Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Mengingat Kembali Sifat Asli Jiang Nalan - 4


__ADS_3

Saat perjalanan menuju ke aula utama.


Miao'er terlihat agak gelisah, membuat Yan Xu tidak dapat menahan diri untuk bertanya.


"Adik Junior, kenapa kamu gelisah?"


"Hm? Apa kegelisahanku sangat terlihat?" tanya Miao'er balik, sambil tertawa kosong.


Yan Xu mengangguk, "Sangat jelas terlihat, walau kamu berdiri sejauh tiga langkah dariku."


Mulut Miao'er terbuka lebar dan segera menutup kembali. Dia tidak mengira kalau Yan Xu selama ini terus memperhatikannya walau harus fokus pada pengendalian awannya.


Dia terlihat ragu ingin mengeluarkan apa yang sedang dipikirkan, hanya saja desakan dari ekspresi penasaran Yan Xu membuatnya segera menyerah.


Miao'er dengan hati-hati memilih kalimat yang akan keluar dari mulutnya, "Memberikan Guru hadiah tidak pernah masuk ke dalam rencana kita. Miao'er jadi bingung, kenapa Kakak Senior melakukan itu. Jujur, Miao'er hampir saja tidak bisa mengikuti arus tindakan Kakak Senior saat ingin memberikan penghormatan kepada Guru."


Sebenarnya, memberikan hadiah dan mendapatkan waktu liburan seminggu bukanlah rencana mereka. Miao'er hanya mengikuti tindakan Yan Xu secara spontan dan segera beradaptasi dengan kondisi mereka. Kemampuan sosialisasi dari seorang Qian Chuchu-lah yang berperan sangat penting dalam kelancaran proses skenario sebelumnya.


Segala macam tindakan Yan Xu membuat Miao'er merasa bingung, seolah tidak biasanya Yan Xu melakukan hal tersebut. Bahkan walau ada seribu kesempatan dalam melakukannya, menurut Miao'er pria itu tidak akan pernah bertindak tanpa memikirkan keuntungan pribadi.


Namun, apa yang terjadi sebelumnya sangatlah berbeda. Miao'er bisa melihat ketulusan dan rasa penuh syukur dari bagaimana Yan Xu mengekspresikan diri. Hal tersebut juga mempengaruhi bagian dalam diri Miao'er, meski pada awalnya dia cuma beradaptasi.


Menanggapi kebingungan yang ada di benak adik juniornya, Yan Xu mulai menjelaskan dengan suara yang lembut dan kecepatan yang sangat nyaman untuk didengar.


"Adik Junior, kadang apa yang kamu lihat dari setiap tindakan orang lain adalah apa yang mereka harapkan akan terjadi kepada mereka juga."


"Mari ambil contoh seperti seseorang yang pernah aku kenal. Dia adalah seorang pendengar yang baik, selalu mendengarkan setiap permasalahan orang lain dan memberikan saran yang bermanfaat bagi mereka. Namun, kenyataannya dia juga berharap agar orang lain mau menjadi pendengar atas masalahnya."


"Apa yang terjadi dengan orang itu?" tanya Miao'er penasaran.


"Pada akhirnya, tidak ada yang mengerti harapannya. Kebanyakan orang hanya melihat bagian luar, tetapi jarang ada yang benar-benar dapat memahami bahasa tindakan orang lain."


"Aku harap orang itu suatu hari nanti akan menemukan seseorang yang mau mendengarkan masalahnya," ucap Miao'er dengan nada kasihan.


Yan Xu tertawa kecil kemudian berkata, "Yah, mungkin saja dia sudah menemukannya."


"Benarkah?" Ekspresi Miao'er mulai cerah, tetapi dia terdiam karena ucapan berikutnya.


"—Akan tetapi, seseorang yang memahami tindakannya telah tiada," lanjut Yan Xu dengan ekspresi muram.


Miao'er sedikit menutup mulutnya, "Terus, bagaimana keadaan orang itu setelah kehilangan harapannya?"


"Dia mengembara dalam kondisi kehilangan arah, mengelilingi perjalanan yang dinamakan kehidupan bagai di neraka dan selalu dihantui oleh mimpi buruk."


Miao'er menutup matanya seolah merasakan duka yang sama. Dia juga pernah merasakan kehilangan seperti itu, jadi memiliki sedikit rasa berkabung atas penderitaan orang yang disebutkan oleh kakak seniornya adalah hal wajar.


"Pada akhirnya, kematian merenggut harapan dan orang terkasih, kah ..." gumam Miao'er dengan suara rendah.


Yan Xu yang sudah mempertajam pendengarannya, dapat mendengar jelas gumaman itu.


Dia mengangkat tangannya dan menepuk pundak kecil Miao'er agar adik juniornya yang sedang menundukkan kepala menghadap ke arahnya.


Dengan senyum hangat dia berkata, "Setiap pertemuan, pasti akan ada perpisahan. Karena itulah sepasang jiwa yang saling merindu akan bertukar beberapa bait, berharap di kehidupan selanjutnya mereka akan dipertemukan kembali."


Mendengar itu, mata Miao'er melebar. Keterkejutannya tidak dapat dia sembunyikan. Alasan mengapa dia tidak bisa menyembunyikan itu karena seseorang pernah mengatakan hal yang sama, dengan kalimat yang persis seperti milik kakak seniornya.


Sementara, kewarasan mulai sedikit goyah. Hal yang sangat ingin dia percaya mulai terbesit kembali di benaknya. Dengan kesempatan ini, dia ingin memastikan sesuatu.


Miao'er meraih tangan Yan Xu dengan dengan kedua tangan rampingnya, tangan yang lebih besar itu terasa hangat, lebih hangat dari sebelumnya.


Kedua mata cokelat indahnya menatap Yan Xu dengan penuh perhatian dan ketetapan hati yang teguh.


Miao'er memberikan dorongan kuat pada mulut kecilnya agar terbuka, saat inilah yang sudah dia tunggu dalam memastikan setidaknya, orang yang berada di depannya kemungkinan memiliki jiwa yang sama.


"Bisakah Kakak Senior mencontohkan bait tersebut?" pinta Miao'er dengan sungguh-sungguh.


Melihat kesungguhan pada wajah kecil adik juniornya yang sangat jarang terjadi, Yan Xu melupakan sejenak bagaimana Miao'er tetap memegangi tangannya dengan erat seakan tak dapat dilepas.


Dengan senyum hangatnya, dia mulai melantunkan beberapa bait yang akan akan menghubungkannya kepada semua orang.


"Di bawah bulan yang sama...."


"Kita berbagi kenangan bersama ...."


"Tak peduli seberapa jauh kita berpisah ...."


"Kenangan itu kan tetap indah bagai sinar rembulan yang selalu sama ...."


"Para pecinta saling merindu saat tibanya malam ...."


"Mereka saling mengangkat gelas di bawah sinar rembulan yang sama ...."


"Sambil ditemani hening dan embusan angin malam ...."


"Ingatan 'kan kebersamaan akan selalu abadi di bawah sinar rembulan yang sama ...."


Ketika bait itu berakhir, Miao'er masuk ke dalam kondisi aneh. Dia tidak bergerak sedikitpun, seolah-olah waktu telah berhenti untuk dirinya sendiri.


Penyebab dari semua itu adalah bait yang diucapkan oleh Yan Xu bahkan sama persis, tidak ada perbedaan sama sekali. Miao'er merasa ragu harus bersikap bagaimana ketika hal yang ingin dia percaya benar-benar terjadi di hadapannya.


Seseorang yang selalu dekat dengannya saat ini, merupakan pria yang sama dengan orang yang telah dia ingin hidup bersama selamanya. Namun, masih ada beberapa hal yang belum bisa dia katakan.


Miao'er masih merasa bimbang apakah dia harus mengatakan kalau ia sebenarnya adalah manusia yang bereinkarnasi dari Bumi. Jika Yan Xu tidak memiliki ingatan pria itu dan hanya mengatakan beberapa hal yang mirip karena kepingan jiwa itu adalah pria yang ia cintai, hubungan mereka akan memasuki keadaan rumit.


Ketika Miao'er yang terus berpikir keras bagaimana harus menanggapi keajaiban di depannya, Yan Xu yang sudah menunggu lama untuk tanggapan adik juniornya sudah tidak dapat bertahan dengan keheningan di antara mereka.


"Adik Junior? Apa kamu mendengarku? Apa kamu masih disana? Oooiiiiii~~" dia memanggil Miao'er dengan lembut beberapa kali.


Segera tersadar dari pemikirannya yang dalam, Miao'er tersenyum cerah. Dari caranya yang tersenyum dengan tulus, Yan Xu bisa tahu kalau adik juniornya merasa bahagia walau dia tidak mengerti apa penyebabnya.


"Maaf Kakak Senior, aku terlalu banyak berpikir," sahut Miao'er sambil menjulurkan lidahnya.


"Tidak apa, terkadang saat aku berpikir juga akan lupa dengan sekitar," balas Yan Xu sama sekali tidak mengambil hati atas tindakan adik juniornya.


"Ngomong-ngomong ..." Yan Xu melirik tangannya yang masih dipegang oleh Miao'er, "Bisakah kamu melepaskannya?"


Mengikuti arah tatapan Yan Xu, mata Miao'er membentuk bulan sabit kemudian dia tidak segan memeluk Yan Xu dari samping.


"A-adik Junior, tolong jaga sikapmu sesuai sumpah dao kita!"


"Bukankah itu cuma saat kita berada di depan umum. Sekarang cuma ada kita berdua di ketinggian ini, Miao'er tidak akan melepaskan Kakak Senior apapun yang terjadi!" balas Miao'er tanpa peduli dengan Yan Xu yang sudah berkeringat dingin karena perubahan tiba-tiba ini.


'Di kehidupan ini, aku akan membuatmu benar-benar tidak akan pernah bisa lepas dariku apapun yang terjadi!' begitulah ketetapan hati Miao'er yang telah dia deklarasikan dengan keras di dalam benaknya.


Yan Xu menghela napas panjang dan membuat penghalang ilusi untuk menutupi mereka. Sekali ini saja, dia akan membiarkan adik juniornya melakukan apapun yang diinginkan agar tidak mengganggu wajah bahagianya.


Hati Yan Xu yang lembut terhadap Miao'er tidak tega saat melihat wajah paling bahagia adik juniornya akan hilang apabila dia tidak ikut bermain.


Setidaknya, dia berharap Miao'er akan selalu sebahagia ini di setiap hari yang ia jalani selama hidupnya. Harapan tulus itu adalah hal yang wajar bagi seorang kakak senior pada adik juniornya, begitulah pikir Yan Xu.


...


Sesampainya di aula utama, kedua kakak-beradik seperguruan itu berjalan dengan santai langsung ke arah Tetua Fan yang berada di bagian administrasi pusat.


Melihat sosok yang belum dikenalnya secara penampilan namun sangat mirip pada bagian auranya, ekspresi Tetua Fan yang keras berubah menjadi lembut.

__ADS_1


Dia segera menghampiri kedua pria dan wanita itu sambil memberikan salam sambutan, "Baru dua hari berlalu semenjak pertemuan terakhir kita, tidak ku sangka kita akan bertemu lagi dalam suasana yang cerah begini."


Yan Xu yang memimpin menangkupkan kedua tangannya dan menjawab salam itu dengan sopan, "Senang bertemu denganmu lagi, Tetua Fan."


Tetua Fan tertawa geli, "Hahaha~ seharusnya kamu memanggilku Adik Fan. Mari kita anggap itu sebagai kesopanan di depan umum untuk sekarang. Jadi, ada urusan apa kamu mencariku, saudaraku?"


Mendengar betapa akrabnya sebutan Tetua Fan kepada kakak seniornya membuat Miao'er tercengang dan tidak dapat berkata. Ini bahkan terlihat sangat aneh karena orang yang jelas jauh lebih tua dari mereka bahkan menyebut dirinya sebagai adik!


Mengabaikan perasaan adik juniornya yang bingung, Yan Xu tetap bicara akrab dengan Tetua Fan.


"Sebelum urusanku, bukankah lebih penting untuk memperlihatkan sesuatu yang dengan susah payah aku buatkan untukmu, Tetua Fan?"


Mendengar itu, mata Tetua Fan melebar dan dia sungguh merasa terharu akan saudaranya yang selalu perhatian. Namun, berbeda dari hari-hari sebelumnya, dia merasa ada sesuatu yang baru kali ini.


Tetua Fan segera mengundang mereka berdua ke kantor pribadinya agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan penting tersebut, "Jika itu yang kamu inginkan, bagaimana kalau kita berbicara di kantor pribadiku?"


Yan Xu segera setuju, "Tentu, lakukan saja senyaman mu."


Dengan begitu, Yan Xu dan Miao'er mengikuti Tetua Fan ke kantor pribadinya.


...


Di dalam kantor pribadi Tetua Fan.


Beberapa berkas dokumen telah berserakan dimana-mana dan hampir memenuhi seluruh ruangan. Furnitur di dalam ruangan tersebut juga agak kuno karena mengikuti desain dasar abad terkebelakang, dimana yang disebut mesin bahkan listrik tidak ada sama sekali di dunia ini.


"Maaf kalau kantorku terlalu berantakan, aku harap Kakak tidak tersinggung. Kalau aku tahu kamu akan datang, aku akan segera membersihkan tumpukan kertas memusingkan ini," ucap Tetua Fan sambil memberikan postur mempersilakan mereka duduk.


Sambil duduk Yan Xu berkata, "Tidak apa, ini salahku karena sering mengunjungimu tanpa pemberitahuan. Selain itu, aku sudah memiliki hasil dari yang pernah kita diskusikan sebelumnya."


Wajah tua Tetua Fan mulai mengencang karena terkejut, "Maksudmu, akhirnya aku bisa menggunakannya?!"


Yan Xu mengangguk sambil tersenyum, dia mengeluarkan bungkusan yang berisikan tiga ikan spiritual dan tiga kukit wajah palsu.


"Berkat arahanmu dalam pengendalian pembentukan wajah menggunakan energi qi, akhirnya produk uji coba ini berhasil dibuat."


Menghiraukan ucapan Yan Xu, tubuh Tetua Fan bergetar hebat. Dia dengan hati-hati meraih kulit wajah palsu itu kemudian memakainya.


Setelah beberapa saat, dia langsung melihat ke arah cermin. Wajah seorang pria muda gagah dan lumayan tampan, merupakan wajahnya saat masih muda dan kuat dahulu.


Air mata kebahagiaan mengalir dari mata Tetua Fan yang merindukan sosok penampilan muda yang sangat dia inginkan.


Melihat itu, Yan Xu menepuk pundak Tetua Fan, "Saudara Fan, akhirnya harapanmu terwujud. Aku harap kamu dapat menggunakan dan merahasiakan barang ini dengan bijak— Uhm?!"


Tanpa peringatan, Tetua Fan yang berganti wujud memeluk Yan Xu dengan isak tangis kebahagiaan, "Kakak Xu, aku akan selalu menjadi adikmu entah itu di kehidupan ini maupun kehidupan selanjutnya! Sumpah ini akan terus ada selama jiwaku tetap utuh dan masih menendang di kehidupan manapun!"


"Te-tenangkan dirimu, saudaraku."


Yan Xu mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan erat dari pria tua yang memproklamirkan diri sebagai adik sesumpahnya itu. Bahkan dia sudah menggunakan kedua kakinya untuk menendang Tetua Fan, namun pria tua itu masih lengket seperti lem pada tubuhnya.


Yan Xu melirik ke arah Miao'er mencoba untuk meminta bantuan, namun Miao'er segera mengalihkan pandangannya dan hanya tertawa cekikikan.


Pelukan hangat penuh dengan isak tangis kebahagiaan seorang pria tua dan sangat lengket itu akhirnya berakhir setelah beberapa menit kemudian.


Tetua Fan duduk dengan penuh wibawa menggunakan wajah barunya. Sekarang, sudah saatnya mereka membicarakan urusan penting setelah memberikan sogokan—uhuk!— hadiah kepada Tetua Fan.


Yan Xu langsung mengatakan tujuan mereka, "Kami ingin pergi ke ibukota Kekaisaran Agung Ming selama satu minggu, tidak kurang atau lebih lama."


Dari mendengar satu kalimat itu, Tetua Fan sudah memiliki spekulasi apa yang diinginkan oleh saudaranya.


"Jadi, kalian membutuhkan informasi, izin keluar dan transportasi khusus agar satu minggu itu tidak terbuang sia-sia?"


"Benar."


Tetua Fan mengangguk sambil memejamkan kedua matanya, tenggelam dalam pemikiran seorang pekerja di administrasi pusat sekte.


Sedangkan untuk bepergian ke ibukota, bisa memakan waktu tiga hingga lima hari dalam kecepatan normal seorang kultivator. Sedangkan waktu mereka sangat terbatas, tidak mungkin Tetua Fan tidak mengerti kalau kedua orang ini membutuhkan transportasi dengan kecepatan tinggi yang setidaknya seperempat hari bisa sampai ke ibukota kekaisaran.


Untuk informasi, dia masih suam-suam kuku pada apa yang diinginkan oleh saudaranya. Membicarakan ini di belakang dari dua di atas seharusnya merupakan langkah yang tepat— tidak, itu memang urutan yang memang sudah benar.


Tetua Fan yang sudah memikirkannya dengan matang mulai membuka mulutnya.


"Izin kalian akan segera beres saat aku sudah mulai mengerjakannya. Untuk transportasi, tolong berikan aku waktu satu jam untuk menemukan mereka. Selanjutnya, informasi apa yang kamu butuhkan, saudaraku?"


"Aku membutuhkan informasi bagian ibukota mana yang setidaknya aman dan nyaman untuk dikunjungi. Karena rencana ke ibukota sangat dadakan, aku belum mempersiapkan diri ingin pergi kemana terlebih dahulu."


"Jika kamu ingin mencari tempat yang nyaman dikunjungi, aku sarankan agar kamu pergi ke wilayah barat laut ibukota."


"Ada apa disana?" tanya Yan Xu yang tergelitik minatnya.


Tetua Fan terkekeh geli dan mengeluarkan sebuah kartu emas lalu memberikannya kepada Yan Xu sambil berkata, "Dengan kartu anggota khusus dari basis perdagangan Keluarga Jiang di wilayah barat laut ibukota, kamu bisa mendapatkan apapun secara gratis tergantung dari seberapa berharga bendanya. Jadi, kalian tidak perlu membawa uang dalam bertransaksi."


Mendengar penjelasan singkat itu, Yan Xu dengan cepat mengambil kartu yang disodorkan ke arahnya, "Astaga, Saudara Fan benar-benar tahu mana yang paling kami butuhkan."


"Duh, Kakak Xu terlalu memujiku, hahaha ...."


Keduanya saling tertawa karena kebutuhan mereka sama-sama terpenuhi dalam situasi win-win.


Setelah persiapan dan informasi selesai, Tetua Fan pamit terlebih dahulu untuk mencari transportasi dan kembali dalam sepuluh menit, dengan ekspresi bermasalah di wajah tuanya walau dia masih tersenyum.


Di belakangnya, seorang gadis dengan penampilan usia awal 20 tahun, berambut hitam hingga atas bahu dengan jubah peri berwarna nila ikut memasuki ruangan.


Dia langsung tersenyum lembut ke arah Yan Xu, membuat Miao'er yang berada di sebelah Yan Xu merasakan adanya bahaya dan mendekatkan dirinya lebih dekat pada kakak seniornya.


Wanita itu tertawa kecil sambil berkata, "Kalian terlihat sangat akrab satu sama lain."


"Tentu saja!" balas Miao'er dengan senyum penuh akan kepercayaan diri yang mutlak terhadap ikatan mereka.


Sementara itu, Yan Xu masih diam dan mengamati situasi yang ada. Dia tidak akan bertindak secara gegabah terhadap wanita itu karena Tetua Fan saja bisa ditaklukkannya.


Setidaknya, posisi wanita itu berada di atas. Menyadari hal itu, Yan Xu segera memberikan isyarat kepada adik juniornya agar tetap menjaga perilaku sopan di hadapan wanita itu. Miao'er yang mengerti dengan enggan menghilangkan rasa permusuhan alaminya.


Mengambil sikap pasif dan sopan, Yan Xu segera meminta penjelasan kepada Tetua Fan.


"Tetua Fan, siapakah Nona yang menawan ini?"


"Dia ..." Tetua Fan melirik sedikit ke arah wanita itu yang masih tersenyum lembut dan kembali melanjutkan, "Namanya adalah Yin, dia akan mengantarkan kepergian juga kepulangan kalian dari sekte ke wilayah barat laut ibukota kekaisaran, maupun sebaliknya."


"Kalian bisa memanggilku Bibi Yin karena perbedaan generasi dan senioritas," tambah wanita yang diperkenalkan sebagai Yin oleh Tetua Fan.


"Murid memberikan salam kepada Bibi Yin," kedua kakak-beradik itu segera membungkuk dan memberikan salam hormat.


"Sungguh murid yang manis. Tidak heran kalau Saudari Xihe menerima kalian," ucap Yin dengan nada santainya yang khas.


"Apakah Bibi Yin mengenal Guru?" tanya Yan Xu sambil menjaga nada bicaranya agar terlihat sesopan mungkin.


Yin mengangguk dan berkata, "Dia adalah saudari sesumpahku. Jadi, kalian tidak perlu terlalu sopan kepadaku. Lupakan formalitas, anggap saja aku sebagai saudari gurumu yang sedang membantu keponakan manisnya."


"Ji-jika itu yang Bibi Yin inginkan, Murid tidak akan segan karena tidak sopan untuk menolak."


"Duh, itu kamu masih terlalu sopan."


"Maaf, Murid harus membiasakan diri terlebih dahulu," balas Yan Xu tersenyum canggung.


Tentu saja dia hanya berpura-pura karena asal usul Yin masih belum puas. Dia juga tidak boleh sembarangan memperlakukan orang lain, sebelum melihat seberapa kuat mereka ketika diadu dengan gurunya.

__ADS_1


Pemikiran biadab untuk mengadu kepada gurunya tentu saja merupakan jurus andalan Yan Xu saat dalam keadaan mendesak. Jika tidak ada yang sangat mendesak, dia akan menyelesaikan semua sendiri tanpa harus meminta bantuan kepada gurunya.


Bibi Yin duduk di kursi seberang Yan Xu sementara Tetua Fan sudah pamit terlebih dahulu karena ada pekerjaan mendesak.


Yan Xu yang tidak tahan karena tatapan tajam mata ungu Bibi Yin yang terus menilai tubuhnya, mulai menyuarakan ketidaknyamanannya.


"Ummm ... Bibi Yin, bagaimana kita akan memulai?"


Bibi Yin mengelus dagunya dan berkata dengan nada ramah, "Hmmm ... pertama, mari kita mulai dengan perkenalan terlebih dahulu. Namaku Yin, salah satu tetua dari sekte dan merupakan saudari sesumpah dengan gurumu, Lan Xihe. Bagaimana dengan kalian?"


Yan Xu menangkupkan kedua tangannya dan berkata, "Namaku Yan Xu, murid tertua di Puncak Angin."


Miao'er dengan enggan mengikuti kakak seniornya, "Miao'er, murid kedua Puncak Angin."


"Kalau tidak salah, anggota Puncak Angin hanya ada kalian bertiga saja kan?" tanya Bibi Yin.


"Benar. Kepribadian pemilihan ketat Guru tidak membiarkan sembarang orang masuk menjadi anggota," balas Yan Xu dengan mempertimbangkan sifat gurunya selama ini.


"Benar, saudariku itu sangat ketat dan galak. Aku terkejut pria dan gadis cantik di depanku ini masih bisa bertahan dengan perilaku— !!!"


Brakk!!!


Yan Xu memukul sekali pada meja yang ada di depan mereka. Tatapan matanya yang lembut segera menajam, niat membunuh dapat terlihat sedikit mengalir keluar karena masih bisa dia kendalikan.


"Bibi Yin, meskipun kamu adalah saudari sesumpah Guru, Murid tidak akan pernah bisa menerima caramu membicarakan Guru dari belakangnya. Demi hubungan baik di antara kita, tolong camkan itu baik-baik dalam ingatanmu," ucap Yan Xu dengan dingin, berbanding 180° dari sikap lembut dan sopan awalnya.


Kelopak mata indah Bibi Yin berkedip beberapa kali, bahkan Miao'er sempat menganga lebar karena terkejut dengan sikap agresif tiba-tiba dari Yan Xu.


"Astaga, Guru dan Murid benar-benar bagai buah jatuh tak jauh dari pohonnya," terdapat kekaguman pada bagaimana Bibi Yin menjawab peringatan dari Yan Xu.


Yan Xu menarik niat membunuhnya dan mengendurkan ekspresi wajahnya, "Murid anggap itu sebagai persetujuan dan pujian."


"Memang begitu adanya," balas Bibi Yin dengan ringan dan beranjak dari duduknya.


"Karena kita sudah saling mengenal, saatnya kita berangkat ke ibukota Kekaisaran Agung Ming!" ucap Bibi Yin dengan semangat sambil meninggalkan kantor pribadi Tetua Fan, sementara Yan Xu dan Miao'er mengikuti dari belakang.


...


Butuh waktu lima menit sampai mereka tiba di lapangan luas tanpa ada satupun orang maupun binatang buas peliharaan di sana.


Yan Xu dan Miao'er menatap kosong pada Bibi Yin yang berdiri di tengah lapangan luas tersebut sambil menggenggam sebuah token perak yang mengarah ke langit.


"Kakak Senior, apa yang sedang wanita itu lakukan?" bisik Miao'er tidak menyembunyikan ketidaksenangannya.


"Hush! Jangan begitu, nanti kalau dia mendengar mu ..." Yan Xu menangkap kedua pundak kecil adik juniornya, "Bam! Tubuhmu mungkin akan terbelah menjadi ratusan bagian!"


"Hieek!— Kakak Senior, jangan menakut-nakuti Miao'er!" hidung kecil Miao'er membengkak karena kesal.


Yan Xu tertawa terbahak-bahak melihat kelucuan wajah adik juniornya yang marah.


Bibi Yin yang memperhatikan mereka dari jauh menggunakan kesadaran ilahinya, dan ikut tertawa walau kedua orang itu tidak menyadari kalau mereka sedang diawasi.


"Astaga, melihat kedua murid Kakak yang masih bisa saling bercanda ketika di bawah asuhannya yang ketat benar-benar kejadian yang sangat langka. Dengan begini, aku bisa memastikan mereka memang tidak memiliki niat buruk ataupun kualifikasi yang tidak memadai sebagai murid langsung dari seorang gadis suci terkuat di antara kami bersepuluh."


"Saatnya aku unjuk gigi agar tidak terus-terusan diejek oleh gadis kecil itu," gumam Bibi Yin sambil mengalirkan energi qi ke dalam token perak yang di pegangnya.


Dari langit, seekor kuda perak dengan tinggi lima kaki dan sayap yang indah menukik tajam ke arah mereka. Itu adalah tunggangan legendaris yang sangat langka, sama seperti angsa putih milik Lan Xihe.


Kuda itu merendahkan tubuhnya, membiarkan para penumpang naik. Ketiga orang itu melompat ke pundaknya dan berdiri dengan tegak.


Memastikan semua penumpang sudah berada di atas pundaknya, kuda perak itu mengibaskan sayapnya dan terbang dengan kecepatan penuh di udara menuju wilayah barat laut ibukota kekaisaran.


Dalam perjalanan yang setidaknya membutuhkan dua puluhan menit untuk sampai ke tujuan, Bibi Yin kembali bicara untuk memecah keheningan mereka.


"Yan Xu," panggil Bibi Yin dengan lembut.


"Ya?" Yan Xu yang telah dengan cepat mengubah cara bicaranya, sudah menjadi jauh lebih santai dibandingkan sebelumnya.


"Bagaimana pendapatmu tentang tungganganku?" ada nada yang cukup bangga pada bagaimana cara Bibi Yin bertanya.


Yan Xu yang tidak pelit akan pujian menyuarakan pendapat jujurnya, "Tunggangan Bibi Yin sangat gagah dan indah. Dapat dilihat dari bagaimana dia menghentakkan kakinya ke tanah, keperkasaan tunggangan ini benar-benar sangat menakjubkan dan patut diacungi jempol."


Mendengar pujian dari Yan Xu, kuda itu meraung beberapa kali seolah mengatakan bahwa dia senang dan meminta untuk terus dipuji.


"Astaga, dia benar-benar sangat menyukai pujianmu," Bibi Yin melanjutkan ucapannya dengan gumaman kecil, "Aku harap seluruh pria di dunia ini bisa memiliki lidah dan wajah sepertimu."


Miao'er yang sedari tadi diam akhirnya ikut bersuara, "Dunia akan segera terbelah menjadi ratusan bagian apabila seluruh pria di dunia seperti Kakak Senior."


"Eh? Bagaimana bisa jadi begitu? Gadis Muda kita ini memiliki pemikiran yang—"


Sebelum Bibi Yin menyelesaikan kalimatnya, Miao'er segera menyela.


"Lagipula itu tidak akan pernah mungkin terjadi. Aku yakin, tidak ada pria yang memiliki sifat dan keunikan persis seperti Kakak Senior di dunia ini," ucap Miao'er secara tidak bertanggung jawab sambil mengangkat kedua bahunya.


Mendengar kalimat yang tidak bertanggung jawab itu, Yan Xu ingin bersuara. Namun, dia segera mengurungkan niatnya karena melihat bagaimana cara Miao'er memandang Bibi Yin dengan penuh permusuhan. Selebihnya, dia tidak ingin terlibat di antara keduanya.


Bibi Yin yang berdiri di depan sepertinya telah menemukan sesuatu yang menarik dari hubungan para murid saudarinya itu.


"Nona Muda, kelihatannya kamu sangat menyayangi kakak seniormu. Bibi merasa sedikit cemburu karena tidak memiliki satupun pria yang bisa dia kagumi seperti itu."


"Wah, sangat disayangkan. Sebaiknya Bibi bergegas mencarinya kalau tidak ingin disebut sebagai Bujangan Tua," balas Miao'er ketus dengan senyum mengejek.


"Aiya~ bukankah aku tidak perlu mencarinya lagi sekarang?" Bibi Yin membalas serangan Miao'er sambil tersenyum licik.


Miao'er mengerutkan keningnya, "Apa maksudmu?"


"Maksudku, begini!" Bibi Yin segera memeluk Yan Xu yang berada di belakangnya, "Bagaimana? Apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya, Nona Muda?~"


Berbeda dari apa yang diharapkan Bibi Yin, Miao'er hanya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya seolah ada sesuatu yang lucu.


Puas dengan lawakan yang sedang terjadi di depannya, Miao'er tersenyum bengkok, "Apa menurutmu aku akan cemburu, begitu? Kakak Senior memiliki nilai yang sempurna di mataku dan rasa sayangku kepadanya, tidak akan terpengaruh hanya karena ada wanita lain yang juga menyayangi dia!"


Bibi Yin yang tenang di permukaan, sangat tercengang di dalam batinnya, 'Gadis kecil ini sepertinya memiliki masalah di otaknya, lalu bagaimana dengan ...'


Bibi Yin melirik ke wajah pria yang didekapnya, namun bukannya manusia, dia malah memeluk tubuh boneka pengganti dengan Yan Xu yang berdiri dua langkah darinya.


Kejadian memalukan itu membuat Bibi Yin menundukkan kepalanya dengan wajah yang memerah karena malu. Sudah hidup sangat lama, baru kali ini ada anak-anak muda yang menjatuhkan martabatnya sampai ke dasar kubangan lumpur.


Tidak heran kedua murid ini bisa bertahan dari kerasnya pelatihan Lan Xihe. Begitulah yang ada di pikiran Bibi Yin yang dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi normal, seolah kejadian tadi tidak pernah terjadi.


"Wah, dia sangat cepat mengubah wajahnya. Kakak Senior, kamu harus berhati-hati," ejek Miao'er dengan senyum bengkoknya.


Yan Xu mengangguk setuju, "Kamu benar, Adik Junior. Terima kasih atas sarannya."


"Jangan perlakukan aku seperti orang aneh!" teriak Bibi Yin tidak berdaya karena perlakuan kedua murid biadab ini.


"Oh, baru saja Bibi Yin menganggap dirinya memang aneh. Padahal tidak ada satupun dari kami yang menyebut dirinya aneh," ratapan kasihan sangat kental pada mata cokelat Miao'er yang terus-menerus melontarkan serangan verbal.


Tidak tahan lagi, Bibi Yin mulai merengek bahkan menangis tersedu-sedu, "Hwaaaa!!! Kalian merundungku! Hiks! A-aku—hiks!— hwaaaa!!!"


Dia bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi karena isak tangisnya. Kali ini, Bibi Yin benar-benar telah jatuh ke dasar kubangan lumpur yang digali oleh Miao'er tanpa bisa merangkak keluar.


Mendapatkan kemenangan yang sempurna, Miao'er tersenyum puas dan kembali diam seperti patung, tanpa mencari gara-gara lagi.


Sementara itu, Yan Xu menenangkan Bibi Yin yang masih terisak-isak karena serangan verbal tanpa ampun dari adik juniornya.

__ADS_1


Awal pertemuan Bibi Yin— yang merupakan penyamaran dari Su Yinfeng, Kepala Sekte Abadi Luo— benar-benar dipenuhi dengan perundungan tak terbatas dari murid kedua saudarinya, sehingga dia benar-benar dibuat menangis tanpa bisa melawan sedikitpun.


__ADS_2