Kakak Senior Yang Nakal

Kakak Senior Yang Nakal
Kakak Senior Memutuskan Untuk Berkompromi


__ADS_3

"Yang Mulia, Hamba di sini atas perintah dari Kaisar. Akan sulit untuk menjelaskan kepada Kaisar jika aku kembali seperti ini."


"Baru-baru ini suku asing terlalu tenang di perbatasan benua selatan. Kaisar khawatir mereka sedang merencanakan sesuatu yang akan membahayakan keselamatanmu. Yang Mulia, izinkan Hamba menemanimu dalam ekspedisi ini. Setelah Yang Mulia kembali ke wilayah sekte dengan selamat, Hamba akan kembali."


Wang Jia Li sedikit mengernyit. Ada sedikit rasa frustasi di wajahnya yang biasa datar tanpa emosi.


Mo Li angkat bicara untuk membujuknya.


"Adik Junior Jia, kita akan pergi ke benua selatan. Itu adalah tempat berbahaya yang rawan bentrok dengan suku asing. Dengan Jenderal Lao bersama kita, akan ada lebih banyak orang yang menjagamu."


Yan Xu tiba-tiba ikut serta dalam pembicaraan mereka dan berkata, "Adik Junior Mo Li, apakah kamu mengenal jenderal ini sebelumnya? Aku tidak pernah mendengar berita tentang dia sebelumnya."


"Ya, itu benar." Mo Li melirik Yan Xu dan tersenyum. "Adik Junior Jia dan aku tumbuh bersama semenjak remaja. Kami juga memasuki sekte pada saat yang sama."


"Nama lengkap jenderal ini adalah Lao Guang. Dia adalah orang kepercayaan Kaisar dan bertindak secara rahasia dalam setiap pergerakannya."


"Setelah Kaisar berhasil naik takhta, Jenderal Lao diberikan tugas dalam menjaga perbatasan benua selatan secara rahasia dan pencapaiannya tidak akan pernah dipublikasikan oleh pihak keluarga kekaisaran kepada dunia."


"Melihat bahwa Jenderal Lao dikirim untuk mengawal Adik Junior Jia, jelas sekali Kaisar khawatir bahwa akan ada skema licik yang direncanakan oleh suku asing."


'Jadi mereka juga adalah teman masa kecil, benar-benar pasangan yang tidak cocok,' pikir Yan Xu.


Yan Xu menangkupkan tangannya dan berkata, "Maaf, aku terlalu banyak bicara."


Beberapa saat kemudian, Lao Guang mengerutkan kening dan berteriak, "Yang Mulia Pangeran Kelima, tolong pertimbangkan kembali!"


Wang Jia Li menoleh untuk melihat ke Su Yueyin yang dengan datar melihat situasinya. Ada ekspresi memohon di wajah pria cantiknya.


"Karena dia adalah penjaga mu, dia bisa ikut namun cuma sampai di bagian luar hutan. Saat di dalam hutan kekacauan, semuanya terserah padamu," ucap Su Yueyin yang tidak ingin ambil pusing.


Dia memanggil Jenderal Lao dan menyuruhnya untuk ikut di labu besar.


Su Yueyin dengan tegas berkata, "Kamu boleh ikut, tapi kamu juga harus mematuhi aturan dari sekte agar tidak ikut campur dalam ekspedisi murid. Aku tidak akan segan-segan mematahkan seluruh tubuhmu ketika menemukan sesuatu yang mencurigakan."


Jelas sekali bahwa Su Yueyin tidak mempercayai Jenderal Lao dan sudah menarik garis di antara mereka.

__ADS_1


Jenderal Lao menangkupkan tangannya dan berkata, "Terima kasih, Tetua Su Yueyin."


Begitu dia selesai bicara, pria tua itu melayang ke labu besar. Su Yueyin menunjuk ke salah satu sisi susunan formasi untuk membukakan celah agar dia dapat masuk.


Sambil memperhatikan situasinya, Yan Xu mengambil dua langkah ke samping tanpa ekspresi. Kemudian, dia berjalan dari samping menuju bagian depan labu besar dan menangkupkan tangannya, "Bibi Yueyin, bisakah Murid duduk di belakangmu?"


Su Yueyin tidak tahu harus menangis atau tertawa.


"Kenapa? Kamu sudah berusia lebih dari seratus tahun, bukankah tidak apa untuk duduk di dekat orang asing? Ah, lagipula dia bukan benar-benar orang asing ..." Su Yueyin menghela napas dan menunjuk ke sisi di belakangnya menandakan persetujuan.


"Kakak Senior Yan, silakan duduk di sini." Wang Jia Li dengan rela memberikan tempatnya. Dia tersenyum kepada Yan Xu yang meminta maaf sambil bergerak dan mundur tiga langkah.


"Terima kasih," ucap Yan Xu sambil duduk. Dia tidak peduli dengan dua tatapan tajam dari belakangnya.


Kedua tatapan itu datang dari Lin Qintian dan Bai Lien'er. Jelas bahwa mereka tersinggung karena sikap tidak tahu malu Yan Xu. Mereka pasti berpikir bahwa dia tidak berperilaku dengan anggun seperti yang diharapkan dari murid Sekte Abadi Luo.


Tetap saja, Yan Xu dari awal sampai akhir tidak akan mempedulikan mereka, kecuali kedua orang itu memegang kondisi hidup-mati nya.


Labu besar kembali bergerak dengan kecepatan tinggi menuju ke benua selatan.


Namun, Jenderal Lao adalah orang yang cukup pendiam. Percakapan di antara mereka bertiga sangat canggung dan mereka dengan cepat kehabisan topik untuk dibicarakan.


Yan Xu menyadari bahwa Jenderal Lao sepertinya telah mengamati dia semenjak mereka bepergian bersama, jadi dia langsung angkat bicara ke titik utama.


"Apakah ada sesuatu yang ingin Jenderal Lao bicarakan dengan murid rendahan ini?" tanya Yan Xu tegas.


Kedua alis tua Jenderal Lao terangkat, jelas sekali bahwa murid bernama Yan Xu ini sudah tahu bahwa dia sedang diawasi olehnya.


Berdasarkan ucapan Yan Xu mengenai tidak pernah mendengar tentang dia, Jenderal Lao berpikir bahwa Yan Xu berbeda dari keempat murid lain.


Dia bahkan membuka percakapan dengan cara yang kurang sopan menurut tata krama yang ada, tapi itu adalah hal biasa bagi para prajurit yang sering berbicara langsung ke intinya.


Dia memutuskan untuk mencoba berbicara dengan murid itu.


"Saudara Yan, bagaimana menurutmu dengan keadaan benua selatan saat ini?"

__ADS_1


Yan Xu mengernyit sedikit dan dengan cepat menjawab, "Terlalu tenang, seperti akan ada badai besar setelah ketenangan berakhir."


Yan Xu hanya tahu bahwa suku asing tidak mencoba menyerang perbatasan selama lima tahun belakangan ini.


Jika dia mengingat bagaimana arogansi suku asing, mereka tidak mungkin akan menundukkan kepalanya pada keluarga kekaisaran. Pasti ada gajah di balik batu, hanya saja gajah itu belum menampakkan diri dan masih menunggu waktu yang tepat.


"Hoo ... apakah menurut Saudara Yan kemungkinan besar akan ada perang besar setelah sekian lama mereka tidak menyerang?" Jenderal Lao merasa semakin tertarik berbicara dengan Yan Xu.


"Tidak, daripada perang besar aku akan menyebutnya skema besar."


"Skema besar?"


"Yah ... siapa tahu, mungkin saja ada rahasia yang tidak diketahui oleh orang luar, selain beberapa orang dalam itu sendiri."


"Jika aku jadi Jenderal Lao, aku lebih baik membantah perintah Kaisar dibandingkan harus meninggalkan perbatasan yang jelas merupakan titik penting untuk menjaga para penduduk," ucap Yan Xu dengan nada mengejek.


Jenderal Lao terkekeh geli menghiraukan ejekan itu dan berkata, "Bukankah melindungi anggota keluarga kekaisaran juga tugas penting?"


Balasan Yan Xu keluar dengan nada dingin melalui teknik transmisi suaranya, "Bukankah memotong kepala keluarga kekaisaran juga adalah hal yang penting?"


Yan Xu memutar matanya, jijik dengan skema yang sudah jelas sekali walau dia tahu lima orang lainnya belum memahami situasi mereka yang sebenarnya.


Sebelum Jenderal Lao sempat bicara, Yan Xu kembali melanjutkan dengan peringatan keras, "Aku hanyalah murid yang ingin menjalani ekspedisi ini dengan lancar."


Dia memberikan kode bahwa ia tidak akan ikut campur, kecuali mereka terlebih dahulu yang menyerang dia.


Jenderal Lao tertawa terbahak-bahak lalu berkata, "Air dan minyak tidak bisa bersatu namun mereka masih bisa berbagi wadah dan tidak saling mengganggu satu sama lain, baik, baik sekali." Jenderal Lao mengangguk puas beberapa kali.


Yan Xu bisa merasakan bahwa tekanan Jenderal Lao mulai berkurang terhadapnya namun dia tidak akan pernah mengendurkan pertahanannya, dia juga tidak sudi melihat wajah seekor serigala yang berbulu domba.


Sebelum dia mengikuti ekspedisi kali ini, Yan Xu sudah merenungkan berbagai macam hal beserta variabel yang akan datang.


Namun, dia tetap tidak menduga bahwa ada anggota keluarga kekaisaran dari salah satu murid yang ikut. Menurut kepercayaan Yan Xu, segala sesuatu yang menyangkut keluarga kekaisaran adalah hal buruk dan harus dihindari.


Sudah terlambat bagi Yan Xu untuk keluar dari lumpur itu karena serigala pemburu sudah ada di dekat kubangan lumpur, bersiap untuk menerkam. Jadi, dia akan berkompromi dengan serigala itu, membiarkan dia menerkam sasaran dan membiarkannya pergi.

__ADS_1


__ADS_2