
Semesta Xuanyuan yang terbentuk dari keberhasilan Bumi dalam bertahan melalui gempuran antar dimensi dengan dunia lain, beserta tergabungnya semesta Xuanyuan lain dalam garis waktu saat ini.
Dari semua fakta yang ada, beserta Yan Xu yang sadar akan dirinya bukanlah orang yang memecah garis waktu dari awal membuatnya menarik kesimpulan lain.
Lahirnya alam semesta yang diusahakan oleh Yan Xu di garis waktu awal, kini telah membuahkan hasil namun kemana perginya mereka yang berasal dari garis waktu sebelumnya?
Pertanyaan itu membayangi benak Yan Xu dan sepertinya, jawaban yang dia cari berada di depan.
Entitas dewa yang berada di depannya tidak memiliki wujud, namun memiliki keberadaan serupa yang berasal dari semesta lain.
Bukan hanya itu, sepertinya ini adalah hasil dari sebuah tragedi yang akan terjadi pada dirinya sendiri terlepas dari keberhasilan era baru yang tidak terhubung akan roda takdir.
Darimana entitas seperti Pendendam dilahirkan? Apa sumber dari kelahiran makhluk yang keberadaannya telah menyerupai dewa?
Di sisi lain, dia mirip seperti Yan Xu, orang-orang terdekatnya dan kadang dapat terlihat seperti orang lain.
Hanya ada satu jawaban yang dapat ia pikirkan mengenai kondisi Pendendam karena itu bersangkutan dengan bagaimana ia menamai dirinya sendiri.
"Kalian adalah pecahan jiwa yang terabaikan di semesta lain? Berhasil menelan Yan Xu semesta lain ke dalam kegelapan tak berujung, kalian juga berhasil menghancurkan semesta itu sendiri, bahkan ...."
Kepalan tangan Yan Xu semakin erat, penglihatannya terhadap Pendendam kini berubah-ubah, seolah dia melihat wujud setiap orang yang berbeda, dimulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Pendendam tersenyum tipis dan berkata, "Kami adalah dosamu. Kami juga merupakan pengingat dan entitas misterius yang akan menghentikanmu berbuat hal yang sama. Timbangan dunia ini semakin berat sebelah karena keberadaan kami di sini, telah mempengaruhi tatanan semesta Xuanyuan yang telah dipecah oleh dirimu pada garis waktu awal."
Entitas yang terlahir dari sebuah tragedi yang tidak diinginkan, pendusta yang merupakan salah satu gambaran akan bagaimana Yan Xu menyembunyikan suatu kebenaran pada dirinya sendiri, itulah sosok Pendendam yang sebenarnya.
Terus berubah-ubah, termakan waktu hingga dilupakan, mereka terus menerus menghancurkan sebuah semesta di mana Yan Xu berhasil dan gagal. Namun, ada perbedaan di antara yang sekarang dan sebelumnya.
Di semesta ini, Yan Xu bukan hanya berhasil memecah garis waktu, melainkan ia juga telah menemukan metode untuk menggabungkan pecahan jiwa dari garis waktu sebelumnya ke masa kini.
Hal tersebut membuat penduduk dunia Xuanyuan menjadi jauh lebih kuat dan Pendendam di semesta ini tidak akan pernah tercipta karena tidak ada sisa pecahan jiwa.
Melihat hal itu, Pendendam menjadi ragu karena ia selalu kalah telak saat berhadapan dengan Yan Xu di garis waktu sebelumnya. Namun, kali ini dia melihat Yan Xu lebih lemah dan ingin menghancurkannya sekarang juga.
Akan tetapi, dia telah salah perhitungan. Yan Xu yang sekarang memang lemah karena dia tidak menempuh masa dimana Bumi diinvasi hingga menjadi dunia Xuanyuan, namun pria dari garis waktu sebelumnya telah menyiapkan tubuh abadi beserta ingatan yang akan membantunya untuk berkembang lebih cepat.
Mereka juga tahu bahwa sistem buatan Yan Xu di garis waktu sebelumnya kini telah berhasil diaktifkan, namun sayangnya Pendendam tidak memiliki satupun hak akses untuk melacak keberadaan pengguna sistem tersebut.
Serangkaian anomali mulai terjadi, membuat Pendendam yang marah karena terlalu banyak perbedaan telah terjadi, akhirnya dia memutuskan untuk menginvasi kepemilikan langit dunia Xuanyuan seperti yang berada di ingatan Yan Xu.
Semua usaha itu masih saja sia-sia karena yang dia temukan hanyalah orang yang berbeda, bukan Yan Xu maupun orang terdekatnya. Dia hanya bertemu dengan manusia periode kedua setelah Bumi mengalami perubahan zaman.
Berujung pada sia-sia, Pendendam mundur selangkah dan dengan sabar menunggu Yan Xu maupun Shang Yin bangkit kembali agar dia dapat melacak keberadaan mereka dengan mudah.
Entah berapa ratus juta tahun lamanya, akhirnya penantian panjang itu berakhir hari ini. Mereka bertemu, saling bertarung, saling mencoba untuk memahami hingga memusnahkan satu sama lain.
Dengan tingkat perbedaan juga kekacauan garis waktu sekarang, timbangan dunia akan menjadi goyah dan kondisi tersebut dapat merugikan semua orang, termasuk entitas Pendendam.
Mengapa demikian?
Timbangan dunia Xuanyuan adalah sejenis benda sakral, tidak terduga dan dapat berubah-ubah. Keberadaan timbangan itu sendiri menandakan bagaimana dunia Xuanyuan akan berakhir beserta orang-orang yang terlibat dengannya, tak terkecuali dengan entitas dewa seperti Pendendam.
Menurut pengetahuan yang didapat Yan Xu dari ingatan dirinya di garis waktu sebelumnya, timbangan itu hanyalah artefak berbentuk seperti timbangan pada umumnya. Dia pernah mencoba untuk mengambil itu, namun ditahan oleh berbagai hukum alam yang memiliki aura surgawi.
Jika tidak salah ingat, saat itu Yan Xu bahkan mengorbankan setengah tubuhnya hingga terbakar hidup-hidup demi menggapai timbangan itu namun dia masih gagal dan membuatnya terhempas keras hingga jatuh ke daratan seperti meteor.
Untuk saat ini, Yan Xu sendiri tidak yakin dimana letak timbangan itu karena dia masih belum mencapai kultivasi untuk menggapai dimana timbangan itu berada. Dari pengalaman, dia hanya bisa memperkirakan ke arah mana timbangan sedang condong.
Timbangan itu hanya memberikan dua kategori, yaitu cahaya dan kegelapan.
Sementara Yan Xu bukanlah seorang pahlawan maupun penjahat, keberadaannya dapat menjadi penengah untuk masing-masing sisi timbangan.
Sementara itu, baik cahaya maupun kegelapan, dia masih belum mengerti kriteria yang lebih rinci antara kedua sisi tersebut. Bagaimana bisa dikategorikan sebagai cahaya maupun kegelapan masih jadi misteri hingga garis waktu sekarang.
Mengingat bagaimana Pendendam juga mengkonfirmasi bahwa keberadaannya membuat timbangan dunia lebih condong ke satu sisi, hal tersebut tidak memberikan Yan Xu pilihan selain melawan pihak lain sekuat tenaga.
Apabila dia gagal, bisa saja timbangan dunia akan lebih condong ke sisi dimana Pendendam dikategorikan. Entah bencana apa yang akan terjadi karena sisi lain jauh lebih berat. Tentu saja, Yan Xu tidak akan membiarkan hal tersebut.
"Melihat hasil yang jauh lebih berbeda dari semesta sebelumnya masih tidak bisa memuaskan hasrat balas dendammu?" tanya Yan Xu.
"Mustahil, apa gunanya kalau itu bukan kami yang merasakannya?"
Logis, jawabannya tidak memiliki satupun kebohongan. Dia juga cukup egois karena tidak peduli dengan orang lain, selain diri mereka sendiri.
__ADS_1
"Berarti memang tidak ada jalan tengah. Baik itu kamu atau aku yang menghilang, situasi yang paling menguntungkan adalah hilangnya dirimu. Kalau kamu lenyap, timbangan dunia akan sekali lagi stabil—"
Pendendam segera memotong dengan berkata, "Apa kamu yakin hasilnya akan demikian? Garis waktu maupun semesta yang ganjil ini telah lepas dari roda takdir. Banyak kemungkinan yang akan terjadi, terlepas dari salah satu dari kita yang akan lenyap dari semesta Xuanyuan. Apa kamu sudah pikun terhadap perubahan signifikan yang terjadi tepat di depan matamu?"
Sindiran itu mengenai tepat di titik tersakit Yan Xu. Pendendam benar, dia telah membuat takdir dunia Xuanyuan maupun penghuninya lepas dari roda takdir tragis yang diakibatkan oleh Pendendam. Bukan hanya itu, mereka juga telah lepas dari roda takdir yang asli, sehingga berbagai kemungkinan yang awalnya terbatas menjadi tak terbatas.
Ketidaktahuan akan apa yang mereka hadapi di masa mendatang merupakan ketakutan terbesar di dalam hati setiap manusia, tidak terkecuali Yan Xu sendiri.
Meskipun demikian, Yan Xu tetap ingin mengarungi jalan tersebut karena itulah arti dari keberadaannya. Semua usaha, air mata, keringat maupun rasa sakit yang ia lihat di wajah tanpa emosi dirinya sendiri, memberikan Yan Xu dorongan kuat untuk mengarungi jalan setapak yang belum pernah mereka lalui bersama orang-orang terdekatnya.
Mengakui bahwa dia takut bukanlah hal yang akan menghina usaha yang selama ini dirinya sendiri lakukan, namun bertindak menjadi pengecut dan tidak berani maju ke jalan tersebut adalah hal lain.
Tersiksa oleh pertanyaan akan siapa dirinya hingga saat ini, membuat Yan Xu sadar betapa rapuhnya dia. Ia juga tidak ingin menjadi terkuat di seluruh semesta Xuanyuan, namun beda hal jika itu demi melindungi orang terdekatnya.
Dia bukanlah Yan Xu yang luar biasa, seorang jenius yang menyempurnakan teknik reinkarnasi maupun perencanaan jangka panjang yang hampir sempurna.
Dia hanyalah dirinya sendiri. Bukan seseorang yang telah lama hidup maupun menghadapi bencana saat Bumi berada di ujung tanduk. Ia hanyalah Yan Shen, seorang pecundang dalam kehidupan yang merasa telah kehilangan semua yang ia miliki setelah kepergian seseorang bernama Lan Xihe dari hidupnya.
Hingga takdir mempertemukan mereka kembali, dia selalu menahannya. Perasaan yang ia telah simpan ketika menerka siapa orang yang berada di depannya. Perasaan yang takkan hilang meskipun di kehidupan lain.
"Pfftt!!! Hahahahaha!!!"
Yan Xu tertawa terbahak-bahak hingga suaranya menggelegar di udara.
"Apa yang kamu tertawakan?" Pendendam terlihat kesal dengan reaksi itu.
"Seperti kata banyak pemeran utama dalam cerita, lakukan saja terlebih dahulu sisanya pikirkan nanti saat itu terjadi."
"Kamu gila!" teriak Pendendam sambil memanifestasikan seratus jimat dengan berbagai kombinasi elemen.
Menanggapi itu, Yan Xu membuang pedangnya dan mengambil manifestasi busur dari pecahan jiwanya.
Pendendam mengaktifkan seluruh jimat yang ia sebar sambil berkata, "Aku sudah salah menilaimu. Aku kira kamu memiliki pemikiran yang bijak, sayangnya kamu tetaplah orang dungu yang berjalan terbalik seperti keledai."
Menarik tali pada busurnya, Yan Xu juga menjawab, "Sejak awal, pikiran ku tentangmu tidaklah berubah. Kalian hanyalah ketidakberuntungan yang diciptakan oleh diriku di semesta yang berbeda. Sayangnya, keserakahan kalian hingga menghancurkan berbagai semesta hingga sampai di dunia ini merupakan kesalahan terbesar mu."
"Omong kosong!" teriak Pendendam sambil mengarahkan seluruh serangan dari kertas jimatnya ke pada Yan Xu.
Yan Xu melepaskan tali pada busurnya, jutaan panah energi menyembur keluar dan dengan cepat menuju ke arah Pendendam.
Duar!
Ledakan besar terjadi ketika dua serangan itu saling bersentuhan, namun keduanya segera mengganti persenjataan mereka dan menyerang ke seberang, sambil menghindari serangan yang mereka lepaskan.
Yan Xu menarik manifestasi tombak dan menyapu tombaknya ke arah leher Pendendam.
Pendendam yang juga mengambil tombak, menggunakan tubuh tombaknya untuk membelokkan arah serangan Yan Xu. Dia memutar tombaknya dan melakukan gerakan menusuk tepat ke arah jantung pihak lain.
Yan Xu yang tidak dapat menghindar tepat waktu mengandalkan zirah yang menutupi seluruh tubuhnya.
Weng!
Dia terpukul mundur beberapa langkah namun luka fatal yang seharusnya ia terima, hanya menimbulkan sedikit dorongan mundur, bukan tusukan yang mengarah pada jantungnya.
Memanfaatkan jeda waktu dimana Yan Xu harus memperbaiki postur tubuhnya, Pendendam maju beberapa langkah dan kembali melakukan gerakan menusuk dengan tombaknya.
Yan Xu menghindari tusukan itu dan segera menendang mata tombaknya, membuat dampak kejut pada pergelangan tangan Pendendam.
Memanfaatkan momen itu, Yan Xu menendang kaki Pendendam hingga ia jatuh kemudian menusukkan tombaknya tepat ke jantung lawan.
Pendendam yang terjatuh, segera memutar tubuhnya untuk menghindari tusukan tombak Yan Xu. Saat memutar tubuhnya, dia mengambil beberapa kertas jimat dari udara kosong. Ketika dia berhasil menghindar, Pendendam melemparkan kertas jimat itu ke sekeliling mereka berdua.
"Enyah!" teriak Yan Xu yang segera mengibaskan tombaknya ke seluruh jimat yang tersebar di udara.
"Itu cuma tipuan," ucap Pendendam yang terdengar senang.
Yan Xu segera membuang tombaknya menjauh karena jimat yang ingin ia hancurkan telah menempel pada mata tombak. Tidak lama setelah itu, muncul ledakan besar dari arah ia melemparkan tombaknya.
Teralihkan sesaat dengan tipuan itu, Yan Xu mendapati Pendendam yang hilang.
"Dimana dia?"
Yan Xu segera menyebarkan kesadaran ilahinya ke seluruh tempat, namun keberadaan Pendendam tidak bisa ia temukan.
__ADS_1
Beberapa saat setelah itu, Yan Xu akhirnya sadar.
"Gawat! Shang Yin dalam bahaya!"
Yan Xu yang hanya memiliki manifestasi kekuatan dewa pada seratus pecahan jiwa dirinya sendiri di dimensi itu, tidak bisa memanifestasikan mereka di dunia nyata.
Di dunia nyata, dia hanyalah Yan Xu yang masih berada di ranah Alam Ilahi.
Namun, dia segera melupakan perbedaan itu dan segera kembali ke kesadaran tubuhnya di dunia nyata.
Terbangun, Yan Xu segera berlari dengan teknik pengejaran jiwa menuju ke arah dua orang yang terlihat kewalahan saat berurusan dengan makhluk raksasa yang keluar dari retakan langit.
"Shang Yin!"
Yan Xu memanggil nama seorang gadis yang sedang melakukan teknik pedang ilahi yang sama dengannya di udara.
Namun, gadis itu tidak mendengarkan teriakannya seolah-olah dimensi mereka terpisah.
Tepat sebelum Yan Xu mendekati mereka hingga beberapa puluh meter lagi, sebuah penghalang tak terlihat menghentikan langkahnya.
Gedebuk!
Yan Xu segera memukul penghalang itu dengan tenaga penuh, namun hanya meninggalkan getaran yang tak ada gunanya.
Di depan matanya, sosok monster raksasa itu tersenyum melihat dia tidak berdaya ingin keluar dari sana.
Menyadari ada yang salah dengan itu, Shang Yin yang cepat tanggap segera menelusuri arah senyuman itu.
Shang Yin berbalik dan melihat Yan Xu yang sudah sadar, "A-Ayah!"
"Jangan alihkan perhatian mu dari pertarungan!" teriak Yan Xu.
Sayangnya, peringatan itu tidak dapat didengar oleh Shang Yin.
Pendendam yang memanfaatkan kesempatan itu, segera menusukkan manifestasi pedang energinya hingga ke tubuh Shang Yin.
Shang Yin yang teralihkan, tidak menyadari bahwa tubuhnya tiba-tiba tergeletak di atas tanah sambil merasakan dingin di tubuhnya.
"Shang Yin!!!" teriak Yan Xu sambil memukul penghalang yang menghalanginya dengan ganas.
Shang Yin tidak merespons satupun panggilannya, di sana hanya tergeletak tubuh yang kaku tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.
Melihat itu, Yan Xu merasakan emosinya yang bergejolak di bagian hati terdalamnya mulai merasakan mual pada tubuhnya.
Dia yang belum pernah merasakan satupun kehilangan di dunia ini, kini telah menyaksikan buah hatinya yang mati di saat ia tidak berdaya.
'Tidak ... kenapa ... KENAPA?!!!'
Amarah yang tak pernah ia rasakan, juga rasa sakit yang ada tepat di dadanya hingga air mata yang jatuh berderai tanpa ia sadari membuat Yan Xu kehilangan pikirannya sesaat.
'Apa aku akan merasakan kehilangan lagi?'
Pertanyaan itu mulai memenuhi kepala Yan Xu.
Aura kematian mulai memenuhi seluruh tubuh Yan Xu.
Matanya yang cokelat cerah indah, kini berubah menjadi merah darah yang haus akan kematian dan amarah.
"PENDENDAM!!!"
Hanya dengan teriakan penuh amarah itu, penghalang yang memisahkan mereka pecah seolah itu hanyalah kaca yang rapuh.
Identitas monster raksasa itu, tidak lain adalah tubuh asli Pendendam. Pantas saja dia tidak dapat menerka siapa dia pada awalnya karena mereka dapat merubah wujud jiwanya.
Jiwa yang sudah tergabung, hanyalah sama seperti kehidupan baru, bukan lagi mereka yang pernah ada.
Selangkah demi selangkah, Yan Xu maju ke arah Pendendam. Setiap langkah menggetarkan dimensi itu. Setiap tanah yang ia pijaki, menjadi hancur berantakan karena tidak dapat menahan tekanan kekuatannya.
Yan Xu yang tertelan oleh amarahnya, tanpa sadar telah membangkitkan kekuatan yang misterius, bahkan tanpa perlu menggunakan ranah kultivasinya.
Kekuatan amarah itu menelan umurnya, namun dia yang memiliki tubuh abadi tidak akan pernah ditelan oleh hukum waktu yang menyertai umur hidup manusia.
Dengan kata lain, dia dapat menggunakannya tanpa batasan apapun!
__ADS_1