Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Seorang Ayah Melepaskan Kepergian Putrinya Ke Tempat Calon Menantu Biadab


__ADS_3

Saat Su Yueyin sedang mengemasi barang-barangnya, Su Weiyan yang baru pulang dengan kondisi babak belur berdiri di pintu masuk.


"Kakak Keempat? Apa ada urusan penting sampai kamu menyempatkan diri untuk melihat kondisi tetanggamu?" tanya Su Yueyin dengan nada bercanda yang dingin.


"Yah, bisa dibilang aku memiliki sesuatu untuk dibicarakan denganmu, Adik Junior Bungsu." Tatapan hangat dapat terlihat dari kedua mata Su Weiyan.


Su Weiyan adalah orang yang mengasuh Su Yueyin dari kecil semenjak dia diterima sebagai murid langsung oleh guru mereka, Su Yinfeng.


Hubungan mereka berdua dapat dikatakan lebih condong seperti ayah dan anak, dibandingkan dengan senioritas antara sesama murid di bawah naungan guru yang sama.


Su Yueyin mengangkat kedua alis indahnya dan berkata, "Sesuatu untuk dikatakan? Apakah kamu sudah mendapatkan penglihatan deduksi masa depanmu yang suram? Apakah Kakak Keempat sudah hampir mencium bau tanah?— Aiya! Kenapa kamu melemparkan pedang energimu ke arahku?!"


Su Weiyan yang melihat adik bungsu yang sudah seperti putrinya sendiri terkekeh geli dan merasa tak berdaya. Dia merasakan apa yang disebut kebanyakan orang tua sebagai pelepasan mempelai wanita dari keluarga utamanya.


Melihat Su Yueyin yang sudah tumbuh besar dengan cantik, membuat dia lebih menghela napas berat dan lelah. Adik bungsunya itu adalah tipe wanita yang tidak terlalu memperhatikan gaya berpakaian maupun penampilan wajahnya.


Meskipun dia terlihat sangat cantik pada saat bersamaan, anak perempuannya itu juga terlihat menyedihkan karena harus dekat dengan seorang pria casanova yang menyukai banyak wanita sekaligus.


'Haih!— Mengapa oh mengapa, Yin'er kecil ku. Mengapa kamu membuat ayahmu menjadi khawatir sampai kesulitan untuk tidur nyenyak begini? Apalagi kamu akan tinggal satu atap bersama dengan murid licik itu!' keluh Su Weiyan dalam lubuk hatinya.


Namun, di luar ia masih mempertahankan ekspresi wajah seorang ayah yang sedang bahagia untuk menikmati masa-masa akhir bersama anaknya saat ini.


"Aku lihat sebelumnya kamu tampak sangat dekat dengan seorang murid, apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian, Adik Junior Bungsu?" Su Weiyan duduk di dekat pintu masuk.

__ADS_1


Kening Su Yueyin berkedut, dia menatap bingung ke arah kakak keempatnya, "Hah? Apa yang kamu bicarakan, Kakak Keempat? Apakah kamu sedang mabuk dan berfantasi aneh?"


Su Weiyan menggelengkan kepalanya dengan lembut dan terkekeh, "Hehehe ... pertanyaanmu yang seperti itu akan membuat Ayah merasa bahwa ada sesuatu, Nak."


Wajah tua Su Weiyan benar-benar menjengkelkan untuk dilihat dari sudut pandang Su Yueyin. Jika bisa, dia ingin menendang orang tua itu keluar secepat mungkin. Namun, dia memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh kakak senior keempatnya.


"Kakak Keempat, mengapa kamu berpikir kalau Yin'er adalah wanita yang seperti itu?" nada Su Yueyin menjadi lebih lembut.


"Yin'er, jatuh cinta kepada seseorang bukanlah sebuah dosa. Aku tidak akan menyalahkan mu saat kamu sudah menemukan pasangan dao yang dirasa cocok untukmu. Ayahmu hanya merasa terkejut bahwa dialah orangnya," Su Weiyan memicingkan matanya ke arah pakaian yang dibawa Su Yueyin.


Dia melihat pakaian dengan jubah indah warna warni yang merupakan kado ulang tahun untuk Su Yueyin dari dia dan pasangan daonya, saudari ketiga yang juga merupakan murid Su Yinfeng, Kakak Senior Su Lixuan.


Hatinya tambah merasakan adanya suatu beban yang mulai terangkat, dimana ia khawatir bahwa Su Yueyin telah melupakan citranya sebagai seorang wanita secantik peri abadi. Ternyata, dia masih mengkhawatirkan tentang penampilannya sebagai wanita.


Melihat perkembangan yang menakjubkan dari Su Yueyin, perasaan hangat tak bisa lepas dari hati Su Weiyan.


Demi memancing emosi di kolam ikan yang tenang, Su Yueyin segera membuat wajah malu-malu dan bertanya, "Bagaimana menurut Kakak Keempat tentang dia?" terdapat kegugupan saat dia mengakhiri pertanyannya.


Memikirkan tentang orang yang dimaksud oleh adik bungsunya, membuat Su Weiyan berpikir keras. Beberapa ingatan tentang hal baik tentang pria itu masih ada tentang seberapa bagus kemampuannya. Namun, ketika itu menyangkut keburukan dan apa yang sudah terjadi kepadanya— ....


Tiba-tiba Su Weiyan mengangkat suaranya, "Dia sangat biadab! Sangat licik dan tidak kenal ampun! Bukan cuma aku, bahkan Guru telah di perhitungkan! Aku bahkan dihukum gara-gara dirampok terlalu banyak olehnya!"


Mendengar deskripsi yang dimaksud oleh Su Weiyan, membuat Su Yueyin mengedipkan matanya beberapa kali. Dia memikirkan kembali darimana nya mereka yang dilihat dekat oleh pihak lain, tetap saja dia tidak menemukan satupun petunjuk.

__ADS_1


'Jika ada sesuatu, pasti dia sendiri yang mengatakan itu kepada Kakak Keempat ...— eh?! Bukankah itu berarti dia memiliki perasaan kepadaku?!'


Setelah kejadian terakhir, Su Yueyin tiba-tiba memutuskan untuk menggunakan kepalanya dan selalu berpikir tentang berbagai hal sehingga kemampuan deduksinya menjadi tinggi. Namun, sayangnya dia sudah mencapai jawaban itu dari kemampuan deduksi otaknya.


'Ta-tapi! Ka-kami kan beda beberapa generasi! Aku bahkan adalah bibinya! Bagaimana bisa seorang keponakan junior, memiliki perasaan kepada bibinya?!!'


Kepala Su Yueyin yang kebanyakan berpikir mulai merasakan pusing, dia tidak sadar bahwa wajah dengan ekspresi dinginnya sudah merah merona.


Sebagai Ayah yang melihat wajah putrinya yang tiba-tiba merona merah saat dia membicarakan tentang betapa biadabnya calon menantu itu, dia bisa sangat jelas mengerti bahwa putrinya benar-benar telah cinta buta kepada pria biadab itu!


'Bagaimana bisa kamu menunjukkan ekspresi itu ketika Ayah sedang membicarakan betapa biadabnya dia, Nak?!' teriak Su Weiyan secara keras di dalam hatinya.


Su Weiyan mengelus dada sambil menggelengkan kepalanya. Dia memanggil Su Yueyin untuk mengembalikan kesadarannya, "Yin'er, adik bungsuku, anakku ...."


Su Yueyin yang tersadar dari lamunannya segera menjawab, "Y-ya? Kakak Keempat, apa kamu memanggilku dengan sebutan aneh diakhiran tadi?"


'Bahkan dia sudah tidak dapat disamakan lagi dengan Yin'er kecilku yang manis dan dingin seperti biasanya.'


'Lupakan saja. Ketika seorang gadis sudah cukup umur, dia harus dinikahkan. Pasangan dao adalah hal yang lazim di Sekte Abadi Luo. Anakku, Yin'er kecil juga tidak akan lepas dari hal itu ....'


'Darimana praktik biadab yang begitu menyakitkan hati seorang ayah sepertiku ini berasal?'


'Seperti kata pepatah. Yang Tua memberikan pedoman contoh di depan, sementara kaum muda mengikuti jalan yang telah ada dari belakang. Di antara Sembilan Su, sudah ada empat pasangan dao yang saling merajut kasih dan membentangkan sayap cintanya.'

__ADS_1


'Yang muda mengikuti pedoman yang telah ada di jalur yang ditapaki para tetua. Tidak ada orang lain yang benar-benar bisa disalahkan.'


'Yin'er kecilku, dia ... telah mencapai masa dewasanya ....'


__ADS_2