Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Anggota Baru Puncak Angin


__ADS_3

Tuk! Tuk! Tuk!


Jari telunjuk Yan Xu terus mengetuk meja kayu yang ada di depannya. Tatapan kelopak mata indahnya terus menelusuri wajah kedua ayah dan anak itu. Kalau ada yang melihat ini, bisa saja mereka salah menilai bahwa Yan Xu adalah seorang penjahat!


Dia memulai kembali pembicaraan mereka dengan suara dalamnya yang datar, "Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan setelah jamuan resolusi keluarga Jiang berakhir?"


Gluk!


Jian Nan merasakan tekanan udara di sekitarnya menjadi dingin, dia bahkan kesulitan untuk meneguk ludah. Berdiri dari duduknya, Jiang Nan menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk.


"Leluhur, Jiang Nan memiliki sebuah permintaan. Mohon Leluhur dengarkan permintaan ini walau terdengar kurang ajar."


"Ayah?"


Melihat ayahnya sampai begitu, membuat Jiang Nalan membelalakkan matanya merasa tidak percaya. Seorang pria tua yang selalu berdiri tegak dan memimpin mereka semua, kini terlihat seperti orang tua yang layu dan mudah diterpa badai di hadapan Leluhur.


Yan Xu yang tidak terlalu peduli berkata, "Katakan."


Setelah diberi izin untuk bicara, Jiang Nan meluruskan tubuhnya dengan ekspresi serius dia berkata, "Tolong bawa Jiang Nalan beserta beberapa bakat juga bawahan setia keluarga Jiang dalam kepulanganmu."


Yan Xu menyipitkan matanya dan berkata, "Alasannya?"


Jiang Nan menelan ludah sekali dan segera menjawab, "Resolusi yang disarankan oleh Leluhur memang sudah benar, namun kami hanyalah manusia fana yang bisa diterjang badai kapanpun juga dimanapun selama hidup ini."


"Aku, sebagai kepala keluarga tidak bisa terus-terusan memanfaatkan kebaikan dari Leluhur. Jika terus begini, aku tidak tahu bagaimana berhadapan dengan para pendahulu kami ketika sudah ditelan bumi."


"Jadi, Leluhur, aku memohon agar membawa mereka yang berbakat untuk berdiri di naunganmu. Keluarga Jiang memang terlihat aman saat ini, tapi masih ada kemungkinan ketiga pangeran berkoalisi menghancurkan kami saat dinilai terlalu besar."


Gedebuk!


Setelah mengatakan permohonannya, Jiang Nan bersujud ke lantai, "Tolong pertimbangkan permohonanku yang kurang ajar ini, Leluhur!"


Setelah mendengarkan permintaan juga alasan dari Jiang Nan, Yan Xu maupun Lan Xihe benar-benar paham dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Keluarga Jiang saat ini sama saja seperti kentang goreng panas, banyak pihak yang akan mencoba untuk menjadikan mereka sebagai dukungannya.


Semakin panas kentang gorengnya, akan semakin banyak peminat dengan berbagai macam jenis metode untuk mendapatkan mereka. Memindahkan garis keturunan langsung yang berbakat mereka agar masuk ke Puncak Angin adalah salah satu tindakan paling aman.


Meski di Puncak Angin mereka akan terputus dari dunia sekuler, keamanan juga garis keturunan langsung keluarga Jiang masih dapat dipertahankan. Itu juga merupakan keuntungan yang besar bagi Puncak Angin dalam memenuhi beberapa pekerja pada bidang administrasi mereka.


Sebenarnya, Yan Xu telah memikirkan ini semenjak lama. Namun, mempertimbangkan bagaimana pihak lain akan bertindak, dia mengurungkan niat untuk memajukan rencana tersebut dan menunggu keluarga Jiang hancur secara perlahan.


Sekarang, tidak disangka bahwa mereka sendiri mau menyerahkan diri.


Saat ini dia tidak bisa memutuskan karena keputusan mutlak ada di tangan istri tercintanya, Lan Xihe.


Yan Xu melirik kepada Lan Xihe seolah-olah berkata, 'Istriku! Kasihku! Saatnya kamu melakukan tugasmu demi keuntungan Puncak Angin kita!~♪ ಡ ͜ ʖ ಡ'

__ADS_1


Merasakan lirikan keras dari suaminya, Lan Xihe tersenyum kecut di dalam hati. Dia berdeham sekali, kemudian berkata, "Suamiku, bolehkah aku bicara sebagai Kepala Puncak Angin di sini?"


Mendengar pertanyaan itu, Jiang Nan maupun Jiang Nalan tersentak kaget. Mereka tidak menyangka bahwa istri Leluhur adalah Kepala Puncak itu sendiri!


Jawaban datar Yan Xu segera datang, "Silakan."


Lan Xihe yang dari tadi hanya diam, akhirnya dapat berbicara.


"Memasuki Puncak Angin tidak semudah kamu menanamkan cabang bayi pada istrimu. Kami memiliki aturan dan kualifikasi yang ketat berdasarkan penilaianku."


Dia secara alami memberikan tekanan otoritas kepada Jiang Nan yang terlihat semena-mena berdasarkan permohonan sebelumnya. Itu adalah hal yang wajar karena seorang Kepala Puncak juga harus disiplin terhadap batas minimal kualifikasi yang dia inginkan terhadap calon anggota baru.


Jiang Nan maupun Jiang Nalan tetap menjaga ekspresi tenang di luar, meskipun mereka sudah cukup tertekan di bagian terdalam. Sementara itu, Yan Xu sudah bertepuk tangan dengan keras sambil memuji aura Kepala Puncak milik istrinya.


"Apakah kamu bisa memenuhi persyaratanku yang ketat?" ucap Lan Xihe dengan suara tegas.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi persyaratan tersebut."


"Baik, pertama-tama ..." Lan Xihe mengarahkan pandangannya ke Jiang Nalan lalu mengukur potensi gadis itu menggunakan bantuan sistem.


...\=\=\=•Menu Status•\=\=\=...


Nama : Jiang Nalan (Perempuan)


Umur : 19 tahun


Kedekatan Elemen : Air


Fisik : 7 / 10


Akar : 5.5 / 10


Pemahaman Dao : 6.5 / 10


Keberuntungan : 7 / 10


Total Potensial : 26 / 40


«Potensi ini cocok untuk dijadikan sebagai anggota Puncak Angin maupun seorang murid untuk salah satu murid Host! (≧▽≦)»


...----------••••---------...


Dia mengangguk puas beberapa kali dan berkata, "Kamu bisa bergabung."


Mendengar itu, Jiang Nalan tersentak hingga tidak dapat berkata-kata dan hanya diam di tempat. Jiang Nan segera mencubit lembut tangan putrinya untuk melakukan penghormatan terhadap Kepala Puncak karena takut dianggap sebagai tindakan tidak sopan.

__ADS_1


Jiang Nalan yang kembali ke kenyataan, buru-buru memberikan hormat secara formal, "Jiang Nalan menyapa Kepala Puncak."


Lan Xihe cuma mengangguk sebagai jawaban dan Jiang Nalan kembali duduk manis di sebelah ayahnya.


"Bagaimana dengan yang lain?" tanya Lan Xihe sedikit menunjukkan ketertarikan.


"Aku akan segera membawa mereka!"


Setelah mengatakan itu, Jiang Nan segera memberikan hormat dan meninggalkan mereka bertiga.


...


Saat ini hanya ada tiga orang yang berada di aula utama.


Jiang Nalan terlihat ragu sejenak, ketika dia ingin membuka mulutnya, ia terhenti karena suara lembut Lan Xihe datang terlebih dahulu.


"Karena kamu sudah bergabung, tidak perlu terlalu sopan. Kita semua adalah keluarga dan saling menjaga satu sama lain," ucap Lan Xihe dengan senyum hangat.


Jiang Nalan mengangguk patuh kemudian berkata, "Kepala Puncak, bisakah aku mengajukan pertanyaan?"


"Tentu, tanyakan saja apa yang kamu ingin tahu! Aku akan menjawabnya!" Lan Xihe mengetuk dada dengan kepalan kecil tangannya.


Jiang Nalan menatap ke arah kiri dan kanan terlebih dahulu kemudian melanjutkan, "Apakah kalian benar-benar pasangan suami-istri?"


Lan Xihe segera menjawab, "Tentu saja! Suamiku saat ini memiliki enam istri!"


Brusshhh!


"Uhukk!!! Uhukkk!!!"


Yan Xu yang sedang minum, langsung memuntahkan seteguk air ke samping. Namun, dia segera pulih dan menganggap bahwa itu cuma sekedar lelucon.


Sebaliknya, bagi Jiang Nalan itu adalah sebuah kenyataan. Pada kedua mata gadis itu terdapat beberapa binar cahaya yang tidak dapat dijelaskan.


Lan Xihe yang melihat itu, tersenyum lembut dan bergerak ke samping Jiang Nalan menggunakan teknik pengejaran jiwa.


Dia mulai membisikkan kata-kata iblis yang selalu dia gunakan untuk memainkan semua anggota gadis Puncak Angin. Dari waktu ke waktu, wajah Jiang Nalan mulai memerah dan terdapat asap yang keluar di atas kepalanya.


Yan Xu yang sudah terbiasa hanya bisa tersenyum kecut seolah-olah berkata, 'Dia mulai lagi ....'


Khotbah bisikan iblis Lan Xihe berlangsung setidaknya sepuluh menit lebih hingga akhirnya Jiang Nan membawa anggota yang tersisa.


"Kepala Puncak, aku sudah membawa mereka," ucap Jiang Nan sambil menangkupkan kedua tangannya.


Semua orang yang dia bawa mulai berlutut dengan satu kaki dan menangkupkan kedua tangannya masing-masing memberikan salam serempak.

__ADS_1


"Kami menyapa Kepala Puncak!"


Lan Xihe tidak segera menjawab salam hormat mereka. Kedua tatapan bola mata indahnya menyapu setidaknya tiga puluhan orang yang sedang berlutut. Dia menilai semua orang satu per satu, sambil memikirkan setiap tugas dan dimana mereka akan ditempatkan.


__ADS_2