sebaik apapun, kami masih belum bisa lolos dari setiap mata para anggota maupun Guru.'


Dugaan ini bukan tidak berdasar karena dia juga membiarkan dua tikus kecil itu menyelinap. Itu sudah membuktikan bahwa ada seseorang yang membantu mereka yang tidak lain merupakan langkah kecil dari Ye Miao'er.


'Dia selalu sengaja memberikan sebuah celah agar semua orang tahu apa yang sedang kami lakukan. Adik Junior bukanlah orang yang ceroboh, dia sengaja membuat celah untuk menarik minat Guru dalam memperhatikan kondisi kepindahan Bibi Yueyin. Tentu saja tujuan utamanya adalah agar Guru mau memberikan bantuan, tidak peduli sekecil apapun itu.'


Persiapan yang matang walau sengaja membiarkan sebuah celah merupakan salah satu kebiasaan Ye Miao'er dalam bertindak.


Menurut Yan Xu, setiap celah yang ditinggalkan Ye Miao'er merupakan salah satu langkah pengaman untuk kabur jika situasi tidak menguntungkan terjadi. Kebiasaan itu membuat Yan Xu tidak akan pernah menyalahkan asik juniornya apabila ada informasi yang bocor. Kebocoran informasi juga merupakan sebuah keuntungan dalam musibah apabila dilihat dari sisi orang biadab seperti mereka.


'Celah dalam kesempurnaan juga merupakan jalan untuk kabur menuju area aman.'


Menghela napas sekali lagi, kali ini Yan Xu merasakan sensasi dingin menjalar di punggungnya.


Dari kejauhan terlihat seorang wanita sedang mengendarai awan terbang menuju ke arahnya. Sensor bahaya yang ada di dalam dirinya telah bergetar hebat.


'Tidak mungkin akan secepat ini ...' gumam Yan Xu dalam hati dengan wajahnya yang masih datar dari luar.


Matanya menyipit dan langsung menuju ke arah wanita yang menggunakan jubah abadi serba putihnya.


Dia tidak lain adalah Kepala Puncak Angin, Lan Xihe.


Yan Xu memberikan salam hormat kepada gurunya yang sedang mendarat, "Murid memberi salam kepada Guru!"


"Santai saja~" seperti biasa, Lan Xihe dengan santai menyambut salam dari murid nakalnya.


Dia berjalan ke samping Yan Xu, tidak jauh dari sana terdapat sebuah pohon besar. Lan Xihe memberikan kode melalui tatapannya agar mereka duduk di bawah naungan pohon besar tersebut.


Tidak dapat menolak, Yan Xu dengan hati-hati berjalan berdampingan dengan gurunya.


Matanya memang melihat ke depan, namun Yan Xu telah mengaktifkan penglihatan ilahinya untuk memantau pergerakan Lan Xihe.


Benar saja, hanya berjarak selangkah dari tujuan, Lan Xihe sudah menggerakkan kakinya ke atas, bermaksud untuk memberikan tendangan kejutan kepada Yan Xu.


Yan Xu yang telah siap segera melompat ke atas dan membuat pedang dari energi qi, kemudian dia menusukkan pedang itu tepat ke leher gurunya.


Setelah serangan kejutannya berhasil dihindari, Lan Xihe meraih sebuah seruling dari kantung penyimpanan dimensinya. Dalam sepersekian detik sebelum pedang energi milik Yan Xu dapat mencapai lehernya, Lan Xihe telah melancarkan sebuah gelombang suara.


Gelombang itu menerjang ke arah Yan Xu seperti ombak, membuat dia mundur beberapa langkah.


Mereka berdua berdiri di posisi masing-masing, saling mengamati dan tidak melakukan pergerakan yang sia-sia.


Untuk kedua kalinya, Lan Xihe berbicara dengan nada tegas.


"Apa yang kamu dapatkan dengan bermain peran sebagai pahlawan bagi seorang gadis lugu?"


Deg!


Jantung Yan Xu berdebar kencang hanya dengan mendengar satu pertanyaan dari gurunya.


Dia tidak tahu mengapa, namun dia merasakan sensasi sakit dan sesak di dada. Tanpa sadar, lengan kiri Yan Xu memegang dadanya sendiri yang mana di rasa sakit.


Melihat itu, Lan Xihe kembali bertanya dengan nada yang sama, "Keuntungan apa yang bisa kamu peroleh darinya?"

__ADS_1


Tekanan yang kuat dari aura seorang Lan Xihe ditujukan langsung kepada Yan Xu tanpa rasa ampun.


Meskipun begitu, Yan Xu tetap kokoh berdiri dan memegang dadanya yang sudah terasa sesak.


Dia masih tidak mengerti kenapa gurunya melakukan hal tersebut. Namun, dia yakin jauh di dalam kekasaran yang biasanya, kali ini ada yang berbeda. Seolah-olah pertanyaan itu bukan diarahkan kepada Yan Xu, atau mungkin mereka memiliki maksud lain.


'Intinya, guru bertanya kepadaku. Keuntungan apa yang bisa didapatkan dengan melalui semua kesulitan ini? Apa aku harus membuang nyawa hanya demi urusan sepele ... tidak, ini bukan urusan sepele ....'


Perlahan, Yan Xu mulai mengerti mengapa dadanya merasa sakit dan sesak napas yang berlangsung hingga sekarang.


Itu bukan karena penekanan dari aura Lan Xihe, melainkan dari dirinya sendiri.


Menghirup sedikit udara segar dari mulutnya, Yan Xu mulai bicara.


"Tidak ada."


Itu merupakan jawaban terjujur yang pernah ia katakan hari ini. Dia tidak meminta keuntungan atau balasan dari semua yang akan dilaluinya. Setidaknya, bagi Yan Xu, memberikan sebuah tempat yang nyaman bagi orang-orang di sekitarnya merupakan salah satu kebahagiaan tersendiri.


Di sisi lain, Lan Xihe yang mendengarkan jawaban itu merasa terusik akan pendirian Yan Xu yang tidak bisa dia pahami.


'.... Kalau tidak ada, kenapa kamu harus segitunya sampai-sampai akan mengorbankan nyawamu?!' setidaknya, begitulah yang diucapkan melalui mata indah Lan Xihe.


Tidak ada kebencian yang terpancar dari Lan Xihe, hanya rasa ingin tahu murni.


Yan Xu juga bisa merasakan itu karena tidak mungkin orang seperti Lan Xihe tidak peduli akan tindakan muridnya.


Yan Xu kembali melanjutkan ucapannya dengan tenang, "Murid tidak akan merasa bersalah karena melakukan sesuatu tanpa seizin Guru. Karena Murid yakin, Guru tidak akan pernah menolak sesuatu yang dapat membuat Murid menjadi lebih kuat."


"Lebih kuat ya ...."


Lan Xihe menggembungkan pipinya. Dia terlihat sangat manis andai saja aura yang mendominasi itu tidak ada. Namun, apapun itu, bagi Yan Xu dia tetaplah seorang Guru yang penuh perhatian kepada muridnya.


Yan Xu tersenyum lembut dan berkata, "Murid tidak bisa terus berjalan di zona aman. Ini adalah kesempatan bagi Murid untuk berkembang lebih jauh lagi. Mohon pertimbangkan ini, Guru!" dia menangkup kedua tangannya dengan tatapan pasti.


"Dasar pembohong. Bilang saja kalau kamu ingin mengambil keuntungan dari hasil ujian tersebut," ucap Lan Xihe dengan nada yang tak percaya.


"Ambil saja contohnya seperti ... membuat seorang peri cantik berwajah dingin jatuh cinta kepadamu."


"...."


Menggaruk punggung kepalanya, Yan Xu hanya memberikan tatapan keheranan kepada gurunya tanpa menjawab.


Menepuk pelipisnya, Lan Xihe terlihat seperti merasa pusing dengan kepekaan murid nakalnya.


Dia tidak tahu apakah Yan Xu benar-benar tidak mengerti atau cuma berpura-pura.


Untuk mengetahui itu, dia langsung mengalirkan energi qi pada serulingnya. Sebuah gelombang energi qi besar dapat terlihat menyelimuti artefak itu.


"Mungkin hanya dengan bertukar pukulan kita bisa menyampaikan isi hati," ucap Lan Xihe dengan nada kecil.


Setelah mengucapkan itu, dia kembali melancarkan serangan dari serulingnya.


Sebuah tebasan dengan gelombang suara tak berwujud telah diarahkan kepada Yan Xu dan siap untuk memotongnya hingga ratusan bagian!


"Keugh!"


Yan Xu segera mengaktifkan sebuah formasi pelindung yang dia persiapkan di seluruh halaman paviliun timur.


Beberapa lapisan pelindung muncul di depan Yan Xu dan memblokir serangan dari Lan Xihe.


Hanya setelah menyentuh perisai tersebut, seluruh lapisan menjadi hancur dan terus melesat maju ke arah Yan Xu berdiri.


Namun, dia sudah tidak ada di sana.


Yan Xu menggunakan teknik pengejaran jiwa dan sudah sampai di samping Lan Xihe.

__ADS_1


"Pembakaran samadhi!"


Api samadhi menyelimuti pedang energi milik Yan Xu. Di menebas langsung ke arah Lan Xihe.


Lan Xihe mengambil sedikit langkah ke samping dan memberikan perlawanan dengan membelokkan lintasan tebasan pedang Yan Xu menggunakan serulingnya.


Dengan lintasan pedangnya telah diubah, Yan Xu segera melempar pedang itu dan membiarkan terbang kemudian membelah diri.


Ratusan pedang energi kini terbang menuju Lan Xihe!


"Gerakan yang bagus, tapi— humph!"


Hanya dengan menghentakkan kakinya, Lan Xihe membuat gelombang energi dan menyerang balik ke arah ratusan pedang energi yang datang dari segala penjuru.


Ratusan pedang telah musnah namun Yan Xu masih ada dengan gerakan secepat kilat, dia melesat maju dan memberikan serangan telapak tangan menuju bahu kanan Lam Xihe.


"Beradu teknik tangan kosong? Sepertinya kamu terlalu meremehkan aku!"


Lan Xihe menangkap pergelangan Yan Xu dan menguncinya dengan erat menggunakan tubuhnya.


"Guru ... Gerakan mengunci ini ...."


Yan Xu yang tidak bisa menahan sensasi tangannya yang tiba-tiba ditekan oleh keindahan alami milik Lan Xihe, tidak bisa tidak berhenti dan mengerutkan keningnya.


Lan Xihe hanya tersenyum lebar dan ketika Yan Xu mengetahui arti dari tindakan tersebut, semuanya sudah terlambat.


Pandangan Yan Xu kini telah berputar.


"Urrraaaa!"


Dengan teriakan keras, Lan Xihe membanting Yan Xu ke tanah menyebabkan gempa dengan guncangan dahsyat.


Duar!


"Keugh!"


Yan Xu langsung memuntahkan seteguk darah karena serangan mematikan milik Lan Xihe.


Tidak sampai di situ, Lan Xihe duduk di atas tubuh Yan Xu yang terkapar di tanah.


"Gu ... ru ...." Suara lemah Yan Xu memanggil Lan Xihe terdengar menyedihkan.


"Masih ingin lanjut?" tanya Lan Xihe datar.


"Tolong ... Ja ... ngan .... Duduk ... di ...... situ ...." rintih Yan Xu dengan sangat memohon.


Masih tidak mengerti, Lan Xihe hanya mengerutkan keningnya.


Namun, tidak sampai dua detik dari permintaan itu, tiba-tiba Lan Xihe merasakan sesuatu yang bergerak di bawahnya.


"Kyaaaa!!!"


Duar!


Wajahnya memerah seperti tomat dan segera berteriak sambil memukul wajah Yan Xu dengan sangat keras!


"Ka-kamu! Murid biadab!" teriak Lan Xihe dengan wajahnya yang memerah.


Yan Xu yang hampir mati hanya bisa menangis dalam hati.


'Dewa, aku adalah seorang pria normal. Apa salahnya jika teman kecilku bergerak karena sedang diduduki oleh seorang peri secantik Guru? Hanya saja, aku sudah memberikan peringatan, jadi ini bukan salahku, bukan? Terus ... Kenapa malah aku yang disalahkan? Dimana keadilan dewa? Dimana kesetaraan antara pria dan wanita?'


Yan Xu terus menerus mempertanyakan keadilan dewa terhadap nasib buruk yang sedang menimpanya pagi ini.


Setelah beberapa saat kemudian, Lan Xihe yang sudah tenang kemudian memberikan pil penyembuhan ke mulut Yan Xu kemudian duduk di bawah naungan pohon besar.

__ADS_1


Sementara itu, bidang tanah yang telah hancur mulai meregenerasi ulang agar terlihat seperti semula.


Yan Xu yang dalam masa pemulihan, tidak bergerak sedikitpun menunggu gurunya berbicara.


__ADS_2