
Selesai bermeditasi sebentar, Yan Xu memperhatikan kondisi di sekitarnya. Suasana yang nampak tenang dari luar ini jelas tidak biasa karena dia telah merasakan kehadiran orang lain tidak lama setelah ia bangun.
Sengaja membuka titik lemahnya saat bermeditasi, Yan Xu juga mempersiapkan beberapa jebakan. Namun, pihak lain sama sekali tidak memiliki niat permusuhan maupun ingin mengganggunya.
Menghela napas kecil, Yan Xu menatap beberapa pohon besar yang masih berdiri kokoh dan berkata, "Mau sampai kapan lagi kamu akan mengawasi ku?"
Setelah beberapa detik, bayangan seorang gadis remaja belasan tahun terlihat di balik batang pohon yang besar itu. Seorang gadis cantik dengan jubah selir berwarna merah khas Kekaisaran Agung Ming keluar dari persembunyiannya.
Orang itu tidak lain adalah Mo Li yang asli.
Melihat wajah yang tidak akrab di ingatannya, Yan Xu hanya dapat menebak identitas pihak lain melalui lotus hitam di keningnya.
Mengetahui pihak lain adalah Mo Li, kira-kira Yan Xu sudah dapat menebak tujuannya datang kemari dan membiarkan dia dapat beristirahat dengan tenang.
"Melihat kamu kemari tanpa penjaga, bukankah Mo Li kita sangat berani? Ataukah ... nyali yang kamu miliki sudah melebihi seekor singa?" tanya Yan Xu dengan santainya memainkan sebuah tombak energi mini di tangannya.
Mo Li menangkup kedua tangannya untuk memberikan hormat kepada Yan Xu.
"Mo Li memberikan hormat kepada Kakak Senior," ucapnya dengan postur tubuh yang anggun.
Yan Xu melambaikan tangannya dan berkata, "Tidak perlu terlalu sopan," sebagai tanda menerima salam tersebut.
Mo Li yang diterima dengan santai, berjalan ke arah Yan Xu lalu duduk di depannya sambil tersenyum.
"Jadi, apa yang sedang kamu rencanakan?" tanya Yan Xu.
__ADS_1
"Tidak, tidak, Junior tidak merencanakan apapun. Kali ini, sebuah guncangan dahsyat dan beberapa fenomena energi qi yang tiba-tiba kering membuat Junior harus segera memeriksa tempat ini. Siapa yang tahu, ternyata takdir telah mempertemukan kita kembali."
"Oh, kalau diingat kembali, wilayah Pangeran Pertama memang dekat dengan tempat ini. Jadi, sudah seharusnya ada petugas yang memeriksa kejanggalan yang terjadi barusan. Anehnya, dia mengirimkan selirnya yang berharga daripada beberapa kelompok prajurit. Bukankah, menurutmu itu terlalu aneh?"
Menggelengkan kepalanya tidak setuju, Mo Li masih mempertahankan senyum dan berkata, "Itu sama sekali tidak aneh karena belakangan ini, fraksi kami sedang digempur sengit dari bayang-bayang. Kejadian yang terakhir telah membawa dampak buruk terhadap arus politik di sekitar Pangeran Pertama."
Kejadian terakhir yang dimaksud Mo Li adalah ketika Yan Xu berhasil menguak tempat persembunyian rahasia milik fraksi lama. Kematian banyak warga yang berada di tempat itu, digunakan sebagai bahan untuk membuat kekuatan politik Pangeran Pertama menurun oleh pangeran lainnya.
Yan Xu yang tidak tertarik dengan perebutan kekuasaan, tidak ingin terlalu memikirkannya. Hanya saja, terkadang dia merasa tidak nyaman karena Yaoyao memiliki campur tangan terhadap mereka. Setidaknya, sebagai orang tua, Yan Xu akan mengawasi sedikit tentang apa yang sedang dilakukan anaknya.
Kalau dia rasa itu akan berbahaya, Yan Xu akan bergabung dalam permainan Yaoyao secara diam-diam dan membalikkan papan catur itu sehingga tidak ada pihak yang diuntungkan. Dia lebih suka membuat semuanya hancur lalu dibuat ulang, daripada harus memperbaiki sesuatu yang sudah sangat busuk seperti keluarga kekaisaran itu sendiri.
"Aku tidak akan turut prihatin atas sisi kalian. Kemudian, aku akan memberikan petunjuk untukmu. Tidak ada sesuatu yang khusus terjadi di sini, sebaiknya kamu bergegas pulang dan menjaga bidakmu yang berharga itu. Istana bukanlah tempat yang lembek dimana satu bidak yang tidak cerdas masih dapat hidup walau terpisah jauh dari otaknya."
"Astaga~ Kakak Senior cukup perhatian juga, tapi kali ini berbeda. Aku sudah menyiapkan penjagaan untuk bidak catur itu. Keburu Kakak Senior ada di sini, bukankah lebih baik kita jalan-jalan bersama? Siapa tahu kita dapat saling menguntungkan dalam perjalanan mu?" ajak Mo Li.
Dia sudah mengartikan ajakan itu telah mengkonfirmasi bahwa Mo Li mengetahui Yan Xu sedang mengikuti ujian. Tidak mungkin dia akan datang tanpa persiapan kalau tidak mengetahui informasi sepenting itu. Setidaknya, begitulah sikap Mo Li yang sangat membekas pada pandangan Yan Xu terhadapnya.
Begitu juga dengan Mo Li, kali ini dia tidak harus bermusuhan dengan pihak lain walau cara pendekatannya yang sangat hati-hati dapat membuat pria itu waspada. Tanpa memiliki sedikitpun rasa permusuhan, dia datang untuk membuang waktu dimana para bidak di istana terlalu santai akan keadaan politik mereka yang sedang merosot.
Karena merasa jengkel, Mo Li ingin memberikan pelajaran kepada Pangeran Pertama agar tidak terlalu memandang tinggi diri mereka. Pada dasarnya, setiap gerakan politik yang mereka lakukan merupakan buah pemikiran dari Mo Li.
Dengan ketidakhadirannya, dia harap bidak catur itu belajar sedikit untuk berpikir layaknya seorang raja, bukan budak yang selalu mengikuti arahan tuannya.
Oleh karena itu, Mo Li telah mencari tahu kemungkinan rute mana saja yang akan dilalui oleh Yan Xu. Terkadang, dia berpikir ingin membantu pria itu karena lebih menyenangkan, dibandingkan mengurus masalah politik yang sedang melanda pihak mereka.
__ADS_1
Jadi, dia akan menjawab sejujurnya karena perlu ketulusan agar mereka dapat berkomunikasi dengan baik.
"Hampir semuanya. Sisanya, Junior hanya memperkirakan rute yang akan ditempuh oleh Kakak Senior. Apakah itu cukup untuk meyakinkan pikiranmu, Kakak Senior?"
Mengangguk, Yan Xu tidak terlalu percaya dan hanya mengiyakan saja karena dia tahu pihak lain adalah makhluk terbengkok yang pernah ia temui semasa hidupnya.
"Kalau begitu, kamu tahu kan ini tidak ada kaitannya dengan rencanamu? Jadi, jalan kita tidak perlu bersinggungan dan jangan ganggu aku lagi."
Merasa lelah, Yan Xu sangat ingin menendang pantat Mo Li agar pulang ke istana selirnya saja. Dia tidak ingin terlibat dalam kegiatan makhluk bengkok yang satu ini. Setidaknya, dia masih sayang nyawa dan ketenangan mental melebihi makhluk fana manapun.
Mo Li yang kehadirannya telah ditolak, tidak menyerah dan mulai menaburkan umpan yang hampir tidak diketahui oleh masyarakat dunia Xuanyuan.
"Kakak Senior, apa kamu tahu kenapa kami disebut sebagai Suku Asing?" tanya Mo Li.
"Karena kalian bukan berasal dari dataran ini kan? Misteri akan adanya dataran lain yang membentang luas di lautan tak berujung, kemudian bagaimana caranya orang dari dataran asing tiba-tiba datang kemari — yah, itu bukan urusanku selama kalian tidak mengganggu. Mau kalian ingin mengklaim sebagian ataupun setengah wilayah daratan ini, selama itu tidak mengganggu hidupku, silakan saja."
Dia mungkin telah melemparkan umpan, namun siapa sangka justru pihak lain yang telah mengangkat jaring untuk menangkapnya?
Kelopak mata indah milik Mo Li berkedip, seolah dia tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Memang benar adanya bahwa ada dataran lain di balik lautan tak berujung, namun siapa sangka pria itu mengetahuinya dengan akurat bahkan menjabarkan mereka seolah bukan apa-apa.
Jika saja hal tersebut di dengar oleh kultivator lain, orang yang mengatakan itu akan dicap sebagai orang sesat. Nasib orang yang telah dicap sesat, akan berujung sama pada Yan Xu yang dengan setengah jiwa kehilangan kultivasi hingga mendapatkan banyaknya kematian. Rasa takut akan kebenaran, lebih mengerikan dibandingkan bagaimana mereka harus menatap musuh yang tepat berada di depan mata.
"Jadi, Kakak Senior sudah mengetahui tentang kami 'Suku Asing'?"
"Tidak, lebih tepatnya aku cuma menggunakan asumsi dengan menggabungkan beberapa fakta tentang kalian," jawab Yan Xu dengan santai.
__ADS_1
Wajah Mo Li dipenuhi kekaguman, pandangannya terhadap Yan Xu kini semakin diperbarui. Evaluasi pria itu akan menjadi semakin tinggi dan berpotensi jadi ancaman berbahaya. Namun, dia juga tahu selama masing-masing pihak tidak saling menyentuh, maka tidak akan pernah ada badai darah yang berlangsung.