
Setelah beberapa saat penyiksaan tak bermoral Lan Xihe selesai, para tetua sekte yang tertinggal di belakang akhirnya tiba di lokasi mereka.
Mata beberapa tetua terbuka lebar setelah melihat bekas yang ditinggalkan oleh Su Weiyan yang terombang-ambing oleh ombak amarah Lan Xihe. Mata mereka beralih ke sudut di mana Su Weiyan berada.
'Seperti yang diharapkan dari Tetua Su Weiyan! Dia selalu bijak dalam melakukan segala hal!'
Dia terlihat masih santai seperti biasanya. Para tetua itu menghela napas lega karena mungkin saja mereka yang akan kena serangan brutal itu jika Su Weiyan tidak menyarankan agar dia ambil alih dalam mengurangi sedikit amarah Gadis Suci Sekte Abadi Luo.
Beberapa dari mereka mengacungkan jempolnya dan yang lain mengirimkan tatapan penuh terima kasih. Sementara itu, Su Weiyan hanya melambaikan tangannya dengan lembut seolah-olah berkata bahwa itu bukanlah apa-apa, tetapi dia masih merasakan trauma sakit di dalam hatinya.
Semua orang berkumpul mengelilingi Lan Xihe yang acuh tak acuh dengan bentuk lingkaran besar sambil duduk bersila. Lan Xihe mengirimkan sedikit gelombang energi qi melalui kesadaran ilahinya kepada semua orang, memeriksa seluruh tubuh, barang bawaan maupun aura mereka.
Jika dia merasakan adanya keganjilan dari aura mereka, Lan Xihe akan segera memenggal kepalanya. Dia bukanlah orang yang akan setengah-setengah dalam menindaklanjuti hal yang akan menjadi masalah ke depannya untuk mereka.
Apalagi saat ini, dia juga sedang emosi gara-gara notifikasi spam yang sangat mengganggu dari murid nakal itu. Setelah beberapa saat melakukan pemeriksaan, dia tidak menemukan adanya keanehan dari semua anggota yang hadir.
Dengan ini, Lan Xihe membuka mulutnya. Suara datar seorang peri abadi yang menghanyutkan dapat terdengar dari tengah lingkaran besar itu.
"Semua orang yang hadir di sini sudah aku periksa, tidak ada keganjilan maupun aura aneh yang menempel pada masing-masing dari kalian. Namun aku akan memperingatkan ini sekali dan terakhir kalinya, aku akan memecahkan kepala siapapun yang mencoba untuk melakukan hal aneh."
Gluk!
Semua orang yang hadir meneguk ludahnya yang terasa pahit hingga mengeluarkan suara. Namun, itu tidak mengganggu proses penyampaian informasi dari Lan Xihe.
"Aku yakin kalian hanya menerima perintah untuk datang kemari secara tergesa-gesa tanpa mengetahui seluruh informasi yang ada. Tapi, aku tahu kalian akan memikirkannya dalam perjalanan kemari."
"Pertama-tama, ekspedisi ini telah di sabotase oleh orang dalam yang ada di sekte."
Mata para tetua yang mendengarkan itu melebar seolah-olah itu akan keluar dari rongga nya, tidak terkecuali untuk Su Weiyan. Melihat ekspresi terkejut di wajah para tetua yang baru datang, membuat Lan Xihe mengangguk ringan dan puas akan kecepatan mereka dalam menangkap situasi.
"Selanjutnya, saat tiba di sini aku merasakan adanya keterlibatan dari kekuatan suku asing. Beberapa bekas pertarungan yang tersisa memperlihatkan adanya aura dari avatar binatang milik suku asing, apakah kalian mendapatkan gambaran besar seberapa luas skema ini?"
Lan Xihe menekankan kalimat terakhirnya dengan dingin. Semua orang mengangguk sebagai tanggapan. Tidak ada satupun kultivator manusia tidak mengerti akan dampak jika suku asing terlibat, semuanya tidak akan berjalan maupun berakhir baik.
Sebelum melanjutkan, Lan Xihe berkata, "Sebelum aku melanjutkan, apakah ada yang ingin kalian katakan?"
Su Yueyin segera mengangkat tangannya dan berkata, "Senior! Dari semua tetua yang hadir, hanya guru Wang Jia Li yang tidak ada!"
__ADS_1
Mendengar itu, terdapat sedikit kerutan di kening indah Lan Xihe. Dia melihat ke sekelilingnya, memang benar hanya guru Wang Jia Li, Tetua Fan Jiaodao yang tidak ada di sini.
"Apakah salah satu dari kalian mengetahui tentang alasan tidak adanya kehadiran Fan Jiaodao saat ini?" tanya Lan Xihe kepada para tetua yang baru saja tiba.
Beberapa dari mereka menggelengkan kepalanya dengan ekspresi bingung, sementara itu guru Mo Li menjawab pertanyaan Lan Xihe.
"Tepat saat hari ke sembilan ekspedisi berlangsung, aku melihat dia pergi meninggalkan sekte dengan ekspresi datar," ucap guru Mo Li.
"Apakah kamu melihat kemana arah perginya? Apa saja barang bawaan yang dia bawa saat itu?" Lan Xihe mengalihkan pandangan tajamnya ke guru Mo Li— Tetua Shi Ding.
Tetua Shi Ding menyipitkan kedua mata, kemudian mengelus janggutnya dengan lembut dan berkata, "Dia terlihat seperti kesakitan, sambil terengah-engah menggumamkan sesuatu. Saat aku memanggilnya, dia tidak menjawab panggilanku dan hanya terus bergumam."
Alis Lan Xihe sedikit terangkat sambil bertanya, "Apakah kamu mendengarkan apa yang dia gumamkan?"
"Itu ... seperti ... ah!" Tetua Shi Ding memukul pahanya kemudian berdiri. Dia memperagakan seolah-olah ia adalah Tetua Fan Jiaodao saat itu.
Tetua Shi Ding memegang kepalanya dengan satu tangan, sementara tangan lain seolah-olah memegang dinding untuk menopang tubuhnya yang terhuyung.
Dengan ekspresi berat dan juga penuh kebingungan, Tetua Shi Ding berkata, "Wang ... Jia Li ... muridku .... Lari ... lari ... takdirmu ... bukanlah ... untuk ...— ....."
Sebelum dia bisa melanjutkan, Lan Xihe segera memotongnya dengan kalimat yang ada di kepalanya, "Mati di tangan orang terdekatmu? Atau mungkin ..."
Tetua Shi Ding yang sudah duduk kembali ke posisinya mengangguk setuju.
Semua orang yang hadir di sana hanya bisa menghela napas berat, mereka tidak menyangka orang sekuat Tetua Fan Jiaodao akan melakukan hal keji seperti itu.
Melihat ekspresi semua orang yang hadir, Lan Xihe menghela napas panjang dan berkata, "Sepertinya, dia sudah dikendalikan oleh sihir pengendalian pikiran dari jarak yang jauh."
Su Weiyan yang diam mendengarkan, segera berteriak, "Ba-bagaimana bisa itu terjadi, Senior?!"
Walaupun tetua yang lain tidak bersuara, tatapan mereka sangat jelas meminta penjelasan kepada Lan Xihe.
Lan Xihe mengeluarkan sebuah kertas berbentuk manusia, kemudian benang energi qi putih Lan Xihe tersambung ke boneka kertas manusia itu. Dia mengeluarkan beberapa lagi dan menggerakkan mereka secara bersamaan.
"Anggap saja dalang yang menggunakan ilmu sihir adalah seorang ahli sihir yang kuat. Dia bisa mengendalikan banyak orang dan pertunjukan wayang yang menarik yang kalian sebut sebagai skema biadab, kemudian terjadi ketika ekspedisi ini berlangsung."
"Namun, itu tidak akan mudah kalau tidak dilakukan dengan persiapan yang sangat matang dari seluruh pihak yang terlibat."
__ADS_1
Su Weiyan yang menyaksikan cara Lan Xihe menggerakkan boneka kertas itu mengerutkan keningnya dan bertanya dengan nada dalam, "Jadi, seseorang dari sekte sudah berkhianat? Dan Tetua Fan Jiaodao adalah orang yang sial karena sudah masuk perhitungan dari Sang Dalang?"
Lan Xihe mengangguk dengan lembut dan berkata, "Benar, dia hanyalah kambing hitam yang dijebak. Namun, dari yang aku lihat seseorang yang menjebaknya juga hanyalah pion sekali pakai dari Sang Dalang."
Lan Xihe memutuskan aliran energi ke tiga boneka kertas yang mengerumuni satu boneka kertas dengan warna merah sendirian di dalam lingkaran.
Kemudian, Lan Xihe melemparkan satu boneka kertas yang berwarna biru awan dan mengalirkan energi qi nya, sehingga membuat boneka itu berada di dekat boneka kertas merah. Mereka terlihat bergerak saling melindungi, namun boneka kertas biru awan menunjukkan keanehan.
Semua orang yang melihat itu menjadi bingung dan salah satu dari tetua yang hadir juga merupakan guru dari Lin Qintian— Tetua Pan Litian mengangkat tangannya.
Lan Xihe memberikan persetujuannya untuk bicara, kemudian Tetua Fan Litian bertanya.
"Apa makna dari kertas yang baru saja Senior lemparkan?" wajahnya penuh akan kilatan cahaya keingintahuan karena dia senang memikirkan berbagai macam hal.
Lan Xihe tersenyum dengan ekspresi tak berdaya kemudian berkata, "Itu adalah muridku, dia terjebak bersama dengan Wang Jia Li di suatu tempat. Sesuatu seperti dinding penghalang yang memiliki hukum ruang tingkat lanjut telah mengurung mereka berdua di suatu tempat."
"Oleh karena itu, aku membutuhkan seseorang yang menguasai hukum ruang untuk membantu. Dengan begitu, waktu pencarian akan berkurang dan para murid akan segera selamat."
Setelah kalimat itu jatuh, sekarang Tetua Shi Ding yang bertanya dengan nada agak gugup dan keringat membasahi sudut wajahnya, "Se-senior, bagaimana dengan keadaan Mo Li?"
Tanpa penundaan, Lan Xihe segera menjawab dengan suara acuh tak acuh, "Dia sudah mati."
Jawaban itu membuat Tetua Shi Ding tersentak hingga hampir saja jatuh pingsan, namun guru dari Bai Lien'er— Pin Gouwei menopang tubuh Tetua Shi.
"Tetua Shi, tolong kuatkan dirimu," bujuk Tetua Pin Gouwei dengan lembut. Tetua Shi Ding segera mengangguk dengan lemah dan ekspresinya menunjukkan rasa bersalah.
Dengan nada yang lemah, Tetua Shi Ding bertanya, "Apakah Mo Li termasuk dalang yang berkhianat?"
Lan Xihe mengangguk sebagai jawaban.
Tetua Shi Ding menghela napas panjang sambil memegang dadanya yang terasa sakit akibat kelakuan muridnya. Dia tidak menyangka bahwa Mo Li yang ia didik dengan baik akan melakukan perbuatan keji seperti itu.
"Sebelum pembagian tugas, apa ada lagi yang ingin kalian tanyakan?"
...----------------...
__ADS_1
Ilustrasi Su Yueyin, bibi berwajah peri dingin yang suka minum anggur.